
Pada Hakikatnya, seorang manusia itu memiliki sebuah keunikan tersendiri dimana semuanya pastinya mendapatkan sebuah keunikan dalam dirinya.
Keunikan itu yang di berikan kepada Tuhan yang kuasa, dimana dirinya menciptakan berbagai macam bentuk manusia serta dengan kelebihan dan kekurangannya.
Hal yang pasti itu juga selalu ada di dalam diri dari seorang manusia selama dirinya telahir dan hidup di dunia ini.
Banyak kita bisa melihat manusia di luar sana, entah di jalan atau dimana pun, yang memiliki sebuah keunikan dan tetap mereka di anggap sebagai manusia.
Dari warna kulit, rambut serta gender mereka antara laki-laki dan perempuan.
Namun apa jadinya jika seorang manusia terlahir dalam kondisi memiliki dua kelamin yang bisa di kategorikan kedalam kedua gender tersebut.
Tepatnya hampir semuanya yang ada di tubuh laki-laki dan tubuh perempuan berfungsi secara semestinya?
Itu lah yang di alami seorang manusia bernama Ailane Mayuri yang tengah duduk di sebuah ruangan interview dengan cat dinding serba putih dan ruangan yang hanya cukup ada satu meja, 3 kursi serta satu lemari berisikan berkas-berkas di dalamnya yang berada di lantai 3 sebuah perusahaan kecil.
Paras wajahnya terlihat cantik, kulit putih bersih dengan hidung mancung, bibir mungil, rambut pendek serta kepalanya yang telihat lebih kecil dimana membuatnya menjadi lebih feminin.
Tubuhnya kecil dan ramping, bola matanya yang berwarna coklat melirik-lirik ke arah kiri dan kanan ruangan sambil memperhatikan sekitar yang sedang ia masuki dengan sedikit perasaan cemas.
Dalam otak Ailane, yang sejenak terpikirkan adalah antara di terima atau tidak ketika dirinya duduk dengan waktu yang cukup lumayan lama di ruangan tersebut.
Menunggu keputusan yang akan menentukan dirinya di tempat tersebut.
Kedua kakinya yang tengah memakai celana panjang dan sepatuh hitam ia hentak-hentak kecil untuk mengusir kesunyian di dalam ruangan tersebut sambil memperhatikan jendela kecil yang dimana matahari mulai terlihat sedikit menurun dari sebelum dirinya datang ke gedung berlantai 3 tersebut.
'Clkkk..'
Kemudian sebuah pintu di belakang dekat dirinya terduduk tengah di buka dan menghentikan hentakan kecil kaki Ailane yang memecah kesunyian di dalam ruangan tersebut.
Tubuhnya kembali ia tegapkan sedikit dan wajahnya mencoba untuk serius dan fokus.
Seorang laki-laki berpakaian kemeja biru pudar rapih dengan celana panjang hitamnya tengah berjalan dari arah pintu ke tempat duduk yang berseberangan dengan Ailane yang terpisah dengan meja kayu berbentuk persegi panjang.
Laki-laki itu menaruh berkas-berkas milik Ailane dimana kedua bola mata Ailane dengan seksama memperhatikan berkas-berkas itu dan pada akhirnya berakhir saling menatap dengan sosok laki-laki yang membawa berkas-berkas itu sekaligus sebagai seorang yang menginterview Ailane sendiri.
Seperti kebanyakan pada umumnya pekerja kantoran di kota besar, laki-laki itu pun begitu rapih dengan rambutnya yang juga di tata sedemikian sempurna untuk menambah kharismanya sebagai seorang laki-laki pekerja kantoran walaupun terlihat memang umurnya tidak lagi muda.
Akan tetapi laki-laki itu membuka senyumannya sebelum berkata kepada Ailane yang membuat Ailane ketika melihatnya merasa bertanya-tanya.
Namun jawabannya dalam hati kecilnya sudah pasti Ailane ketahui.
Laki-laki itu membuka berkas yang ternyata ada tambahan di dalam map yang ia bawa, "Jujur saja, baru pertama kali ada seorang yang seperti anda dan ini sejenak membingungkan diri saya sendiri."
