
Farid Hardja seorang murid baru di SMA elite internasional yang berpenampilan kasual. Penampilan wajahnya terlihat putih pucat dengan rambut putihnya yang membuatnya semakin terlihat putih dan juga sepatu miliknya yang berwarna putih. Farid Hardja sangat menyukai warna putih sejak dulu, kalian bingung kenapa aku mengetahuinya?.
Yah... karena dia adalah sahabatku sejak dulu, dulu aku dan Farid Hardja berteman dengan baik sejak kecil. Karena kami tinggal bersebelahan dan orang tua kami kebetulan berteman dekat saat itu. Meski begitu aku tidak pernah satu sekolah bersama dengan Farid Hardja. Dia adalah orang yang pendiam, dia hanya berbicara jika aku mengajaknya untuk mengobrol.
Dia jarang sekali mengajakku berbicara kecuali membicarakan hal-hal yang penting baginya. Dia terlihat rapuh dan terlihat seperti orang yang lemah, karena itulah aku berteman dengannya dan merasa kasihan padanya. Hingga suatu saat keluarga mereka pindah rumah ke luar kota begitu Farid telah menyelesaikan sekolah dasarnya disini dan melanjutkan jenjang pendidikannya di tempat lain.
Padahal saat itu aku berniat untuk mengajaknya bersekolah di SMP yang sama denganku. Tapi tak ku sangka kalau Farid Hardja dan keluarganya akan pergi keluar kota. Aku cukup merasa sedih karena kepergian satu-satunya teman baikku. Sampai saat ini pun aku hanya memiliki satu teman, yaitu Farid Hardja. Tapi kini aku merasa bersyukur dan lega kalau akhirnya dia dipertemukan kembali denganku.
Sejak dulu aku memiliki masalah untuk berteman dengan orang lain. Aku masih belum ingin menceritakannya sekarang dan karena saat itu juga yang membuatku menjadi seperti ini. Masa lalu yang kelam yang membuatku harus menghajar orang-orang brengsek seperti mereka.
Tapi melihat Farid Hardja bersekolah disini, itu membuatku merasa khawatir padanya. Aku takut jika para murid-murid di kelas ini akan menjadikannya terget untuk dihajar habis-habisan karena Farid Hardja terlihat seperti orang yang lemah dan amu tahu itu, Farid Hardja pasti akan babak belur dibuatnya oleh mereka.
Tapi karena aku ada di dekatnya, aku akan melindunginya dari orang-orang brengsek yang ada di sini dan aku juga baru saja memperingati mereka untuk tidak membuat keributan lagi di kelas ini. Jika ada yang melanggar perjanjian yang sudah di tetapkan saat itu, maka aku akan menghabisi mereka lagi dan membuatnya sadar meski membuat mereka cacat.
"Baiklah, Farid... silahkan duduk di bangku kosong..." ucap Pak guru yang menyuruhnya duduk di bangku yang berada tepat di depanku. Bangku itu masih kosong karena tidak ada murid yang berani di dekatku.
"Baik Pak... terima kasih..." ucap Farid dengan sopan dan membungkukkan badannya kepada Pak guru dengan rasa hormat.
__ADS_1
"Ah senangnya jika semua murid di sekolah ini seperti dia" ucap Pak guru dalam batin yang merasa senang melihat perlakuan Farid Hardja yang begitu sopan padanya.
Kemudian Farid Hardja berjalan ke arah tempat duduk kosong itu. Entah kenapa aku merasakan perasaan yang tidak enak saat ini. Kemudian saat Farid Hardja berjalan melewati bangku-bangku lain yang di tempati murid lain, tiba-tiba saja salah seorang murid menjulurkan kakinya dan membuat Farid Hardja terjatuh.
Bruak! Farid terjatuh ke lantai dan membuat semua orang tertawa terbahak-bahak. Sementara itu tak ada yang bisa dilakukan Pak guru karena dia tahu seperti apa situasinya saat ini jika membelanya. Aku juga tidak bisa membantunya dan menghajar orang yang telah membuatnya terjatuh, karena aku sudah di cap sebagai murid yang baik oleh banyak guru-guru.
Karena aku tidak pernah menunjukkan kekerasan ku saat bertarung di depan guru yang membuat reputasi ku jadi jelek dihadapan mereka. Aku hanya ingin terlihat sebagai murid baik yang normal pada umumnya dihadapan para guru.
