DIA MENGAMBIL SEMUANYA

DIA MENGAMBIL SEMUANYA
Draft dan Episode 01


__ADS_3

Dimana kita sering kali mengutamakan kesenangan dari hubungan itu daripada menghadapi masalah yang datang. Karena cinta juga punya banyak wajah dan salah satunya adalah nafsu.


Setelah puas nafsu itu bisa padam. kenyataan yang sebenarnya kembali terpapar jelas, diluar obsesi Ruby terhadapnya yang berlebihan. lelaki ini datang padanya hanya untuk malam-malam liar yang pada awalnya terasa menyenangkan. Namaun kali ini, Ruby merasa ketiduran di bus setelah hari-hari di kantor yang melelahkan dan tersesat sampai jauh pun lebih baik dari pada tersesat.


...----------------...


Pertama kali Ruby bertemu dengannya di pesta, ia sudah tahu kalau Seokjin adalah masalah. Ruby memutuskan untuk menghindar.


Setahun berlalu, Ruby sedang menikmati kehidupan barunya dengan berkerja di perusahan Duke berkat bantuan Hana. Bosnya, Jimin memperlakukannya dengan sangat baik sampai kemudian ia di gantikan oleh adik iparnya yang problematika dan ternyata adalah Seokjin.


Kehidupan Ruby terbalik seratus delapan puluh derajat setelah Seokjin yang kemudian jadi boss barunya malah membenci Ruby karena mengira ia adalah satu dari kekasih gelap kakak iparnya.


Episode 01.


Kalau kamu tidak datang biar aku yang kesana.


Setiap usaha kecil untuk menjauhinya selalu di tangkis oleh satu baris pesan ancaman. Ruby benci hal ini, pesan yang baru Ruby terima begitu ia menyalakan handphone-nya.


"Berengsek......." ucap Ruby yang kesal sambil menari kembali benda itu di atas meja.

__ADS_1


Seharusnya dia sudah berada di kantor seperti biasanya. Tapi, dia masih ingin membolos setelah mematikan handphone dan mencabut kabel telepon selama dua Minggu penuh agar tak ada yang mengganggunya. Dengan terus absen dan bersikap seenaknya, tak ada alasan bagi bossnya itu untuk tidak memecatnya.


Sekalipun perkejaan itu telah memberikan banyak hal, pengalaman dan kehidupan yang layak ia bisa menyewa apartemen ini dan membeli apa yang dia mau tanpa pikir panjang dengan ucapannya sendiri. Namun sejak pergantian bos perkerjaan yang biasanya ia sukai sekarang menjadi perkerjaan hal yang paling ia benci sampai pagi ya ia pergi kekantor seperti pergi ke neraka. Semuanya tidak lagi soal uang, tapi kesehatan mentalnya, itu jauh lebih penting. Akhir-akhir ini hidupnya tidak pernah bisa tenang karena pria itu.


Seokjin, bos barunya. tipe orang yang bisa melakukan apapun yang terpikir olehnya saat di perlukan pada saat itu juga. Memori sebelumnya saat Seokjin tiba-tiba berada di dalam rumah dan merusak barang-barang adalah pengalaman paling buruk yang pernah ia alami selama berurusan dengan seorang pria. Seperti hantu, Seokjin bisa ada di mana saja dan kapan dia mau. Ruby hampir selalu tidak siap dengan tindakan berlebihannya itu.


Benar saja, saat Ruby baru saja keluar dari kamar mandi sekitar jam lima sore, ia sudah mendapati bosnya berada di ruang TV, di apartemennya. Kemungkinan dia sudah berada di sana selama Ruby berendam di dalam bathtub selama hampir satu jam untuk menenangkan diri.


Sosok belakang dengan rambut setengah gondrong dan berwarna abu-abu itu tampak tengah bersandar ke sofa dengan santai, ia sedang menonton pertandingan bola di TV. Asap putih mengepul di atas kepalanya dan tampaknya i belum menyadari bahwa yang kesal sudah berdiri di belakangnya.


"Apa lagi sekarang?" ketus Ruby was-was mengeratkan pegangannya pada ujung handuk yang membalut tubuhnya.


