
Pernikahan yang dibicarakan oleh Ayah Safa nyatanya tidak main-main. Untuk itulah Safa disini. Safa sengaja bolos kuliah untuk memenuhi permintaan Ayahnya, meskipun sebenarnya ada alasan lain. Huhu.. masih berhubungan dengan Benua. Dosen kesayangannya, Bu Indah tidak bisa mengisi kelas hari ini dan sebagai gantinya, Benua lah yang akan menyampaikan materi tersebut.
Safa lebih baik membolos!
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya sepasang suami istri paruh baya datang. Safa langsung deg-degan, mungkin itu calon mertuanya.
“Ini pasti Safa, ya ampun udah besar ya sekarang.. cantik lagi..”
Safa tersipu dipuji seperti itu. Dalam 21 tahun hidupnya, baru kali ini ada yang memujinya cantik. Semua keluarganya termasuk kedua kakak dan orang tuanya selalu meledeknya karna jarang mandi. Satu-satunya yang dia tau hanya menggunakan banyak pengharum dan berdandan. “Assalamualaikum.. Om, Tante”
“Waalaikumsalam..”
“Ini Tante Sera, yang ini Om Bimo” Safa mengangguk sok mengerti. Mama Safa kemudian mempersilahkan calon mertua Safa masuk. Ceileh calon mertua..
Mereka berlima kemudian duduk di ruang tamu. Safa masih cengengesan bloon di hadapan mertuanya karna terlalu senang bakal cepet nikah dan bakal ngerasain mantap-mantap. Canda sayang!
“Sebelumnya, Om sama Tante dengar.. kamu sudah setuju sama perjodohan ini kan sayang?” Sera bertanya, disebelahnya, Bimo mengangguk setuju.
“Ayah yang maksa—Aw!” paha kiri Safa dicubit Ayahnya. “Emang bener kok Ayah yang maksa!” Safa tak segan meluncurkan kalimat pedasnya, sambil melotot pula.
“Loh?” Bimo kaget mendengar pernyataan Safa. “Jadi Nak Safa gak setuju?”
“Anak Om sama Tante pinter gak?” paha kanannya jadi sasaran cubitan Mamanya kali ini. “Apa sih, Ma? Namanya juga nanyain calon suami. Wajar kan tante?”
Sera tertawa tanpa suara, tidak terlihat terpaksa. Begitu pula dengan Bimo. Mereka saling bertatapan sambil tersenyum seolah berkomunikasi lewat mata. Safa menyimpulkan keduanya sudah ilfeel dengan dirinya. Ya bodo amat, Safa masih muda.. kuliah belum lulus. Ada banyak kesempatan menemukan pasangan hidup lebih baik daripada anak Tante Sera dan Om Bimo.
“Wajar banget kok, Safa” Sera akhirnya menjawab dengan kekehan kecilnya. Tersenyum menanggapi permintaan maaf dari kedua orang tua Safa yang juga sahabat karib dan teman kerja mereka. “Anak Tante pinter banget.. Dia dosen. Kalau kamu mau, tante kasih riwayat sekolahnya, mau?”
“Kaya mau daftar kerja aja” celetuk Safa mendapat toyoran kepala dari Ina. “Ini keluarga apaan sih guenya disiksa mulu?!”
Sera dan Bimo akhirnya tidak dapat menahan tawa mereka. Mereka diam-diam yakin bahwa Safa adalah pilihan yang tepat untuk putera mereka. Sudah lama mereka tidak berada dalam suasana seramai rumah sahabat karibnya ini. Dan dia berharap dapat segera membawa Safa ke rumah mereka.
“Oiya Tante.. Sekarang calon suami aku mana?”
Kali ini Mamanya yang nyinyir, “Lihat orangnya belum, udah main calon suami calon suami aja”
Ayahnya ikutan nyinyir, “Kitinyi sih Iyih ying miksi”
Tertawa, Bimo menjawab, “Sedang ada kerjaan dadakan, maaf ya calon suami kamu jadi tidak bisa ikut”
Safa mengangguk. “Ya udah deh gak apa-apa. Kan aku juga yang seneng kalau dia banyak uang”
“Berarti Safa setuju kan?”
“Setuju kok” jawab gadis itu ringan. “Tapi emang tante sama om mau punya menantu agak-agak kaya aku?”
__ADS_1
“Kamu lucu kok. Anak tante orangnya pendiem, makanya sepi” Safa langsung nyengir lebar mendengarnya. “Tapi kendalanya begini, Maaf sebelumnya.. karna Safa sudah setuju, kami mau pernikahannya dilangsungkan seminggu lagi”
Bimo mengangguk, “Benar.. Ini syarat dari anak kami, takut menambah dosa katanya. Safa mau kan, Nak?”
Safa melirik Ayahnya. Ayah Safa menimpali, “Ayah sama Mama sih ikut kamu aja Saf! Kan kamu yang mau nikah”
“Ya kalau Safa sih mau-mau aja, Om. Tapi Safa kan masih kuliah..”
“Kalau begitu resepsinya sehabis kamu wisuda aja gimana?”
“Oke deh” Safa menyetujui, dia melanjutkan, “Tapi seminggu laginya di hari Kamis ya, Om..”
