
"Ma, apakah aku harus ikut pulang kampung?, saat ini aku sedang mengerjakan satu proyek penting, ujar Jose pada sang mama.
Percakapan pagi di meja makan, saat sarapan membuat selera makan Jose hilang, dia sudah tau apa tujuan sang ibu mengajak nya pulang ke kampung halaman sang ibu di Sumatera Barat.
Dari awal dia sudah tau kalau dia akan di jadikan tumbal (istilah yang dia buat sendiri) akan perjodohan yang sudah di rencanakan orang tua nya dengan anak paman nya, abang dari sang ibu yang tinggal di kampung.
"Pa, kenapa diam aja sih, dukung aku dong, aku kan udah besar, lagian ini bukan zaman siti nurbaya, aku bisa nyari istri sendiri, lagian aku udah ada calon istri".
" Betul kata mama mu, kamu harus ikut kami pulang ke kampung, ini bukan hanya sekedar perjodohan biasa Jose, ini adalah bentuk balas budi kami pada Makdang mu".
"Huh, hari gini masih ada juga yang ga ikhlas memberi bantuan".
"Jose, jaga ucapan mu, tau apa kamu tentang pertolongan Makdang mu itu". Terlihat muka Pak Ismail memerah menahan amarah nya.
"Sudah lah da, tak usah emosi, sekarang intinya hari sabtu kita semua pulang ke kampung, mama tak menerima penolakan". Bu Fatma angkat bicara.
"Sekarang habiskan sarapan mu, bukankah kamu katakan tadi kamu ada keperluan mendadak di kantor".
"Jose kenyang ma, ".
"Pulang kantor mama tunggu kamu di rumah, ada yang harus kamu tau."
"Ga janji ma, semoga aja urusan ku selesai tepat waktu, Jose berangkat ma, ". Jose berpamitan sambil mencium tangan kedua orangtua nya, walau semarah apapun dia, berpamitan dan mencium tangan orangtua selalu dia lakukan, karena memang sudah diterapkan untuk berlaku sopan kepada kedua orangtua.
Dalam mobil, dia mengumam, "Kenapa cuma satu anak lelaki orangtua ku, dan kenapa bukan Aida yang di jodohkan dengan anak Makdang, kenapa harus aku."
Sesampai di kantor, dia langsung masuk keruangan nya, tak lama masuk sekretaris sekaligus asisten pribadi nya, Andi.
"Bos, hari ni, kita ke lapangan, meninjau lokasi yang akan kita beli dan kita jadikan perumahan cluster bertema madani."
__ADS_1
"Ok, jam berapa kita berangkat?.
"Kapan Bos siap, kita tinggal berangkat. Andi berkata demikian, karena dia liat dari awal masuk tadi, wajah atasan nya murung, lesu tidak enak di pandang.
"Sebaiknya kamu pesankan aku sarapan dulu lah, aku ga sempat makan tadi di rumah."
"Tumben Bos, biasanya ditawari sarapan ga pernah mau".
"Gue lagi ga mood, gegara pagi-pagi, kombes (komisaris besar), julukan yang dia berikan pada sang mama, udah ngajakin adu argumen".
"Pasti masalah perjodohan itu lagi kan?. Andi memang sudah tau masalah perjodohan itu, karena Andi adalah sahabat Jose sejak mereka sama - sama di SMP dulu, dan lagi alm ayah Andi adalah bekas sopir keluarga Jose, jadi mereka memang sudah dekat dan akrab, bahkan Andi juga tau kalo Jose sudah memiliki kekasih, hanya saja Andi sebetulnya kurang suka dengan Aira kekasih Jose, karena selain anak orang kaya, Aira suka sekali memandang orang berdasarkan harta, sehingga dia hanya akan menganggap orang itu layak di jadikan teman kalau mereka se level tingkat pendidikan dan kekayaan nya.
"Iya, apalagi, gue udah nolak tapi nyokap masih maksa, tau lah bagaimana kombes kalo udah ngomong, omongan nya adalah" perintah, yang tidak bisa di ganggu gugat".
"Apa salah nya sih, lu coba dulu, lagian pilihan orangtua biasanya yang terbaik, ga mungkinkan orangtua mau menjerumuskan anak nya."
"Sok tau lu, udah sana cepat ambilin sarapan gue, gue udah laper, habis makan baru kita ke lapangan".
"Assalamualaikum. Jose membuka pintu sambil mengucapkan salam.
"Waalaikum salam, bi kus, pembantu rumah mereka yang menjawab.
"Kemana mama dan papa bi?, Tiara udah pulang kuliah?
" Ibu masih di klinik, bapak ke Bogor tadi pagi sama pak Ujang, kata nya mau lihat kebun, kalo Ni Tiara udah di kamar nya, bi Kus menjelaskan satu persatu seperti seorang guru.
" Da Jose mau makan, biar bi Kus siap kan,".
Bi Kus memang memanggil Jose dan Tiara uda dan uni, karena bu Fatma melarang bi Kus memanggil mereka dengan sebutan Tuan, nyonya atau den, kata bu Fatma terkesan angkuh dan bisa membuat anak anak nya besar kepala, namun karena bi Kus tidak mau memanggil mereka dengan nama saja, sehingga bu Fatma menyuruh bi Kus memanggil Jose dan Tiara dengan sebutan Uda dan Uni, kata nya biar mereka tau kalau asal usul mereka urang minang.
