DOSEN ATTACK

DOSEN ATTACK
Episode 5


__ADS_3

Akhirnya hari Rabu pun tiba. Di kantin selepas mata kuliah terakhir, Safa masih sempat mengajak Dinar nongkrong. Lagipula jarak rumah dan lingkungan kampusnya ini cukup dekat. Hanya sekitar 2 jam saja dengan angkutan umum.


“Nar, besok gue bolos lagi loh” kata Safa ringan. “Lo gue tinggal sendirian ngadepin mata kuliah yang memacu adrenalin sendirian gak apa-apa kan ya?”


“Bolos lagi?!” Dinar memekik. “Gila lo, Saf! Jangan main-main dong.. kita udah semester enam kok lo malah santai gini sih”


Safa mengangguk beberapa kali. “Ada urusan di rumah.. penting banget gak bisa ditinggal. Makanya gue harus bolos lagi”


“Lo gak beneran mau nikah, kan?”


Safa menggendikkan bahu dengan mulut mengerucut malas. Mau mengatakan kebenarannya pun Dinar tidak akan percaya. Dia belum tahu nama calon suaminya. Tidak mungkin dia benaran mengatakan nama Sehun kan? Bisa-bisa Dinar menyeretnya ke rumah sakit jiwa.


“Nikah beneran kan?!” Dinar mendesak.


“Huum”


“GILA LO!! Kapan?”


“Besok sama Sehun”


Dinar menghela napasnya sambil mengurut dada. “Gue kira lo beneran.. udah mau jantungan nih”


Tuhkan..


“Bodoamat deh! Anterin gue dong ke perempatan”


***


Safa sampai di rumah pada pukul enam sore. Matanya terbuka lebar saat melihat ruang tamu rumahnya sudah dikosongkan dan sudah disulap sedemikian rupa dengan dekor sederhana. Ada sebuah meja kecil di tengah ruangan yang ditutup mengenakan kain batik. Safa terpaku.. dia beneran mau nikah ya?


“Loh Saf, udah pulang?” Mamanya basa basi. “Sini sini langsung fitting baju. Mama masih inget kok ukuran kamu.. lagian kamu udah lama gak tumbuh lagi kan?”


Safa bingung ini pujian atau hinaan. Tapi cewek itu menurut saja ditarik ke kamar Mamanya. Safa kemudian dipaksa mengenakan kebaya berwarna putih. Dan benar saja, kebaya itu benar-benar muat dengan dirinya. Tidak heran mengingat cewek itu dekat sekali dengan Mamanya dan hampir separuh lemarinya terisi oleh baju yang dibelikan Mamanya, bahkan tanpa dia mencobanya sendiri.


“Ya ampun anak Mama beneran mau nikah..” kata Mamanya mellow. “Habis ini pasti kamu bakal pindah ikut suami kamu..”


Safa sedih mendengarnya, tapi cewek itu berusaha melucu. “Yaiyalah, Ma! Disini kan udah ada Agis, Ina sama suaminya. Yakali aku juga disini sama Mas Sehun”


“Sehun? Kamu selingkuh, Saf?”


“Nikah aja belom boro-boro selingkuh! Itu panggilan so sweet aku buat laki aku lah!”


Mamanya hanya ber-oh-ria sebelum mendorong Safa keluar dari kamarnya. “Yaudah sana kamu istirahat.. langsung tidur ya? Soalnya besok kan kamu ijab.. biar gak susah bangunnya”


Safa hanya mengangguk. Benar juga.. besok dia sudah akan menjadi istri orang. Dia akan segera pindah dari rumah ini dan menjalani rumah tangga dengan suaminya nanti. Safa menghela napas, dia menatap langit-langit kamarnya dengan sedih sebelum sesaat kemudian dia memekik malu.

__ADS_1


"Besok tidurnya gak sendirian lagi.. Aw!”


Kemudian Safa tertidur begitu saja sambil tersenyum gaje mengira-ngira seperti apa calon suaminya kelak.


Ting!


+6289XXXXXXX: Silahkan belajar mandiri untuk besok, saya tidak bisa ngajar


+6289XXXXXXX: [berkas]


“Ya ampun, asem banget nih dosen! Giliran gue mau bolos malah ikutan bolos!” bisik Safa lalu mengirimkan amanah sang dosen pada kelasnya.


 ***


Keesokan harinya, saat pagi-pagi buta, Safa sudah dibangunkan untuk bersiap. Berhubung acara ijab kabulnya diadakan pagi, maka selepas sholat subuh Safa sudah harus membiarkan wajahnya dipoles make up.


“Mah? Bukannya yang dateng cuma keluarga aja kan? Kok dandan sebegininya?”


