
Buagh! duag! buk! dash!
Mereka bertarung dengan sengit sekali, suara gemuruh orang-orang yang menonton mengisi kelas. Sementara orang lain sangat menikmati pertarungan Adrian dan Farid, aku hanya melihat pertarungan mereka dari jauh si pojok kelas dan duduk di lantai sambil memperhatikan gaya bertarung mereka.
Farid saat ini sedang terdesak oleh serangan Adrian yang menghajarnya tanpa henti. Yah pola serangan Adrian memang sangat kompleks dan keras, karena aku pernah mengalaminya saat kelas satu untuk merebut posisi pentolan di kelas. Tapi... aku tidak pernah menganggap remen teknik serangan Farid yang terlihat biasa saja.
Mungkin memang terlihat biasa saja, tapi serangannya bisa akan menjadi sangat berbahaya sekali. Karena itu saat aku bertarung dengan Farid Hardja aku hanya fokus kepada pertahanan ku dari pada fokus menyerangnya. Alhasil dia sama sekali tak memberikan ku kesempatan untuk membalas serangannya, karena serangan yang dia lakukan adalah mengincar titik vital tubuh.
Jadi jika terkena sekali saja titik vital ku oleh Farid Hardja, bisa-bisa aku akan mulai kehilangan kekuatan ku dan pertahanan ku mulai terbuka lebar dan aku hanya menunggu waktu kekalahan ku sampai dia menyerang semua titik-titik vital tubuhku. Karena itu aku bilang kepadanya kalau aku akan kalah jika melanjutkan pertarungan dengannya, aku tak menyangka kalau sahabat ku masa kecilku memiliki kekuatan yang luar biasa.
Tapi aku tak menyangka kalau kini dia yang sedang terdesak oleh serangan Adrian yang beruntun. Farid hanya bisa bertahan dan menunggu Adrian lengah dan dia akan segera masukkan ke celah yang telah dibuat dan segera melumpuhkan lawan.
"Haha! ternyata anak baru itu tidak ada apa-apa jika dibandingkan dengan Adrian si mantan Pentolan" ucap salah-satu murid yang berkomentar atas tonton itu.
"Oh ayolah Farid! kau pasti tidak selemah ini kan!" ucap Adrian yang terus menghajarnya dan dia mulai meremehkan kekuatan Farid.
Hingga akhirnya dia lengah karena telah meremehkannya dan ini adalah kesempatan Farid untuk menghajarnya. Wush! dengan kelincahannya yang luar biasa Farid dengan cepat memukul ke arah ulu hati Adrian. Buagh! suaranya terdengar keras dan mengerikan hingga membuat Adrian terpental dan terjatuh tersungkur di antara meja-meja yang ikut terjatuh bersamanya.
"Ukh..." Adrian meringis kesakitan pada ulu hatinya dan dia tidak bisa bergerak karena terasa sangat sakti sekali. Lalu Farid maju dan menghampirinya, ini adalah kesempatan dirinya untuk memenangkan pertarungan ini.
WHOAAAAAAAAAAA!!!
Semua penonton bersorak gembira melihat kemenangan Farid berada di depan matanya. Suara sorakan mereka menggema di seluruh kelas san membuat telinga ku sakit. Sepertinya aku harus menghentikan pertarungan ini, jika terus dilanjutkan Adrian mungkin... akan mati. Saat ini aku merasakan aura yang tidak enak dari ekspresi Farid yang terlihat mengerikan... seakan-akan tatapannya akan membunuh Adrian.
"Matilah kau..." ucap Farid yang kemudian dia loncat dan mengayunkan kakinya untuk menyerang ulu hatinya lagi menggunakan tumit kaki. Itu sangat berbahaya sekali! ini sudah di luar batas, aku segera beranjak dan berlari untuk menghentikan serangan Farid.
Buak!
Semua penonton terkejut melihat apa yang terjadi di pertarungan itu. Farid terjatuh tersungkur ke lantai dan kepalanya lebih dulu yang mendarat di lantai hingga darah mengalir dari kepalanya. Beberapa saat yang lalu sebelum tendangannya mengenai Adrian, Adrian dengan kecepatan reflek tubuhnya yang luar biasa saat di ambang kematian segera menangkap kaki Farid dan menggulingkannya.
"Hei... auranya terlihat sangat menakutkan..."
__ADS_1
"Adrian... mengalahkan anak baru itu?..."
"Dia berdarah! kepalanya berdarah!"
"Ini gawat... kita tak bisa membantunya karena Adrian terlihat mengerikan..."
Ucap orang-orang yang berkomentar atas pertarungan itu dan merasa resah dengan situasi ini yang semakin tidak terkendali. Adrian saat ini berdiri tegak dan menatap Farid dengan ekspresi yang sama seperti Farid sebelumnya. Tapi dia... tersenyum lebar, aku yang melihat teman masa kecilku dibuatnya seperti itu sangat marah.
Aku tidak terima dia telah membuat teman masa kecilku jadi seperti itu... meskipun dia mulai dekat denganku, tapi sejak saat itu sampai sekarang pun aku masih tidak menganggap Adrian sebagai temanku. Karena aku hanya memiliki satu teman yaitu Farid Hardja saja. Emosiku membludak dan tanganku sangat geram sekali hingga membuat telapak tanganku yang ku genggam robek berdarah karena tak bisa menahan amarahku saat ini.
