
Dan dulu Seokjin pernah hampir menciumnya tanpa sebab, jauh sebelum pertemuan yang tidak menyenangkan ini. Tapi Seokjin bukan orang yang mudah melanggar prinsipnya sendiri. Dia tidak akan menyentuh gadis itu yang sama yang pernah tidur dengan kakak iparnya sekali pun itu bernafsu.
"Itu memalukan," celetuk Ruby lagi di depan wajah Seokjin dengan nada rendah namun berat.
Seokjin hanya memperhatikan gerak bibir gadis itu sekaan dia ingin membungkam mulut yang terus menantangnya itu dengan bibirnya.
"Mungkin aku akan membayangkan Jimin saat aku melakukannya denganku. Dia jauh lebih tua dan juga lebih baik padaku."
"Bukanya kita sama Seokjin? sama-sama menyukai yang lebih tua?" balas Ruby dan reaksi Seokjin kali ini mudah di baca.
Ruby percaya apa yang di katakan Jimin, sangat mudah untuk mempermainkan psikologi seseorang ketika dia merasa cinta atau benci.
seketika Seokjin menarik mundur dirinya. Dia marah, meskipun itu disertai tatapan jijik. Seokjin tampak semakin benci terhadap Ruby.
"Jadi akhirnya kamu mengaku juga?" tanya Seokjin.
"Bukankah itu yang ingin kamu dengar." Jawab Ruby ketus.
__ADS_1
Jika Ruby terus membantah, Seokjin tetap tidak akan mempercayainya. Tak peduli apapun yang Seokjin pikiran, tapi jika itu membuat Seokjin bisa menjaga tangannya agar tidak menyentuhnya, Ruby bisa mengatakan hal yang lebih menjijikan lainnya. Semua itu hanya kebohongan karena Ruby tidak mungkin menyerahkan dirinya pada Seokjin sebagai pembuktian bahwa tuduhan menjadi pelacur kakak iparnya itu sama sekali tidak benar.
Ruby tidak pernah tidur dengan mantan bosnya yang hampir berusia empat puluh tahun itu walaupun umurnya yang tua tapi wajahnya dan tubuhnya masih saja awet muda. Ia memang mempunyai kecendrungan menyukai seorang yang lebih jauh lebih tua darinya karena pernah merasakan kehilangan sesosok seorang ayah, tapi...Jimin hampir sepantaran dengan ayahnya. Itu tidak mungkin. Jimin juga tidak berminat dengan Ruby karena Ruby seumuran dengan putrinya, Lisa.
"Kamu mau apa? menjambak rambutku?" tanya Ruby.
Seokjin hanya memberinya tatapan tajam dan dingin, menyembunyikan amarah yang tak mungkin ia lampiaskan dengan memukul gadis ini. Memukul orang yang lemah, ala lagi perempuan bukan gaya Seokjin. Tapi, ia benar-benar kesal karena gadis ini terus melawan. Ia juga tak tahan apa yang bisa membuat sakit hatinya terlampiaskan, Mungkin karena ia terus berusaha untuk mempertahankan prinsipnya itu.
"Sebaiknya kamu mulai datang kekantor besok." Seokjin berkata dengan nada mengancam lagi. Lalu memutar badannya dan tampak ingin pergi. "Cuti kamu sudah berakhir."
Segitu saja? setelah Seokjin yang kelihatan hampir menelanjangi Ruby dengan mata dan tangannya? Ruby terdiam, masih sedikit syok. Ruby tidak menyangka, lelaki itu ingin langsung pergi.
Seokjin membalikan badan, kembali beberapa langkah pada Ruby yang menatapnya jengkel.
"Kamu lupa dengan siapa kamu berbicara?!" Seokjin memperingatkan sambil menunjuk Ruby dengan kasar. "Kamu hanya bisa berhenti dari perkerjaan kamu kalau aku yang putuskan!"
Ruby mendengus kesal. "Kamu mau menyeretku sekalipun aku tetap tidak akan datang!" teriaknya sambil melawan.
__ADS_1
Seokjin kembali mendekat untuk mengatakan sesuatu yang mengakhiri perlawanan sia-sia Ruby.
"Oke," celetuk Seokjin menatap tajam. "Mungkin ayahmu harus tahu tentang rumor bahwa kamu dipecat setelah ketahuan mempunyai hubungan gelap dengan mantan bos kamu yang berumur empat puluh tahun."
"Apa!"
"Bukankah aku pernah bilang, Ruby. Pemenang selalu mengambil segalanya," tegas Seokjin saat Ruby hanya bisa terdiam dan mendadak kehilangan semua kata-katanya sendiri.
"Aku bisa mengambil lebih banyak dari yang bisa kamu miliki. Aku bersumpah." ancamannya lagi saat ia melangkah pergi dengan penampilan berandalnya itu.
"Dasar berengsek gila!" teriak Ruby saat lelaki itu menarik gagang pintu dan keluar.
Seokjin tersenyum penuh kemenangan. Ya, dia selalu menjadi pemenangnya.
Kedamaian selama dua minggu karena ia bisa beristirahat dan menyendiri telah berakhir. Seokjin telah pergi meninggalkan teror yang baru. Meskipun hubungannya dengan sang ayah sangat buruk, tapi rumor tentangnya di kantor juga bukan hal yang pantas dia dengar walaupun semua hanya omong kosong.
Awalnya semua terasa sempurna. Ruby masuk ke perusahaan itu dengan rekomendasi dari koneksi temannya, Hana, untuk menggantikan seorang asisten kantor CEO yang mengundurkan diri karena menikah. Bosnya saat itu park Jimin memperlakukannya dengan sangat baik sampai orang-orang mengira Ruby juga melayani kebutuhan seksual bosnya karena semua tahu istrinya menderita depresi. Tapi itu hanya rumor murahan yang iri kepadanya. Tak pernah ada yang bisa membuktikan bahwa Ruby adalah satu dari kekasih gelap Jimin.
__ADS_1
lalu ini lah masalahnya. Kemunculan Seokjin enam bulan lalu dengan membawa laporan bahwa Jimin telah banyak melakukan penyelewengan, mengguncang seisi kantor. Terlebih secara mengejutkan dewan direktur menyetujuinya dan itu menaruh Seokjin di tempatnya yang sekarang dengan kekuasaan yang absolut. Tak ada yang keberatan dengan pemecatan masal yang dia lakukan begitu dia duduk di kursi itu. Tapi, dari sekian banyak yang dia singkirkan yang menurutnya terafiliasi dengan Jimin, dia hanya menyaksikan Ruby, dengan terus menangguhkan surat pengunduran dirinya.
Motif Seokjin sangat jelas, sakit hati. Fakta bahwa Ruby membenci segala sesuatu yang berhubungan dengan Jimin dan Jimin yang memberi Ruby perkerjaan ini adalah alasan utama kenapa Seokjin memperlakukannya dengan sangat buruk. Seokjin ingin memberi Ruby pelajaran tanpa perlu menyentuh dengan terus membuatnya datang ke kantornya, tempat yang paling ia benci saat ini....