Dikta..!

Dikta..!
BUJUK RAYU


__ADS_3

Di mobil Maya hannya diam tanpa bersuara sedikitpun, sementara Dikta terlihat cemas melihat wajah kekasihnya yang sudah di level tak tertolong.


" Kamu mau mampir kemana..? "


" Aku mau pulang, tadi kan udah bilang "


" Kamu marah...? "


" Nggak.... "


" Ayolah May... jangan kayak gini, kamu kayak anak kecil deh "


Merasa tidak terima akhirnya Maya menyuruh Dikta buat berhenti.


" Berhenti...! "


" Kamu mau sesuatu...? "


" Berhenti aja... "


Dikta tanpa curiga langsung berhenti, padahal udara malam ini cukup dingin.


Tanpa berfikir panjang akhirnya Maya keluar dan menenteng sepasang sepatunya.


" May... kamu mau kemana sayang... "


Dikta yang panik langsung ikut keluar.


" May tunggu...!!! "


Maya masih berjalan lurus, tanpa sadar dia menangis dan berlari.


" Maya...!!!! "


Maya masih terus berlari tanpa memperdulikan Dikta.


" Jahat banget si ngatain aku kayak anak kecil... dia nggak ngerasa apa udah nyakitin aku malah kayak gitu "


Terus berjalan sambil mengusap air matanya.


Dikta berusaha mengejarnya.


" May tunggu, kamu mau kemana...? "


Dikta menggenggam tangan Maya dengan erat.


" Kamu mau kemana...? kamu tahu jalan pulang...? "


Dikta menatap mata sembab Maya.


" Kamu marah gara-gara tadi...?


aku minta maaf, sungguh dia cuma teman aku sayang... kita juga udah biasa kayak gitu... "


" Udah biasa kamu bilang...? "


" Okey aku minta maaf, dan ini yang terakhir... nggak ada lagi cipika-cipiki kayak tadi... "


" Murahan banget si dadi cewek, gatel banget main nyosor kayak tadi... kamu juga mau mau aja si kak, nggak mikirin perasaan aku banget...! "


" Nggak sayang, bukan gitu.... tadi juga mendadak "


" Mendadak atau nggak toh kamu juga welcome sama tu perempuan , kamu mikirin aku nggak sih... "

__ADS_1


" May.. aku minta maaf "


" Kamu kira aku nggak cemburu apa...! kamu kira aku nggak sakit apa lihatnya "


Maya meneteskan air mata.


" Baru pertama bertemu aja udah ninggalin kesan buruk... "


Sahutnya lagi.


" Okey aku minta maaf... aku benar-benar minta maaf... "


Dikta terdengar sangat tulus sambil menggenggam kedua tangan Maya.


" Maaf apa sih kak... tau gini aku nggak mau kamu ajak jalan-jalan, ternyata ini... buat ketemu sama tub Beby... "


" Kita ngobrol di apartemen... ini udaranya dingin banget sayang, kamu nanti sakit gimana... ayo kita pulang "


" Nggak usah pegang-pegang aku bisa jalan sendiri...! "


Dikta hannya menurut sambil mengikuti Maya sampai masuk kedalam mobil.


" Kamu mau aku belikan... "


" Nggak usah aku mau pulang...! "


Belum selesai bicara Maya sudah membentak Dikta.


" Okay... "


Kini Dikta juga diam, sepanjang perjalanan menuju apartemen mereka sama-sama diam tanpa suara.


Yang satu kesal dengan sikap kekasihnya tadi, yang satu justru masih santai dan memilih diam untuk menunggu emosi kekasihnya reda.


.


.


Sementara itu Dikta menunggu Maya selesai sambil duduk di tepi ranjang.


" Harusnya aku nggak kayal tadi, hm.... tapi tadi juga Beby... ah... sudahlah...!! sudah terlanjur juga..! "


Dikta melepas jas dan menaruhnya asal di ranjang.


....


Setelah menunggu 30 menitan akhirnya Dikta melihat maya keluar dari kamar mandi yang sudah rapi memakai baju tidur.


Maya yang masih jengkel langsung naik ke ranjang dan berbaring memunggungi Dikta.


" Kamu masih marah..? "


" Nggak.... "


" Lihat aku May... "


Maya dengan terpaksa berbalik dan menghadap kekasihnya.


" Apa...? tidur sana.. "


" Kamu marah bagaimana aku bisa tidur... maafin aku dulu May... "


" Salah apa..? kok minta maaf... "

__ADS_1


Sindir Maya.


" Maafin aku.. "


Dikta justru manja dan menenggelamkan kepalanya di leher maya seperti anak kecil.


Suasana hening sejenak.


" Kamu tahu nggak.. kamu sering banget nyebut aku kayak anak kecil kalau lagi marah, tapi sikap kamu tadi lho justru kayak anak kecil banget. kayak nggak punya hati malah... emangnya aku nggak sakit apa... "


" Maaf... "


" Ini baru satu kejadian, entah untuk kejadian-kejadian lainnya aku juga nggak tahu sikap kamu kayak gimana ke cewek-cewek lain... "


" Nggak...emangnya aku laki-laki apaan "


" Nyatanya juga tadi gituuuu "


Dikta me coba berdiri dan menatap Maya yang tiduran di bawahnya.


" Aku bukan type lelaki yang seperti itu, dan bukan juga penikmat sana-sini... tadi itu juga reflek, durasinya cepat banget Maya...


kamu jangan marah lagi, kita cuma teman, udah aku cuci pipiku pake sabun... "


Maya yang mendengarnya justru menahan tawa.


" Jangan kayak gini, aku nggak suka sayang.."


" Dia cuma teman aku, percayalah "


" Tapi harusnya kamu tadi nolak di cium kayak gitu kan... "


" Reflek sayang, kamu lihat sendiri kan tadi "


Maya terdiam dan masih terlihat sangat kesal.


" Kamu masih lapar atau kenyang...? tadi kamu makan dikit soalnya "


" Aslinya si laper pake banget, cuma g mood aja "


" Mau aku pesenin sesuatu...? "


" Apa...? "


" Terserah kamu maunya apa...? es cream juga...? "


" Nggak deh, malem-malem udaranya dingin banget...takut gigiku nanti sakit gimana "


" Coklat hangat...? mau...? "


" Ya udah itu nggak apa-apa... aku mau "


" Pake baju tidur yang setelan biar nggak kedinginan... kamu pake kayak gini malah nanti bikin.... "


Mata Dikta mulai nakal.


" Hayoooo jangan ngeressss..... "


Maya langsung beranjak dan mengambil setelan piyama sesuai saran dari Dikta.


Sebenarnya dia kadang juga merasa takut, bukan tidak mungkin... tapi Dikta cowok, kita tahu sendiri kan bagaimana ada cowok tanpa nafsu.


Apalagi memang mereka kemana-mana berdua, nginep juga berdua.

__ADS_1


Dikta sebenarnya juga menyadarinya, tapi demi keselamatan Maya dia memang tidak mau jauh dengan kekasihnya.


__ADS_2