
Pagi itu, Bobby terlihat masuk kampus seperti biasanya. Hari itu kekasihnya Miss Cindy yang terkenal sebagai Miss Killer masuk ke kampus mengajar kelas Bobby dengan mata pelajaran terpenting di kelas kedokteran.
"Pagi anak anak," Sapa Miss Cindy Patterson.
"Pagi Miss," Sahut seluruh mahasiswa dalam kelas.
Segera Miss Cindy menjelaskan pelajaran yang didengarkan oleh seluruh mahasiswa kedokteran itu dengan penuh perhatian.
Setelah menjelaskan kurang lebih setengah jam, Miss Cindy bertanya,
"Baik, siapa yang tahu nama lain Paracetamol dan Fungsinya?"
Saat itu Bobby mengacungkan tangan ke atas sambil berseru,
"Saya Miss,"
"Silahkan Bobby"
"Paracetamol di sebut juga Acetaminophen dan bermanfaat untuk meredakan rasa nyeri dan menurunkan demam."
Mendengar jawaban dari pertanyaan mudah Miss Cindy, sebagian siswa tertawa. Miss Cindy yang melihat itu merah padam mukanya.
"Diam... Bagaimana proses otak dalam merasakan sakit?"
Mendengar pertanyaan ini, para siswa terdiam sampai beberapa lama hingga Bobby akhirnya menjawab,
"Sel Saraf Khusus yang di sebut Nosiseptor atau dikenal dengan Reseptor rasa sakit memberi sinyal ke otak."
Semua murid terdiam mendengar jawaban Bobby.
"Jelaskan Prosesnya Bobby," Lanjut Miss Cindy.
"Saat terjadi sesuatu, sinyal nyeri yang dimulai pada titik stimulasi dilanjutkan hingga ke saraf. Dari saraf dikirim menuju ke sumsum tulang belakang hingga diteruskan sampai ke otak." Jawab Bobby dengan wajah biasa saja.
"Bagaimana? Apa masih ada yang ingin tertawa?" Hardik Miss Cindy kepada mahasiswa lain yang tadi meremehkan Bobby.
"Berikan contohnya." Kembali Miss Cindy bertanya untuk memberi pelajaran kepada siswa lainnya.
"Jika seseorang menginjak duri, proses persepsi rasa nyeri terjadi dalam waktu sepersekian detik. Ketika duri masuk merusak jaringan di tapak kaki, Nosiseptor akan terangsang untuk mengenali rasa nyeri tersebut. Ketika itu Reseptor yang terhubung ke Neuron akan mengirimkan rasa nyeri ke sumsum tulang belakang untuk selanjutnya di proses oleh otak dan dari situ, sinyal dari otak disebarkan ke seluruh tubuh untuk kemudian timbul reaksi dari kaki yang tertusuk duri." Bobby menjelaskan.
"Baik terimakasih Bobby." Ucap Miss Cindy yang tersenyum manis kepada Bobby yang langsung menunduk.
"Dengar kalian semua. Jika kalian ingin menjadi seorang Dokter yang baik, jangan pernah meremehkan orang lain apalagi rekan sendiri. Karena dalam waktu sepersekian detik kalian bisa saja diselamatkan oleh rekan kalian atau karier kalian hancur diakibatkan kesombongan dan kebodohan kalian sendiri." Cindy mengucapkan nasehatnya untuk kemudian segera permisi kepada mereka dan keluar dari ruang kelas.
"Hei Bobby, bagaimana rasanya menjadi kekasih Bu Cindy?" Tanya Rey yang duduk di samping kekasihnya bernama Sena.
"Kau jaga saja kekasihmu Rey, jangan sampai terjadi sesuatu kepadanya." Jawab Bobby dengan kilatan mata aneh yang langsung keluar tanpa memperdulikan gelak tawa mereka semua.
Bobby segera menuju ke rumah kost nya dimana Linda sedang menunggunya di sana.
Bobby yang kesal segera membanting tas nya ke pembaringan. Linda yang menyaksikan hal itu bertanya kaget,
"Ada apa Bob? Kau kenapa?"
"Di kelas aku dipermalukan, untung ada Miss Cindy yang membantuku."
__ADS_1
"Sabar sayang, mengapa tidak kau pukul saja mereka?" Tanya Linda bersemangat.
"Ya, aku harus memukulnya, memukul sekeras kerasnya hingga hatinya terluka dan berdarah." Seru Bobby terbawa emosi hingga tak menyadari Linda menatapnya dengan alis berkerut.
.---***---. .---***---. .---***---.
Pagi itu, terlihat Dr Richard menerima telepon.
"Halo, halo,,, siapa?"
"Aku mimpi buruk mu, Dokter," Sebuah suara berat dibuat buat mengagetkan Dokter Richard.
"Siapa kau, apa maksud mu mengancam ku?" Dr Richard yang merasa ngeri mendengar suara di telepon genggamnya berkata.
Di balik suara telepon, terdengar suara seorang gadis yang sangat di kenalnya.
"Ini ayahmu manis,"
"Ayah,,, Ayah,, tolong aku,, Tiiiitt,," Sambungan telpon terputus.
Dr Richard yang sedang berada di rumah segera memanggil istrinya sambil teriak teriak seperti orang gila.
