
Dream menjelaskan semua rahasianya kepada teman temannya. Untuk kedua kalinya dia mengungkapkan rahasianya ke orang lain setelah Faisal.
"Begitu ya... aku juga gak bakal senang kalau dilatih sangat keras selama 5 tahun" Komentar Yudha terhadap rahasia Dream
"Tergantung orangnya sih... Kalau dari kecil emang suka banget main sepak bola kayaknya b aja orangnya. Kalau orangnya emang mimpinya mau jadi pemain sepak bola terbaik di dunia pasti mau gak mau latihannya harus dilakukan secara rutin dan keras" Sambung Figo.
"Daripada nilaimu jelek gara gara bolos ekskul sepak bola mending ikuti aja deh, khusus kalau ikut ekskul sepak bola gak perlu ikut ekskul lain. Tapi sebagai gantinya, kegiatan ekskulnya 3 kali seminggu sih...." Ucap Faisal memperingati Dream.
Dream terpaksa mengikuti kegiatan ekskulnya itu daripada nilai rapotnya jelek, nanti dimarahin bibi kalau nilai rapotnya jelek.
Dream bertanya kapan ekskulnya dimulai.
Figo menjawab ekskulnya dilakukan di setiap hari selasa, rabu, dan kamis. Jam pulang sekolah hari ini pada pukul 15.00 sore. ekskul olahraga di kelas 11F dilakukan setiap jam menunjukkan pukul 13.00 siang. Setiap 2 sampai 3 kelas memiliki sesi waktu yang berbeda, Misalnya kelas 10A, B, dan C ekskul sepak bolanya dimulai pada pukul 9.00 pagi sampai 11.00 siang sedangkan kelas 10E, F, dan G mulai dari pukul 11.30 sampai 13.30. Orang yang mengikuti ekskul olahraga diberikan dispensasi kelas. Berhubung hari ini hari rabu, Ekskul sepak bola akan dilaksanakan siang ini. Kelas 10 dan 11 mempunyai waktu ekskul olahraga 2 sampai 3 jam, sedangkan khusus kelas 12 waktu ekskul bisa mencapai 6 jam kadang dari istirahat pertama sampai melebihi jam pulang sekolah.
"Hhhh... Yodah lah.. Yuk ke kantin. Lama lama stress gw" Dream kembali merasakan frustasi seperti waktu saat ia latihan bersama mendiang ayahnya.
Mereka berempat cabut dari kelas dan pergi ke kantin bersama.
beberapa jam kemudian, Waktu menunjukkan pukul 12.40 siang. Murid Kelas 11E dan F yang mengikuti ekskul sepak bola sedang bersiap siap menuju stadium sekolah.
Dream dan kawan kawannya sedang bersiap siap di kelas.
"Nah, Yok! Kita ke stadium!!!" Ucap Faisal dengan semangat.
Dream sama sekali tidak semangat dan malah kelihatan sangat mager.
"Drim.. Ayo lah!! Cuman kamu satu satu murid di sekolah ini yang benci sepak bola... Aku mau liat skill mu main bola! Kamu kan udah latihan 5 tahun. Semangat dooongg" Faisal mencoba menyemangati Dream yang sudah kelewat mager.
"Serah lu aja lah sal.. Padahal aku ogah banget main bola tapi kenapa aku malah masuk ke sekolah ini!? Semua murid di sekolah ini mencintai sepak bola sedangkan aku enggak.." Protes Dream
"Sungguh ironis..." Sambung Yudha
"Terima aja lah, Drim.. Udah nasib kalee. Mana tau kamu bakal jatuh cinta sama sepak bola, Hahaha" Ucap Figo.
"Yodah yok, kita ke stadium" kata Faisal
Dream dan kawan kawannya pergi ke stadium sekolah. Mereka melihat anak anak kelas 11 yang lain juga sedang otw ke stadium di jalan. Sesampainya di gerbang stadium, Dream merasa cukup terpukau dengan stadiumnya. Dari jauh terlihat besar, Dari dekat terlihat lebih besar dari ekspektasi. Dream dan yang lainnya memasuki lorong gerbang dan masuk ke wilayah dalam stadium. Lapangan stadium tersebut sangatlah luas layaknya padang rumput, Desaign tribun terlihat sangat cantik, dan Atap stadiumnya memanjakan mata. Jika dilihat dari satelit, Bentuk stadium itu terlihat seperti Donat yang melebar ke samping. Stadium ini melebihi standard PSSI, malah lebih ke stadium kelas dunia FIFA. Warna stadiumnya sangatlah mencolok dengan paduan biru gelap, kuning, putih, dan hijau pada dindingnya, warna merah dan putih pada tribun nya, dan kuning emas pada atapnya. Stadium ini bahkan setara bagusnya dengan JIS di jakarta.
