Dikta..!

Dikta..!
Untung


__ADS_3

23.50


Hampir tengah tengah malam, Dikta masih menjaga Maya di sana.


Perlahan kedua mata Maya terbuka dan langsung melihat Dikta dihadapannya dan langsung memalingkan wajah.


" Kamu belum makan kan? ayo makan dulu, nanti minum obat "


Dikta mengambil satu bungkus makanan yang tadi ia beli di luar sebelum ke apartemen Maya.


" Biar aku suapin... "


" Aku nggak lapar... "


" Jangan ngeyel May... nanti kamu tambah sakit, nurut sama aku...! "


" Ih, nggak... aku nggak lapar "


" Maya....! "


Kini keduanya terdiam, Maya terlihat mengusap pipinya sementara Dikta melihat pergelangan tangan kekasihnya membiru.


" May.. lihat aku may... "


Paksa Dikta sambil memegang pundak kekasihnya.


" Apa'an sih kak... "


" May please.... "


" Nggak...! "


" I love Maya... so much.... "


Dikta menunduk dan menenggelamkan kepalanya di badan Maya.


" I'm sorry... "


Sambil berusaha memeluk erat, dan menarik tubuh ke kasihnya sedekat mungkin tanpa ada jarak sedikitpun dengannya.


" Aku khilaf, maaf aku membentakmu... maaf atas perlakuan kasar ku... aku minta maaf, sungguh aku tidak ada niat seperti itu.


Aku memang akhir-akhir ini sibuk, tapi bukan berarti aku punya wanita lain seperti yang kamu tuduhkan tadi.


Satu-satunya wanita cuma kamu dihidupku, sampai kapanpun cuma kamu Maya dan aku bersumpah atas nyawaku... "


Maya kali ini benar-benar merasa sangat tenang dengan perkataan Dikta, dia langsung menyadari bahwa sikapnya malam ini memang sedikit berlebihan dan nggak semestinya juga dia menuduh Dikta seperti itu tanpa bukti.


" Kak.. aku minta maaf.. maafin aku juga "


" Nggak masalah... aku yang salah, nggak seharusnya aku hilang tanpa ngabarin kamu seperti sekarang "


Dikta membelai lembut kepala Maya dan merapikan rambutnya yang berantakan.


Sentuhan yang sangat dirindukan juga oleh Maya kali ini benar-benar membuatnya merasa sangat tenang.


" Kamu kenapa nggak pulang... pasti kamu capek banget kak... "


" Nggak... "


Tersenyum menatap Maya.


" Ka, aku mau makan... suapin ya "


Dikta tersenyum dan mengangguk.


Tengah malam yang syahdu, romantis apalagi makan satu bungkus nasi berdua.


.


.


.

__ADS_1


" Udah jam 1 , kamu tidurlah... besok izin nggak usah ke kampus... "


" Tapi aku ada kelas kak, penting banget... nanti dimarahin dosennya juga gimana? "


" Berangkat jam berapa...? "


" Jam 8 "


" Yasudah besok aku anter... "


" Kamu nggak ke kantor...? "


" Nggak... kamu lagi nggak enak badan juga, aku takut kenapa napa nanti "


" Kan ada Caca yang biasa jemput aku... "


" Udah.. besok aku antar aja, kamu chat aja Caca suruh jangan ke apartemen besok.. "


" Baik.. siap... "


Maya tersenyum senang.


Maya langsung berbaring dan Dikta menutup tubuh kekasihnya dengan selimut.


Bagi mereka berdua memang semua ini hal yang biasa, bahkan Dikta sering menginap dan tidur berdua di atas ranjang.


Mereka cukup dewasa dan tidak egois soal nafsu dan batasan yang harus juga mereka tahu.


3 tahun bukan waktu yang singkat, selama itu juga Dikta benar-benar menjaga Maya, kalau di bilang nafsu dia teramat nafsu.


Tapi bagi dirinya sendiri untuk saat ini benar-benar tidak mau merusak Maya.


Dikta beranjak tidur di samping Maya sambil membelai lembut kepalanya berharap agar cepat tidur.


