
*Lupa memberi tahu, Roh beladiri kakek tua kemarin adalah pedang panjang dengan 4 Cincin roh, 1 putih, 2 kuning, 1 ungu.*
***
Krak krak
Suara api membara membakar kayu di rumah rumah, membuatnya menjadi arang. Aku terdiam, bingung harus bagaimana.
Tapi melihat sumur di sudut desa, aku langsung berlari menghampiri, saat ini yang bisa memadamkan api hanyalah air, dan hanya itu yang bisa aku lakukan.
Aku mencoba menambang air, untungnya tidak kering. "Tolong-" suara terdengar dari rumah di dekat wuxing, Fokusku terbelah, Menimba air dulu atau menolong orang?
Tetapi ketika aku melihat 2 kain tergantung di dekat sumur, aku memutuskan.
kedua kain dicelupkan kedalam ember, aku segera berlari dengan cepat, ketempat suara orang yang meminta tolong tadi.
***
Sore hari, sungguh keajaiban, Aku berhasil menyelamatkan 15 orang warga, tetapi, sebagian besar telah hangus, bahkan tulangnya gosong, tertimpa bangunan, entah masih utuh atau tidak.
__ADS_1
"Terimakasih!!" Ucap para warga dengan wajah cemong, kepada Wuxing.
"Huff.. Hahh.." Aku terengah engah dan keringat bercucuran, hanya mengangguk dengan senyum kecil, petualangannya di hutan tidak sia sia(apalagi dikejar warga saat itu), itu sedikit melatih fisikku.
"Apakah kalian tahu dimana sungai terdekat?" Ucapku, aku haus dan ingin mandi segera, dan untuk sumur itu, biar para warga yang memakainya, lagi pula, itu milik mereka.
"Ee.. Tuan muda, anda bisa memakai sumur kami lagi.." Ucap tetua desa, berumur sekitar 50 an.
"Tidak, Itu untuk kalian, lagi pula aku akan langsung-" Ucapnya berhenti, ia tak bawa baju ganti, dan ia sadar ia tak bisa meminjam pakaian kepada warga desa.
"Baiklah, sampai jumpa!" Ucapku singkat setelah meminum air pemberian seorang ibu ibu.
Aku berlari, tanpa mempedulikan teriakan mereka untuk untukku berhenti, Dunia ini luas, dan ini bukan tahun dimana putra keberuntungan itu lahir, banyak misteri yang belum tergapai oleh manusia saat ini.
Wuxing berpikir sederhana, ia tak mau lebih banyak berbicara dengan mereka, karena desa itu, akan menjadi Akademi nomor 1 di benua douluo, setidaknya puluhan ribu tahun kemudian, Shrek.
***
Byurr
__ADS_1
Aku menceburkan diri kesungai bagian tepi, aku melihat bagian tengah sungai, warna airnya sedikit gelap, menandakan dalamnya sungai bagi tubuhku yang kecil.
Saat sedang asik membersihkan diri, tiba tiba ada suara memdesis di kejauhan, di semak semak.
Seketika pergerakanku terhenti, 'Hei, ini sungai yang amat jernih! Bersih! Dan ada ular disini? Aku harap bukan ular berbisa!' batinku, mulai waspada.
*Tidak heran, ini dihutan!*
"Wahai." terdengar suara entah dari mana, yang membuatku menoleh kesana kemari.
Pergerakanku itu membuat suara desis di semak semakin jelas, membuatku menelan ludah di dalam kerongkongan.
"Wahai, Yin! lawan ular itu." Ucap suara itu kembali, tak lama setelahnya, batang hidung terlihat dari sebuah hewan, maksudku moncong. Lidah terbelah dua yang terus mendesis, mata bagai jarum simetris, 2 gigi atas mengeluarkan liur- Bisa!
"Ular itu berbisa?!" Aku kaget, segera berenang untuk sampai di seberang, tetapi semakin maju, semakin dalam, Aku yang tak bisa berenang, hanya pasrah terbawa oleh arus yang cukup deras.
*sungguh menyedihkan, seorang calon mahkota yang tak bisa berenang*
Tenggelam, perasaan yang sama ketika dibawah jembatan itu, awal mula dari kesepian, kesendirian.
__ADS_1
Tubuh Wuxing terus terbawa arus, bahkan melewati para perampok, tetapi, saat tubuh itu melewati mereka, ada yang telah sadar dari pingsannya, dan ketika melihat tubuh wuxing, kebebasan sebentar lagi akan hilang darinya.