
BIM pukul 14.40 wib.
"Assalamualaikum tek, iko Ridwan, lah dima etek kini ko?".
(assalamualaikum tante, ini Ridwan, udah dimana tante sekarang?".)
"Waalaikumsalam, Wan, etek sadang manunggu bagasi, tunggu di pintu kalua yo Wan".
(Tante sedang menunggu bagasi, kmu tunggu dipintu keluar ya)
...pengen nya pake bahasa ibuku (bahasa daerah kami) namun aku susah kalo harus mengetik dua kali, jadi aku pake bahasa Indonesia aja ya, mungkin nanti aku selipin sedikit sedikit bahasa minang, tapi boleh ga kalo ga usah di translate kan hehehe..(tertanda author)...
"Ya Allah, udah besar kamu ya Wan, sudah kelas berapa sekarang?".
"Ridwan sudah semester 7 tek, inshaa allah tahun depan sudah bisa wisuda".
"Kuliah dimana Wan?, ambil jurusan apa?.
Alhamdulillah di Univ Negeri di Padang tek, yang S1 nya ambil peternakan kalau yang D3 nya sudah selesai tek jurusan pertanian". Ridwan ingin melanjutkan usaha Ayah, banyak saudara saudara kita yang bergantung disini. Sambil mencium tangan tante, om dan abang sepupu nya.
Jose terlihat acuh saja dengan cerita Ridwan, bagi dia tidak ada suatu hal yang istimewa yang bisa dia banggakan dari kampung orang tua nya itu, entahlah bagi dia orang orang yang tinggal di kampung itu semua nya kampungan, kudet alias kurang update ga tau perkembangan zaman dan ga berpendidikan.
__ADS_1
"Pantesan aja Makdang mau jodohin anak nya ama gue, miskin dan ga berpendidikan. kata hati Jose sesaat setelah mereka naik ke mobil Makdang nya yang menjemput mereka ke bandara.
"Assalamualaikum, Bu, Da kami lah sampai". seru bu Fatma di depan pintu rumah gadang keluarga mereka, saat ini pak Zul abang tertua dan saudara nya satu satu nya harus tinggal di rumah gadang milik orang tua mereka, bertentangan dengan adat kebiasaan mereka yang seharusnya saat anak laki laki menikah mereka harus turun dari rumah ibu nya dan tinggal di rumah keluarga istri nya, namun karena mereka hanya berdua saudara dan bu Fatma tinggal merantau ke Jakarta sehingga akhir nya abang nya satu satu nya tinggal di rumah orang tua nya, untung saja rumah itu rumah yang di bangun oleh alm ayah nya di atas tanah yang di beli oleh ayah mereka, bukan rumah warisan turun temurun, jadi pak Zul abang bu Fatma bisa tinggal disana tanpa harus bertentangan dengan adat istiadat daerah mereka, bahkan bu Fatma sudah menyerahkan sepenuh nya hak atas rumah tersebut kepada abang nya itu, di sebabkan karena ibu mereka atau nenek dari Jose memang tinggal dengan Makdang Zul dan juga karena mereka hanya berdua bersaudara.
Di Minang harta pusako biasa nya di peruntukan bagi anak perempuan, anak laki laki tidak mendapat jatah, mereka hanya bertugas sebagai penjaga dan penengah jika terjadi hal hal yang tidak di ingin kan, memang agak berbeda dengan adat istiadat di daerah lain.
Hal ini memiliki filosofi, karena anak laki laki itu kuat dan kuasa dalam mencari nafkah untuk diri nya dan keluarga nya sedang kan anak perempuan ini lemah dan harus bergantung dan berlindung pada saudara laki laki nya.
Oleh karena itu sistem adat di minang memakai sistem Matriakat yang arti nya segala sesuatu nya di dominasi oleh perempuan dan Matrilineal arti nya mengambil garis keturunan dari ibu, maka nya dalam mengambil keputusan lebih banyak peran ibu, bukan berarti laki laki tidak berperan, namun lebih banyak melihat dan mendengar kemudian akan menjadi penentu keputusan hanya saat saat sudah di bawa ke dalam kerapatan keluarga atau suku.
"Waalaikum salam, ondeh alah tibo kau nak, sambut nenek Maryam, ibunda bu Fatma, a naik lah. model rumah bu Fatma memang berjenjang seperti model rumah adat minang pada umumnya, kalau dulu kolong rumah di biarkan kosong, sehingga dulu Aisha dan Ridwan suka bermain main di bawah kolong rumah, sekarang kolong rumah sudah di jadikan gudang dan garasi mobil oleh ayah mereka, bahkan ada paviliun juga yang di buat Makdang Zul untuk kelurga Maketek Ambo, saudara jauh Bu Fatma yang bertugas membantu Makdang Zul sehari hari.
