Dikta..!

Dikta..!
happy birthday


__ADS_3

" May..... "


Teriak Caca dar jauh mencoba berlari menghampiri Maya.


" Cie.... "


" Apa'an...? cia cie "


" Baikan sama Dikta...? "


" Iya... hehehehe "


" Semalem nginep...? "


" Iya Ca, semalem tiba-tiba aku pingsan, mungkin belum makan malam kali ya "


" Pingsan...? emang semalem nggak makan..? ngapain aja? ngegalau? "


" Ngaco deh, semalem juga aku yang ada ketiduran Ca, kak Dikta dateng juga kau nggak tahu... "


" Eh bentar deh, kok leher kamu merah May... jangan-jangan.... "


" nggak usah buruk sangka gitu deh Ca... mana coba cermin... "


" Nggak bawa soalnya buru-buru tadi, ayo ke toilet bentar kalo kamu nggak percaya, ada 3 loh May itu merah-merah di leher... wah ganas juga kak Dikta... "


" Caca...! udah deh.. ayo "


Mereka langsung bergegas ke toilet sebelum kelas si mulai.


" Kok bisa gini ya... perasaan tadi malam cuma di cium kak Dikta doang deh "


Lirih Maya yang masih kebingungan melihat lehernya.


" Tuh kan.. apa aku bilang hahahaha... kak Dikta nyium juga akhirnya "


" Ca.. jangan keras-keras bisa nggak sih, kebiasaan banget tuh mulut "


" Seneng banget dah.. padahal bukan aku yang ciuman tapi berasa menang lotre tahu May... hahahaha "


" Jangan aneh-aneh... btw ini ngilanginnya gimana Ca... kamu pernah kan pasti sama ayang kamu jug, ngaku aja "


" Itu nggak bisa ilang May.... "


" What....!! "


" Udah nggak usah panik.. nanti ilang sendiri "


" Kok aku nggak ngeh pas ngaca tadi ya, pantesan kak Dikta bangun tidur tadi tiba-tiba senyum lihat aku, apa gara-gara ini... "


" Kamu diapain aja sama Dikta...? "


bisik Caca.


" Nggak ngapa-ngapain , ngaco ya lu beneran dah... cuma di cium doang.. udah ayok ke kelas "


Caca benar-benar penasaran, ya kali Dikta nggak nafsu sama sahabatnya yang bodynya aja berisi bagus banget pokoknya SNI.


11.06


" May, pulang bareng nggak...? "


" Kayaknya nggak deh Ca... kak Dikta pasti jemput "


" Ya udah, aku duluan.... emang dia udah ada di depan...? "


" Kamu kan tau sendiri... pasti sudah "


" Yaudah, aku duluan.. bye bestie... hati-hati sama kak Dikta, besok-besok pindah dari keher ke.... "


" Udah deh... pergi sana... "


Caca meninggalkan Maya yang masih sibuk di kelas nyelesaiin tugasnya sedikit.


" Sayang.... "


Deg...


" Ya ampun kak Dikta... ngapain masuk sampai kelas.... "


kebetulan kampus memang selalu ramai ya kan, jadi kali ini benar-benar bikin heboh satu gedung di buat Dikta.


" Jemput kamu lah... ayo pulang... "


" Tapi nggak harus masuk juga kali kak, ya ampun.... lihat mereka semua melihat ke arah kita, lebih tepatnya ke arah kamu... "


Maya terlihat jengkel dengan tatapan para wanita yang tertuju pada kekasihnya.


" Ih... sebel deh kak... tau ah.. "


Dikta menggandeng tangan Maya sambil tersenyum dan melewati kelas serta kerumunan mahasiswa dan mahasiswi di sana.


" Kak... "


" Apa May...? "

__ADS_1


" Ih.. ngapain sih masuk segala.. mana pake baju kayak gitu kancingnya kebuka banget, kamu mau tebar pesona disini... "


" Nggak lah ngapain, nggak ada yang cantik.. "


Tiba-tiba Maya berhenti, ia tahu semua mata masih tertuju padanya dan Dikta.


" Sini biar aku kancingin... bandel banget ih... lain kali jangan ngumbar aurat kayak gini dong kak, aku nggak suka...! lihat coba cewek" pada lihatin kamu... "


" Aku pake baju sayang, bukan telanjang.. "


" Ini apa... "


Mencubit dada bidang kekasihnya.


" Awh... sakit yanx... "


" Nggak usah lebay.. "


Dikta justru tersenyum lebar melihat tingkah Maya yang sibuk membenarkan kancing baju kemejanya.


" Awas kalau kayak gini lagi... "


" Awas kenapa...? "


" Udah kak nurut aja... kamu punya aku tau.. masak punya aku mau aku tontonin kayak gini... nggak.. nggak...! jangan.. dan ini terakhir kali "


" Iya sayang... "


Dikta mendaratkan ciuman di kening hingga membuat segerombolan wanita bersorak gemas.


