DOKTER PSIKOPAT

DOKTER PSIKOPAT
Mencoba Hal Berbahaya


__ADS_3

Dr Richard yang sedang panik mengerutkan keningnya di depan monitor CCTV.


"Ulangi lagi bagian itu." Serunya kepada petugas.


"Bray, lihat. Tatapan matanya jelas sangat berbeda dengan foto ini."


"Ya, senyumnya seperti sengaja mengejek dan menantang." Ucap Bryan yang terus mengulang ulang rekaman CCTV Hotel.


"Ah, selama ini aku salah. Kita mencoba menyelidikinya tapi malah dia yang mengikuti jejak kita. Aku malah sibuk mengikuti remah roti yang di tinggalkannya."


Seruan Richard yang merasa bodoh dipermainkan oleh penculik putrinya yang kemungkinan adalah tersangka pembunuhan berantai yang selama ini terjadi.


Richard yang merasa khawatir terhadap putra dan istrinya berkata,


"Brayen, aku akan pulang ke rumah melihat keadaan anak istriku."


"Aku juga akan pulang mengumpulkan bukti bukti lainnya." Jawab Bryan semangat.


"Menurut ku, sia sia saja kita mengejarnya. Jika putriku selamat, aku akan berhenti dari kasus ini sobat." Seru Richard dengan wajah putus asa.


"Terserah kau saja sobat, bagaimana baiknya menurut mu." Seruan Bryan terdengar kehilangan semangat.


Akhirnya mereka berdua berpisah di pintu keluar menuju ke arah yang berbeda. Seperti tekad mereka yang telah menemukan persimpangan jalan buntu sehingga Richard merasa putus asa.


.---***---. .---***---. .---***---.


"Jika bergerak, ku bunuh." Suara berat pria yang membekap seorang gadis dari belakang dengan pisau di tangan nya.


Bobby kembali menculik seorang gadis yang tidak lain adalah Sena, teman kampus nya sendiri.


Rupanya saat pelajaran kemarin dulu dimana Pacar Sena mengejek nya dan menertawakan nya bersama Sena, hal itu membuat Bobby mendendam.


Sena segera di bawa ke tempat sepi di hutan belakang kampus, sesampainya disana, Bobby segera mengambil selotip di tas nya dan membekap mulut serta melibat tangan Sena dengan kencang.


Sena hanya melihat wajah Bobby yang tampak seperti iblis baginya. Todongan pisau di leher Sena membuatnya tak ingin bergerak dan hanya diam rebah telentang sambil mengucurkan air mata deras dengan wajah ketakutan.


"Bagaimana manis? Kenapa menangis? Bukan kah kemarin kau menertawakan ku? Tunggu saja pacar mu akan menjadi mayat di depan matamu. Hahaha." Suara Bobby membuat bulu kuduk Sena meremang.


"Ayo, aku akan memasukkan mu ke tempat aman." Ucap Bobby sambil menggendong Sena dan berjalan ke komplek kuburan dimana terdapat pintu rahasia yang dibuka nya dengan kaki.


Tak lama kemudian, pria tampan berdarah dingin itu keluar menuju ke rumah Rey yang berada tak jauh dari rumah orang tua Cindy Patterson.

__ADS_1


Setengah jam kemudian, Bobby segera mengetuk pintu sebuah rumah.


"Rey,, permisi,, cepat buka pintunya."


"Siapa?" Terdengar suara halus yang sangat merdu datang mendekat ke arah pintu.


"Tolong,, tolong cepat buka pintu nya. Aku teman kuliah Rey." Seru Bobby yang tiba tiba kelihatan panik.


Pintu di buka dan ... Bobby sesaat terpana melihat wajah imut yang sangat manis itu.


"Kak Rey tak ada di rumah Kak."


"Aku tau, kau ikut lah cepat, Rey dalam bahaya. Cepat."


"Sebentar aku bangunin Ibu dan ayah."


"Tidak ada waktu lagi, cepat lah." Bobby menarik tangan gadis itu yang hanya berusaha menutup pintu.


Untung saja tak ada orang saat itu. Jika saja ada yang melihat Natasya pergi bersama pemuda asing pukul 11 malam itu, pasti orang orang akan curiga.


"Kak Rey kenapa Kak?" Tanya Nat khawatir.


Natasya yang khawatir sekali menurut saja ketika mobil di bawa kencang oleh Bobby. Tak berapa lama, sampai lah mereka berdua di area pemakaman tua yang tidak di pakai lagi.


