
Seperti biasa, selesai kelas Maya dan Caca langsung bergegas ke kamar mandi.
Yang Maya cuci muka, yang Caca touch up.
" Habis ini kemana nih... "
" Laper aku Ca, cari makan yuk... "
" Siap.. kamu yang traktir aku ya "
" Kebiasaan deh... "
" Kamu kan kaya hahahaha "
Maya selesai merapikan rambutnya dan langsung mengikatnya simpel.
" Ca, ada yang mau aku omongin... "
" Apa...? pasti soal kak Dikta.. "
" Kamu memang the best "
Sebenarnya mereka memang udah sahabatan lama banget dari kelas 1 SMA sampai kuliah, dan ambil jurusan juga sama sebagai guru.
Ntah kenapa Maya memang ngebet banget pengen jadi guru SD.
Mereka sendiri juga tinggalkan di apartemen masing-masing, kalau Caca memang orang tuanya mampu, tapi kalo Maya orang tuanya bisa di golongkan sederhana.
Ayahnya sudah meninggal, dan hannya tersisa ibunya, dia juga anak tunggal.
" Makan dimana Ca...? "
" Kayanya mau cerita soal Dikta... "
" Nanti aja kalau udah sampai di tempat makan, nanggung... "
" Yaudah ayo, aku juga laper banget tau.. "
Mereka langsung bergegas menuju lokasi seperti biasanya batagor kesukaan Caca dan Maya di taman kota.
" Akhir-akhir ini berasa jomblo tau nggak baih Ca... "
" Dikta kamu kemanain... "
" Dia nggak ngabarin aku Ca, hampir 3 hri ini, gila banget lho... aku di anggurin "
" Yakin nggak di kabarin..? nggak mungkin kayaknya... "
Timpal Caca.
" Ya ngabarin sih, cuma ngingetin jangan sampai telat makan doang... "
" itu namanya masih dikabarin Maya... jangan gitu lah "
" Tapi di la cuekin aku Ca, cuma 1 atau 2 kali aja chat aku.. dan itu juga bahasanya simpel pake banget... "
" Sibuk kali, jangan buruk sangka dulu... dia kan pekerjaan keras... "
" Apa jangan-jangan dia udah nggak sayang ya sama aku Ca... gimana Ca...? "
" Nggak usah konyol, kalau nggak sayang ngapain kemarin-kemarin surprisein kamu mobil, kamu di ajarin juga sama dia sabar banget lagi... untung bukan aku yang ada malah emosi "
" Kok kamu malah gitu... "
" Jangan negatif thinking dulu May... belum tentu apa yang ada di fikiranmu itu 100% benar "
__ADS_1
" Bingung aku, aku salah apa ya... perasaan aku juga nggak ngerasa punya salah... "
Caca langsung mematikan mesin mobil.
" Ayo turun.. makan dulu... nanti lanjut "
" Kamu duluan aja pesen... "
" Kamu mau nelfon Dikta...? ya udah, itu ide yang baik, good "
sambil menunjukkan jempol nya.
Sementara itu Maya masih diam, bingung dicampur takut.
Mau nelfon takut salah, nggak nelfon tapi kangennya udah di ubun-ubun.
" Ya udah deh mending aku telfon aja dulu tanya kabar dia atau apa gitu... "
1x...tidak di angkat.
2x ... masih sama.
3x ... masih juga sama.
" Bener kan apa aku bilang "
Maya melempar ponselnya ke tempat duduk dan langsung keluar nyamperin Caca.
" Gimana May...? "
" Gimana apanya..? "
" Dikta... "
Tanya Caca penasaran.
" Wait wait... sabar, makan dulu "
Caca menyerahkan satu piring isi batagor penuh kepada sahabatnya.
" Aku salah apa si sebenarnya... "
" Apa mungkin dia sibuk... "
" Sibuk ngapain coba sampe berhari-hari "
" Kerja lah May... "
" Tapi nggak kayak gini juga kali Ca, dia cuekin aku berhari-hari.... "
" Sabar.. apa nanti aku antar kamu ke apartemennya...? "
" Buat apa.. aku nggak mau ya ngerasain kekecewaan terus... "
" May... apa jangan-jangan kak Dikta punya... "
" Hey... apaan sih Ca, jangan ngaco deh "
Maya tahu apa yang di maksud sahabatnya.
" Kali aja, kamu nggak mau nyelidikin...? "
" Jangan aneh-aneh Ca... jangan bikin kepalaku tambah pusing... "
" Terus...? "
__ADS_1
" Udah deh.. ayo pulang... badan aku sedikit nggak enak soalnya.. "
" Kamu sakit...? "
Tanya Caca.
" Sedikit meriang Ca, mungkin may flu kali ya "
" Ke dokter...? "
" Nggak usah, ayo pulang aja "
Akhirnya merek berdua memutuskan untuk langsung pulang, Caca mengantar Maya dulu ke apartemen karen memang hari ini dia yang jemput dan harus juga nganterin pulang.
.
.
.
Sesampainya di apartemen Maya langsung mandi air hangat karena memang badannya terasa nggak enak banget.
" Ni tubuh kenapa ya, kayaknya aku mau sakit deh... "
Maya berbaring di ranjang dengan masih memakai handuk kimononya.
.
.
.
21.50
Nggak terasa sudah hampir jam 10 malam.
Tiba-tiba terdengar suara pintu berbuka.
" Sayang... aku pulang... "
" Maya.. sayang... "
Suaranya terdengar berat, sexy dan benar-benar candu.
" Sayang aku.... "
Belum selesai bicara ia melihat sosok wanita tidur pulas di atas ranjang.
Ya, kali ini yang datang Dikta kekasih Maya.
Perlahan dia mendekat ke arah Maya dan langsung mengambil selimut.
" Bagaimana dia bisa tidur seperti ini, bagaimana kalau dingin... "
Membelai pipi, namun merasakan kalau suhu tubuh Maya memang nggak normal alias demam.
" Sayang are you okay... "
Membelai lembut kepala Maya.
" I'm sorry "
Ketika melihat ponsel masih di tangan Maya, dan dia paham sekali pasti kekasihnya itu menunggu kabar darinya.
Maya yang mendengar suara Dikta kekasihnya berusaha untuk tetap memejamkan mata karena dia merasa kesal.
__ADS_1
" Sayang.... hey, are you okay... badan kamu demam sayang... "
Maya masih pura-pura tidur.