"Walaupun udah sering kesini tapi masih aja aku terpukau dengan stadiumnya! Memanjakan mata sekali!" Ucap Figo
"Hey Dream! Aku yakin ini pertama kalinya kamu ke stadium sepak bola. Stadium ini hebat kan?" Tanya Faisal bagaimana reaksi Dream.
"B aja sih.." Jawab Dream
Padahal di dalam hati, Dream sangat menyukai stadium sekolah ini. Ia tidak pernah melihat stadium sebesar ini selama hidupnya. Tapi Dream tidak mau mengaku kalau stadium ini bagus, itu akan merusak pendiriannya kalau dia membenci sepak bola.
"Oh lihat! Itu pelatih kita. Yang lain sudah berbaris, Cepat sebelum kita dimarahi!" Yudha memperingati yang lainnya agar segera berbaris.
Mereka berempat berbaris sesuai kelas masing masing. Setiap kelas dilatih oleh pelatih profesional yang disewa oleh sekolah. Orang yang mengikuti ekskul sepak bola wajib mematuhi apa yang disuruh pelatih. Pelatih tidak segan segan untuk menghukum satu kelas apabila ada salah satu orang yang tidak mematuhi pelatih. Mental para murid juga dilatih agar mereka siap bersaing di ajang olahraga besar suatu hari nanti.
Pelatih sedang memperkenalkan diri.
"perkenalkan! Nama bapak Denis Anwari Sujono, Panggil saja pak Denis. Bapak kembali memperkenalkan diri karena bapak lihat sepertinya ada orang baru yang ikut ekskul sepak bola ini. Siapa nama mu nak?" Tanya Pak Denis.
"Nama saya Derim Radika, pak. panggil saja Drim" Jawab Dream.
"Nama yang bagus! Bapak suka nama kamu.." Respon pak Denis
"Nah, Sekarang! Sebelum kita mulai latihannya, Kita seperti biasa akan melakukan ritual! Masih ingatkah kalian dengan ritualnya?"
__ADS_1
Semuanya menjawab masih ingat termasuk teman teman Dream sedangkan Dream planga plongo tidak tau apa ritualnya, Dream juga bertanya apa yang dimaksud ritual tersebut.
"Woy, Kenapa pakai ritual segala? Emangnya ritual apa?" Tanya Dream pada teman temannya.
"Yang dimaksud bapak ritual itu juggling bola!" Jawab Faisal.
"Loh, Kenapa harus pakai kata ritual? Bukannya pemanasan?" Dream bingung dengan konsep yang dipakai bapak
"Ekskul sepak bola di sekolah ini punya ritual sebelum melakukan latihan atau laga. Ekskul sepak bola disini juga punya budaya tersendiri karena berhubung sekolah ini menjadi sekolah dengan peminat bola paling besar di indonesia, Juggling bola sebelum memulai aktivitas hidup sudah menjadi budaya sekolah ini. Tapi ini optional ya, gak ada hubungannya sama spiritual. Cuman budaya aja... Toh juga sekalian berlatih juggling bola"
Yudha menjelaskan secara rinci tentang budaya ekskul sepak bola di sekolah ini. Ritual juggling bola memang tidak ada hubungannya dengan kegiatan spiritual. Hanya untuk meningkatkan kepercayaan diri melakukan aktivitas sehari hari. Mau percaya boleh, gak mau percaya juga boleh.
"Tunggu, Yang lain jangan juggling bola dulu. Bapak mau lihat kemampuan murid baru ini. Dream, mulai juggling bolanya!" Pak Denis melempar bola ke arah Dream dan Dream reflek first touch untuk menghentikan bolanya.
"Sentuhan bagus! Sekarang, coba juggling bolanya" Kata pak Denis.
