
"Aaaaaw! baju ku," pekik Alisa langsung berdiri karena merasa terkejut.
"Gladis, apa yang kau lakukan!" bentak Radit menatap kekasihnya itu dengan tajam.
"Kau membentak Ku? Aku tidak sengaja, kenapa? kau sampai membentak ku hanya karena dia!" ucap Gladis tidak terima, menatap kekasihnya itu sambil berdiri, bagi nya ini pertama kalinya dirinya di bentak oleh kekasihnya itu.
"Tidak,Gladis, Aku tidak bermaksud untuk membentak mu, itu karena kau keterlaluan!" ucap Radit berusaha untuk menjelaskan agar kekasihnya itu tidak salah paham.
"Aku pulang! kau benar-benar membuat ku kecewa dan lagian sedari tadi kau diam terus tanpa sedikitpun berbicara seperti tidak suka Aku datang!" ucap Gladis menatap ke arah Alisa dengan kesal, sambil meneteskan air matanya dan segera pergi meninggalkan tempat tersebut dengan sendu.
Radit yang melihat kekasihnya itu pergi segera mengejarnya, agar gadis itu tidak berbicara kepada orang tua nya, Tetang keberadaan Alisa yang tinggal di tempat tersebut, jika orang tuanya tau pasti akan terjadi masalah pikir nya
"Gladis, ku harap kau tidak mengadu kepada kedua orang tua ku, tentang keberadaan Alisa!" panggil Radit menghentikan langkah kekasih nya itu.
"Kau bahkan memanggil ku dengan nama? sepenting apa wanita itu? sampai kau begitu khawatir jika aku mengadukan pada Tante? tenang aku bukan orang yang suka membocorkan rahasia orang, jadi kau tidak usah khawatir. Melihat tadi aku semakin yakin kalau kau tidak menginginkan ku lagi!" ucap Gladis panjang lebar sambil berkaca-kaca, bagi Radit ini sudah biasa kekasih nya itu selalu ada apa-apa menangis, seakan dirinya lah yang tersakiti padahal terkadang tingkah nya yang selalu memaksa membuat Radit selalu berusaha sabar menghadapi kekasih nya itu, jadi tidak heran jika kekasihnya itu menangis tapi bagi Gladis ini pertama kali nya Radit membentak nya karena membela wanita lain.
Gladis pun segera masuk ke dalam mobil nya, sementara Radit hanya melihat kepergian mobil kekasih nya itu yang semakin menjauhi dan membiarkan kekasih nya itu pergi karena dia tau kekasih nya itu tidak beneran marah, nanti nya dia sendiri yang minta maaf dan mohon-mohon agar tidak di putusi seperti yang sudah-sudah pikir nya.
Alisa yang melihat kepergian Gladis merasa bersalah karena dirinya membuat keduanya bertengkar. Setelah Radit masuk gadis itu segera berdiri untuk bertanya.
"Mas Radit, maaf ya, gara-gara Aku Mba Gladis pergi!" ucap Alisa sambil menatap Radit dengan tidak enak hati .
"Tidak masalah dia memang seperti itu, kau jangan merasa tidak enak hati, karena dialah yang salah. Hal itu sudah biasa karena kalau tidak di bentak dia akan terus memaksa, jadi kau jangan kaget karena kami memang selalu begitu, nanti dia juga minta maaf sendiri dan mohon-mohon agar tidak di putusin, karena dia tidak mungkin menggantikan diri ku dengan yang lain, karena tidak ada yang lebih tampan dari ku!" ucap Radit panjang lebar sambil merapikan rambutnya membanggakan dirinya sendiri.
"Cih so ke gantengan!" Cibir Ketrin memutar bola matanya malas.
"Tapi bukan kah benar? kalau apa yang di katakan Gladis tadi? kau lebih berbeda dari biasanya, bahkan kau tidak pernah membentak nya, tapi kali ini kau membentak nya hanya karena dia!" sambung nya, sambil berdiri menatap Alisa dengan tatapan mata tidak suka.
"Ketrin, apa yang kau katakan? kau itu tidak usah ikut campur urusan orang lain!" ucap Kevin agar kekasih nya itu tidak terlalu banyak bicara lagi, sambil menatap kekasihnya itu tidak habis pikir.
"Aku hanya tidak menyangka saja kenapa kau terlihat marah?" jawab Ketrin sambil menatap kekasihnya itu yang terlihat marah.
"Kau pulang saja ini sudah malam!" perintah Kevin sambil meneguk minuman nya.
"Kau mengusir ku? hanya karena dia?" tanya Ketrin dengan tidak percaya.
