Di Luar Nalar! Ternyata Dia Boy!

Di Luar Nalar! Ternyata Dia Boy!
Murid Baru


__ADS_3

Jam pelajaran pertama di hari pertama aku duduk di bangku kelas 2 akhirnya pun telah selesai. Meskipun aku harus menghadapi berbagai cobaan karena Adrian terus mengganggu ku tak henti-henti. Setelah guru keluar, akhirnya tiba-tiba saja kelas kembali menjadi rusuh. Mereka mulai beradu kekuatan lagi, sepertinya mereka belum kapok setelah ku hajar tadi.


Tapi tiba-tiba saja ada ada 3 anak yang menghampiri ku ke meja, mereka adalah anak-anak yang ku hajar sebelumnya. Wajah mereka terlihat kesal dan marah, bahkan mereka berani melototi ku. Aku tidak peduli dan berpura-pura tidak tahu keberadaan mereka dan menyibukkan diri untuk melihat keluar jendela.


Bam! tiba-tiba saja salah-satu dari mereka membanting mejaku hingga seluruh alat tulis yang ku gunakan saat pelajaran berlangsung jatuh berantakan bersama mejanya. Tapi aku masih pura-pura tak peduli, meski begitu aku sangat kesal sekali, Argh! aku ingin menghajar mereka sekarang!.


"Hei kau sok jagoan! lihat mataku!"


Bugh! duag! dug! tanpa basa-basi aku langsung menghajar wajahnya karena tidak kuat lagi menahan kesabaran ku. Orang yang berbicara padaku langsung pingsan dan terpental jauh di depan. Lalu kedua orang temannya menjadi ragu untuk menghajar ku, mereka terlihat panik dan ketakutan.


"Pergilah sebelum aku berubah pikiran!" ucapku sambil menatap tajam mereka hingga akhirnya mereka lari terbirit-birit.


Setelah mereka pergi aku kembali menaikan meja dan mengambil alat tulis ku yang jatuh pececeran. Namun saat aku hendak menaikan mejaku lagi, tiba-tiba saja ada orang yang terbang ke arahku! bruak!. Mejaku jatuh kembali dan alat tulis yang sudah ku pungut kembali jatuh berantakan lagi karena seseorang terpental ke arahku saat sedang berkelahi.


"Brengsek! ku hajar kalian!" ucapku yang sudah tidak bisa menahan diri lagi dan kembali menghajar seluruh murid-murid di kelasku yang sedang ribut dan berkelahi. Aku menghajar mereka tanpa memberinya ampun meskipun mereka memohon ampun padaku.


Adrian hanya duduk santai di meja sambil menaruh kedua kakinya di atas meja dan hanya memerhatikan ku saja. Sementara itu aku sudah selesai menghajar semua orang dan menyuruh mereka berbaris di depan kelas untuk ku berikan pelajaran yang sesungguhnya.


"Kenapa kalian tidak bisa diam!" ucapku yang menatap mereka satu-persatu.


Kemudian seseorang menjawabnya dengan kepala yang tertunduk padaku, "Itu karena dia yang memulainya!" ucap orang itu sambil menunjuk lawannya.

__ADS_1


"Apa katamu! kau yang memulainya lebih dulu!" balasnya yang kemudian semua orang yang sudah ku kumpulkan di depan kelas kembali berisik dan saling menyalahkan satu sama lain. Mereka tak mempedulikan ku lagi dan hanya mempeributkan masalah mereka kembali.


"DIAAAAAAAAAAAAAM!!!" teriakku dengan menggelegar dan membuat mereka terkejut sehingga tidak ada lagi yang berani berbicara di depan ku.


"Anak-anak sialan! kenapa yang kalian pikirkan hanya untuk membuat keributan di kelas! apa kalian tidak tahu untuk apa kalian sekolah?" ucapku yang memberikan pertanyaan kepada mereka dengan lantang.


Satu anak mengangkat tangan dan menjawab pertanyaanku, "Untuk menunjukkan siapa yang paling hebat bukan?" ucap anak itu yang jawabannya memiliki dua arah.


Yaitu antara menunjukkan kehebatan dalam bidang akademi seseorang atau menunjukkan kehebatan dalam bertarung mengenai siapa yang lebih kuat di sekolah ini. jawaban anak itu benar-benar membuatku sangat kesal sehingga aku harus bertanya kembali apa yang dimaksud dalam menunjukkan siapa yang paling hebat.


"Katakan lebih jelas, mengenai jawaban mu..." ucapku yang geram. Kalau saja dia berkata menunjukkan kehebatan dalam bertarung, aku tidak yakin bisa menahan diri dari keselamatan anak itu.


"Hiiii wajahnya seram sekali... tentu saja siapa yang lebih hebat dalam bidang akademik kan?" ucapannya setelah bergumam sendiri tadi.


"Tapi, bagaimana jika anak kelas lain mengajak kami ribut?" ucap seorang anak yang kemudian membuat mereka memperbincangkan hal itu.


