
Semua murid di sekolah bersorak-sorai dengan sangat bahagia saat mereka melihat aku dan sahabat masa kecilku bertarung dengan sengit satu sama lain. Akan ku hajar mereka lain kali, tapi aku harus meluruskan kesalahpahaman ini lebih dulu. Tapi memang benar sih kalau sekarang aku adalah pentolan di kelas ini sekarang, padahal ini adalah hari pertamaku di kelas dua.
Aku tidak diberikan kesempatan untuk menjelaskan bahwa kita adalah sahabat masa kecil padanya. Dia terus melayangkan pukulan dan tendangan yang sangat akurat, sementara aku hanya bisa bertahan saja. Aku tidak ingin melukai sahabat ku yang merupakan temanku satu-satunya.
Tapi yang membuatku terkejut adalah Farid Hardja yang ku kenal selama ini sebagai sosok anak yang lemah, ternyata dia memiliki kemampuan bertarung yang luar biasa. Dia terlihat seperti sudah sering melakukan perkelahian seperti ini, aku bisa merasakan semua serangan itu masuk. Entah apa yang membuatnya menjadi seperti ini, yang terpenting adalah aku harus menghentikan pertarungan ini.
"Hmm?... kenapa Grant terlihat tidak serius bertarung? padahal biasanya dia orang yang suka menghajar orang tanpa pandang bulu... sebenarnya siapa Farid Hardja ini?..." ucap Adrian Martadinata dalam batinnya yang memperhatikan pertarungan kami dengan serius menatap tajam.
Bak! bug! duagh! pukulan dan tendangan terus melayang dari berbagai arah dan membuatku semakin kewalahan karena hanya menahan dan menangkis serangannya. Hingga akhirnya dia loncat ke atas meja dan melayangkan tendangan maut yang membuatku terpental sehingga aku kehilangan keseimbangan ku dan terjatuh.
Setelah serangan terakhir itu Farid berhenti menyerang ku dan dia berjalan santai ke arahku dengan tatapan dingin, "Kenapa sedari tadi kau menahan diri?... aku tahu kau adalah orang yang kuat. Tapi kau tidak perlu menahan diri untuk melawan orang sepertiku" ucap Farid Hardja yang menatapku dengan kesal dan matanya melotot tajam.
"Kalau aku membuka pertahanan ku dan fokus untuk menyerang mu, akulah yang akan kalah..." ucapku sambil tersenyum karena melihat sahabat masa kecilku kembali.
"Sepertinya kau sudah tahu itu ya... dan aku tidak suka tatapanmu..." ucap Farid Hardja yang mulai melayangkan tinjunya lagi.
Tapi sebelum pukulan itu mengenai kepalaku, "Pangeran Es..." ucapku dengan singkat yang dua kata yang ku ucapkan untuk membuat Farid Hardja terdiam dan menghentikan pukulannya.
Dia berdiri tegak dan menurunkan pandangannya sambil menatapku dengan tajam. Tatapannya lebih tajam dari sebelumnya dan entah kenapa aku merasakan firasat yang buruk mengenai hal ini. Tatapannya itu... seperti tatapan seseorang yang berniat untuk membunuhku.
"Dari mana... dari mana kau tahu sebutan itu?..." ucap Farid Hardja yang terlihat tidak suka jika aku memanggil nama sebutan masa kecilnya. Padahal saat dulu dia sangat menyukai sekali nama sebutan untuk dirinya hingga sampai membuat dia tertawa. Apakah sekarang dia sudah tidak menyukainya karena hal itu terlalu kekanak-kanakan?.
"Siapa lagi yang tahu tentang itu kecuali satu orang..." ucapku sambil tersenyum dan kembali berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Grant... Grant Balon!" ucap Farid Hardja yang seketika wajahnya yang memiliki tatapan sadis kini terlihat tersenyum lebar dan matanya berbinar-binar. Kemudian dia memelukku dengan erat dan berkata kalau kami sudah lama sekali tidak saling bertemu, aku juga merasa seperti itu.
"Haha iya... tapi namaku Grant Valen tahu..." ucapku yang sedikit kesal karena dia salah menyebutkan namaku yang merupakan sahabat masa kecilnya.
"Itu tidak penting! aku benar-benar tidak menyangka kita akan bertemu kembali!" ucap Farid Hardja yang terlihat bersemangat kembali setelah bertemu denganku. Padahal tatapan anak ini sebelumnya terlihat seperti orang yang sadis, tapi tiba-tiba dia jadi sosok yang hangat setelah mengenaliku kembali.
Yah, walau sebenarnya aku agak sedih kalau dia sempat melupakan aku, bahkan nama belakangku saja dia salah menyebutkan namanya. Karena pertarungan berakhir dengan tidak terduga, semua murid dikelas merasa kecewa dan menyoraki kami dengan keras dan itu membuatku jengkel.
"Memangnya yang tadi itu pertunjukan hah!" teriakku yang membuat mereka terdiam seketika.
Setelahnya seperti yang ku inginkan sebelumnya untuk menghabiskan waktu istirahat untuk mengobrol dengan sahabat masa kecilku, kami duduk di bangku masingmasing dan saling membicarakan masa lalu saat kami masih kecil. Tapi saat aku sedang asyik-asyiknya mengobrol dengan sahabat masa kecilku, tiba-tiba saja Adrian Martadinata ikut bergabung.