__ADS_1
Dirumah tak jarang bu Fatma berbahasa daerah dengan pak Ismail, Jose dan Tiara paham dengan bahasa ibu mereka walaupun mereka tidak pandai mengucapkan nya, kata bu Fatma biar mereka selalu ingat dari mana mereka berasal.
" Gak usah bi, aku mau mandi dulu".
Bu Fatma bekerja sebagai seorang bidan, selain sebagai seorang ASN, beliau juga memiliki klinik bersalin yang terletak tak jauh dari rumah nya, sebetulnya jika orang yang memilik rumah dan tanah di belakang rumah mereka mau menjual nya pada bu Fatma, maka klinik nya bisa terhubung langsung dengan rumah mereka, namun sampai saat ini, orang tersebut belum mau menjual dengan alasan belum butuh uang.
Sedang Tiara adalah satu satu nya adik perempuan Jose karena mereka memang hanya berdua beradik, saat ini Tiara kuliah di fakultas kedokteran pada Universitas Negeri di Jakarta, dia ingin menjadi dokter spesialis kandungan agar bisa melanjutkan klinik mama nya kelak. Tiara berusia 22 Tahun, berjarak 7 tahun dari Jose.
"Assalamualaikum, secara bersamaan bu Fatma dan pak Ismail mengucapkan salam.
"Waalaikum salam, Jose menjawab salam orang tua nya, kebetulan dia sudah selesai mandi dan berniat untuk makan.
"Jose, duduk sini, perintah bu Fatma setelah mereka melakukan shalat magrib berjamaah.
Dalam keluarga itu memang di terapkan peraturan jika bisa shalat magrib harus berjamaah di rumah, dikarenakan masjid di tempat tinggal mereka agak jauh, sehingga pak Ismail berinisiatif membuat mushala di rumah mereka, yang bertujuan agar tetap merasa kan kebersamaan dan berjamaah walau pun mereka mempunyai kesibukan masing masing.
"Jose, kamu tau ga, apa sebab nya mama mu menjodohkan kamu sama Aisha anak Makdang di kampung?", kamu dengar cerita mama, nanti kamu simpulkan sendiri.
Dulu, ketika kami akan menikah, nenek dan inyiak tidak setuju dengan papa mu, menurut mereka kami tak selevel, andung dan ungku mu bukan orang berpendidikan dan termasuk orang susah di kampung sebelah, sedangkan nenek adalah seorang bidan dan inyiak adalah seorang kepala sekolah, di kampung kita pekerjaan nenek dan inyiak pada masa itu sangat terhormat, sehingga mereka sangat terpandang di mata masyarakat kampung kita bahkan sampai ke kampung sebelah.
Mama, kenal dengan papa mu, karena papa mu teman bermain dan teman sekolah Makdang, dalam adat kita, biasa nya dari pihak perempuan akan datang utusan ke pihak keluarga laki laki untuk bertanya apakah mereka mau jika anak laki laki mereka menikah dengan anak perempuan dalam keluarga mereka. Nenek mu ingin menikahkan mama dengan anak seorang mantri kesehatan di kampung sebelah yang kebetulan sedang kuliah kedokteran di ibukota propinsi, namun mama ga mau, karena mama tau selain dia sudah punya kekasih, dia juga menganggap sepele pada mama karena profesi mama yang seorang bidan dia anggap tidak selevel dengan dia yang seorang dokter.
Mama menolak perjodohan itu, dan memilih papa mu, serta meminta nenek untuk datang kepada keluarga andung untuk bertanya apakah papa mu mau menikah dengan mama, namun nenek dan inyiak marah. Akhir nya mama mengadu pada Makdang mu yang saat itu sedang kuliah pertanian dan peternakan di ibukota provinsi.
Makdang mu mendukung mama, karena dia sudah mengenal betul siapa papa mu, akhir nya kami berdua menikah dengan Makdang mu sebagai wali nya. Nenek dan inyiak sempat marah, bahkan sampai kami pindah ke Jakarta dan sampai saat mama melahirkan mu pun mereka masih belum memberikan restu nya.
Namun semua berubah saat keadaan ekonomi kita mulai berangsur membaik, tapi itu semua tak lepas dari bantuan dan dukungan Makdang mu, dia bahkan rela terlambat menikah demi bekerja dan membantu keuangan kami sampai dia rasa kami sudah mampu berdiri sendiri.
Bahkan saat Makdang mu menikah dengan mintuo mu pun, mintuo mu tidak marah saat Makdang tetap membantu kami.
__ADS_1
Makdang mu tidak minta balas budi, hanya kami saja yang merasa tidak enak hati hingga saat aisha lahir, saat itu usia mu lima tahun, tercetus lah ide kami untuk menjodohkan kalian jika sudah dewasa nanti, awal nya Makdang dan mintuo mu tidak setuju, karena mereka berkata, zaman mama dulu saja, mama tidak mau di jodohkan apalagi nanti zaman kamu sudah dewasa.
Namun kami berhasil menyakinkan mereka, maka nya sampai usia Aisha 24 tahun saat ini dia belum juga menikah, bukan tidak ada orang yang meminta dia untuk menjadi istri, namun karena Makdang terikat akan janji kami pada mereka, walaupun begitu, tak pernah sekali pun Makdang mu mengingatkan janji itu pada kami, sampai pada bulan lalu saat mintuo mu meninggal, Makdang mulai sakit sakitan, Makdang beramanah jika Makdang menyusul mintuo, Makdang menitip Aisha dan Ridwan, Makdang minta di carikan jodoh yang baik untuk Aisha. Disitulah kami teringat kembali pada janji yang pernah kami ucapkan 24 tahun yang lalu.