Bobby mengambil tas pinggang nya dan mengajak Natasya ke arah tengah pemakaman yang menyeramkan itu.


Baru saja Nat turun dari mobil dan melangkah beberapa langkah, Bobby segera membekap nya dengan kain yang telah dibaluri dengan kloroform cair.


Gadis itu pingsan dan terus di gendong ke arah sebuah kuburan tua dimana Bobby menggunakan kaki nya untuk menekan nisan berbentuk palang ke bawah dan terbuka lah lantai kubur yang terdapat lubang besar di bawahnya.


Setelah Natasya di masukkan ke situ, pintu kembali di tutup rapat dari dalam. Ternyata terdapat ruangan besar di dalamnya yang beberapa minggu lalu dibuatnya bersama para penggali bayaran yang akhirnya menjadi mayat semuanya.


Setelah menutup mulut Natasya dengan selotip kuat, tangan dan kakinya di rantai, Bobby segera ke kamar sebelah untuk sekedar melihat Sena yang masih terikat kuat.


Dia pun kemudian keluar untuk kembali ke rumahnya dengan mobil sedan butut yang di simpannya jauh dari area kampus.


"Lin, buka pintu." Seruan Bobby pelan.


Pintu di buka dan Linda yang agak bengkak matanya karena baru terbangun dari tidur segera menuju ke dalam di susul Bobby.


"Lin, kau siap siap, besok kita akan ke rumah mu menghabisi ayah tiri mu itu."

__ADS_1


Linda kaget mendengar ucapan Bobby yang tiba tiba itu.


"Bagaimana dengan ibu ku?"


"Terserah padamu. Kau maunya ibumu bagaimana?" Tanya Bobby.


"Aku ingin ibu,, ah sudah, lupakan saja. Sebaiknya biarkan saja mereka Kak, tak usah kita berurusan dengan mereka."


"Baik lah kalau begitu." Jawab Bobby yang langsung berganti pakaian dan pergi mandi untuk kemudian terlelap tidur di samping Linda.


.---***---. .---***---. .---***---.


Pagi itu, rumah Dr Richard terlihat ramai. Sepucuk surat membuat para polisi dan petugas penyelidikan sibuk di sana.


Dalam surat yang bertuliskan,


"Sore ini putri mu akan ku lepaskan bersama mayat temannya. Kalau penyelidikan tidak di hentikan, bersiap lah kehilangan keluarga kalian."


Melihat tulisan cetak yang di print di komputer itu, mereka semua sibuk menantikan perkembangan kasus nya.


Di tempat lain, di dalam sebuah kamar bawah tanah, terlihat seorang pria yang sedang menikmati seorang gadis belasan tahun bernama Lindsay yang telah dua hari tewas.


Benar benar pria itu tidak punya rasa perikemanusiaan sedikit pun. Di depan mata seorang gadis lain yang terikat kaki dan tangannya dengan mulut tertutup lakban dia melakukan hal itu tanpa penutup muka.


Setelah puas melakukan aksinya, dia ke meja kecil di sudut mengambil sesuatu dan berjalan ke arah Elin yang ketakutan setengah mati.


Tiba tiba, pria muda itu menjambak rambut Elin dengan kencang sambil berbisik di telinganya dengan suara mengancam,


"Sebentar lagi, kau akan bebas manis. Ingat janji mu, jika kau melanggarnya, kau akan menyesal pernah dilahirkan oleh ibu mu."


Segera Bobby mengambil satu bal plastik pembungkus tembus pandang dan melilit tubuh Lindsay yang telah menjadi mayat mengerikan itu dari kepala hingga ke ujung kakinya.


Setelah selesai, Elin yang duduk diberdirikan dan dililit pula seluruh tubuh dari leher sampai ke kaki. Setelah itu, mereka di masukkan ke tas panjang yang biasa di gunakan pegolf untuk menaruh stik nya dan membawa kedua tas itu keluar kamar menuju ke ruang yang luas di mana terdapat tangga di ujung ruang tersebut.


Sesampainya Bobby ke tangga itu, dia menaikinya sambil menarik kunci besi sebesar lengan anak anak yang menahan besi petak panjang yang menembus ke atas membentuk palang di mana ketika di tarik, pintu lempengan besi tebal di lapisi karet khusus itu terbuka.


Setelah memastikan tidak ada orang di sekitar situ, dia dengan cekatan menuju ke mobil yang berada puluhan meter dari situ.


Tak lama, mobil tersebut pun terus melaju ke daerah sekitar rumah Dr Richard yang kini banyak di jaga oleh polisi dan wartawan dari berbagai media.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2