
[Flashback belasan tahun yang lalu]
5 Februari, 2010...
Seorang bayi terlahir ke dunia..
Dengan perjuangan si ibu yang amat sangat sakit berhasil melahirkan anak pertamanya.
Si ayah yang sedang menunggu diluar ruangan merasa sangat gelisah dan khawatir tentang istrinya. Seorang dokter keluar dari ruangan dan mengatakan bahwa istrinya selamat dan persalinan berhasil dilakukan.
Kemudian, Suara tangisan bayi terdengar dari dalam ruangan.
Dokter mempersilahkan si ayah untuk menjenguk istrinya di dalam ruangan.
Ayah langsung berlari masuk ke ruang persalinan dan melihat istrinya yang sedang memeluk erat bayi mereka berdua.
"Lihat, mas! Ini bayi kita! Ini benar benar bayi pertama kita!" Ucap si ibu dengan gembira namun masih dalam keadaan lemas.
"Kita akan menamakan dia siapa?" Tanya ayah
"Dulu kita pernah sepakat kalau Mas yang bakal beri nama ke bayi kita, Jadi mas aja yang kasih nama" Jawab Si ibu
"Yaudah, Mas pikirin dulu"
Si ayah mencoba memikirkan nama yang cocok untuk bayi mereka. Tak lama kemudian, Si ayah mendapatkan ide...
"Derim, Derim Radika!" Ucap si Ayah.
"Derim? penyebutannya agak dipaksakan ya.. Ada alasannya kah?" tanya si ibu terhadap nama yang diberikan si Ayah
" Nah itu... Ayah ingin suatu saat, orang orang akan memanggil Derim dengan sebutan Drim" Jawab si Ayah
"Penyebutan Drim sama dengan kata dari bahasa inggris, yaitu Dream... Yang memiliki arti yaitu Mimpi.. Mas ingin membuat Derim menjadi impian bagi orang banyak di masa depan nanti! Hebat kan? Mungkin suatu saat orang orang akan memanggil dia Dream"
"Kalau Radika-nya?" Tanya lagi si ibu
"Yaaaaa Gak ada sih... Cuman ngelengkapin doang.." Jawab si Ayah
Kedua pasangan suami istri tersebut tertawa bahagia setelahnya.
Tapi, Tawa bahagia itu tidak berlangsung lama...
[5 Tahun kemudian]
10 April, 2015...
Si istri mengalami kemandulan yang membuat dia tidak bisa hamil.
Si ayah kecewa mendengar kabar tersebut.
Tapi, Dia tidak tega menceraikan istrinya begitu saja.
Ia tetap menerima istrinya apa adanya.
Dream yang waktu itu masih berumur 5 tahun melihat kedua orang tuanya berpelukan sambil menangis.
Dream yang tidak tau apa yang sebenarnya terjadi reflek ikut berpelukan dengan mereka, Betapa polosnya Dream waktu kecil....
__ADS_1
Beberapa bulan kemudian, 7 Juni 2015...
Dream yang baru pulang sekolah diajak Ayahnya ke suatu tempat.
"Ke tempat apa, ayah?" Tanya Dream
"Kita akan pergi ke lapangan sepak bola umum, mulai sekarang kamu akan berlatih sepak bola dengan ayah" Jawab Si ayah.
"Pak guru pernah jelasin di sekolah apa itu sepak bola. Yodah deh, Yuk yah!" Ucap Dream dengan perasaan senang
"Gitu dong anak ayah!"
Si ayah minta izin ke istrinya untuk bermain bola dengan anaknya di lapangan bola dan langsung cabut.
Si ayah dan Dream berangkat menuju lapangan bola dengan mobil, membawa banyak peralatan olahraga.
Selama ini, sejak kecil Ayah sangat menyukai permainan sepak bola.. Ia sangat sering menonton laga permainan sepak bola di tv. Si ayah juga cukup mahir bermain sepak bola. Yang dimaksud Impian bagi orang banyak oleh Ayah saat menamai anaknya 5 tahun yang lalu adalah dia ingin Dream menjadi pemain sepak bola yang hebat sehingga Dia menjadi impian orang orang banyak.