Dipikirannya, lumayan lah bisa ada alasan membolos kelasnya Benua lagi. Hahahahaha!
“Boleh, nanti Om sampein sama anak Om”
Safa tersenyum setan.
***
“Saf, lo kemaren bolos kemana?”
Safa menyeruput jus melonnya sebelum menjawab, “Pulang ke rumah. Calon mertua gue dateng soalnya”
Safa mengerutkan kening. Benar juga.. dia bahkan belum mengetahui nama calon suaminya. Kemarin dia benar-benar lupa menanyakan hal itu, itu karna dia terlalu sibuk mengatakan ‘calon suami’ berulang kali.
“Hm.. ada lah orang!” Safa menggendikkan bahu. Gengsi juga mengakui dia tidak tahu nama calon suami sendiri. “Anggep aja Ji Chang Wook atau paling engga.. Sehun EXO aja deh..”
Sejauh cerita-cerita online yang sering Safa baca, Sehun adalah wajah terdekat untuk tokoh dosen ya kan? Calon suaminya juga dosen. Tapi bagus juga kalau calon suaminya memang setampan Sehun atau bahkan lebih tampan lagi.. Aw!
“Ngarep lo!” Dinar bergidik melihat Safa senyum-senyum gaje. “Udah deh belajar aja yang bener biar cepet jadi sarjana. Baru mikirin nikah”
“Yeee sirik aja lo! Cari pacar sono”
***
Sepulang kuliah, Safa segera menelfon rumahnya. Pertanyaan Dinar tadi cukup mengganggunya rupanya. Dia sudah akan menikah minggu depan, tapi masih belum mengetahui nama calon suaminya.. bukannya ini agak aneh? Kenapa bisa dia bersikap bodo amat sebegininya?
“Ina! Mama mana.. kasihin mama cepet, Na! Penting!”
Ina yang baru mengangkat telepon terang saja kebingungan. “Apaan sih lo.. gawat darurat banget emang? Mama lagi ke pasar gimana dong”
“Yaudah Ayah!”
“Ayah kerja lah gila!” Ina menghardik. “Emang kenapa sih.. ada apaan?”
__ADS_1
Safa menggigit kukunya. “Na, lo tau nama calon laki gue gak? Gila aja gue mau nikah
seminggu lagi tapi gak tau namanya?!”
Tawa Ina meledak. “Sayangnya gue gak tahu juga tuh! Udah deh gue tutup, Agis udah bangun”
Bunyi ‘tut’ yang berulang beberapa kali membuat Safa memaki seluruh isi kebun binatang. Dia yakin Ina tau sesuatu.. tapi enggan memberitahunya. Dia tumbuh dewasa bersama Ina, tentu saja dia tau kalau kakaknya itu sangat senang menjahilinya. Benar-benar menyebalkan!
Jadi kalau Safa mau pamer sama Dinar.. dia harus memanggil suaminya itu siapa dong..
“Yaudah gue panggil Sehun aja deh.. gak ribet. Besok kalau pulang, gue baru tanya sama Mama atau Ayah”
Sekedar informasi, hari ini sudah hari Senin. Hanya tersisa sekitar tiga hari lagi sebelum hari pernikahannya. Oh iya, karena pernikahannya hanya akan dilakukan secara tertutup, tidak banyak yang perlu dipersiapkan. Menurut intruksi calon mertuanya kemarin, dia boleh pulang pada hari Rabu sepulang kuliah. Itu pun karna sesuai kesepakatan, memang seluruh tetekbengeknya disiapkan oleh kedua keluarga.
Safa tidak masalah. Dia bisa ikut menyiapkannya saat resepsi nanti.
“Loh!” Safa langsung terduduk. “Sekarang kan hari Senin, terus berarti gue pulangnya pas h-1 ijab dong?!”
Jadi seriusan dia gak bakal tau nama calon lakinya sebelum sah?!
Kali ini dia benar-benar harus menelepon rumah sekali lagi..
***
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Mamanya menelepon terlebih dahulu. Dan benar saja, pembahasannya tidak jauh dari calon suami rahasianya ini.
Huft.. My Sehun kw, batin Safa nelangsa.
"Dek, ini kamu dapat kirimin box isinya
biodata calon suami kamu.. tante Sera lupa kemarin gak kasih tahu kamu namanya.. mau Mama bacain gak, Dek?”
Safa mengerutkan kening. “Ya jangan dong, Mah.. Itu kan calon laki aku?! Nanti kalo Mama naksir gimana”
“Mulut kamu tuh ya, Dek! Masa punya anak sendiri Mama ambil juga?” Mamanya menggerutu. “Apa kamu mau denger dari Mama aja? Kata Ina tadi kamu nanya ke Ina.. Ini paketnya gak papa Mamah buka ya.. penasaran”
“Gak gak gak! Gak ada! Pokoknya paketnya aku buka sendiri” jiwa posesifnya merajalela. “Aku masih bisa kok tahan rasa penasaran aku! Pokoknya pas aku pulang boxnya harus masih utuh ya! Awas aja ada yang bolong-bolong”
“Sama Mama sendiri pelit”
“Ini kan menyangkut masa depan, Ma” Safa membalas tidak mau kalah.
“Belajar tuh yang bener biar cepet lulus”
Safa mencebik.
__ADS_1