
Satu bulan telah berlalu, Aamon dan Sena sudah mengerti bagaimana cara menggunakan sihir dan sudah menguasai semua ilmu sihir dari kitab sihir yang mereka pelajari.
"Hey Aamon lihat ini!" Ucap Sena yang rambutnya sedang terangkat dan terbalut kobaran api "Keren kan".
"Sihir Angin: angin sepoi-sepoi" Datang angin yang lalu meniup kobaran api di rambut Sena "Kau terlihat seperti nenek sihir".
"Apaan sih? dasar batu Frezer" Ucap Sena.
Sementara itu Sila dengan kitab sihir ditangannya hanya melihat mereka yang sedang bermain-main dengan sihir mereka.
'Apaan sih, padahal baru sebulan tapi mereka sudah bisa 20 lebih jurus sihir' Batin Sila melihat mereka. 'Dasar jenius bangs*t, padahal aku yang ngajarin sihir. Trus, Frezer itu apa?'.
Aamon dan Sena yang dari tadi bermain dengan sihir, berjalan ke arah Sila.
"Ada apa?" Ucap Sila melihat mereka berjalan ke arahnya.
"Kami mau pergi" Ucap Aamon.
"Pergi? Oh mau cari makan siang ya, pergi saja kan hari ini emang giliran kalian" Balas Sila.
"Bukan, kami mau pergi dari hutan ini" Ucap Aamon menjelaskan maksudnya.
"Pergi dari hutan?" Ulang Sila.
"Ya" Jawab Aamon
__ADS_1
Sekarang?"
"Ya"
"Maaf, kami hanya merepotkan mu selama di hutan ini, tapi kami harus pergi" Ucap Sena.
"Begitu ya" Ucap Sila dengan wajah murung 'Apa aku bakal tinggal sendiri lagi?' Pikirnya.
Melihat wajah murung Sila membuat Sena ingin mengajaknya, Sena melihat Aamon bermaksud meminta persetujuan.
"Terserah kau saja!" Ucap Aamon yang yang mengerti maksud Sena. Aamon lalu berjalan ke arah gubuk mereka.
Sena tersenyum senang mendengar jawaban Aamon "Sila, mau ikut nggak?"
Mendengar jawaban dari Sila membuat Sena seketika murung "Gitu ya"
'Sebenarnya aku mau ikut, tapi jika ada aku mereka akan ikut di incar kerajaan Pyro' Batin Sila.
Aamon kembali setelah balik dari gubuk, melihat Ekspresi Sena dan Sila yang murung Aamon langsung tau apa yang terjadi.
"Ayo!" Aamon langsung pergi berjalan menjauhi Sena dan Sila.
Sena tiba-tiba memeluk Sila dengan erat "Jaga diri baik-baik ya" Ucapnya lalu ia melepaskan pelukannya dan berlari menyusul Aamon.
"Apaan sih, padahal udah ngaku kalau cuman ngerepotin malah bertingkah jadi kakak" Sila lalu berjalan ke arah gubuk dengan air mata yang menetes.
__ADS_1
Aamon dan Sena berjalan semakin menjauh meninggalkan Sila.
"Oi, sedih dikit kek" Ucap Sena kepada Aamon yang terlihat biasa-biasa aja setelah berpisah dengan Sila.
"Kenapa?"
"Kenapa? serah lah! dasar Frezer"
Di gubuk Sila melihat sebuah kitab sihir tingkat tinggi yang berada di atas meja "Dasar, kenapa harus sok dingin?"
*
Di sebuah istana yang megah terlihat seseorang dengan rambut merah dan mata ungu sedang duduk di puncak salah satu menara di istana itu, Ia adalah pangeran Wolfred.
Dia sedang duduk dengan memegang sebuah benda berbentuk bulat seukuran bola mata di tangannya.
Benda itu memancarkan cahaya berwarna ungu, walau Wolfred menggenggam benda dengan kedua tangannya cahaya dari benda itu masih terlihat jelas melalui sela-sela tangannya.
Benda itu terkadang memancarkan sedikit listrik.
"Ternyata bukan cuma cerita saja ya, ternyata ini benar-benar nyata....."
"Cristal Dragon"
BAB SELANJUTNYA: Kemana?
__ADS_1