Dream dengan terpaksa mematuhi perintah pak Denis.
Denis melakukan Knee bounce flick untuk mengangkat bola ke udara dan Dream mulai menjuggling bola dengan santai.
Murid murid yang lain dan pak Denis itu sendiri terkejut melihat teknik juggling bola Dream. Pak Denis cukup terkesan dengan skillnya.
Sambil menjuggling bola, Dream menanyakan sesuatu ke pak Denis.
"Selanjutnya ngapain pak?" Tanya Dream
"Keluarkan seluruh Kemampuan skill juggling bola mu! Melihat cara juggling bola mu, bapak tau tidak hanya itu saja teknik yang kamu punya!" Jawab Pak Denis.
Dream pun memamerkan skillnya tak lama kemudian. Dimulai dengan bola ditendang ke atas tinggi melewati kepala Dream. Setelah itu Dream juggling bolanya dengan bahu kirinya dan pindah ke bahu kanannya berturut turut. Kemudian, saat bolanya jatuh ke belakang, Dream juggling bola dengan tumit kakinya. Ia tidak bisa melihat ke belakang tapi ia dapat merasakan keberadaan bolanya. Dream mengakhiri ritualnya dengan melakukan rainbow flick ala Neymar, menendang bola ke atas kepalanya dan menjepit bola dengan tengkuk lehernya. Dream selama juggling bola sama sekali tidak membiarkan bola menyentuh tanah.
Seluruh orang yang ikut latihan di stadium tersebut tercengang melihat skill Dream menjuggling bola dan mereka semua bertepuk tangan dengan meriah.
"Hebat sekali! Sungguh hebat!! Darimana kamu belajar skill skill itu!?" Tanya pak Denis
"Ya sudahlah! Yang penting, Kemampuan kamu itu diatas rata rata murid yang ikut ekskul sepak bola ini! Bapak tidak pernah melihat skill skill seperti itu selama bapak melatih di sekolah ini! Kamu pokoknya hebat, Jempol buat kamu!" Pak Denis sangat mengapresiasikan kemampuan juggling bola Dream.
Dream dalam hati merasa agak senang diapresiasi Pak Denis.
Kawan kawannya mengucapkan selamat ke Dream.
"Pak Denis jarang sekali loh memberikan jempol ke orang lain! Beruntung banget kamu!" Ucap Figo
"Nanti ajarin aku skill skill juggling mu ya!" Sambung Yudha
"Masih bisa ae lu juggling bola padahal udah 7 tahun gak latihan. Juggling bola mu tadi bagus bro! Mantap!" Sambung Faisal.
Dream merasa malu diapresiasi oleh teman temannya.
Setelah selesai melakukan ritual, mereka semua memulai latihan ekskulnya. Mereka berlatih menggiring bola, menendang bola, mengatur strategi, latihan fisik, dan stamina mereka juga dilatih.
Saat latihan kelincahan, Para murid lain mulai pada ngos ngosan dan capek. Tidak seperti Dream, Faisal, Figo dan Yudha.. Mereka masih dalam keadaan fit, Stamina mereka berempat bisa dikatakan cukup banyak.
Saat latihan menggiring bola, Dream dan ketiga kawannya lah yang paling mencolok pada saat itu. Mereka berempat memiliki gaya dribbling yang berbeda. Tapi saat balapan dribbling, Keempat sahabat tersebut memecahkan rekor dribbling tercepat dengan waktu 24 detik yang rata rata orang berhasil mencapai finish dengan waktu 49 detik. Uniknya, Mereka berempat berhasil finish dengan waktu yang sama persis yaitu 24 detik.
Perbedaan gaya dribbling mereka berempat dianalisa oleh Pak Denis.
"Unik sekali... Walaupun gaya dribbling mereka berbeda satu sama lain, Tetapi mereka berhasil finish dengan waktu sama persis 7 detik. Gaya dribbling Figo seperti Thiery henry atau Mbappe, Gaya dribbling Yudha seperti C. Ronaldo, Gaya dribbling Faisal seperti pemain pemain brazil lebih tepatnya seperti Ronaldinho, Dan gaya dribbling Dream sebenarnya simpel dan cepat... tapi bolanya sangat melekat dengan kakinya... Layaknya bola dilem ke sepatunya... Mungkinkah, Gaya dribbling Dream seperti... Messi!?"
