
Saat ini Safa membawa Benua ke kamarnya untuk ganti baju. Beberapa saat yang lalu disela-sela keterkejutannya, Mama dan Ina menuntunnya untuk duduk disebelah Benua. Mereka saling menukar cincin, menandatangani berkas dan segala ***** bengeknya. Dia tidak perlu terlalu merincikannya kan?
Yang jelas mereka berdua telah benar-benar sah sebagai suami istri di mata hukum dan agama. Mereka bahkan memiliki foto berdua. Safa melirik Benua sambil menelan ludahnya dengan cemas, Safa berkata takut-takut, “Bapak ganti duluan aja.. saya tunggu di luar”
Lengannya ditahan Benua, “Tunggu. Kamu mahasiswa saya?”
Safa mengangguk.
Dia dapat mendengar cowok itu menghela napas. “Jangan keluar, kamu tunggu saya di kamar. Saya gak akan lama.. kita harus bicara”
Pada akhirnya Safa benar-benar menunggu. Dia menatap cerminnya sambil meremas tangan. Keberuntungan seolah tidak memihaknya. Dia tidak ingin bertemu dengan Benua, tapi sekarang lelaki itu malah menjadi suaminya.
Beberapa saat setelahnya, pintu kamar mandi terbuka menampilkan sosok Benua yang sudah segar. Safa semakin menundukkan wajahnya. “Kenapa diam? Kamu harus hapus make up kamu dan ganti baju”
Lihat, dia memerintah lagi. batin Safa mendengus.
“Mohon maaf, Pak.. Bapak tadi bilang ada yang harus dibicarakan”
Benua tidak memberikan ekspresi apapun. Namun tangan besarnya mengusap puncak kepala Safa dengan lembut, “Jangan terlalu formal.. di kampus saya memang dosen, tapi disini saya suami kamu. Professional ya?”
Safa mengangguk kaku.
“Panggil Mas Mahes aja”
“Mas.. Mahes?” suaranya menghilang di akhir kata.
__ADS_1
Yes! Bukan Mas Sehun lagi!
***
Otak Safa masih tidak dapat mencerna apa yang tengah terjadi. Ada begitu banyak kejadian yang tak terduga dalam beberapa hari ini. Benua yang mengajar kelasnya, terpilihnya dia sebagai koordinator mata kuliah Benua, makian-makiannya itu, juga pernikahannya yang terjadi dalam sekejap mata.
Dan sekarang otaknya sibuk memikirkan bagaimana kelanjutan rumah tangganya bersama sang dosen killer ini. Huft!
“Saf, Bunda sama Ayah pulang dulu ya?” Sera mengusap pipi menantunya dengan lembut. “Kapan-kapan jangan lupa main ke rumah Bunda ya? Belum pernah kesana kamu kan?”
Bimo mengangguk. “Yang akur sama Mahes” petuahnya.
Safa melirik Benua sekilas sebelum mencium punggung tangan kedua mertuanya. Memang, setelah kata ‘sah’ bergema, baik Sera maupun Bimo langsung menyuruhnya untuk memanggil mereka Bunda dan juga Ayah. Mereka, terutama Sera dengan semangat menceritakan secara rinci mengenai apa yang disuka dan tidak disukai oleh anaknya, Mahes.
Safa juga tahu bahwa Mahes adalah nama panggilan Benua Maheswara bagi orang terdekatnya.
“Bunda sama Ayah gak makan malam dulu?” kata Safa sok perhatian.
“Gak usah, kami biar langsung pulang aja. Biar gak kemaleman di jalan” tolak Bimo halus. Safa mengangguk.
Kompak, Mama, Ayah, Ina dan Reza saling senggol mendengar perkataan Safa yang dianggap sangat janggal.
Safa memelototi keempatnya, “Wajar dong aku perhatian sama mertua aku?!”
“Mama gak bilang apa-apa kok” Mamanya langsung mengangkat tangan di udara.
__ADS_1
Ayahnya jadi ikut-ikutan. “Ayah apa lagi..”
Safa makin cemberut saat Ina dan Reza dengan kompak berkata, “Gue juga engga”
“Rese!”
Benua hanya menarik sudut bibirnya sedikit geli, dibelakang. Mendapatkan sinyal dari ibu mertua, Benua mengikuti Safa yang pergi ke kamarnya.
Di dalam kamar, Benua menghampiri Safa yang tengah merajuk di tepi kasurnya. Benua mengusapkan tangannya ke puncak kepala Safa untuk kedua kalinya, “Besok kita pindah”
Terkejut, Safa mendongakkan kepalanya, “Pindah ke.. mana?” tanyanya bingung. Sejujurnya cewek itu masih agak canggung berinteraksi dengan dosen yang kemarin-kemarin masih menatapnya tajam dan dingin. Bahkan di cap sebagai dosen killer sefakultas hukum. “Ke rumah tante—maksudnya Bunda?”
“Rumah kita”
“Tapi kenapa?”
“Apalagi? Saya sudah mampu menghidupi kamu”
Safa terdiam. Si Benua ini menyuruhnya untuk tidak terlalu formal, nyatanya justru dia sendiri yang terlalu formal. Safa menghela napasnya pasrah, mengangguk ragu. Ingin menolak pun percuma, status mereka saat ini adalah suami istri. Dan sudah merupakan kewajibannya untuk mengikuti keinginan Benua.
“Besok aku—saya.. ehm—aku boleh bolos dong?” tanyanya penuh harap.
Benua menggeleng. “Kita masih bisa pindah rumah setelah kamu kuliah”
Safa mendengus keras. “Ishhh tapi kan capek?”
__ADS_1
Bermodalkan tatapan mematikan Benua, Safa langsung bungkam.
Gini nih kalau nikahnya sama dosen, batinnya kesal.