Dua Warna

Dua Warna
Bab 1-4: Tubuh Misterius yang terlihat.


__ADS_3

Ailane kemudian mengambil nampan yang ia gunakan untuk membawa dua cangkir coklat hangat itu kepada Tuan yang bernama Ra'az dan ia peluk di hadapan dadanya kemudian mengangguk serta mengucap permisi kepada Tuan Ra'az untuk keluar dari ruanganya tersebut.


..."Sa-Saya permisi dahulu, Tuan."...


Namun...


..."Tunggu... Siapa suruh kau untuk pergi sebelum aku memberi perintah."...


Kata Tuan Ra'az dengan tatapan tajamnya terus menatap wajah tertunduk Ailane yang sekarang benar-benar merasa tertekan dengan suasana di dalam ruangan tersebut karena adanya laki-laki itu.


..."Ma-Maaf, Tuan."...


Ailane langsung meminta maaf tanpa pikir panjang dengan alasan jelas dimana memang dirinya salah sebagai seorang OB yang baru saja di terima.


..."Angkat kepalamu dan tatap wajahku."...


Suruh Tuan Ra'az sambil mendekatkan dirinya ke arah meja dengan pipi kanannya di topang satu tangan kanannya di atas meja tersebut dan memiringkan sedikit kepalanya.


Ailane perlahan mengangkat kepalanya sekaligus pandangannya yang mulai terlihat wajah Tuan Ra'az yang begitu tegas serta menatapnya dengan tanpa ekpsresi.


Jantungnya tidak bisa berdetak seperti biasanya dan napasnya semakin menekan dengan suasana tersebut.


Kedua mata mereka saling menatap satu sama lain tanpa ekspresi sedikit pun di wajah.


Tuan Ra'az sejenak melihat serius wajah dari Ailane yang menatap dirinya dengan perasaan tertekan dan tidak nyaman, namun pandangan matanya perlahan turun sambil seksama melihat postur tubuh dari Ailane yang tengah berdiri di hadapan seberang meja kerjanya berada.


Susana begitu hening dan tidak ada suara di antara mereka berdua, sampai Tuan Ra'az kembali pandangannya tepat ke wajah Ailane yang mulai mengalir keringat di dahinya walau di ruangan itu begitu dingin karena pendingin ruangan yang terpasang di dalamnya menyala.


"Apa kau sedang bermake up menjadi seorang perempuan agar kau bisa di terima kerja di tempat ini?" Tanya serius Ra'az dengan tatapan tajam mata elangnya menusuk pandangan takut dari Ailane.


..."Hah.."...


Jawab bingung Ailane.


..."Apanya yang Hah? Jawab pertanyaanku."...


Ucap tegas Tuan Ra'az tanpa ekspresi selain keseriusan dan tanpa senyum di bibir sedikit tebal di bawahnya.


..."Ti-Tidak... Tuan Ra'az... Sa-Saya tidak bermake up dan memang seperti ini lah saya."...


Jawab Ailane dengan begitu sangat gerogi dan semakin tertekan karena jawaban sebelumnya yang mungkin juga salah ia ucapkan.


Tuan Ra'az menyipitkan matanya dengan rasa tidak percaya sama sekali dengan apa yang di bilang oleh Ailane yang memang sudah jujur.


..."Kalau begitu coba tekan perlahan tubuhmu dengan kedua telapak tanganmu dari atas dada hingga ke bawah perutmu."...


Suruh kembali Tuan Ra'az kepada Ailane.


Ailane sejenak terdiam dan merasa bingung dalam tekanan tersebut, dirinya coba berpikir dengan baru saja yang di suruh olehnya.

__ADS_1


Otaknya pun menangkap dan Ailane menaruh nampan itu di salah satu bangku yang ada di dekat meja tersebut posisi kirinya dan kemudian menaruh kedua telapak tanganya di atas dada serta menekanya perlahan sampai ke perut sesuai yang di katakan oleh Tuan Ra'az.