Ailane mengangguk tipis dengan tatapan terus melihat ke arah laki-laki yang masih memberikan senyum kecilnya ketika membalikan lembar demi lembar kertas di atas meja dengan sesekali melihat ke arahnya.
"Karena memang kami sedang membutuhkan OB di dalam kantor ini, jadi tidak masalah untuk menerima anda, Nona Ailane." Kata Laki-laki itu melihat ke arah Ailane dan memiringkan sedikit kepalanya ke arah kanan.
__ADS_1
Sontak Ailane membuka suara ketika mendengar di kedua telinganya kalau dirinya di panggil dengan Nona, "Ailane, Pak. Kalau berkenan." Katanya yang sedikit ada rasa takut dengan lawan bicaranya dan itu alami dari dirinya sendiri yang tidak ingin di anggap sebagai seorang perempuan.
"Hehehe..."
Laki-laki itu terkekeh sambil tertunduk sejenak dan kemudian melihat ke arah Ailane kembali dengan senyumnya sedikit di lebarkan dari sebelumnya.
"Wajah anda benar-benar bisa menipu siapa saja yang mungkin baru saja melihatnya, kalau belum melihat identitas asli anda, seperti yang sebelumnya saya alami tadi."
Ailane merasa juga selalu demikian ketika bertemu orang dengan menganggapnya adalah seorang perempuan, namun itu tidak sepenuhnya salah bagi Ailane.
Karena dalam tubuhnya itu, dirinya juga memiliki apa yang di miliki oleh perempuan pada umumnya.
Laki-laki itu menyerahkan sebuah kertas putih berisi kata berwarna tinta hitam yang sudah tersusun rapih di kertas putih tersebut kepada Ailane.
Ailane langsung melihat ke atas kertas yang sedang di geserkan ke arahnya oleh laki-laki yang ada di depannya itu dengan perasaan penuh pertanyaan dalam pikirannya.
Sejenak kedua bola matanya melihat kata-kata yang tersusun di atas kertas itu dimana otaknya memproses kalau itu adalah kertas data yang harus di isi oleh seseorang.
Termasuk dirinya.
"Isi data yang saya berikan itu untuk mencangkup masalah seragam dan data diri anda, silahkan."
Laki-laki itu mempersilahkan Ailane untuk mengisi data yang ada di atas kertas tersebut.
"Baik, Pak."
Ailane mengambil Pena yang tersemat di saku kemeja putih kirinya dan segera mungkin mengisi data yang ia lihat di depannya itu dengan sedikit kedua tangannya gemetar.
Pandangan kedua bola mata mereka berdua tertuju pada kertas yang ada di hadapan Ailane sendiri dengan kesunyian pun kembali hadir di ruangan tersebut.
Kondisi yang gerogi dan baru pertama melamar kerja, membuat tulisan dari tangan kanan kecil Ailane beberapa ada yang tidak rapih di beberapa bagian pengisian dalam kertas biodata tersebut.
Sampai akhirnya di tutup dengan tanda tangan dirinya yang tertulis namanya di bagian kiri bawah kertas putih itu.
Selesai dengan biodata itu, napas Ailane terasa sedikit lebih ringan dari sebelumnya dan ia menggeser kertas itu perlahan ke arah laki-laki yang ada di hadapannya.
Laki-laki memakai kemeja lengan pendek biru pudar itu mengambil kertas tersebut dan sejenak membacanya dengan cepat dimana senyum tipisnya masih hadir di bibirnya yang sedikit tebal di bagian atasnya.
"Baiklah, kalau begitu mari ikut saya untuk ke ruangan Pantry."
Laki-laki itu menyatukan kertas yang sebelumnya di isi oleh Ailane ke dalam berkas miliknya dan membawa kembali sembari beranjak dari tempat duduknya.
Ailane kembali mengangguk tipis sambil mengambil tas selempang berwarna coklat yang biasa ia gunakan sewaktu membawa buku sekolahnya dahulu dan memakainya yang juga sembari beranjak dari tempat duduknya.
Ailane dan laki-laki itu keluar dari ruangan tersebut menuju ke sebuah lorong yang hanya di lewati beberapa orang dengan hiasan sebuah tanaman hijau di setiap sudut lorong dan luar ruangan.