"Sudah ku katakan tidak ada kaitannya dengan dia, Aku menyuruh mu pulang karena memang sudah malam!" ucap Kevin menjelaskan.
"Baiklah aku pulang, tapi Aku tidak akan pernah membiarkan kau merebut kekasih ku!" ucap Ketrin sambil menunjuk ke arah Alisa, lalu segera melenggang pergi dari tempat tersebut, hal itu membuat gadis itu semakin merasa bersalah
__ADS_1
"Ka Kevin, Maaf gara-gara Aku kalian bertengkar!" ucap Alisa menatap Kevin tidak enak hati.
"Tidak masalah karena ini bukan salah mu, kata-kata Ketrin yang tadi tidak usah di dengerin, karena dia sedang kesal saja, mungkin karena dia mau datang bulan jadi mood nya lagi kurang baik, nanti dia juga luluh sendiri!" jelas Kevin panjang lebar berusaha untuk menenangkan Alisa, agar gadis itu tidak menyalahkan dirinya sendiri
"Baru juga hari pertama dia gabung, tapi sudah membuat masalah, bagaimana kedepannya? pasti akan jauh lebih merepotkan!" ucap Vino angkat bicara sambil menatap Alisa dengan tidak suka dan segera keluar meninggalkan tempat tersebut, membuat Alisa merasa semakin bersalah
"Alisa kau jangan dengarkan apa kata dia, karena dia itu suka berkata seperti itu, bukan hanya dengan kau tapi gadis yang lain nya juga, jadi perkataan nya jangan di ambil ke hati!" ucap Kevin berusaha untuk menenangkan gadis tersebut .
"Tapi, ini semua karena keberadaan ku di sini, apa nantinya tidak akan membuat masalah? jika aku terus berada di sini, Aku tidak ingin keberadaan ku ini membuat hubungan kalian rusak, dan aku juga tidak ingin karena keberadaan ku membuat orang lain tidak nyaman?" ujar Alisa panjang lebar sambil menatap Keduanya merasa bersalah .
"Tidak sama sekali.
Ingat jangan pernah merasa seperti itu, bagi ku keberadaan mu cukup membuat ku merasa ada seseorang yang membuat ku semangat, karena selama ini Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini, mungkin karena Aku terlalu merindukan adik ku dan aku merasa kau sudah seperti adik ku, karena Ketrin memang selalu sibuk dengan pekerjaan nya, membuat Aku terkadang merasa kesepian!" ucap Kevin panjang lebar agar gadis itu merasa tenang.
"Iya benar, kau tidak usah merasa bersalah, ingat kau tidak boleh banyak pikiran!" tambah Radit mengangguk setuju.
Akhirnya Alisa pun mengerti dan segera masuk ke dalam kamar nya karena hari memang sudah larut, Sementara Radit dan Kevin memutuskan untuk pulang.
PAGI HARI NYA
Alisa sudah bangun dari tidur nya dan melihat banyak sampah berceceran dimana-mana, gadis itu segera membersihkan tempat tersebut, karena merasa sangat begitu tidak nyaman saat melihat tempat yang terlihat kotor, biasanya Dion lah yang akan selalu membersihkan nya, mungkin karena dia belum datang pikir nya.
"Tidak masalah, Aku biasa melakukan nya!" jawab Alisa sambil tersenyum tipis, melihat Alisa tersenyum pria itu entah mengapa tiba-tiba menjadi salah tingkah dan senyum-senyum sendiri.
"Mas nya tidak papa kan? apa sedang kerasukan?" tanya Alisa menatap pria itu sambil bergidik ngeri mengingat pria itu senyum-senyum sendiri .
"Tidak! kenapa Anda berpikir seperti itu? Anda itu bicara nya tude poin sekali, Saya tadi hanya senang saja karena ada yang bantuin, biasanya Saya selalu mengerjakan nya sendiri!" jawab Dion panjang lebar sambil berusaha untuk tenang.
"Oh begitu maaf!" ucap Alisa sambil tersenyum kikuk merasa bersalah sudah berbicara Asal.
"Tidak masalah, Anda jangan merasa bersalah begitu," jawab Dion dengan malu-malu.
"O iya, perkenalkan, nama Saya Dion, siapa nama Anda Mba? Saya belum tau siapa nama Anda?" lanjut nya lagi sambil menatap kearah Alisa dengan penuh selidik.
"Panggil saja Alisa! mungkin kedepannya kau akan bosan karena keberadaan ku di sini!" jawab Alisa sambil tersenyum tipis.