Sesampainya di Lapangan bola, si Ayah dan Dream turun dari mobil dan membawa alat olahraganya ke tengah lapangan. Tanpa basa basi, Si ayah melatih anaknya bermain sepak bola. Dia melatih Dream cara menggiring bola, menendang bola, mengoper bola, teknik teknik sepak bola, dan mengatur strategi yang benar.
Si Ayah melatih semua yang harus dilatihi Dream.
Si ayah melatih Dream bermain sepak bola setiap hari.
tiap pagi sebelum berangkat sekolah, Ia meminta Dream untuk juggling bola sebanyak banyaknya.
Semakin Dream mahir dalam juggling bola, semakin tinggi jumlah juggling yang diminta si ayah untuk Dream lakukan.
Si ayah juga melatih fisik dan stamina Dream agar lebih hebat bermain sepak bola. Pola makan dan jam tidur Dream juga diatur seketat mungkin oleh Ayah sehingga Dream selalu sehat dan siap berlatih sepanjang waktu. Pada awalnya, Dream senang senang aja dilatih oleh ayahnya bermain sepak bola.
Si ibu juga tidak masalah terhadap hal tersebut, Ini juga untuk kepentingan Dream sendiri.
Si ayah semakin hari semakin keras mendidik anaknya bermain sepak bola.
Dream mengeluh kepada si ayah namun si Ayah tetap kekeh ingin Dream berlatih sepak bola tiap harinya. Si ayah sangat berambisi untuk membuat Dream menjadi pemain sepak bola terhebat di indonesia.
Si ibu juga mengetahui anaknya sudah tidak nyaman dengan latihan Ayahnya.
Si ibu menasehati Ayah suaminya dengan sabar namun si Ayah masih tetap kekeh ingin melatih terus Dream.
Semakin Hari, Latihannya semakin keras dan ketat. Dream harus berlatih dari pulang sekolah sampai hari menjelang senja.
Bahkan di hari libur sekali pun, Dream berlatih dengan ayahnya sepanjang hari dengan waktu istirahat yang amat sebentar.
Si ayah memaksa Dream berlatih di luar batasnya setiap hari. Dream letih tak karuan menghadapi latihannya tersebut.
Saat Dream frustasi di sekolah, selalu ada sahabatnya yang menenangkan Dream. Dia adalah Faisal. Faisal tahu kondisi Dream saat ini, Ia tahu kalau selama ini Dream di didik sangat keras oleh ayahnya. Selama ada Faisal, Dream menjadi lebih tenang untuk sementara.
Rutinitas latihan yang sangat keras ini berlangsung selama 5 tahun lamanya sampai Dream berumur 10 tahun.
5 tahun kemudian, 18 oktober 2020...
Dream masih dilatih keras oleh ayahnya layaknya latihan tentara.
Mental Dream sudah terbentuk, Fisik menjadi lebih kuat, Otak menjadi lebih aktif, skill bermain bola jangan ditanya lagi, Semua unsur tersebut sudah Dream kuasai. Tapi... semakin waktu berjalan, Dream juga tidak tahan dengan latihannya. Waktu masa kecil Dream sudah terbuang oleh rutinitas bodoh yang dibuat oleh ayahnya.
Dream berani protes ke ayahnya mengatakan bahwa ini sudah berlebihan. Dream membuang waktu masa kecilnya hanya untuk menendang nendang bola.
__ADS_1
"Aku tidak ingin mendengar apa yang ayah mau! Aku sudah muak!!!" Bentak Dream ke ayahnya.
"Mulai berani ya sama ayah sendiri!? Bagus.. Bagus..." Kata si Ayah dengan nada mencekam
*Plak!!* Si ayah menampar wajah Dream dengan keras.
Untuk pertama kalinya, Si ayah menampar anaknya sendiri.