"Carla, Carl,,, Carla,,,,"
"Ada apa sayang?" Jawab Carla yang sesak nafas nya berlari dari dapur ke teras depan.
"Cepat hubungi sekolah, Elin, tanya tentang Elin, Cepat,,,!!!" Seru Richard panik.
Carla yang mengetahui di telpon genggam suaminya tidak terdapat nomor pihak sekolah segera berlari ke telpon rumah di ruang tengah.
"Halo,," Seru Nyonya Richard sembari menempelkan telepon ke telinganya.
"Halo, Bu Richard? Kami ingin mengabarkan, Elin pergi keluar hotel. Mobilnya mengalami kecelakaan, namun jasad Elin tidak di temukan."
Richard yang ikut mendengar hal tersebut karena speaker telpon nya di besarkan segera berlari kembali ke teras depan.
Setelah mengambil kunci mobilnya, Richard segera berlari menuju ke mobil,
"Aku ikut," Teriak istrinya dari belakang.
"Kau jemput putra kita sekarang, jaga dia di rumah, kunci semua pintu." Teriakan suaminya membuat langkah Carla terhenti dan membalik ke rumah untuk segera pergi ke sekolah putranya.
Dengan tergesa gesa, Richard menginjak gas membalap kan mobil nya sembari menelepon sahabatnya,
"Halo, Bray, temui aku di kantor sekarang juga penting."
"Ada a,,p,, Tiit," Telepon dimatikan oleh Richard.
Sesampainya di sana, Richard segera masuk ke kantor menanyakan informasi kepada para petugas kantor.
Tak lama kemudian, Bryan tiba di ruangannya. Dengan terburu buru Richard yang panik mengajak nya ke TKP dimana bus besar terbalik di jurang daerah perbatasan Florida.
Begitu tiba, Richard segera berlari mendekat,
"Siapa yang bertanggung jawab disini?"
__ADS_1
"Pak, saya yang melakukan investigasi TKP."
"Bagaimana perkembangan kasusnya Kapten?" Tanya Richard kepada Kapten Will.
Dari rekaman CCTV Hotel, putri anda bersama temannya diculik oleh supir Bus. Tiga mayat yang ditemukan di dasar tebing adalah mayat supir yang baru terindentifikasi. Sedangkan kedua mayat lainnya susah dikenali karena hangus terbakar dan hancur." Jelas Kapten Willian sambil memegang kertas dan pena.
"Penculik putriku baru saja menelpon. Dia tidak memberitahu apa kemauannya." Seru Dr Richard yang langsung pergi menuju ke Hotel di Florida bersama Bryan.
.---***---. .---***---. .---***---.
Di sebuah ruangan kecil, tampak dua orang gadis disekap dengan mulut di tutup dan kaki tangan terikat kencang.
Seorang pria tampan terlihat hilir mudik berjalan sambil memegang Hp nya. Bobby sedang berpikir keras apa yang akan dilakukan kepada gadis gadis ini.
Dia bingung karena wajah nya yang telah dikenali dan dilihat kedua gadis itu. Lindsay dan Elin sambil menangis menatap ke arah pria muda yang berjalan hilir mudik di depan mereka.
Tiba tiba Bobby berkata seraya berjongkok di depan wajah kedua gadis cantik itu.
"Hei, kalau aku melepaskan kau, apa yang akan kau lakukan?"
Bobby yang membuka kain penyumbat mulut Lindsay menunggu jawaban.
"Tolooong,,, lepaskan aku, tolong,,,,"
"Plaaakkkhhh,," Suara keras tamparan membungkam teriakan Lindsay.
Kembali mulutnya di masukkan kain penyumbat dan dilakban oleh Bobby yang menjambak rambut gadis itu menyeretnya ke sebuah pembaringan besi bertilam putih.
Setelah mengikat Lindsay di pembaringan dalam posisi rebah, Bobby kembali ke arah Elin dan menanyakan hal yang sama yang dilakukan ke Lindsay tadi.
"Apa yang akan kau lakukan jika aku membebaskan mu?" Tanya Bobby setelah melepaskan penyumbat mulut Elin.
"Aku,,, aku akan pulang dan tidak akan menceritakan apa apa tentang mu."
"Bohong... Kalau hanya kau yang aku lepaskan, teman mu ku bunuh, apa kau tetap tidak akan menceritakan siapa aku?"
"Tidak, jangan bunuh temanku,"
"Plaackkh," Tamparan sedang mendarat di pipi Elin.
"Aku tetap tidak akan menceritakan siapa kau."
"Benarkah? Bagaimana jika kau ku perkosa?"
"Aku mohon, jangan lakukan itu."
"Plackkh, Jawab apa yang aku tanyakan." Seru Bobby dengan mata melotot.
"Aku tidak akan menceritakan meski apapun kau lakukan kepada kami." Jawab Elin yang meskipun ketakutan, masih memiliki kecerdikannya.
"Baiklah, pegang janjimu Nona manis. Jika kau melanggar, Nyonya Carla, adikmu dan ayahmu akan mengalami nasib mengerikan seperti ini.
Segera Bobby memperkosa Lindsay sambil mengiris iris dadanya. Setelah puas dengan nafsu binatangnya, Bobby segera mengambil gunting dan pisau untuk kemudian di tikamkan ke tubuh Lindsay yang berkelonjotan tewas seketika.
Bersambung ...
__ADS_1