"Hei... orang itu... aku tidak tahu siapa dia, tapi dia yang bisa mengalahkan Adrian kan!"
"Dia terlihat sangat menyeramkan! hei... kita harus memanggil seseorang untuk menghentikan ini!"
"Ini gawat... aku tak bisa membayangkan keadaan akan lebih parah dari ini"
Ucap orang-orang yang semakin resah dengan situasi saat ini yang semakin mencengkram. Tidak ada satupun diantara mereka yang berani bertindak untuk menghentikan kami karena mereka sadar dengan kekuatan mereka yang saat ini bukanlah tandingan bagi kami.
"Hei... aku baru saja bertemu dengannya lagi setelah lama tidak bertemu dengannya..." ucapku dengan menatap tajam Adrian.
Tapi Adrian tidak terlihat takut padaku dan dia malah senyam-senyum saja sedari tadi, "Lalu? apa hubungannya denganku?" ucap Adrian yang tersenyum menyeringai dan menahan tawa melihat ku.
Bruak! aku memukul meja hingga membuatnya hancur dan bolong, "Kau benar-benar membuatku sangat kesal!..." aku sepertinya sudah tidak bisa menahan emosiku saat ini. Suaraku terasa berat dan tubuhku terasa ringan dan sudah siap untuk menghajar bajingan itu!.
"Sepertinya kau benar-benar kesal! ha ha... hahaha... huwahahahaha!" tawa Adrian yang membuatku marah dan lepas kendali atas diriku. Aku langsung loncat dan menangkap leher bajingan itu dan mencekiknya dengan keras hingga ia tak bisa berkata-kata dan bernafas.
"Ukkhhhh ohkkkkk"
Hatiku dipenuhi dengan amarah dan rasa kebencian yang dalam terhadap orang-orang sepertinya. Aku sudah muak hidup berdampingan dengan orang-orang busuk seperti mereka. Orang-orang yang suka mencari keributan hanya karena agar diri mereka terlihat hebat dan ditakuti oleh banyak orang. Hingga membuat mereka kehilangan menjadi orang yang melewati batas, aku sangat membencinya.
Tap! tap! tap!
__ADS_1
Tiba-tiba saja ada seseorang yang menghampiri ku dan menarik tubuhku. Eh!? tubuhku terangkat dan kemudian di lempar dengan keras. Bruak! tang! seseorang melempar tubuhku dan membuat meja kursi kelas ikut tertabrak olehku dan terjatuh. Orang itu... adalah orang pendiam di kelas yang memakai sebuah topi yang norak.
"Hei... kau bisa membunuhnya loh... kau tidak ingin di cap sebagai kriminal kan seumur hidupmu?..." ucap orang bertopi norak itu yang menasehati ku.
"Hei siapa dia? kenapa orang itu tiba-tiba ikut campur?"
"Kau tidak tahu dia? dia itu... aku tak ingin membahasnya... aku tidak ingin mati..."
"Orang bertopi itu!?... dia adalah orang yang dibicarakan itu kan?"
Orang-orang mulai membicarakan orang bertopi norak yang membuatku terlempar dengan mengangkat tubuhku hanya menggunakan satu tangannya. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi yang ku dengar dari orang-orang yang membicarakan sepertinya mereka takut padanya. Kalau begitu sudah dipastikan kalau orang bertopi norak ini juga adalah orang-orang brengsek seperti yang lainnya.
Padahal aku mengira dia orang yang baik karena sifatnya yang pendiam. Pantas saja tidak ada yang mengajaknya berkelahi, karena dia sepertinya adalah orang yang berbahaya. Aku sama sekali tidak pernah melihat dia sebelumnya, tapi sepertinya dia memiliki kekuatan yang luar biasa sampai membuat tubuhku terangkat hanya dengan satu tangan lalu di lempar dengan jarak yang jauh seperti ini.
Aku berdiri dan menghadapnya, "Siapa kau! dan ini sama sekali bukan urusanmu!" ucapku yang bersiap untuk menghajar orang ini.
"Apa kau baik-baik saja?..." ucap orang bertopi norak itu yang tak mempedulikan ku dan malah membantu Adrian untuk berdiri.
"Ohok ukh... a-aku baik-baik saja..." ucap Adrian yang suaranya menjadi serak dan lemas karena aku cekik.
"Hei jawab aku sialan!" teriakku dan aku melempar sebuah kursi ke arahnya.
Hap! dia menangkap kursi yang melayang itu dengan satu tangannya dengan cepat. Sepertinya dia bukan orang yang bisa diremehkan, sepertinya dia memiliki pengalaman bertarung yang banyak. Genggaman tangan dan urat yang ada di tangannya memperlihatkan jelas bahwa dia adalah orang yang kuat yang berpengalaman.
"Aku?... namaku... Orta Brillo..." ucapannya.
Orta Brillo.
Berambut merah panjang memakai sebuah topi biru setiap harinya. Berpenampilan seperti murid pendiam dan baik yang memiliki wajah yang tampan dengan sepatu sebelah abu dan biru tua. Jangan tertipu dengan penampilannya yang terlihat seperti orang baik. Dia adalah orang yang berbahaya dan rumor buruk disekolah mengenai dia sudah tersebar disekolah. Kalau dia pernah membunuh seseorang di sekolah ini.
__ADS_1