
" May.. are you okay...? "
Dikta terlihat sangat khawatir menatap lekat wajah Maya yang polos serta bibirnya yang kemerahan karena demam.
" I'm sorry... aku minta maaf, aku sampai lupa ngabarin kamu... I'm sorry sayang "
Dikta mengangkat kepala Maya dan langsung memeluk kekasihnya, sementara Maya yang sudah hanyut dengan sentuhannya langsung merasa iba.
" I'm fine.... "
lirih Maya sambil memeluk dikta sangat erat, tak bisa di pungkiri dia sangat merindukan kekasihnya yang super sibuk akhir-akhir ini.
" Kamu sakit...? kenapa kamu nggak bilang sama aku, ayo ke dokter... "
" Nggak usah, nggak perlu... aku baik-baik aja kok kak.. cuma mungkin mau flu sama sedikit banyak fikiran "
Dikta menatap Maya yang duduk menyender di ranjang.
Matanya merah, ia tahu betul dan hafal kalau kekasihnya menangis terlalu lama pasti seperti itu.
" Maaf.... "
Menyentuh mata Maya dan berhenti di pipi.
" Nggak apa-apa... "
" Jangan kayak gini lain kali, aku nggak mau lihat mata kamu kayak gini sayang.... "
Maya hannya diam, ia tidak menatap Dikta kali ini hingga membuat kekasihnya cemas.
" Are you okay....? "
Maya hannya mengangguk.
Dikta yang melihat langsung memeluknya.
Maya justru menangis.
" Kamu marah sama aku...? atau aku ada yang salah kak...? harusnya kamu bilang... jangan kayak gini, kamu cuekin aku lho udah 3 hari lebih.... "
Sambil sesenggukan.
Dikta langsung membelai lembut kepalanya.
" Udah... jangan nangis gitu, nanti mata kamu sakit sayang... nanti mata kamu sipit... "
" Kamu punya wanita lain ya di belakang aku...! "
Dikta langsung terkejut dan menatap tajam Maya.
__ADS_1
" Pertanyaan macam apa itu...! "
" Kamu cuekin aku kak... kamu ada yang lain pasti... "
" Nggak Maya... "
" Nggak salah kan...? "
" Sumpah aku nggak ada yang lain... kamu kenapa punya fikiran kayak gitu sih... "
" Jujur aja deh kak, kalo iya bilang iya aja... nggak usah nggak enak hati sama aku.. "
" Aku udah bilang nggak May.... "
" Aku ngalah... daripada kayak gini sakit tahu kak di cuekin...! "
" Hentikan May...!!! sudah kakak bilang kan... "
Maya tersentak dan diam sambil menahan tangis, namun tetap saja air matanya mengalir deras.
" Maaf.. maaf.. bukan maksud kakak bentak kamu May.. "
" Udah deh kak, nggak apa-apa... aku capek.. "
" Jangan kayak gitu... aku minta maaf... "
" Udah kamu pulang aja sana deh kak... "
Menyadari bahwa semua yang dia terima pemberian dari Dikta, Maya langsung beranjak dan berniat pergi.
" May... kamu mau kemana... "
" Aku aja yang pergi, toh semua ini punya kamu.. bagaimana aku mengusir orang yang sudah membeli semuanya... "
" Sayang, jangan kayak gitu pleaseee, jangan kayak anak kecil "
" Sebenarnya yang kayak anak kecil aku atau kamu sih kak...? coba deh l resapi lagi kata-kata kakak barusan... "
Dikta sudah hampir kesal meladeni sikap Maya yang dianggapnya semakin membesar-besarkan masalah.
" Aku minta maaf, aku udah minta maaf... dan aku tegasin sekali lagi sama kamu, aku nggak ada wanita lain Maya.... !! "
Maya justru semakin melangkah.
" Berhenti May...!!! "
Ia melangkah sekali lagi satu langkah.
" Aku bilang berhenti Maya...! jangan uji kesabaranku kali ini...!!!! "
__ADS_1
Maya semakin kesal dan mencoba meraih gagang pintu.
" Aku sudah bilang berhenti apa kamu tidak dengar MAYA BRAMASTYO....!!!! "
BRAMASTYO adalah nama belakang dari Dikta sendiri.
Dikta langsung menarik pergelangan tangan Maya hingga kekasihnya merasa kesakitan.
" Awh... "
" Aku sudah bilang berhenti...!!! kamu mau pergi kemana hahh....!!! MAU KEMANA...!!! lihat pakaianmu...!!! "
Dikta berteriak kencang memarahi Maya, kali ini dia tidak menyangka akan membuat kekasihnya semarah ini, bahakan Maya baru kali ini melihat dikta kasar sampai menarik tangannya.
Maya berjalan mundur, tadinya nyalinya membara kini langsung menciut dan ketakutan hingga membuat tangannya gemetar.
Bukan semakin adem tapi Dikta kali ini membuat semuanya semakin runyam dengan memarahi dan membentak kekasihnya habis-habisan.
Melihat jemari Maya gemetar Dikta langsung memejamkan matanya kesal.
Perlahan Dikta melangkah ke arah Maya yang sudah ketakutan.
Bughhh.....
Diluar dugaan, justru Maya jatuh pingsan.
Dikta yang ikut terkejut langsung menggendong Maya ke tempat tidur.
" ****....!!!!! "
Dengan buru-buru dia langsung menelfon dokter dan mengambil baskom untuk mengompres kening Maya.
" Sayang.... aku mohon jangan seperti ini, wait... aku sudah menelfon dokter, bertahanlah... "
Terlihat jelas rasa panik dan takut dari wajahnya..
.
.
.
Setelah hampir setengah jam akhirnya dokter selesai memeriksa Maya.
" Gimana dok... "
" Panasnya tidak terlalu tinggi, tapi tetap nanti di kompres...dan sepertinya istri anda lelah mungkin belum makan atau terlambat makan juga... "
Dikta terdiam mendengar kata istri.
__ADS_1
" Nanti kalau sudah bangun, segera untuk makan supaya perutnya tidak kosong, lepas itu minum obat... "
" Baik dok, terima kasih.... "