Jidatnya ditoyor Ina, “Emang lo gak mau foto sama laki lo? Otak lo kok ****** banget sih, Saf! Nurun sapa sih lo.. perasaan Mama sama Ayah gak kaya lo gini”


Safa mencebik sementara Mama serta Ayahnya hanya terkekeh tanpa suara. Mereka akan menikmati masa-masa ini karna diantara semuanya memang hanya Safa yang paling cerewet. Mungkin karna Safa adalah anak bungsu.


Tok.. tok.. pintu diketuk.


“Wih gimana, Saf?”


“Gimana apanya? Lo gak liat gue mau kawin?” Safa berkata songong.


“Dih songong banget sih lo! Adek sapa sih nih!”


Safa tertawa. Dia merentangkan kedua tangannya, manja. “Sini sini peluk dulu!” katanya lalu mendapatkan pelukan hangat dari Reza. Suasana manis itu terbuyarkan oleh kalimat Safa selanjutnya, “Lo kapan nikah, Bang?”


“Asem banget lo!”


Semuanya tertawa.


***


“Gugup banget ya, Dek?” Reza duduk di sebelah Safa yang sedang meremas tangannya. Safa sudah selesai bersiap. Wajahnya pun sudah terlihat lebih bersinar dari biasanya. “Calon laki lo udah dateng noh di luar”


Safa langsung menoleh. Dia melirik jam dinding, memang benar ini sudah saatnya dia akan diikat janji suci. “Udah dateng? Dia cakep gak, Bang?”


“Loh? Lo gak tahu?” Reza mengernyit. Bertepatan dengan itu, Ina ikut masuk ke dalam kamar yang langsung dibombardir Reza, “Not! Si Safa gak tahu calon lakinya?”


Ina ikutan mengernyit. “Tau kok dia.. Saf, kan Tante Sera udah kirimin paketnya? Belum lo buka?”

__ADS_1


Safa langsung menoyor kepalanya sendiri, merasa bodoh. Belum cukup puas dengan menoyor dirinya sendiri, dia menoyor Reza juga. “Ya ampun! Gue lupa gak liat..”


“Jangan toyor gue juga kali!” Reza menggerutu.


Safa terkekeh. Dia kemudian menerima box yang diambilkan Ina dari atas lemari kamarnya sendiri. Saat sedang sibuk membukanya, Mamanya ikut masuk ke dalam kamar, “Ja, ayo keluar.. acaranya udah mau dimulai. Biar Mama sama Ina yang nemenin Safa”


Reza akhirnya keluar dengan raut wajah masam karna tidak dapat melihat ekspresi Safa saat membuka boxnya pertama kali. Ditemani Mama dan Ina, Safa membuka boxnya dengan penasaran. Sementara di luar kamar, acara sudah di mulai. Suara penghulu yang membimbing dengan mic terdengar menggema.


“Saya nikah dan kawinkan saudara Benua Maheswara bin Bimo Maheswara dengan saudari Safa Madina binti Raihan Najab dengan mas kawin tersebut dibayar tunai”


Tunggu sebentar.. Benua Maheswara?


Dia tidak salah dengar kan?


Dengan mata membulat terkejut, Safa dengan gerakan yang cukup cepat membuka box yang berada di pangkuannya. Matanya semakin membulat melihat isinya. Itu memang Benua Maheswara.. Itu memang foto dosennya.. tiba-tiba semua kenangan suaranya berputar di kepalanya.


“*BENUA?”


“Gila, gue ogah dapet dia anjing!”


 “Gue mules banget liat mukanya. Tegang banget gue! Gila gila gila, mau bolos aja gue Not!”


“Not, gue gak mau kuliah. Bilangin Ayah, gue mau nikah aja!”


“Din, guess what? Gue mau dinikahin dong sama Ayah”


“Lo gak liat gue mau kawin?”


“Oiya Tante.. Sekarang calon suami aku mana?”


“Lagian bisa-bisanya lo, Bim! Gak lulus mata kuliah dia, eh ketemu dia lagi. Emang agak suram hidup lo”


 “Ada yang lebih suram”


“Sapa?”


“Bini dia! Hahahahaha”


“Hahahahahaha*”


Safa terdiam, sementara suara tawanya itu terus menggema di dalam bagian otaknya yang terdalam. Boxnya terjatuh menumpahkan seluruh foto-foto Benua Maheswara begitu pun juga dengan biodatanya.


“Saya terima nikah dan kawinnya Safa Madina binti Raihan Najab dengan mas kawin tersebut, tunai”


“SAH!”

__ADS_1


Safa tidak dapat merasakan kakinya berpijak lagi. Lemas.


__ADS_2