DIA MENGAMBIL SEMUANYA

DIA MENGAMBIL SEMUANYA
Episode 07


__ADS_3

Malam itu ruby pulang dan menangis terisak-isak dalam perjalanan. Ruby pikir dia bisa menceritakan apa yang dialaminya kepada Ayahnya, berharap ia akan melakukan sesuatu demi putrinya. Ruby yakin manajer pembohong itu akan di tuntut atas perkataannya itu yang sangat mempermalukan ruby. Tapi, ia malah tidak menemukannya di rumah. Pengurus rumah tangga memberitahu ruby bahwa ayah sudah pergi sejak sore dan belum kembali lagi. Pada akhirnya ruby menunggu ayahnya di ruang tamu sampai ketiduran disitu.


Pagi menjelang ayah ruby masih saja belum kembali. Dan ruby yang masih menunggunya sambil menangis bahkan sampai bolos sekolah. Ia tidak sabar ingin memberitahunya tentang apa yang ia alami kemarin. Ruby yang beberapa kali menatap kearah jam dan berlari kearah ruang depan setiap ia mendengarkan suara dari sana, pada akhirnya ruby kecewa dan lalu kembali dengan air mata. Sampai sekitar jam yang sudah menunjukan pukul dua siang, ketika ruby ketiduran lagi di meja dapur dengan makana yang sama sekali belum di sentuhnya kara ruby yang terus sedih, ia belum bisa bernafas lega sebelum melihat ayahnya itu.


Ruby mendengar suara ayahnya dari arah ruang depan, ia datang bersama pak Rudy. Orang kepercayaannya dan kedua seorang tamu pria dan wanita yang sepertinya sepasang suami-istri.


"Ayah?!" Panggil ruby dengan histeris sambil memeluknya dengan putus asa.


"Jaga sikap kamu, ruby." Ayah ruby berkata dengan dingin sambil melepaskan diri dari ruby.


Ruby yang sedih dan panik masih heran dengan sikap dingin ayahnya yang semakin parah. Ayah ruby sama sekali tidak bertanya tentang apa yang membuatnya menangis seperti yang biasa dia lakukan dulu.


"Ini anak anda, iya?" tanya seorang tamu wanita itu sambil tersenyum pada ruby. "Cantik sekali."


Ayah ruby sama sekali tidak menoleh ke arah putrinya yang berharap padanya.

__ADS_1


"Mari, pak-bu. kita keruangan yang lain." Kata pak Rudy kemudian pada saat ayah ruby memberi isyarat untuk mengabaikan ruby dan pergi keruangan tengah.


Ruby tertegun di tengah-tengah ruang tamu dan hanya mengamati orang-orang itu berpindah. Pak ruby terdengar menjelaskan segala hal tentang ruangan di rumah ini dan ayah ruby hanya mengiyakan tanpa banyak bicara sementara pasangan suami-istri itu sepertinya menunjukan ketertarikannya. Mereka juga pergi ke lantai dua memeriksa setiap kamar di sana. Mereka saling berbisik, kadang tersenyum sambil mengangguk, melontarkan pujian terutama pada kebun mawar merah yang mengelilingi rumah dan masih tertawa sampai saat ini.


"Dulu almarhum ibu sangat suka mawar merah," kata pak Rudy pada pasangan itu. "Rumah ini sampai di juluki House of Roses."


"Ehm, kita bisa pergi ke halaman belakang sekarang?" ucap ayah ruby yang menyela. Dia tampaknya tidak ingin mendengar penjelasan pak Rudy lagi, setiap orang membicarakan almarhum istrinya, dia tidak ingin mendengarnya.


Tapi tidak butuh waktu lama bagi ruby untuk menyadari apa yang tengah direncanakan ayahnya.


Ayah ruby tidak menjawab sama sekali.


"Ruby. kamu tenang dulu." ujar pak Rudy menghampiri ruby dan tersenyum seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja.


"Masuk ke kamar sekarang!" perintah ayah ruby kali ini kelihatan marah.

__ADS_1


"Kenapa?!" ucap ruby memekik lagi.


Belum lepas kesedihan tentang kemarin sekarang ia harus merelakan rumah tentang ia lahir dan tumbuh besar bersama adik-adiknya.


Pasangan suami-istri itu tampak bingung, mungkin juga sedikit simpati pada keluarga ini, tentunya mereka tahu apa yang pernah terjadi di sini. Kecelakaan ibu dan kedua adik ruby sempat menjadi berita di mana-mana sebagai kecelakaan naas di mana nyawa seorang ibu dan dua anaknya melayang begitu saja di jalan raya.


"Kenapa ayah mau menjual rumah ini?!" protes ruby lagi saat sangat ayah lagi-lagi mengabaikannya dengan mengajak tamunya pergi.


"Ruby, ayok sini." ucap pak Rudy menarik ruby keruang lain. Sepertinya dialah yang akan menjelaskan alasan kenapa ayah memutuskan untuk melepaskan rumah mereka, harta berharga dengan banyak kenangan indah di dalamnya.


Rupanya perusahaan ayah ruby perlahan mulai menunjukan gejala bangkrut. Ayah ruby sudah mengajukan pailit pada Bank dan sebagai salah satu cara untuk melepaskannya dari kerugian yang lebih besar lagi adalah dengan menjual rumah itu. Pak Rudy memohon pengertian ruby sesuatu yang harusnya dilakukan oleh ayahnya agar ia berhenti menangis. Tapi tampaknya dia sudah tidak ingin bicara dengan putrinya sendiri.


Bahkan setelah tamunya pergi, ayah ruby masih enggan berbicara sama ruby.


Keesokan harinya ia masih saja duduk di sofa itu memandangi foto keluarga seolah itu membuatnya merasa lebih baik. Hingga keesokan paginya foto itu menghilang dari tempatnya. Seorang pengurus rumah tangga dan tukang kebun mulai sibuk mengemasi barang-barang mereka saat ruby baru saja keluar dari kamar dengan mata bengkak karena menangis semalaman. Mereka mengatakan ini hari terakhir mereka berkerja karena ayah ruby sudah tidak sanggup menggaji banyak pekerja.

__ADS_1


Seharusnya ruby juga mulai merapihkan barang-barangnya karena ayah ruby sudah menemukan rumah yang baru untuk mereka tinggali sebuah tempat yang lebih kecil dan tidak membutuhkan biaya yang besar untuk mengurusnya. Satu persatu orang melangkah pergi dari rumah ini dan mereka berpamitan lalu berpesan pada ruby agar menjaga dirinya dengan baik untuk kehidupan berikutnya.


__ADS_2