Pak Denis yang menganalisa gaya dribbling mereka berempat terkesan dengan hasil analisanya. Gaya dribbling mereka berempat bisa dikatakan seperti dribbling kelas dunia.
__ADS_1
Di sisi lain, Ada seseorang duduk di tribun melihat para adik kelasnya berlatih ekskul bola.
"Kau lihat keempat bocah itu?" Tanya Sai
"Mereka berempat sangatlah mencolok, Kemampuan mereka melebihi rata rata adik kelas lainnya yang sedang latihan juga" Jawab Owen
Sai dan Owen sedang nongkrong di tribun stadium. Sekaligus melihat para murid yang sedang latihan ekskul sepak bola di lapangan.
"Dari keempat bocah itu, yang mana menurutmu paling hebat?" Sai ingin tau pendapat Owen.
"Bocah yang gaya dribblingnya seperti Messi itu, benar benar meniru gaya bermain Messi. Bolanya melekat dengan kakinya layaknya dia ngelem bola di sepatunya. Menurutku dialah yang paling hebat diantara keempat bintang itu" Jawab Owen
"Mungkin salah satu dari mereka adalah orang yang membobol gawangmu dari luar lapangan minggu lalu, hahaha" Kata Sai sambil tertawa mengingatkan Owen dengan kejadian minggu lalu.
"Ah masa sih, gw gak percaya kalau seorang adik kelas yang mempermalukan ku minggu lalu!" Bantah Owen tidak percaya dengan kata kata Sai.
Kedua orang itu terus menonton latihan Dream dan kawan kawan dengan seksama.
1 jam 5 menit sudah terlewat, Mereka semua sedang istirahat sejenak setelah latihan tadi. Latihan menggiring bola, menendang bola, mengoper bola, dan latihan latihan fisik stamina lainnya sudah dilakukan hanya dalam waktu sejam.
Pak Denis dan rekan pelatih satunya lagi menyuruh orang orang berbaris.
Dream dan yang lainnya segera berbaris sesuai yang disuruh pak Denis.
Pak Denis ingin memberitahukan sesuatu.
"Setelah latihan selama 1 jam tadi, apakah ada dari kalian yang sudah capek?" Tanya Pak Denis
Mereka semua ada yang menjawab capek ada juga yang menjawab masih segar bugar.
Dream dan ketiga temannya menjawab masih segar bugar.
"Yang sudah capek silahkan duduk di bangku cadangan di sana... Yang masih fit dan tidak lelah tetap di barisan" Kata Pak Denis
"Nah! Kita masih ada waktu sekitar kurang lebih 50 menit lagi.. Berhubung waktu kita masih banyak, kita akan melakukan pertandingan!"
"Waahh!! Ini yang aku tunggu tunggu niiihhh" Ucap Faisal dengan semangat
"Akhirnya kita mulai lagi!" Sambung Figo
"Aku jadi gelandang ya!" Sambung Yudha
"Pertandingan!? Kenapa kita gak latihan kaya tadi aja?" Dream sebenarnya muak dengan latihan tadi, Sekarang malah ikut pertandingan. Dream lebih baik ikut latihan saja daripada ikut pertandingan
"Ah elah Dream! Cuman pertandingan doang kok! Kamu takut cedera ya?" Tanya Faisal
"Kalo takut cedera, kamu diving aja kayak Neymar! hahaha" Sambung Yudha sambil tertawa.
"Ah, Siapa takut!? Yodah! Gw jadi Striker!!"
Dream terpancing umpan dari godaan Faisal dan Yudha.
"Dream memang begitu orangnya... Dia gak mau kalah sama orang lain. Kalau ditantang pasti dia mau" Ucap Faisal yang sedang berbisik dengan Yudha dan Figo
Pertandingan melawan Kelas 11E akan segera dimulai.
Pertandingan ini menjadi pertandingan bola pertama bagi Dream. Dream yang terpancing dengan tantangan teman temannya percaya diri kalau dia akan memenangkan pertandingan ini.
Dengan keempat bintang tersebut, apakah mereka akan memenangkan pertandingan melawan kelas 11E?
__ADS_1
Pertandingan ini akan menunjukkan siapa pemain terhebat dari keempat sahabat tersebut!
Bersambung...