Tapi kami tak mempedulikannya dan tetap fokus mengobrol berdua seolah-olah dunia milik kami berdua. Tapi Adrian Martadinata terus menatap kami dengan tajam sambil tersenyum-senyum sendiri. Ini membuat perasaanku tidak enak... aku ingin sekali menghajar wajahnya yang menyebalkan itu.
"Masih! kalau tidak salah..." ucap Farid yang tiba-tiba saja berhenti berbicara setelah Adrian menguap dengan keras, "Hoaaaaaaaaaaaaaaammm!".
Kami mencoba untuk tidak mempedulikannya dan melanjutkan pembicaraan kami lagi. Tapi setiap kali kami memulai kembali bercerita tentang masa lalu kami, lagi-lagi Adrian mengganggu kami dengan menguap lagi dan semakin keras. Hingga akhirnya aku kehilangan kesabaran ku dan membuatku melayangkan tinju ke wajahnya
"Hap! pukulan mu aku tangkap, hahahaaha!" tawa Adrian, padahal tidak ada hal yang lucu itu membuat semakin kesal saja.
"Kau bisa diam tidak!" teriakku yang amarahku mulai meluap-luap.
"Tenanglah Garant... dia hanya ingin ikut mengobrol dengan kita..." ucap Farid yang terlihat tidak peduli jika dia ingin bergabung dalam pembicaraan kami.
__ADS_1
"Grant! namaku Grant! jangan sampai kau salah menyebutkannya lagi!" ucapku sambil menepuk kepalaku.
Setelahnya Adrian menatap Farid dengan tajam dan tersenyum menyeringai, "Hei... apa kau ingin mencoba bertarung denganku?" ucap Adrian yang terlihat serius dengan ucapannya yang menantang Farid.
"Boleh juga..." ucap Farid yang sepakat untuk bertarung dengannya.
Setelahnya tak lama arena dipersiapkan untuk mereka bertarung. Semua meja dan kursi di singkirkan keluar kelas dan membuatnya berantakan di lorong kelas. Aku hanya bisa diam melongo dan terduduk diam di pojok sambil bersandar di dinding.
Melihat murid-murid kembali bersemangat dan bersorak dengan gembira karena akan ada yang bertarung kembali. Ini bukan petarung biasa bagi mereka, karena Adrian Martadinata yang merupakan mantan pentolan saat kelas 1 namanya cukup terkenal di sekolah. Karena bisa mengalahkan dua pentolan kelas lain.
Kini mantan pentolan itu akan bertarung dengan murid baru yang sedang naik daun. Pantas saja mereka terlihat bersemangat karena ini bukanlah pertarungan murid nakal biasa. Ini adalah pertarungan antara orang-orang kuat, setidaknya itulah yang mereka pikirkan. Aku tidak bisa menghentikan pertarungan itu karena sahabat ku sendiri yang menyetujuinya setelah di ajak bertarung dengan Adrian.
"Ayo! ayo! ayo! aku mendukungmu mantan pentolan hahaha!" tawa seorang pendukung yang mendukung Adrian sekaligus menyindirnya.
"Kami mendukungmu anak baru yang terlihat seperti mayat pucat berjalan!" ucap para pendukung yang sebagian mendukung Farid dan sebagainya lagi mendukung Adrian.
Sebelum pertarungan di mulai, Farid melepaskan jas sekolahnya dengan elegan dan membuat orang-orang bersorak-sorai. Beberapa gadis juga ikut mendukungnya dan terpana oleh penampilannya yang seperti pangeran dari negeri es.
Sepertinya aku belum pernah membicarakan hal ini, mengenai berapa total isi murid di setiap kelas ya. Baiklah aku akan mengatakannya sekarang dengan singkat, setiap kelas terdiri dari 12 anak laki-laki dan 8 anak perempuan yang total murid perkelas di sekolah ini ada 20 orang.
Murid perempuan tidak berkelahi seperti para murid laki-laki yang suka dengan kegaduhan. Tapi jika ada keributan dan perkelahian diantara para lelaki. Pasti para gadis-gadis segera menontonnya dan menikmati pertarungan itu dan memberikan semangat kepada para petarung. Itu membuat para petarung merasa bersemangat karena di semangati oleh gadis-gadis cantik. Semua murid perempuan di sekolah ini hanya berisi gadis-gadis cantik jelita.
Sejak saat itu aku mulai mengetahui alasan yang sebenarnya yang membuat sekolah ini menjadi arena baku hantam yang diselenggarakan secara battle royal. Jadi semua murid bebas bertarung dan berkelahi tanpa tujuan, yang penting mereka kuat dan itu akan membuat para gadis terpana oleh pria yang kuat.
__ADS_1
Huh! memangnya jaman batu apa! laki-laki harus menunjukkan kekuatan mereka untuk mendapatkan wanita idamannya. Aku benar-benar tak habis pikir dengan ini semua, jadi yang merupakan dalang penyebab kekacauan di sekolah ini bukan para pentolan yang berkuasa. Akan tetapi para gadis yang menyuruh para lelaki untuk bertarung dan yang menang akan mendapatkan dirinya, seperti itulah sistem idiot yang ada di sekolah ini yang diterapkan oleh merekaaaaa!.