
Bunyi telepon yang berdering nyaring membuat Safa mau tak mau membuka mata. Melirik layar ponselnya, dia tau bahwa dia memang tidak bisa menghindar dari si penelfon.
“Lu belum mandi ya!!” suara di seberang sana langsung menghardik. Safa buru-buru menyingkirkan selimut di tubuhnya.
“Udah kok. Ini udah siap” Bohong. Ini masih pukul setengah sembilan, dia bahkan baru saja terbangun dan masih memakai baju tidurnya lengkap dengan jejak bekas tidur di sudut bibirnya. Iler
“Bagus deh. Gue masih pake jilbab, habis ini gue otw. Jangan tidur lagi”
“Hm”
Setelahnya, Safa segera melemparkan selimutnya dan berlari ke kamar mandi di depan kamar kostannya. Sebelum mbak-mbak berbaju biru berhasil masuk, Safa dengan gesit menyerobot antrian. “Saya duluan, mbak.. Terlambat bangun ada matkul pagi. Janji Cuma sebentar”
Meskipun pintu kamar mandinya digedor-gedor brutal dari luar, Safa tidak peduli. Gadis itu segera menyelesaikan misinya untuk buang hajat, cuci muka dan sikat gigi. Membuka pintu kamar mandi, Safa berkata,
“Tuh bentaran doang kan?”
Si mbak berbaju biru membuang muka.
TIN TIN!
__ADS_1
Suara motor Dinar, si penelfon, terdengar tepat di menit kelimabelas dimana Safa sudah dalam tahap akhir siap-siap, menalikan tali sepatunya. “Pas banget!” gumamnya melirik jam tangan hitam yang melingkar di tangan kirinya.
***
Begitu motor diparkirkan, Safa mengeluh, “Gila masih sepi” katanya.
Memang di kampusnya ini, anak-anak fakultas hukum adalah anak-anak yang tersantai dibandingkan yang lainnya. Ketika yang lainnya sedang sibuk ospek berbulan-bulan, anak-anak hukum justru sudah bisa nongkrong di kantin. Amazing!
Dan kemalasan itu seperti sudah mendarah daging bagi Safa. Gadis yang satu ini bahkan tidak mau berangkat ke kampus kecuali 5 menit sebelum waktu kelas masuk. Kurang 6 menit saja dia lebih baik kembali merebahkan diri di kasur.
“Lagian lo kesambet apaan sih, Nar! Ini kan baru hari pertama masuk di semester ini. Udah kaya maba aja lu ah!”
“Ben? Ben siapa”
“Benua Maheswara”
“BENUA?”
Safa tidak tahan untuk tidak menjerit, refleks Dinar membekap mulut temannya. Sama
__ADS_1
seperti mahasiswa yang lain, selama dua tahunnya di fakultas hukum, Safa sangat
menghindari nama Benua Maheswara disebutkan. Bahkan rupanya seperti apa saja
Safa enggan mengetahuinya. “Lo tau dari mana?”
“Kelas lain”
“Gila, gue ogah dapet dia anjing!”
Tiba-tiba segerombolan mahasiswa masuk. Duduk menempati kursi-kursi kosong secara bersamaan. Salah seorang laki-laki terakhir yang Safa bisa lihat berkeringat, menutup pintu. Sepertinya kabar bahwa Benua akan mengajar kelas mereka sudah menyebar.
Semuanya menatap pintu masuk penasaran, berharap Benua melewati kelas mereka. Namun harapan hanyalah tinggal harapan. Ketika pintu terbuka menampilkan sosok Benua yang berkemeja putih dengan celana kain hitam dan raut wajah datar tak tertebak.
Namun, untuk alasan yang Safa tidak tahu apa, menatap wajah tampan itu membuatnya merasa tidak nyaman.
“Perkenalkan, nama saya Benua Maheswara. Saya dosen pengampu kalian untuk mata kuliah hukum persaingan usaha. Selamat pagi dan selamat terjebak bersama saya selama enam bulan ke depan”
Safa merasa kakinya lemas seperti jelly
__ADS_1