" Kamu nggak pulang kan kak..? "


" Nggak... tidurlah udah malam sayang... "


" Peluk kak.. dingin... "


" Lain kali jangan sekali-kali keluar dengan pakaian kayak gini, aku nggak suka... apalagi sampai kayak tadi nekat mau kabur... "


" Nggak lah kak, ngaco... mana mungkin aku berani.. aku berani pake gini juga karena sama kamu aja kak, aku tahu kamu nggak bakal ngapa-ngapain aku.. "


" Bagaimana kalau aku melakukan sesuatu yang lebih, kamu menyuguhkan sesuatu yang yang benar-benar di inginkan lelaki May... "


" Maksudnya...? "


" Lupakan saja, cepat tidur.... "


" Kak... "


" Ya... "


" Kamu kerja di mana sih, kok aku nggak pernah tahu dan kamu juga nggak pernah cerita sama aku... "


" Kadang tidak semuanya harus kita ceritakan... kadang juga butuh waktu yang tepat buat itu.. "


" Kak... "


" Hm.... "


" Kamu kemana kemarin? "


" Sibuk kerja, kerjaan aku benar-benar numpuk sayang... "


" Nggak capek apa kerja mulu... "


" Capek, tapi itu juga kewajiban... "


" Minggu besok aku libur, kita jalan-jalan ya ... kamu mau..? "


" Kemana...? "

__ADS_1


" Kemana aja, asal sama kamu "


" Gombal "


Dikta tersenyum.


" Kamu gitu ih... "


" Iya..... iya.. kita jalan... "


" Makasih sayang..... "


Maya reflek mencium pipi Dikta hingga membuat kekasihnya kaget.


Dikta justru menatap Maya tajam.


" Maaf aku tadi reflek hehehehe... "


Dikta meraih dagu Maya dan membelai lembut bibir sexy kekasihnya yang sedikit tebal bahkan seperti filler bibir.


Dikta memajukan tubuhnya.


" Ya ampun kak Dikta mau ngapain.... sumpah aku deg deg an banget, tolong..... "


Batinnya.


Maya yang hanyut justru terhipnotis ke kemeja milik Dikta yang sudah terbuka kancing hingga menampakkan dada bidang dan kekar kekasihnya.


" Harum banget..... aroma ini benar-benar bikin aku tenang... "


Tanpa sadar juga Maya membuka kancing kemeja Dikta dan meraba dada lebar yang ada di depannya.


Diraba dan terus diraba hingga membuatnya hanyut.


Sekilas Maya mendengar Dikta mengerang sangat pelan dan membuatnya langsung tersadar.


" Maaf.. aku.. itu.. nggak sengaja kak, aku kancingin lagi... "


Dikta menepis tangan Maya dan langsung melingkarkan tangan itu di pinggangnya.


" Kak... "


" Nggak apa-apa, biar tetap kayak gini.. kamu nyaman kan.. "


Maya tersenyum dan wajahnya merah pasalnya ini kali pertama mereka dekat se intim ini.


Dikta sebenarnya benar-benar sudah tidak bisa menahan nafsunya, ia ingin sekali menikmati bibir milik kekasihnya yang sudah 3 tahun lamanya bahkan belum satu kalipun ia rasakan.


" May.... "


" Hm.... "


" Apa aku boleh melewati batasanku... "


" Maksud kakak...? "


" Nggak lebih... hannya ini... "


sambil mengelus bibir Maya dengan jempolnya.


Maya yang merasa kalau kekasihnya benar-benar menginginkannya terdiam sesaat.


Kalau dia menolaknya sama saja memberi luka mungkin untuk Dikta sendiri, tapi kalau secara umur memang mereka sama-sama sudah dewasa, hannya saja Dikta memang lebih dewasa dan sudah berkepala 3 umurnya.


Kali ini Maya hanya mengangguk.


Terlihat Dikta tersenyum lebar.


Tanpa menunggu lama akhirnya dia melancarkan keinginannya di sana dan bermain sangat lembut.


" Ya ampun jadi kayak gini rasanya di cium sama kak Dikta... "


Batin Maya.

__ADS_1


Malam ini menjadi malam keberuntungan juga buat Dikta, bagaimana tidak... 3 tahun memendam akhirnya bisa juga menikmati bibir milik Maya 😜.


__ADS_2