" Ih... udah ayo pulang, malu-maluin tahu kak... ih.. kamu bener-bener "


Maya langsung menggandeng Dikta buru-buru keluar dari gedung karena benar-benar merasa malu, berbeda dengan Dikta yang justru santai tanpa rasa malu.


Di mobil


" Kamu marah....? "


" Nggak.... "


" Cemberut.... "


" Habisnya kamu tuh... "


" Untukmu.. cintaku... my life "


belum sempat bicara Dikta sudah memberikan satu kotak berhias oita pink kepada Maya.


" Ini...? "


" Untukmu...


" Ulang tahunku...? "


Maya terdiam sejenak.


" Aaaaaa.... iya, kenapa aku bisa lupa, dan Caca juga bisa-bisanya dia juga lupa... tapi nggak apa-apa... kamu yang terbaik kak.. makasih.... lover you more Dikta "


Maya memeluk Dikta sangat erat.


" Makasih.... "


" Aku suka kamu panggil aku nama saja tanpa kata kakak "


" Kenapa...? "


" Lebih ngena aja di hati... coba sekali lagi panggil nama aku.... "


" Tapi kan kamu umurnya jauh dari aku, nanti aku nggak sopan kak.. "


" Cuma beda 10 tahun sayang.. dan itu nggak ngaruh, lagian mukaku imut kan... "


" Imut....? "


Maya tersenyum meledek.


" Ayolah... "


" Hm... okay.. .


makasih dikta... i love you dikta "


" Jleb... ngena banget di sini... "


Sambil nunjuk ke dada.


" Udah deh.. mulai lebaynya... "


" Happy birthday.... "


" thank you "


" Give me.... please... "


rengek Dikta.

__ADS_1


" Apa...? kamu mau apa..? "


Dikta langsung mengusap bibir Maya.


" I want.... "


" Ini di mobil kak Dikta... dilihat orang bagaimana... "


Dikta langsung meraih dagu Maya dan menurunkan senderan kursi mereka.


Ke 2 kalinya, kini justru Maya semakin menikmati sentuhan yang di berikan oleh Dikta, bahkan keduanya sama-sama hanyut.


" Manis... "


" Kak... "


rengek Maya


" Dikta aja... "


" Dikta.... "


seru Maya.


" Nggak bikin leher q merah kan...? "


" Kenapa...? kamu suka kan..? "


" Bukan itu, tapi malu tahu sama Caca... "


" Hahahaha... biarin aja "


Dikta sekali lagi mendaratkan bibirnya di bibir Maya sambil meraba ke arah kancing baju kemeja Maya yang sudah terbuka dari tadi.


" Lain kali jangan sampai kebuka kalau di luar.. "


" Kebuka sendiri Dikta.... "


Dikta tersenyum manis ke arah Maya dan. langsung membenarkan posisi mereka kembali.


Terdengar suara ponsel berbunyi.


" Siapa sayang...? "


" Caca.... hahaha ngucapin selamat ulang tahun.... dia ingat ternyata "


" Besok libur kan..? "


" Iya, kenapa...? "


" Katanya mau jalan... "


" Beneran...? "


" Iya, kamu mau kemana..? biar aku pesan tiket pesawat... "


" Apa....!! pesawat...? "


" Liburan...? "


" Beneran...? "


" Iya Maya.. kamu mau kemana..? "


Dikta menatap Maya menunggu jawaban.


" Kok aku bingung.. kamu aja yang nentuin.. tapi itu mahal Dikta... pemborosan... "


" Aku kerja buat kamu, uang aku masih banyak... "


" Sebenarnya kerja kamu apa si...? "


Maya masih penasaran, ia tidak tahu kalau Dikta pemilik perusahaan terbesar yang ada di kotanya karena memang kekasihnya belum menceritakan secara detail tentang hidupnya.


" Udah.. nggak usah pusing mikirin kerjaanku apa, kamu mau kan... ? "


" Mau... "


" Kok kamu nangis... "


" Aku seneng Dikta... makasih banget untuk semuanya... tapi ini serasa berlebihan bagiku...kesannya aku matre ya...? "


" No....!!! jangan bilang kayak gitu.. kamu ratuku, bukan yang lain... kamu jangan mikir aneh-aneh kayak gitu... "


" Gimana nggak coba.. kamu baik banget... lain kali jangan manjain aku berlebihan kayak gini, akunya kadang nggak enak... "


" Untukmu nggak ada yang namanya terbuang sia-sia sayang, love you more.. semua yang aku miliki punya kamu.. semuanya...!! memanjakan pasangan juga keharusan... bukan begitu...? "


ucap Dikta sambil tersenyum mengelus pipi Maya.


" Tapi berlebihan... "


" Stop... dan mari kita pulang, apa kamu mau belanja baju..? "


" Nggak.. nggak... aku nggak mau buang-buang duit terus.... "

__ADS_1


" Aku yang bayar hahahaha "


" Apa-apa selalu kamu juga kan ujung-ujungnya.... "


__ADS_2