
🧑🏻:"Lagi lagi senyum itu." ucap Devine dalam hati, senyum yang dapat menghangatkan hati Devine yang tadinya dingin seperti es itu menjadi seperti tidak bisa bersikap dingin kepada satu orang yap, itu Esa tidak ada siapa siapa lagi.
👩🏻:"Mau sampai kapan kita berdiam disini? Bagaimana kalau kita berteduh di pohon dekat sana itu? Ayo!"
Ucap Esa yang tadinya tangan nya itu menunjuk pohon langsung menggandeng dan menarik tangan Devine untuk berlari ke arah pohon yang di tunjuknya tadi.
👩🏻:"Oh ya, tadi disaat mereka semua memukuli mu kenapa kamu tidak kabur atau membalasnya? Dan sekarang kau baik baik saja mungkin kalau anak itu bukan diri mu mungkin mereka sudah menangis."
Devine diam sejenak,,
🧑🏻:"Aku sudah terbiasa dibully seperti itu di sekolah ini, lagipula kalau aku berhasil kabur atau membalas pasti besok mereka akan mencari dan memukuli ku lagi jadi percuma saja."
👩🏻:"Oh, apa kau tidak punya teman? Selama ini aku selalu melihatmu sendirian saja."
🧑🏻:"Tidak ada yang mau berteman dengan ku, yang ada mereka semua lakukan hanya membully ku."
👩🏻:"Bagaimana kalau aku menjadi teman pertama mu? Aku tidak keberatan untuk berteman dengan mu ;)." ucap Esa sambil mengulurkan tangannya ke Devine dengan senyum hangatnya itu.
🧑🏻:"Benarkah? Apa kau tidak akan membullyku seperti yang lainnya?" ucap Devine penuh tanya dan harapan.
👩🏻:"Tidak akan ;), bagaimana sebagai tanda pertemanan kita, aku memberi mu gelang ini." ucap Esa sambil memberi gelangnya itu.
🧑🏻:"Tapi untuk apa gelang ini? Apa harus kupakai? Ini kan gelang perempuan." ucap Devine dengan wajah polosnya.
__ADS_1
👩🏻:"Haha kamu ini lucu sekali, tentu saja tidak
Tiap kamu butuh kepercayaan diri dan semangat kamu genggam gelang ini maka, anggap saja aku memberi semua semangat ku untuk mu ;)."
Tap, tap, tap
Terdengar suara lari seorang pria.
👤:"Nona Esa, tuan dan nyonya menunggu mu di dalam mobil untuk menjemputmu."
👩🏻:"Oh? Papa dan mama menjemputku? Yasudah, ayo pergi ke mobil pak Andi."
👩🏻:"Devine ingat kata kata ku tadi yaa! Aku pulang dulu ;)." ucap Esa tersenyum lalu langsung berlari ke arah mobil dan dalam sekejap langsung hilang dari pandangan Devine.
Beberapa menit kemudian,,
👤:"Tuan Devine, maaf saya terlambat menjemput tuan, saya terkena macet yang panjang di jalan." ucap pak Sebas sambil menunduk ketakutan.
🧑🏻:"Hm, jangan ada lain kali lagi." ucap Devine dingin.
👤:"Heh? Saya tidak di marahi? Malah tuan Devine menasihatiku?" ucap pak Sebas dalam hati.
Saat di dalam mobil keluarga Gerald,,
__ADS_1
Devine baru tersadar di gelang itu terukir nama 'Esa', Devine kembali tersenyum saat melihat gelang itu dan mengingat kembali senyuman manis Esa.
👤:"Heh? Tuan Devine tersenyum? Selama ini saya tidak pernah melihat tuan Devine tersenyum sekalipun saat bersama orang tuanya yang ada hanya tatapan dinginnya saja." ucap pak Sebas dalam hati.
👤:"Bagaimana sekolah tuan Devine? Apa gadis cantik tadi teman tuan Devine?" ucap pak Sebas penasaran.
🧑🏻:"Iya, dia teman pertama ku. Dia cantik bukan? Seperti malaikat, ah tidak lebih tepatnya seorang bidadari."
👤:"**Oh, iya tuan Devine gadis itu memang sangat cantik."
Penasaran kelanjutannya? Ikutin terus yuk novel "Dosen ku ternyata cinta pertamaku?!"
Ingat untuk mendukung novel ini dengan cara klik favorit, like, share ke teman teman kalian, jangan lupa tinggalkan komentar kalian! Dan juga beri vote dan bintang nya.
Dukungan dari kalian adalah semangat saya untuk terus berkarya;)
Maaf jika ada salah kata dan menyebabkan ketidaknyamanan pengalaman pembaca dalam novel ini..
Sampai bertemu di next chapter!
Terima kasih🙆🌸
#salam penulis**..
__ADS_1