"Ya ampun ini gadis bikin aku meleleh saja, senyum nya loh!" gumam Dion di dalam hati nya berusaha untuk menenangkan diri nya.
"Mba Alisa, baiklah Saya memanggil Anda dengan sebutan itu, dan kedepannya mungkin kita akan menjadi teman baik jadi jangan berpikir bahwa Saya akan bosan!" ucap Dion berusaha untuk biasa saja.
__ADS_1
"Jangan mba panggil aja Alisa, seperti nya kalau memanggil Mba tidak cocok, karena dari yang ku lihat kau lebih tua dari ku, dan jika kita teman mungkin kita tidak sefrontal itu!" ucap Alisa panjang lebar dengan tersenyum tipis, lagi-lagi senyuman Alisa membuat pria itu menjadi salah tingkah dan tiba-tiba menjadi gugup.
"Emang berapa usia nya?" tanya pria itu dengan penasaran mengingat bahwa Alisa sedang hamil, pria itu tidak tahu kenapa Alisa bisa tinggal di tempat tersebut karena pria itu berpikir mungkin dia adalah saudara bosnya itu.
"20 tahun, pas bulan kemarin Aku ulang tahun!" jawab nya singkat.
"Masih muda banget!" ucap Dion mengangguk mengerti, pria itu yang tidak ingin berlama-lama dengan situasi seperti itu segera bergegas untuk membersihkan tempat tersebut, keduanya pun melakukan pekerjaan tanpa ada yang berbicara lagi, karena pria itu tidak ingin menjadi salah tingkah kembali dan tidak ingin bosnya itu memarahi nya .
Tak lama Kevin, Radit, Vino sudah datang meskipun Vino selalu cuek pria itu juga datang.
"Alisa, apa yang kau lakukan? kenapa kau melakukan semuanya!" panggil Kevin membuat gadis itu menengok ke arah sumber suara .
"Tidak masalah, ka Kevin, Aku paling tidak suka melihat tempat berantakan, apa salah nya aku membantu Dion, iya kan Dion!" ucap Alisa sambil berjalan mendekati ke arah Ketiga nya, menatap Dion yang sedang menyapu.
"Kalian seperti nya akrab sekali!" ucap Kevin sambil menatap anak buahnya dengan penuh selidik, membuat Dion yang di tatap menjadi gugup dan takut .
"Tidak bos, kami tida akrab, kami hanya berkenalan saja!" ucap Dion merasa ketakutan dan segera keluar untuk membuang sampah .
"Dion itu aneh, membuat ku bergidik ngeri!" ucap Alisa sambil mengingat wajah Dion tadi yang senyum-senyum sendiri.
"Sudah jangan bahas dia lagi, kita sarapan dulu aja!" jawab Kevin yang merasa tidak nyaman jika Alisa membicarakan tentang pria lain .
Ketiganya pun makan bersama tanpa sedikitpun berbicara, karena Vino yang tidak ingin mereka bicara, setelah selesai sarapan mereka pun memutuskan untuk berangkat ke perusahaan, sementara Alisa hanya melihat punggung Ketiganya, gadis itu segera masuk ke dalam .
Sore Harinya
Alisa yang merasa bosan berada di tempat tersebut dan merasa tidak enak hati, ingin bertanya pada Kevin karena gadis itu tidak ingin merepotkan ke-tiga nya terus menerus dan memutuskan untuk bertanya tentang pekerjaan.
"Ka Kevin, Alisa tidak mungkin hidup bergantung terus pada kalian, Alisa ingin sekali bekerja, apa kalian bersedia untuk memberikan Aku pekerjaan? Aku tidak ingin terus merepotkan kalian, bukan kah biaya punya anak itu sangat mahal? kalau Aku tidak bekerja, siapa yang akan membiayai semua nya? Aku mohon berikan Aku pekerjaan, apa pun itu, jadi pembantu juga boleh!" ucap Alisa panjang lebar sambil menatap Ketiganya dengan penuh harap .
"Apa pengalaman mu? siapa tahu Aku bisa memasukkan mu ke perusahaan?" tanya Kevin sambil berpikir .
"Aku pernah bekerja sebagai sekertaris di sebuah perusahaan, selama setahun itu pengalaman pertama dan terkahir ku, Aku tidak punya pengalaman lagi, setelah itu Aku menikah!" terang Alisa panjang lebar membuat Kevin menatap ke arah Vino .
"Vin, bukan kah perusahaan mu sedang membutuhkan seorang sekertaris?" tanya Kevin membuat Vino menatap sahabatnya itu tajam.
"Apa maksudmu?" tanya Vino datar
BERSAMBUNG
__ADS_1