
Masa cuti telah selesai. Ruby datang lebih awal karena khawatir Seokjin sudah lebih dulu sampai di kantor. Orang itu biasanya datang lebih pagi dari yang lain. kadang dia mengindap kalau pekerjaannya belum selesai. Ia tidak mau orang itu menyindirnya lagi karena terlambat.
Setiap pagi, biasanya Ruby akan memastikan ruangan CEO bersih dan rapih. Tapi, sebelum ia mendorong pintunya dan masuk, Ruby memastikan pakaiannya sendiri sudah rapi dan tepat. Karena tatapan Seokjin yang seringkali memandanginya dari ujung kaki ke ujung kepala cukup membuatnya tidak nyaman.
"Ya, buatlah ini menjadi wajar. Ruby." pikiran Ruby.
Ia tengah membayangkan Seokjin duduk di sana dan sudah mulai berkerja. Tidak menutup kemungkinan dia akan mengatakan hal-hal yang menyinggung lagi begitu melihat Ruby masuk. Tapi ternyata ruangan itu kosong. Seokjin belum datang. Di atas meja ada setumpuk dokumen yang harus di tanda tangani.
Saat Ruby mulai memeriksa dokumen itu untuk mengurutkan prioritasnya seseorang terdengar membuka pintu dan masuk. Ruby pun terkesiap. Akhirnya Seokjin datang, pikirannya dan reflek menoleh ke belakang.
Ternyata hanya Della, sekertaris Seokjin yang masuk tanpa mengetuk pintu. Seorang perempuan yang berusia sekitar dua puluh empat atau dua puluh lima yang selalu datang ke kantor dengan dandanan penuh lengkap dengan riasan mata nuansa gelap dan bulu mata palsu.
"Pak Seokjin pergi dalam perjalan bisnis selama seminggu ke Beijing," Della memberitahunya dengan nada yang sama sekali tidak ramah. Belum lagi caranya menatap remeh Ruby yang langsung berubah gusar. "Jangan mengatakan kamu tidak tahu."
__ADS_1
"Beijing?" pikiran Ruby.
"Aku hanya asisten kantor bukan sekertaris yang harus selalu tahu jadwal," balas Ruby kesal. tapi sebenarnya agak lega untuk seminggu ke depan ia tidak akan bertemu Seokjin.
Della masih menatapnya sinis lalu memutar matanya. sejak awal mengenalnya, Della memang tidak menyukai Ruby. Dulu Jimin membangkang asisten kantornya itu. selain karena cantik Ruby tidak seperti kebanyakan asisten lainnya.
Harus diakui gadis dua puluh tahun itu seperti daun pada puncak tanaman yang terlihat lebih hijau dan segar di bandingkan dengan daun-daun pada bagian bawahnya. Ruby mempunyai sepasang bola mata coklat terang dan hidung mancung yang kecil. Dari perawakannya, orang sudah bisa menebak bahwa dia punya darah campuran. Rambutnya panjang dan bergelombang dan sedikit pirang, bahkan saat ia menguncinya dengan berantakan pun, ia tetap menawan. Tubuhnya langsing dan lumayan tinggi. Kabarnya dulu ia seorang penari balet di salah satu sekolah balet ternama di Jakarta.
Tampilannya lugu seperti gadis baik-baik yang pakaian dan tutur katanya sopan. bahkan bahasa inggrisnya fasih seperti native speaker, dia juga bisa menterjemahkan dokumen bahasa inggris dengan akurat. Pernah juga ia terdengar berbahasa Mandarin dengan salah satu tamu yang berasal dari Tiongkok. Bahkan juga ada yang pernah mendengarnya berbahasa Prancis saat ia mengantarkan tamu asing lainya ke lobi. Dia juga bisa mengerti dengan cepat.
"Seharusnya kamu bersyukur, pengunduran diri kamu masih ditangguhkan. bahkan setelah kamu sengaja bolos dua Minggu lebih dan berkelakuan seenaknya. Tidak ada karyawan yang nasibnya sebaik kamu". Ucap Della ketus.
"Bukan salahku, aku tidak di pecat sampai sekarang." balas Ruby yang tak kalah ketus dan menatap perempuan itu dengan menantang.
__ADS_1
Menjadi gadis jalan bahkan tak cukup untuk di pecat secara tidak hormat, yang ada Seokjin menyuruhnya untuk tetap kerja. justru Ruby benar-benar ingin di pecat dari perkerjaan ini supaya tidak perlu berurusan dengan Seokjin dan sekretarisnya yang menyebalkan ini baru saja. Ruby juga punya asisten pribadi yang bernama lauran yang hampir tidak perna bertegur sapa dengan Ruby karena ia berkantor di perusahaan keluarga yang lain.
Seokjin bersikap biasa saja terhadap Della, tapi dengan Laura mereka lebih terlihat seperti teman dekat dari pada partner kerja. Semua tahu itu dan beranggapan mungkin mereka punya hubungan yang cukup serius.
"Apa yang kamu lakukan kali ini?" Tanya Della, padanya tampa mencurigai. "Kamu juga merayunya?"
"Merayu?"
"Iya, tukan merayu. Tapi biar aku beri tahu. apa pun yang kamu lakukan akan sia-sia." Katanya lagi, sambil tertawa penuh hinaan. "Tidak ada yang lebih pantas didapatkan oleh gadis jalan seperti kamu selain hukum. Semua orang di sini membenci kamu, Ruby."
inilah alasan Ruby benci pergi kekantor. Padahal udah bagus ia tetap berada di rumah. Ini hanya satu dari sekian banyak kepala yang terlanjut menuduhnya dengan hal-hal yang tidak pantas. Tapi laki-laki itu tetap memaksanya datang di saat semua pekerjaannya yang bisa di lakukan oleh orang lain.
"Kalau kamu pikir...kamu bisa memaafkan Waja kamu yang cantik dan tubuh kamu yang murahan untuk cari aman, itu tidak akan bertahan lama. Seperti yang biasa dia lakukan, dia mungkin tidur dengan kamu karena kamu cantik, tapi.....dia akan membuang kamu begitu dia puas memberikan kamu pelajaran."
__ADS_1
Semua orang tahu kebiasaan buruk bos baru mereka. Dulu, Seokjin suka sekali menggoda sekertaris ayahnya sampai ada yang di pecat karena tertangkap basah bermesraan di kantor. Dia memang sengaja melakukanya untuk buat ayahnya kesal. Dia tidak terlalu peduli dengan perasaan gadis-gadis yang telah di berikan harapan palsu asalkan tujuannya tercapai. Sama seperti yang ia lakukan kepada Ruby saat ini. Meski Seokjin tidak pernah menyentuh-nya , tapi dengan terus membuatnya datang ke kantor dan mendapatkan perlakuan tidak adil semacam ini juga tidak ada bedanya daripada di beri harapan palsu, ditiduri, kemudian di Campaka.
Setalah ia kembali ke mejanya untuk mulai berkerja, ia menerima telepon dari bagian HRD. Biasanya itu adalah panggilan yang selalu membuat karyawan manapun langsung berfirasat buruk. Tapi, saat Jimin masih jadi CEO, Ruby hampir tidak pernah masuk ke ruang manajer HRD karena melakukan kesalahan. Jadi, Ruby tidak tahu apa yang sebenarnya akan ia terima selain dari penghinaan yang berlalu-lalu ini.