Mungkin ia harus pindah dari sini agar tidak lagi menemukan penyusup ini dirumahnya tanpa izin. Siapa yang tahu apa yang di pikirkan bajingan gila seperti dirinya?


"Ternyata nyali kamu besar juga," komentarnya lalu menghisap rokoknya untuk terakhir kali sebelum ia membuang puntungnya di lantai dan menginjaknya di sana sampai mati.


Ini bukan masalah keberanian untuk membolos kerja dan melawan bosnya. Di mana pun, ruby berada akan tetap menyiksanya. kemana pun ruby lari, Seokjin akan tetap memburunya. Rasanya akan sangat sia-sia jika Ruby tidak menunjukan perlawanan agak sedikit walaupun itu tak akan berpengaruh apa-apa bagi seorang Seokjin.


"Kamu terobsesi padaku sekarang?" celetuk Ruby sinis.

__ADS_1


Seokjin menjawabnya dengan tawa melecehkan sambil menghampirinya dan Ruby seakan mengecil di depannya. Sosoknya sangat mengintimidasi dengan tubuh tinggi tegar, lengan yang kuat, wajah dengan hidung mancung dan sepasang mata yang tegas. Dulu Ruby bisa dengan begitu mudah terpikat padanya. karena ia hanya seorang gadis biasa yang belum tahu bahwa Seokjin adalah lelaki yang seperti ini.


Benar kata orang segala sesuatu selalu kelihatan indah dari kejauhan namun dari dekat semua ketidak sempurna akan terlihat dengan sangat jelas. Demikian pula Seokjin. ia adalah jenis lelaki yang paling buruk dalam wujud yang paling bagus dan kemasan yang paling mahal.


"Kalau memang begitu, apa yang mau kamu lakukan?" tanya Seokjin yang terus melangkah ke arah Ruby.


"Itu pasti sangat melukai harga diri kamu," balas Ruby, ia ikut melangkah mundur hingga punggungnya bertemu dengan dinding di belakangnya. Tapi, ia tetap menatap Seokjin dalam jarak yang sangat dekat itu dengan menyampingkan rasa takut. "Akhirnya kamu terobsesi dengan kekasih gelap musuh kamu sendiri."


"Kamu pintar bicara?" komentar dia lagi tersenyum. "Ternyata kamu lebih sulit kelihatannya."


"Aku anggap itu pujian," balas Ruby ketus.


"Tapi, mungkin sekarang......Aku bisa mengecualikan kamu," desisnya, mendekatkan wajahnya dan melirik kebawah di mana tangan Ruby yang memegang ujung handuk di dadanya, tampak gemetaran. Ia menatap Ruby seolah ia tergoda dengan tubuh Ruby yang sangat memprovokasi.


Sedikit saja Seokjin meniupnya gadis itu akan jatuh dalam pelukannya. Hanya saja ini bukan tentang itu. Karena jika ini memang tentang menaklukkan seorang gadis keras kepala yang berani bermain api dengannya, Seokjin pasti sudah berhasil. Namun, sesuatu telah benar-benar mengganggunya dan buatnya marah. Harga dirinya tidak mengizinkan dia untuk menunjukan apa pun selain arogansi dan teror agar gadis itu merasakan sakit hati.


"Apa?" celetuk Ruby lalu Seokjin terkikik meledeknya. gadis itu ketakutan, tapi tatapan dan kata-katanya menunjukan sebaliknya.


Ruby membalas tatapan Seokjin lagi dengan penuh percaya diri. Seokjin tidak menjawab seringai hilang diwajahnya saat ia menatap Ruby seakan ingin memakainya hidup-hidup.

__ADS_1


"Apa aku membuat kamu terangsang?"


Memang, wangi sabun yang menguar dari tubuh Ruby cukup membuatnya hilang akal. Kulit bahunya yang putih dan masih basah. Wajahnya bersih dan segar. Ruby punya bibir dengan merah mudah alami, itu lebih cantik dari pada warna-warni lipstik yang pernah Ruby pakai ketika ia berdandan seperti perempuan dewasa ke kantor.


__ADS_2