"Kalau itu terjadi... hmm... terserah kalian, kalian boleh melakukannya. Tapi ingat, jika kalian menang atau kalah, jangan lupa ucapkan kata-kata yang ku ucapkan seperti ini kepada kalian. Ini demi mewujudkan kembali citra sekolah yang rusak. Bukankah kehidupan yang damai itu lebih baik?" ucapku yang membuat mereka berpikir kembali jika ingin melakukan keributan.


Kemudian mereka menganggukkan kepala mereka secara bersamaan dan setelahnya aku melepaskan mereka. Ku harap mereka tidak kembali ribut dan berkelahi lagi, jika tidak mereka hanya akan membuatku repot karena harus menghajar mereka kembali. Aku berjalan kembali ke bangku milikku dan saat aku berjalan, aku melihat ada satu anak yang terlihat pendiam di pojok menggunakan topi.


Aku tak mempedulikan anak yang diam memakai topi itu karena sepertinya sedari tadi dia tak melakukan keributan sama sekali. Setelahnya bel jam pelajaran kedua berbunyi dan semua murid kembali duduk rapih di kelas sambil menunggu seorang guru datang.

__ADS_1


Krieet! seorang guru datang sambil membawa berkas-berkas pekerjaannya ke dalam kelas dan sebuah laptop bergengsi. Yah, tentu saja karena ini adalah sekolah elite Internasional, masuk ke sekolah ini bukan hanya harus pintar saja, tapi juga harus memiliki banyak uang.


"Hmm... kenapa sunyi? yasudah lah ini lebih baik ketimbang kelas sebelumnya... baiklah anak-anak, hari ini di kelas ini akan kedatangan murid pindahan baru dari Indonesia, dia adalah anak dari salah-satu perusahaan besar di negara ini. Baiklah silahkan masuk..." ucap pak guru kepada kami yang kemudian mempersiapkan seseorang masuk ke kelas.


Aku tak mempedulikan murid baru itu dan hanya sibuk memperhatikan keluar jendela. Banyak murid-murid yang sedang berolahraga dan bermain sepak bola di lapangan. Enak sekali di hari pertama mereka ada pelajaran olahraga, aku sangat iri melihatnya. Tapi sepertinya itu bukan pertandingan sepak bola biasa... mereka bermain sepak bola dengan sangat kasar sekali.


Bahkan tujuan mereka menendang bola bukan untuk mencetak gol ke gawang, akan tetapi menendang bola ke semua pemain. Kalau seperti ini sih... namanya bukan sepak bola! tapi sepak orang! bahkan tidak ada tim di pertandingan sepak bola itu, mereka hanya fokus menyerang siapapun yang ada di lapangan dengan bola.


Eh!? apa itu? kenapa para pemain basket yang ada di sebelah lapangan sepak bola tiba-tiba berlari ke arah orang-orang yang bermain di lapangan sepak bola?. Aku terkejut begitu melihat kenapa orang-orang yang bermain basket itu berlari ke arah para pemain sepak bola, itu karena mereka ingin ikut baku hantam menggunakan bola basket.


Ini benar-benar pertandingan yang tidak masuk akal! sepak bola dan basket dijadikan satu permainan oleh mereka, barang siapa yang mendapatkan bola sepak, mereka harus menendangnya ke arah lawan. Barang siapa yang mendapatkan bola basket, mereka harus melemparnya ke arah lawan dan tidak boleh menggunakan kaki. Ini benar-benar di luar nalar! sepertinya aku harus membereskan anak-anak itu nanti bersama dengan Adrian.


"Silahkan memperkenalkan diri..." ucap Pak guru yang mempersilahkan murid itu masuk.


"Baik pak... tapi kenapa suasananya seperti ini ya? ha ha..." ucap anak baru itu yang merasa tidak enak kalau dirinya di tatap tajam oleh murid-murid di kelas. Seolah-olah mata mereka ingin mengajaknya berkelahi dan menunjukkan siapa yang lebih hebat.


"Ha ha... jangan di pedulikan..." ucap Pak guru yang wajahnya penuh keringat dingin.


"Baiklah... perkenalan namaku adalah Farid Hardja... semoga kita bisa menjadi teman yang baik yah?" ucap anak baru itu sambil melambaikan tangannya dengan wajahnya yang tersenyum polos. Sepertinya anak baru itu belum tahu situasi di sekolah ini, itulah yang di pikirkan oleh anak-anak yang menatap tajam dirinya. Mereka tersenyum karena berpikir mendapatkan mangsa baru yang polos dan lemah.


__ADS_1


Farid Hardja.


Aku yang saat itu sedang melamun melihat keluar jendela, seketika terkejut begitu mendengar anak baru itu bernama Farid Hardja. Pandangan ku teralihkan olehnya dan aku segera melihat orangnya... ternyata, dia adalah orang yang ku pikirkan dengan nama Farid Hardja. Aku terkejut dan tak menyangka kalau orang itu pindah dan bersekolah di sekolah yang sama olehku!.


__ADS_2