
Rutinitas Safa setelah sampai di kost adalah rebahan. Kamar kostnya ini memang sengaja dia sewa hanya untuk dirinya sendiri. Terlepas demi kenyamanannya, ini juga karna dia sudah memasuki semester enam yang mana sudah membutuhkan waktu sendiri. Sudah harus mempersiapkan judul karna kata Ina, kakaknya, itu lebih susah daripada ngejar cinta doi.
“Dek, minggu ini pulang kan?” melalui
video call, ibunya bertanya.
“Pulang, lah! Emang boleh gak pulang?” Safa menaikkan alis. “Nanti mama bilang Safa bang toyib lagi”
Terdengar suara tawa yang banyak disana. Safa yakin keluarganya tengah berkumpul. Safa bersuara lagi, “Mah, Agis mana?”
Kali ini layar ponselnya menampilkan wajah Ina, “Gak ada! Agis tidur!” katanya galak.
“Bangunin dong, Not! Kangen banget gue”
Tut!
Safa mencebik saat sambungannya dimatikan. Memang begitu banget deh Ina kalau menyangkut Agis, anaknya. Padahal Safa kan hanya kangen keponakannya yang satu itu. Tidak menyerah, Safa memilih menelfon Ina lagi.
"Inot, mana Agis”
"Udah dibilang Agis tidur ih!”
Safa terkekeh. “Yaudah coba mau liat Agis bobok”
Layar ponselnya menampilkan keponakannya yang gendut montok tengah tertidur. Rambut gondrong Agis terlihat baru saja dipotong. “Not, kok rambut Agis lo potong sih!”
"Kata Ayah biar gak kaya cewek”
Safa merenggut tak suka. Dia suka sekali mengikat cepol rambut keponakan laki-lakinya itu. Tapi meskipun rambut gondrongnya sudah hilang, Agis masih terlihat sama lucunya. Bocah itu mengubah posisi tidur berulang kali. Saat sedang asik-asiknya terkekeh, notif dari Dinar muncul.
Dinar: Saf, gue lupa ngabarin lo. Tadi Pak Benua milih lo buat jadi koordinator mata kuliahnya.
Mata Safa membulat. Dia hendak membalas Dinar dengan kalimat-kalimat makian sebelum kemudian tangannya tidak sengaja memencet notification yang baru saja muncul.
__ADS_1
+6289XXXXXXX: Assalamualaikum
wr.wb, Saya dosen pengampu mata kuliah hukum persaingan usaha. Silahkan bagikan file ini ke grup kelas kamu untuk dipelajari. Buat satu pertanyaan untuk ditanyakan minggu depan.
+6289XXXXXXX: [berkas]
SHIT!!!!!!!
PADAHAL SAFA SUDAH BERENCANA PINDAH KELAS!!
"Woi gila lu ya maki-maki di deket Agis!
Untung gak bangun anak gue!” gerutu Ina ketika secara tidak sengaja Safa memaki keras melupakan ponselnya yang masih tersambung. Safa segera membalas pesan dari Benua dengan membalas salam dan mengucapkan terimakasih.
“Not, pas jaman lo kuliah disini, ada dosen namanya Benua gak, Not?”
“Hmm.. Gak ada tuh! Gak tau apa gue yang lupa. Dosen apa emangnya?”
Sekedar informasi, karena saat lulus SMA Safa sama sekali tidak memiliki niat kuliah, Safa memilih mengikuti jejak kakaknya untuk berkuliah di jurusan hukum. Di universitas negeri yang sama juga.
“Kaga ada! Emang kenapa sih”
Mengalirlah cerita Safa yang lebih mirip rentetan makian bagi dosen killer bin cakepnya tersebut.
“Hiks.. gue deg-degan, Na! Tadi aja di kelas gue mules banget liat mukanya. Tegang banget gue! Mana lo tau Abimana tetangga kita? Ngulang dia anjing! Gila gila gila, mau bolos aja gue Not!” Safa menangis palsu.
Sejujurnya ini karena Safa sebal dengan Ayahnya. Dia enggan berkuliah, tapi dipaksa untuk tetap kuliah. Sering kali dia melimpahkan kekesalannya pada Ayahnya yang memaksanya berkuliah dan berkutat pada tugas-tugas menjengkelkan ini.
“Gila lo ya! Lo mau diomelin Ayah? Udah gue gak mau tau. Lo sabar-sabarin aja namanya juga orang kuliah, anggep aja ini
jalan Tuhan biar lo insaf!”
Brengsek!
__ADS_1
“Not, gue gak mau kuliah” katanya merengek. Ina terkekeh di seberang telepon. “Bilangin Ayah, gue mau nikah aja!”
Mata Safa membola saat siluet Ayahnya muncul dari belakang Ina. “Ehem. Ayah denger ada yang minta nikah aja”
Klik. Safa refleks mematikan sambungannya pada Ina. Dalam hati dia menjerit menahan tangis.
MATILAH RIWAYATNYA KALI INI!!!
***
Akibat rengekan tak berdasarnya beberapa hari lalu, Ayahnya menjadi gencar mengirimkan foto-foto anak temannya. Memang, setelah pernikahan Ina, Ayahnya jadi seolah menunggu kapan giliran Safa tiba. Ayahnya itu ingin segera melepaskan tanggung jawab menjaga seorang anak perempuan yang susahnya bukan main di jaman yang semakin rusak.
Ayah: [5 foto diterima]
Ayah: Kamu pilih mana yang cocok, itu semuanya anak baik-baik, menantu idaman Ayah.
Safa Madina: Ayahhh.. Safa masih mau kuliah
Ayah: Memang ada peraturan anak kuliah tidak boleh menikah?
Safa Madina: Terserah Ayah aja deh
Sebenarnya ini juga Safa tidak sepenuhnya menolak. Lagi pula dia yakin Ayahnya tidak akan memilihkan orang yang tidak benar untuk Safa. Ini juga sekalian bisa dibuat menghindar dari tugas-tugas perkuliahan dan yang terpenting Benua. Kalau beruntung dapat suami pintar, dia bisa sekalian minta bantu mengerjakan tugas
hehehe.
Ayah: Minggu ini wajib pulang
O-ow! Pamer ke Dinar Ah!
Safa Madina: Din, guess what? Gue mau dinikahin dong sama Ayah
Safa memang setidakwaras itu. Orang gila mana yang akan percaya kalau bilang nikah sudah seperti ngajak main.
__ADS_1
Dinar: Alhamdulillah.. Orang stress mana yang terjerat sama lo? Btw, April mop udah lewat kali
Tuhkan Dinar nganggepnya gak serius!