Dalam pikiran Ailane sejenak kembali bertanya-tanya dan dirinya seketika lupa dengan apa yang di isi sebelumnya tadi sampai dirinya mengikuti laki-laki itu untuk ke ruangan yang bernama Pantry.
__ADS_1
Ailane mengikuti laki-laki itu sampai ke sebuah lift yang tengah tertutup di sebuah ruangan yang ada beberapa pekerja laki-laki dan perempuan berlalu lalang dengan pakaian khas kemeja rapihnya.
Laki-laki itu menekan tombol lift tersebut dan langkah kakinya berhenti di samping pintu kanan Lift tersebut dengan di ikuti oleh Ailane.
Mata Ailane kembali melirik sejenak ke beberapa arah ruangan luar dalam gedung tersebut yang rapih dan aromanya begitu khas layaknya gedung yang terisi dengan kertas dan pena sambil ikut menunggu lift itu datang dan pintunya terbuka.
"Tring.."
Sampai tiba lift pintu itu terbuka serta pandangan Ailane tertuju pada lift yang terbuka tersebut dan di dalamnya membawa satu orang laki-laki bersetelan jas hitam dengan kemeja dalam biru aquamarine sampai terlihat dari lengan panjang setelan jasnya dengan pose tegap.
Laki-laki yang ada di samping Ailane menunduk ke arah laki-laki yang memiliki tinggi sekitar 180Cm dan tingginya melebihi laki-laki yang Ailane ikuti itu.
Ailane melihat wajah tampan laki-laki bermata seperti elang tersebut yang begitu tajam dengan hidung mancung lebih dari dirinya dan rambutnya terlihat rapih di tata kesamping kirinya dengan sisinya begitu tipis.
"Selamat siang, Tuan."
Laki-laki itu menyapa sosok yang baru saja keluar dari Lift tersebut.
"Siang."
Jawab singkat laki-laki tinggi dengan jalan begitu tegap dan wajah serius tampannya seakan menebar ke seluruh dalam ruangan.
Ailane seakan melihat wajah laki-laki itu begitu jauh dari pandangannya, karena tingginya terlihat sangat jelas begitu berbeda dari tempatnya berdiri.
Dirinya yang hanya memiliki tinggi 155Cm itu, tentu sangat wajar sekali dan malah dirinya menganggap laki-laki yang ada di depannya seperti raksaksa.
Kedua bola matanya melihat dengan seksama wajah laki-laki itu dengan tatapan polos tidak mengetahui siapa yang sedang dirinya lihat.
Sampai laki-laki itu yang merasa di lihat oleh Ailane melirik tegas ke arah kiri bawah dimana wajah Ailane berada yang juga di anggap oleh laki-laki itu begitu jauh dari pandangan dirinya dan sejenak langkah kakinya berhenti di depan dirinya.
"Siapa yang membawa anak kecil ke tempat ini."
Kata laki-laki tinggi itu dengan nada begitu tegas tanpa ekpsresi sedikitpun terlihat, kecuali pandangan mata yang tajam seperti elang serta datar senyuman.
"Ma-Maaf, Tuan. Dia yang akan bekerja di sini sebagai OB pengganti yang lama karena sudah masuk usia tuanya."
Laki-laki itu menjawab dengan menunduk tanpa melihat ke arah Laki-laki yang tengah menegur Ailane.
AIlane sendiri bingung dan pada akhirnya dirinya perlahan tertunduk dan merasa terintimidasi dari suasana yang tiba-tiba di keluarkan oleh laki-laki tersebut walau hanya sekedar dari perkataan dan keberadaannya di tempat tersebut yang mulai berubah menjadi serius.
"Maksudmu OG Bukan?"
Lirik laki-laki tinggi itu ke arah laki-laki yang mengajak Ailane menuju Pantry yang ada di lantai 1.
"Bukan, Tuan. Dia laki-laki."
Jawab kembali laki-laki itu dengan tenang.
__ADS_1
Ailane merasa semakin takut dan tidak berani melirik kembali ke arah wajahnya yang memiliki tatapan tajam itu, sampai suasana dalam ruangan dekat lift tersebut yang cukup besar menjadi seakan begitu sempit disertakan bernuansa begitu tegang.