
" May..... "
Teriak Caca dar jauh mencoba berlari menghampiri Maya.
" Cie.... "
" Apa'an...? cia cie "
" Baikan sama Dikta...? "
" Iya... hehehehe "
" Semalem nginep...? "
" Iya Ca, semalem tiba-tiba aku pingsan, mungkin belum makan malam kali ya "
" Pingsan...? emang semalem nggak makan..? ngapain aja? ngegalau? "
" Ngaco deh, semalem juga aku yang ada ketiduran Ca, kak Dikta dateng juga kau nggak tahu... "
" Eh bentar deh, kok leher kamu merah May... jangan-jangan.... "
" nggak usah buruk sangka gitu deh Ca... mana coba cermin... "
" Nggak bawa soalnya buru-buru tadi, ayo ke toilet bentar kalo kamu nggak percaya, ada 3 loh May itu merah-merah di leher... wah ganas juga kak Dikta... "
" Caca...! udah deh.. ayo "
Mereka langsung bergegas ke toilet sebelum kelas si mulai.
" Kok bisa gini ya... perasaan tadi malam cuma di cium kak Dikta doang deh "
Lirih Maya yang masih kebingungan melihat lehernya.
" Tuh kan.. apa aku bilang hahahaha... kak Dikta nyium juga akhirnya "
" Ca.. jangan keras-keras bisa nggak sih, kebiasaan banget tuh mulut "
" Seneng banget dah.. padahal bukan aku yang ciuman tapi berasa menang lotre tahu May... hahahaha "
" Jangan aneh-aneh... btw ini ngilanginnya gimana Ca... kamu pernah kan pasti sama ayang kamu jug, ngaku aja "
" Itu nggak bisa ilang May.... "
" What....!! "
" Udah nggak usah panik.. nanti ilang sendiri "
" Kok aku nggak ngeh pas ngaca tadi ya, pantesan kak Dikta bangun tidur tadi tiba-tiba senyum lihat aku, apa gara-gara ini... "
" Kamu diapain aja sama Dikta...? "
bisik Caca.
" Nggak ngapa-ngapain , ngaco ya lu beneran dah... cuma di cium doang.. udah ayok ke kelas "
Caca benar-benar penasaran, ya kali Dikta nggak nafsu sama sahabatnya yang bodynya aja berisi bagus banget pokoknya SNI.
11.06
" May, pulang bareng nggak...? "
" Kayaknya nggak deh Ca... kak Dikta pasti jemput "
" Ya udah, aku duluan.... emang dia udah ada di depan...? "
" Kamu kan tau sendiri... pasti sudah "
" Yaudah, aku duluan.. bye bestie... hati-hati sama kak Dikta, besok-besok pindah dari keher ke.... "
" Udah deh... pergi sana... "
Caca meninggalkan Maya yang masih sibuk di kelas nyelesaiin tugasnya sedikit.
" Sayang.... "
Deg...
" Ya ampun kak Dikta... ngapain masuk sampai kelas.... "
kebetulan kampus memang selalu ramai ya kan, jadi kali ini benar-benar bikin heboh satu gedung di buat Dikta.
" Jemput kamu lah... ayo pulang... "
" Tapi nggak harus masuk juga kali kak, ya ampun.... lihat mereka semua melihat ke arah kita, lebih tepatnya ke arah kamu... "
Maya terlihat jengkel dengan tatapan para wanita yang tertuju pada kekasihnya.
" Ih... sebel deh kak... tau ah.. "
Dikta menggandeng tangan Maya sambil tersenyum dan melewati kelas serta kerumunan mahasiswa dan mahasiswi di sana.
" Kak... "
" Apa May...? "
__ADS_1
" Ih.. ngapain sih masuk segala.. mana pake baju kayak gitu kancingnya kebuka banget, kamu mau tebar pesona disini... "
" Nggak lah ngapain, nggak ada yang cantik.. "
Tiba-tiba Maya berhenti, ia tahu semua mata masih tertuju padanya dan Dikta.
" Sini biar aku kancingin... bandel banget ih... lain kali jangan ngumbar aurat kayak gini dong kak, aku nggak suka...! lihat coba cewek" pada lihatin kamu... "
" Aku pake baju sayang, bukan telanjang.. "
" Ini apa... "
Mencubit dada bidang kekasihnya.
" Awh... sakit yanx... "
" Nggak usah lebay.. "
Dikta justru tersenyum lebar melihat tingkah Maya yang sibuk membenarkan kancing baju kemejanya.
" Awas kalau kayak gini lagi... "
" Awas kenapa...? "
" Udah kak nurut aja... kamu punya aku tau.. masak punya aku mau aku tontonin kayak gini... nggak.. nggak...! jangan.. dan ini terakhir kali "
" Iya sayang... "
Dikta mendaratkan ciuman di kening hingga membuat segerombolan wanita bersorak gemas.
