
Aamon, Sena, dan Sila berjalan dengan memakai jubah berwarna hitam yang menutupi kepala mereka, mereka tengah berjalan di sebuah kota, walaupun di sebut kota tapi tempat itu benar-benar berantakan, dan ada beberapa bangunan yang sudah hancur.
"Sila kenapa kita harus memakai jubah, yang tidak nyaman ini" Tanya Sena dengan mengeluh.
"Pakai saja, ini adalah tempat yang berbahaya, terutama bagi anggota kerajaan seperti kalian" Jawab Sila.
"Eh, kami??? anggota kerajaan???" Ucap Sena yang sedikit bingung.
"Memangnya kalian bukan anggota kerajaan???" Tanya Sila yang mengira bahwa Aamon dan Sena adalah anggota kerajaan.
"Tentu saja bukan"
"Lalu pakaian(Seragam SMA) kalian, bukannya itu pakaian kerajaan???" Tanya Sila.
"Ini sedikit sulit di jelaskan" Jawab Sena yang tak tau harus menjelaskannya seperti apa pada Sila.
"Lupakan masalah itu, kenapa semua orang menggunakan jubah??? sebenarnya kota apa ini???" Tanya Aamon yang dari tadi hanya diam saja.
"Sebenarnya ini adalah kota Pinggiran, karena perang kota ini terkena dampaknya, dan sekarang hanya menjadi pasar gelap" Jelas Sila.
'Apakah di dunia ini selalu ada perang' Batin Aamon.
"Pasar gelap???" Sena.
"Ya" Sila.
"Lalu kenapa kita kesini???" Tanya Aamon lagi.
"Kita harus mencari kitab sihir yang cocok untuk kak Sena, dan juga harus mencari alat yang bisa mencek elemen mana kakak kan" Jawab Sila.
"Kami gak punya uang" Ucap Aamon.
"Hey, apa aku terlihat semiskin itu???"
"Memangnya kau punya uang???" Tanya Aamon lagi.
"Tentu, aku sering menemukan harta di hutan jadi, dan sering menjualnya disini" Jawab Sila.
"Maaf, kami sering merepotkan mu" Ucap Sena.
"Tidak masalah, lagipula menolong murid yang tidak berguna seperti kalian adalah tugas seorang guru, ho ho ho"
'Ni bocah, kalau aku sudah menguasai teknik sihir akan ku bakar dia' Batin Sena yang marah karena di katai tidak berguna (padahal emang).
__ADS_1
Setelah cukup lama berjalan, akhirnya langkah mereka terhenti.
"Tidak baik bagi anak kecil untuk terus datang kesini, bocah, yah walaupun kali ini kau bawa orang lain" Ucap seorang penjual dengan badan besar dan berkumis.
"Jangan gitu paman, bagaimanapun juga aku ini pelanggan" Ucap Sila, yang tampaknya sering bertransaksi dengan penjual itu.
"Jadi kau mau apa???" Tanya penjual itu.
"Berikan aku 2 kitab sihir elemen api tingkat dasar"
"Tingkat dasar??? seleramu menurun ya" Ucapnya, lalu mengeluarkan 2 buah buku.
"Berapa???"
"100 Nova" Sebut penjual.
"Bisa kurang???" Tanya Sila yang berniat menawar.
"Gak" Jawab penjual.
"50 Nova" Tawar Sila.
"Gak"
"Ayolah paman, orang pelit itu kuburannya sempit"
"Gak" Jawab sang penjual tetap dengan jawabannya, "Aku ketika mati langsung di bakar"
Pada saat Sila sedang bernegosiasi Aamon terfokus pada 2 orang yang memakai jubah berwarna merah yang berada di gerai yang tak jauh dari mereka.
'Dua orang kemarin' Batinnya.
"Ada apa Aamon???" Tanya Sena melihat Aamon.
"Tak ada apa-apa" Jawabnya.
Setelah selesai membeli kitab sihir, merekapun kembali berjalan.
"Sial, aku tak dapat diskon" Ucap Sila yang kesal karena gagal menawar, walaupun tetap akan di beli.
Pada saat berjalan bahu Aamon bertabrakan dengan orang yang berjubah merah, yang tak lain adalah Kiraa dan gurunya.
'Gawat' Batin Aamon.
__ADS_1
Tiba-tiba Sila mempercepat langkahnya, dan itu menyebabkan Aamon dan sena sedikit tertinggal.
"Sila, jangan terlalu cepat" Teriak Sena.
'Mampus' Batin Sila.
'Sila??? bukankah itu' Batin Guru dari Kiraa. "Kiraa, cepat tangkap bocah kecil itu!!!" Perintahnya tiba-tiba.
"Sihir Air: Pusaran kabut" Tiba-tiba muncul sebuah pusaran air yang cukup tinggi dan besar, lalu pusaran itu meledak yang menerbangkan sekitarnya, dan akhirnya menjadi kabut.
"Lari!!!" Teriak Sila, pada Aamon dan Sena.
Ketika kabut itu menghilang Aamon, Sena, dan Sila telah hilang dari tempat itu.
"Sila, kenapa mereka ingin menangkapmu???" Tanya Sena.
"Sebenarnya...., Aku pun tak tau kenapa" Jawab Sila.
"Ruangan apa ini???" Tanya Aamon yang melihat ruangan tempat mereka berada.
"Aku juga tak tau. Aku hanya berlari saja dan tak sengaja masuk ke sini"
Mereka sedang berada di ruangan yang sangat gelap, bahkan hampir tak ada cahaya. Tapi ruangannya sangat luas dan juga tinggi.
"Lihat itu!!!" Sila menunjuk sebuah benda berbentuk lingkaran yang cukup besar, namun terdapat 8 batang besi dengan ukiran unik yang tertancap.
"Apa ini???" Tanya Sena.
"Ini adalah salah satu alat yang bisa mendeteksi elemen mana seseorang"Jawab Sila.
"Jika benda ini ada disini, berarti ruangan ini adalah perpustakaan"
"Bagaimana cara pakainya???" Tanya Aamon yang mengetahui maksud Sila.
"Angkat tangan kakak ke depan, lalu rasakan mana kakak dan alihkan fokus kakak ke depan" Jelas Sila.
Aamon melakukan apa yang di katakan Sila, lalu 3 dari 8 batang besi itu mengeluarkan cahaya, yaitu cahaya berwarna hijau, hitam dan putih, menandakan bahwa Aamon memilik 3 elemen mana, yaitu Angin, Kegelapan, dan cahaya.
"Gila, memiliki dua elemen mana saja sudah langka, kakak bahkan punya tiga" Ucap Sila yang sangat terkejut.
'Menarik' Batin seorang pria berambut merah yang ternyata sedang memperhatikan mereka.
'Pangeran jenius dari kerajaan Cavendish, gadis dengan mana yang besar, lalu seseorang yang memiliki tiga elemen mana, benar-benar menarik' Batinnya lagi dengan senyuman yang penuh nafsu.
__ADS_1