
Fahri dan Luna telah sampai di lantai 15, kini mereka berada di depan pintu bertuliskan angka 310. Fahri sedang membuka pintu tersebut menggunakan kartu akses yang ia miliki.
Pintu terbuka, Fahri mempersilahkan Luna masuk, Luna melangkah masuk dengan perlahan. Luna menelisik kan matanya ke segala arah. Apartemen yang tidak terlalu besar, hanya ada 2 kamar tidur, ruang tengah dan dapur yang di lengkapi sebuah mini bar.
Selama ini Fahri memang tinggal se orang diri di apartemen ini, ia hanya sewaktu waktu saja pulang kerumah orang tuanya, itu pun jika sang mamah memintanya.
Kini mereka sudah ada di ruang tengah apartemen itu, hanya ada sebuah sofa, meja dan tv ukuran 42inci yang menempel pada dinding.
" Duduk Lun" Fahri mempersilahkan
" Saya kedalam dulu mau ambil barang yang akan saya bawa" Luna menganggukkan kepalanya. Dan Fahri segera masuk kedalam kamar
Kini Luna duduk di sofa dengan memainkan hpnya, ia mengecek wa ternyata ada pesan dari bunda yang menanyakan keberadaannya.
__ADS_1
Luna hendak membalas pesan tersebut, belum sempat membalas Luna sudah di kagetkan dengan suara gemuruh petir yang sangat kencang. Ya ..sekarang di luar sana sedang terjadi hujan lebat, sesaat Luna dan fahri memasuki apartemen hujan pun tiba
" Hujan lebat lun diluar" Fahri keluar dari kamar.
" iya pak, tadi petirnya terdengar kencang"
" Tunggu disini sebentar dulu ya, sampai hujan agak reda" pinta Fahri " jalan juga tidak terlihat kalau hujan besar begini apa lagi sekarang sudah malam,gelap" kata Fahri.
Luna bingung, tapi yang di katakan Fahri benar, dari pada bahaya Luna pun menganggukkan kepala" Iya pak, tidak apa"
Untuk menghilangkan rasa ngantuk dan bete Luna melihat tv, tak lama Fahri datang membawa dua cangkir kopi.fahri meletakan dua cangkir kopi di atas meja, kini Fahri duduk di samping luna
Tidak ada obrolan di antar keduanya, kini Fahri dan Luna menikmati kopi dan menyaksikan sebuah film komedi romantis di tv.
__ADS_1
Hujan di luar sana tak kunjung reda, udara di dalam ruangan kini terasa semakin dingin. kopi yang mereka minum pun sudah tandas tak tersisa.
Fahri menelisik wajah Luna dari samping, mata Fahri tertuju pada bibir Luna yang terdapat sisi kopi, Fahri semakin mengikis jarak duduk mereka.
Kini Fahri memegang bahu Luna, dengan sigapnya Luna jadi menghadap ke arah Fahri.
tangan Fahri menjulur untuk membersihkan sisa kopi di bibir Luna
Mata keduanya saling bertemu, Fahri semakin mendekatkan diri,Fahri menarik tengkuk leher Luna. Bibir mereka pun saling bertautan, Fahri mulai ******* bibir itu, sangat pelan dan lembut hingga Luna pun terbuai degan permainan Fahri.
Entah di detik ke berapa Luna pun mulai membalas ******* itu. Merasa Luna merespon ciuman itu kini Fahri semakin berani. tangan Fahri merambah masuk kedalam baju Luna, menyentuh dan meremas gundukan sintal milik Luna
bukannya menolak luna malah makin terbuai dengan tindakan Fahri, kini bibir Fahri telah menelusuri leher jenjang Luna. Tangan Fahri mulai membuka kancing kemeja milik Luna satu persatu tanpa melepaskan cumbuannya.
__ADS_1
Saat ini Luna berada di bawah Kungkungan tubuh kekar fahri tanpa adanya penghalang apa pun di antara mereka, tak ada satu helai benang pun di kedua tubuhnya.