"Iko Jose?, Ya Allah lah gadang bana kini ko, lanjut nenek Maryam sambil mengulurkan tangannya dan menepuk nepuk pundak cucu nya tersebut.
Mana yang nama nya Aisha aisha itu, dari tadi kok aku ga liat ya, rumah sebesar ini masa cuma Makdang, Ridwan dan nenek, yang lain kemana, kata nya dalam hati.
"Jose, mari sini duduk dekat Makdang, seru pak Zul sambil menepuk kursi di samping nya. Ternyata tinggi sangat Jose ya, indak menyangka Makdang, gagah dan ganteng pula, pasti banyak perempuan yang suka sama kemenakan Makdang ni kan?.
"Sudah punya pacar kah Jose, tembak pak Zul langsung, yang membuat Jose gelagapan untuk menjawab nya.
"Alun lai da, mana ada pacar nya, celetuk bu Fatma.
__ADS_1
"Indak Fat yang uda tanya, Jose yang uda tanya, iya kan Jose?. Baa nak, lah ada calon, kenalkan lah sama Makdang, orang mana dia? lai urang awak? kalau urang awak suruh lah datang keluarga nya biar kita selesai kan, tapi kalau nda urang awak biar Makdang yang datang ke orang tua nya, ujar pak Zul sambil tersenyum ikhlas.
"Sebenarnya, Jose udah punya calon Makdang, dia teman kuliah Jose dulu bukan orang awak, kebetulan kami punya bisnis bersama juga saat ini.
"Ondeh, rancak tu ma, apa lagi sudah punya bisnis bersama, a apa lagi kenapa tidak menikah saja, kenapa lama betul pacaran nya, nda elok itu, mendekati zina kita, berdosa, walau Makdang yakin kemenakan Makdang bisa jaga diri, tapi setan ni lebih hebat pula dari kita menggodanya, maka nya apalagi, menikah lah lagi, nda usah di tunda tunda.
"Da, baa kok jadi kayak gini pembicaraan nya, bukan kah kami pulang ini untuk membicarakan perjodohan Jose dengan Aisha, seru bu Fatma dengan agak emosi.
"Bao batanang dulu Fat, mandi lah dulu, sholat zuhur, makan gai kita dulu, setelah istirahat nanti baru kita lanjutkan pembicaraan ini, ujar nenek Maryam.
"Aisha, ma air untuk tek kau, teriak nenek memanggil aisha.
Baa kok kau yang antar Emi?, tanya nenek. Emi adalah istri mak etek Ambo.
"Aisha masih di mushalla mak, alun naik ka rumah lai do, ado anak anak yang setoran hafalan nya tadi saya liat.
Huh, seperti apa sih dia, sok betul, saudara ayah nya datang, bukan nya di layani malah sok alim gitu, gerutu Jose.
"Jun, tolong etek kau angkat barang barang nya ke kamar etek kau ya, Ridwan kau antar uda kau ke kamar nya.
Di rumah gadang ini memang banyak kamar, di tengah rumah terdapat enam kamar tiga kamar sejajar dan berhadapan dengan tiga kamar lainnya, paling depan kamar bu Fatma sejak dulu sampai sekarang walau pun bu Fatma tidak pernah di kampung namun kamar nya selalu di bersihkan dan tidak ada yang menempati. kamar kedua adalah kamar nenek satu dinding dengan kamar Tiara, sementara di seberangnya kamar Aisha, kamar Makdang sedang satu kamar lagi kosong, kamar tempat kumpul kumpul etek etek kalau ada acara di rumah nenek.
__ADS_1
Turun sedikit ke bawah terdapat masing masing dua kamar yang saling berhadapan, kamar Jose, kamar Ridwan, kamar Junaidi dan kamar Dodi mereka adalah anak anak mak etek Ambo, di tengah tengah nya ruang makan dengan meja yang sangat panjang dan besar bagian belakang ada dapur bersih dan kamar mandi. Dari samping pintu dapur ada tangga turun ke bawah tempat dapur kotor yang sebetulnya terletak di kolong rumah, kolong rumah di minang jangan di pikir rendah dan pengap, karena kolong rumah itu tinggi nya dua setengah sampai tiga meter.
di belakang rumah terletak satu tempat yang di pagar dengan bambu tinggi yang berisi ternak ayam dan itik, di depan rumah ada rangkiang tempat menyimpan padi di samping rangkiang ada mushalla, yang sengaja di buat makdang untuk tempat sholat sekalian mengaji untuk anak anak sekitar.