DOSEN ATTACK

DOSEN ATTACK
Episode 7


__ADS_3

“Ayo cepat naik.. kamu mau terlambat kelas?”


Safa mengerucutkan bibirnya. Mereka baru saja pamitan kepada Ayah dan Mama Safa


karna mereka harus berangkat pagi-pagi buta sekali agar Safa tidak terlambat


kuliah. Kebetulan hari ini Safa ada kuliah pagi.


“Wajar dong gue jalannya lama, situnya yang gak peka buat bawain koper gue” bisiknya lebih pada diri sendiri. Tatapannya menajam melihat Benua sedang menunggunya sambil menata barang di bagasi.


Namun beberapa saat setelahnya, cowok itu seperti membuang napas sebelum kemudian melangkah ke arahnya dengan cepat. Benua mengambil koper di tangan Safa dan berkata, “Kalau mau dibantu itu bilang, jangan langsung cemberut”


Safa terpaku di tempatnya. Meskipun kata-kata makian sudah diujung lidahnya, tapi nyalinya tidak cukup besar untuk melawan Benua.


“Kuliah—ehm—aku.. sekarang yang bayar sapa? Bapak atau Ayah?” Safa buru-buru meralat. “Maksud aku, Mas Mahes atau Ayah?”


“Saya” jawabnya tanpa nada. “Makanya mulai sekarang kamu harus nurut sama saya, jangan bandel”


Bibir Safa naik sebelah saat mendengarnya, hidungnya juga otomatis mengerut. “Sekate-kate banget nyuruh gue jangan bandel. Emang gue anak usia lima tahun?” gumamnya.


“Saya dengar, Safa”


“Hehehehehe ampun, Mas” Safa nyengir. “Mas nanti aku pulangnya ke kost dulu ya? Kan mau beberes barang-barang di kost.. sekalian mau bayar uang kost juga”


Benua berdehem mengiyakan. “Nanti Mas anter”


“Eh jangan..” kata Safa buru-buru. Melihat Benua kembali menatapnya, Safa melanjutkan, “Aku biasanya bareng sama Dinar, Mas.. Biasanya masih ngerumpi juga..”


“Makanya biar kamu gak ngerumpi, Mas yang anter”

__ADS_1


Bibir Safa mengerucut namun tidak membantah. Dia tau dia tidak akan bisa melawan Benua untuk kali ini. Benua sendiri yang melihat istrinya merajuk hanya tersenyum segaris tipis. Memang begini kalau menikah dengan anak-anak. Tapi Benua cukup menikmati itu. Cowok itu kemudian hanya mengusap kepala Safa lagi. Menurut buku yang ia baca, menaklukkan perempuan itu cukup dengan kelembutan.


Oh iya, Safa cukup menyadari kalau saat ini Benua mulai cukup lancar memanggil dirinya sendiri ‘Mas’


Berasa muda kali lo. Batin Safa merajuk.


“Nanti.. nanti turunin deket gerbang aja” Safa melancarkan aksi protesnya untuk pertama kali.


“Kenapa?”


“Ya nanti ketauan orang gimana?”


“Bawel”


“Mas aku serius!”


Safa melotot. Kesal juga lama-lama meladeni dosen killer ini. Benua tidak menjawab. Namun mobilnya sama sekali tidak berhenti di depan gerbang kampusnya. Melainkan terus masuk ke dalam dan berhenti tepat di depan fakultasnya. Safa berang.


“BAPAK IH!”


“Mas” koreksinya kemudian mengulurkan tangannya untuk dicium. Meskipun gondok, Safa akhirnya tetap mencium tangan suaminya untuk yang kedua kalinya. Benua mengecup kening Safa. “Gak ada bales cium?”


“Bapak mesum”


“Mas” koreksi Benua lagi.


“Sekarang ada di kampus” balas Safa tidak mau kalah. Benua hanya menghela napas.


***

__ADS_1


“Wih turun dari mobil sapa lo, Saf!” Dinar melongo melihat mobil yang lumayan apik mengantar sahabat sengkleknya itu. Safa yang masih kesal hanya menjawab,


“Biasa grab”


Dinar manggut-manggut. “Kirain laki lo! Kan katanya lo mau nikah kemaren” katanya mengejek.


“Dih emang beneran nikah kali gue! Nih liat cincin gue.. Udah gak jomblo lagi gue tuh” Safa memamerkan cincinnya ke muka Dinar. Dinar langsung meneliti cincin sahabatnya dengan cermat.


“Kaya asli.. beli dimana lo yang beginian?”


“Dibeliin laki gue lah!”


Dinar terbahak. “Udah lah yuk masuk.. makin gila deh kita kelamaan halu diluar”


Tuhkan gak percaya lagi.


Safa mencebik. Memang kenapa sih kalau dia mengaku statusnya udah married.. kenapa juga Dinar gak percaya kalau dirinya memang udah sold out? Otaknya Dinar yang bermasalah atau otak Safa sih?


Sebelum mereka sempat memasuki ruang kelas, Dinar masih sempat-sempatnya menunjuk Benua yang sedang memarkirkan motornya di parkiran. “Pak Benua udah dateng cuy.. Merinding deh tuh yang lagi di kelas pagi ini” kekehnya.


“Nyinyir aja lo pagi-pagi”


“Alah biasanya lo juga” sahut Dinar.


Dalam hati sebenarnya Safa merasa tidak senang Benua dibicarakan seperti itu dibelakang. Mungkin karna laki-laki rupawan itu sudah sah menjadi suaminya. Disisi lain juga Safa terlalu sering suudzon pada Benua. Sebenarnya Benua tidak menakutkan, meskipun baru dua hari menjalani bidak rumah tangga bersama, Safa bisa menyimpulkan bahwa Benua terlalu polos untuk hubungan pria dan wanita.


Pagi ini cowok itu bahkan menukar mobilnya dengan motor.


Safa hanya... merasa kalau dia harus memperlakukan Benua lebih baik lagi.

__ADS_1


__ADS_2