
Benua tanpa suara menyambungkan laptopnya dengan proyektor.
“Toleransi keterlambatan, saya tidak menerima adanya keterlambatan setelah saya memasuki ruang kelas. Anda merasa terlambat, jangan tunggu saya bicara, silahkan tutup pintunya dari luar. Dan hati-hati sama telunjuk saya, dia suka nunjuk-nunjuk ke sembarang arah, terutama cewek-cewek cantik yang make-upnya menor”
Mata Benua menyapu ruang kelas yang sunyi, dia mengambil spidol dan menuliskan kontrak kuliahnya secara singkat, padat dan jelas. Dia melanjutkan,
“Untuk absensi, saya tidak peduli sekalipun absensi kalian 100% bahkan 1000%. Tapi jangan coba-coba bolos kelas saya karna saya suka ngasih kuis dadakan” Benua mendengus sinis.
“Lagian buat apa saya kasih tau kalian? Ini kelas saya ya suka-suka saya.”
Glek! Safa menelan ludah susah payah. Gemetaran. Tiba-tiba perutnya mulas, khas dirinya ketika gugup dan takut. Bertepatan dengan itu, manik matanya bertubrukan dengan Benua. Ini bahaya, konsentrasinya buyar! Dia butuh toilet.
“Saya mau semuanya mendengarkan saya saat saya menerangkan. Mata kalian tidak menatap saya, saat saya mendongak, hati-hati sama sasaran telunjuk saya ya..”
Safa tau dosen muda itu tengah menyindirnya karna tidak sengaja melihatnya gelisah. Ruang kelas terasa semakin panas. Benua benar-benar sukses mengintimidasi mahasiswanya hingga berkeringat dingin. Padahal sebenarnya Benua memiliki paras yang elok, postur tubuh tinggi dan bulu mata lentik serta alis mata yang tebal. Hidungnya mancung dan bibirnya yang sempurna, lengkap dengan setelan yang melekat apik padanya.
“Apa ada pertanyaan?”
“Pak!” salah seorang mahasiswa mengacungkan tangan. “Saya dengar Bapak menerbitkan buku?”
Klik! Proyektor menampilkan beberapa judul buku. Benua mengangguk, dia menggeser slide,
“Ini referensi buku yang saya ambil untuk mata kuliah saya. Lebih penting membeli buku-buku ini daripada buku saya. Kalau kalian tetap mau beli buku saya,
silahkan. Tapi membeli buku saya tetap tidak akan merubah nilai anda-anda semua” katanya dingin.
__ADS_1
Safa bergidik. Dia bahkan tidak berani bergerak.
“Kamu yang di pojok, kenapa kamu?”
Mulas melanda semakin kuat saat teman dibelakangnya menjawab, “Tidak, Pak”
“Bukan kamu. Depannya!”
BROTT!
Dan ruang kelas dipenuhi bau tidak sedap. “Maaf, Pak! Saya butuh toilet” Safa kabur meninggalkan ruang kelas begitu saja.
“Saya memperbolehkan kalian ijin untuk ke toilet. Tetapi kalian harus segera kembali ke kelas karna absensi saya lakukan di akhir”
***
“Udah kek, Bim!” Safa mendengus sebal, sementara Abimana masih sibuk terbahak di tempatnya.
“Gila lo keren banget, Saf! Gak kuat gue dengernya! Lo mau cerita itu berulang kali
juga gue gak bakal berhenti ketawa. Suer”
Kampret! Safa mendengus. Meskipun Abimana lebih tua setahun darinya, tapi mereka tumbuh bersama-sama. Untuk itu lah keduanya lebih seperti teman daripada adik-kakak. Lagipula, Ina, kakak Safa, diam-diam menyuruhnya mengawasi Safa. Takut-takut adiknya itu terjerumus hal-hal tidak baik.
“Btw, lo kok bisa di kelas Benua lagi sih, Bim?”
__ADS_1
Abimana terkekeh, “Main Benua Benua aja lo” katanya lalu tersenyum kecut, “Ngulang”
“Lah? Kok bisa? Emang lo sebelumnya diajar sapa?”
“Pak Ben juga. Lo kaya gak tau aja Benua garangnya kaya gimana”
Safa menghela napas. Dia memang baru saja diajar langsung oleh Benua dan bahkan belum mulai pelajaran juga. Tapi bukan berarti dia tidak tahu gosip-gosip tentang Benua Maheswara sebelumnya. Selain dosen paling killer, dia juga terkenal tidak segan
untuk tidak meluluskan mahasiswanya. Berhadapan dengan Benua Maheswara, sudah harus cukup bersyukur dengan nilai C. Kalau perlu sujud sukur biar gak ketemu dia lagi.
“Jadi itu gosip beneran ya, Bim?”
Abimana mengangguk-anggukkan
kepalanya. “Ya lo lihat aja gue sekarang gimana, Saf”
“Lagian bisa-bisanya lo, Bim! Gak lulus mata kuliah dia, eh ketemu dia lagi. Emang agak suram hidup lo”
Abimana terbahak, memilih tak ambil pusing. “Ada yang lebih suram”
“Sapa?”
“Bini dia! Hahahahaha”
“Hahahahahaha”
__ADS_1
Safa ikut terbahak mendengarnya.