"Maaf, aku tidak sengaja... hihi" ucap orang yang menjatuhkan Farid Hardja sambil tertawa cekikikan.
Farid Hardja tak mempedulikannya dan tetap berjalan untuk sampai di bangkunya. Sebelum dia duduk, mata kami saling bertemu dan aku menyapanya sambil melambaikan tangan. Tapi Farid tidak merespon dan tatapannya terlihat tak berekspresi seperti biasanya yang aku kenal sejak dulu.
Suasana dikelas ini cukup baik karena aku telah membuat mereka takut untuk melakukan keributan saat jam pelajaran berlangsung. Jadi aku bisa belajar dengan tenang dan menciptakan suasana belajar yang baik. Khususnya untuk orang yang berada di pojok sana, yang memakai topi, sepertinya dia sangat serius sekali untuk belajar karena dari tadi hanya diam saja.
Beberapa jam berlalu dan matahari sudah berada tepat di atas langit yang menandakan waktu siang hari sudah tiba. Ding! dong! bel yang menandakan waktu istirahat kedua telah dimulai. Karena di jam istirahat pertama aku menghabiskan waktuku untuk menghajar orang-orang yang menyebalkan, aku berniat untuk menghabiskan waktu istirahat kedua untuk mengobrol dengan sahabat lamaku, yaitu Farid Hardja.
Pak guru kembali mengambil dokumen-dokumen penting dan laptopnya dan membawanya keluar kelas setelah bel berbunyi. Kemudian begitu Pak guru sudah keluar, tiba-tiba saja Farid Hardja segera bangun dari bangkunya dan menghampiri orang yang membuatnya terjatuh. Aku panik dan ingin segera menolongnya... tapi... tiba-tiba saja...
__ADS_1
Buak! dug! Farid memukul wajahnya dan menendang orang itu bersama dengan bangkunya hingga jatuh tersungkur ke lantai. Semua orang yang awalnya menganggap dia remeh kini menyegani Farid. Tapi meski begitu mereka masih ingin menguji kekuatan mereka untuk menentukan siapa yang yang lebih kuat di antara mereka dibandingkan murid baru yang terlihat lemah itu.
"Sialan kau...!" ucap orang yang terjatuh.
Kemudian tiba-tiba saja segerombolan murid di kelas mengelilingi Farid, "Kelihatannya kau bukan murid baru yang lemah, apa kau ingin berkelahi denganku?" ucap salah-satu dari orang yang mengelilingi Farid.
Aku benar-benar sedang bingung dengan situasi ini, tapi yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan Farid dari bahaya orang-orang seperti mereka yang gila kekerasan. Aku segera menyerobot masuk ke tengah dan membentak mereka untuk menghentikan hal ini sekarang juga.
"Hei! bukankah kalian sudah berjanji untuk tidak melakukan keributan?" ucapku yang melototi mereka satu persatu dan membuat mereka diam karena takut.
Puk... tiba-tiba saja Farid Hardja memegang pundakku sambil menatapku dengan tajam, "Apa kau pentolan dikelas ini?..." ucap Farid Hardja dengan dingin.
"A-apa maksudmu? kau tidak mengenaliku?" ucapku yang merasa situasi kali ini akan lebih buruk lagi.
"Aku tidak mengenali orang-orang brengsek. Hei kalian semua, jika aku berhasil mengalahkan orang ini, kalian harus tunduk patuh terhadap perintah ku!" ucap Farid Hardja dengan sangat serius.
"Baiklah coba saja kalau kau bisa mengalahkan orang yang seperti monster itu! kami saja dikalahkan olehnya! pasti kau juga akan dibuatnya babak belur olehnya, hahaha!" tawa salah satu seorang anak yang memperingati Farid Hardja mengenai diriku yang kuat bagai monster di mata mereka.
__ADS_1
"Jadi begitu... ayo bertarung denganku sialan!" ucap Farid Hardja yang tangannya mencengkram pundakku dengan kekuatan fisiknya yang luar biasa.
Aku merasa sakit sedikit, tapi sebenarnya saat ini aku sedang bingung sekali. Sepertinya Farid Hardja tidak mengenaliku yang merupakan sahabat masa kecilnya dulu. Sebelum terjadi perkelahian antara aku dan sahabat masa kecilku yang baru saja dipertemukan kembali, aku harus menyampaikan yang sebenarnya dengan jelas agar kami tidak berkelahi.