" Ih... udah ayo pulang, malu-maluin tahu kak... ih.. kamu bener-bener "
Maya langsung menggandeng Dikta buru-buru keluar dari gedung karena benar-benar merasa malu, berbeda dengan Dikta yang justru santai tanpa rasa malu.
Di mobil
" Kamu marah....? "
" Nggak.... "
" Cemberut.... "
" Habisnya kamu tuh... "
" Untukmu.. cintaku... my life "
belum sempat bicara Dikta sudah memberikan satu kotak berhias oita pink kepada Maya.
" Ini...? "
" Untukmu...
" Ulang tahunku...? "
Maya terdiam sejenak.
" Aaaaaa.... iya, kenapa aku bisa lupa, dan Caca juga bisa-bisanya dia juga lupa... tapi nggak apa-apa... kamu yang terbaik kak.. makasih.... lover you more Dikta "
Maya memeluk Dikta sangat erat.
" Makasih.... "
" Aku suka kamu panggil aku nama saja tanpa kata kakak "
" Kenapa...? "
" Lebih ngena aja di hati... coba sekali lagi panggil nama aku.... "
" Tapi kan kamu umurnya jauh dari aku, nanti aku nggak sopan kak.. "
" Cuma beda 10 tahun sayang.. dan itu nggak ngaruh, lagian mukaku imut kan... "
" Imut....? "
Maya tersenyum meledek.
" Ayolah... "
" Hm... okay.. .
makasih dikta... i love you dikta "
" Jleb... ngena banget di sini... "
Sambil nunjuk ke dada.
" Udah deh.. mulai lebaynya... "
" Happy birthday.... "
" thank you "
" Give me.... please... "
rengek Dikta.
__ADS_1
" Apa...? kamu mau apa..? "
Dikta langsung mengusap bibir Maya.
" I want.... "
" Ini di mobil kak Dikta... dilihat orang bagaimana... "
Dikta langsung meraih dagu Maya dan menurunkan senderan kursi mereka.
Ke 2 kalinya, kini justru Maya semakin menikmati sentuhan yang di berikan oleh Dikta, bahkan keduanya sama-sama hanyut.
" Manis... "
" Kak... "
rengek Maya
" Dikta aja... "
" Dikta.... "
seru Maya.
" Nggak bikin leher q merah kan...? "
" Kenapa...? kamu suka kan..? "
" Bukan itu, tapi malu tahu sama Caca... "
" Hahahaha... biarin aja "
Dikta sekali lagi mendaratkan bibirnya di bibir Maya sambil meraba ke arah kancing baju kemeja Maya yang sudah terbuka dari tadi.
" Lain kali jangan sampai kebuka kalau di luar.. "
" Kebuka sendiri Dikta.... "
Dikta tersenyum manis ke arah Maya dan. langsung membenarkan posisi mereka kembali.
Terdengar suara ponsel berbunyi.
" Siapa sayang...? "
" Caca.... hahaha ngucapin selamat ulang tahun.... dia ingat ternyata "
" Besok libur kan..? "
" Iya, kenapa...? "
" Katanya mau jalan... "
" Beneran...? "
" Iya, kamu mau kemana..? biar aku pesan tiket pesawat... "
" Apa....!! pesawat...? "
" Liburan...? "
" Beneran...? "
" Iya Maya.. kamu mau kemana..? "
Dikta menatap Maya menunggu jawaban.
" Kok aku bingung.. kamu aja yang nentuin.. tapi itu mahal Dikta... pemborosan... "
" Aku kerja buat kamu, uang aku masih banyak... "
" Sebenarnya kerja kamu apa si...? "
Maya masih penasaran, ia tidak tahu kalau Dikta pemilik perusahaan terbesar yang ada di kotanya karena memang kekasihnya belum menceritakan secara detail tentang hidupnya.
" Udah.. nggak usah pusing mikirin kerjaanku apa, kamu mau kan... ? "
" Mau... "
" Kok kamu nangis... "
" Aku seneng Dikta... makasih banget untuk semuanya... tapi ini serasa berlebihan bagiku...kesannya aku matre ya...? "
" No....!!! jangan bilang kayak gitu.. kamu ratuku, bukan yang lain... kamu jangan mikir aneh-aneh kayak gitu... "
" Gimana nggak coba.. kamu baik banget... lain kali jangan manjain aku berlebihan kayak gini, akunya kadang nggak enak... "
" Untukmu nggak ada yang namanya terbuang sia-sia sayang, love you more.. semua yang aku miliki punya kamu.. semuanya...!! memanjakan pasangan juga keharusan... bukan begitu...? "
ucap Dikta sambil tersenyum mengelus pipi Maya.
" Tapi berlebihan... "
" Stop... dan mari kita pulang, apa kamu mau belanja baju..? "
" Nggak.. nggak... aku nggak mau buang-buang duit terus.... "
__ADS_1
" Aku yang bayar hahahaha "
" Apa-apa selalu kamu juga kan ujung-ujungnya.... "