Warga yang berjalan di sekitar lapangan berlari menghampiri si ayah dan menahannya.
"Nak! Kamu tidak apa apa!? Ada luka kah?" Tanya salah satu warga menanyakan keadaan Dream dengan khawatir
"Drim masih kuat kok!" Jawab Dream
Mental Dream yang sudah terbentuk dari latihannya selama 5 tahun membuat ia tidak menangis saat ditampar, ia hanya menatap tajam ayahnya setelah ditampar.
Si ayah meminta untuk dilepaskan, Tapi keadaan sudah terlambat. Polisi yang juga melihat si ayah menampar Dream menghampiri si ayah dan memborgol tangannya.
"Kamu ditahan atas kekerasan terhadap anak kecil!" Kata polisi.
"Itu anakku!" Balas si Ayah.
"Malah lebih buruk lagi! Teganya kamu menampar dengan keras ke anak sendiri!? Saya akan bawa kamu ke kantor polisi!" Ucap si polisi
Salah satu warga bertanya kepada Dream dimana rumahnya berada. Dream menjawab dan warga tersebut secara suka rela mengantarkannya ke rumah, Sedangkan si ayah diantar menuju kantor polisi terdekat.
Setelah sampai, Dream memberitahu apa yang terjadi ke ibunya. Si ibu tak bisa menahan tangisannya mendengar suaminya melakukan hal yang sudah diluar batas. Ibunya seketika sangat geram terhadap si ayah.
Beberapa jam kemudian, Si ibu mendatangi suaminya yang sedang ditahan di kantor dengan membawa surat cerai.
Si ibu dan si Ayah dibawa ke pengadilan agama dan Mereka berdua resmi cerai.
Walaupun sudah cerai, Si ibu menyimpan dendam yang sangat lah besar terhadap suaminya. Selama 5 tahun ia tidak bisa melakukan sesuatu selain melihat siksaan neraka yang dibuat suaminya untuk anak satu satunya.
Ia ingin menebus dosa yang telah ia perbuat dengan melakukan hal yang brutal.
Saat Si ibu yang sedang mengendarai mobil mengantar si ayah ke rumah, waktu itu ia berada di jembatan jalan tol tinggi dimana dibawahnya ada sawah sawah dan sungai.
Si ibu tiba tiba membanting stir mobilnya ke pembatas jalan yang berada di sisi kiri. Mobil tersebut menabrak pembatas jalan dan terjun ke bawah dengan kecepatan tinggi. Mobil tersebut meledak dahsyat setelah menghantam sawah di bawah jembatan tolnya.
Dipastikan si ibu dan si ayah meninggal di tempat kejadian. Si ibu membalaskan dendam anaknya dengan bunuh diri bersama ayahnya.
Dream yang berada di rumah bersama bibinya tidak tahu menahu apa yang terjadi dengan kedua orang tuanya.
Keluarga Dream pertama yang mengetahui kedua orang tua Dream meninggal adalah bibinya. Dia tidak dapat membendung air matanya saat itu...
4 jam setelah kecelakaan terjadi, Bibinya memindahkan Dream yang awalnya di jawa barat pindah ke jawa timur.
Selama 7 tahun, Dream hanya tahu bahwa kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan mobil... Ia tidak tahu kalau ibunya lah yang merupakan dalang dari kecelakaan tersebut sampai saat ini.
Dream akhirnya terlepas dari latihan keras ayahnya. Ia tidak merasa sedih kepada ayahnya yang meninggal, ia menangis kepada ibunya yang meninggal juga.
Dream menghabiskan kurang lebih 7 tahun bersekolah di jawa timur dengan kebenciannya terhadap sepak bola.
Masa lalu yang sangat amat pahit bagi Dream...
Pantas saja Dream sangat membenci sepak bola.
__ADS_1
Tidak ada kata yang dapat mendeskripsikan amarah Dream dan ibunya dengan perilaku biadap ayah nya...
Bersambung....