Tuan Ra'az melihat dengan seksama apa yang tadi ia suruh kepada Ailane dan memang terlihat tidak ada buah dada seperti layaknya perempuan ketika Ailane menekan perlahan sampai ke perutnya hingga sedikit membentuk tubuhnya dari luar kemeja putih yang ia kenakan.


Akan tetapi Tuan Ra'az tidak mempercayainya dan sebagai seorang pemimpin perusahaan itu, dirinya harus melindungi perusahannya dari orang-orang yang mencoba untuk menjatuhkannya dengan cara yang tentunya tidak di ketahui.


..."Sekarang kau buka kemejamu itu dan perlihatkan jika kau memang seorang laki-laki."...


Tuan Ra'az kembali menyuruh Ailane membuka kemejanya untuk melihat kebenaran yang ada di balik kemejanya itu.


Ailane merasa yakin dirinya seorang laki-laki dan kedua tangannya langsung mengarahkannya ke tempat kancing kemejanya berada dan di buka satu persatu sampai menarik bagian bawahnya yang ia masukan ke dalam celana panjang hitamnya untuk membuktikan kalau dirinya adalah seorang laki-laki.


Mata elang tajam yang penuh keseriusan Ra'az sedikit membuka lebar dalam waktu sekejab ketika melihat apa yang ada di balik kemeja Ailane itu.


Ailane mengepalkan kedua tangannya di dekat saku celana panjangnya berada dengan sedikit ada rasa malu tubuh bagian atasnya terlihat walau hanya bagian depannya saja.


Tenggorokannya sekarang sulit menelan liur yang ada di dalam mulutnya karena semakin tertekan rasa itu menyebar ke seluruh tubuhnya.


Tuan Ra'az menegakan duduknya dan melipat kedua tangannya di atas meja kerjanya dengan masih menatap serius wajah dari Ailane yang memerah di antara kedua pipinya.


..."Apa kau merasa malu di perhatikan olehku sebagai seorang sesama laki-laki?"...


Tuan Ra'az bertanya kembali kepada Ailane yang sekarang sudah semakin jelas terlihat keringat di dahinya membasahi poni depan rambut pendeknya.


..."Ti-Tidak, Tuan Ra'az."...


Jawab Ailane gerogi dengan terus mencoba pandangannya tidak berpaling dari atapan serius Tuan Ra'az yang menatap tajam dirinya dengan mata seperti hewan elang tersebut.


Suruh Tuan Ra'az kembali ke pada Ailane.


Ailane kemudian langsung mengkancing kembali kemejanya dan merapikan seperti sebelumnya, dirinya mencoba untuk terus bernapas agar bisa berpikir jernih.


Tuan Ra'az menyandarkan tubuhnya di kursi hitam kebesarannya yang ada di ruangan tersebut dengan melipat kedua tangannya di atas dadanya serta mengangkat kaki kirinya ke atas kaki kanannya sambil memperhatikan Ailane yang tengah merapikan kemejanya.


Ketika Ailane selesai merapikan seperti yang di perintahkan dengan melihat kerapiannya, Tuan Ra'az pun memberi perintah kepadanya untuk keluar dari ruangannya.


..."Sekarang kau boleh pergi."...


Ailane membungkukan sedikit tubuhnya dan mengambil nampan yang tergeletak di atas kursi hitam bludur serta kemudian berbalik ke arah pintu yang ada di belakangnya dengan perasaan mulai mendapat ruang dari tekanan yang begitu menyesakan di dalam dadanya.


Ketika dirinya ingin keluar, terdengar suara ketukan pintu dari ruangan Tuan Ra'az sebanyak 3 kali.


..."Tok..Tok.. Tok.."...


..."Masuk lah."...


Tuan Ra'az menyahutnya dan pintu itu pun terbuka.


Ailane melihat sosok laki-laki yang menginterview dirinya masuk ke dalam ruangan Tuan Ra'az membawa sebuah berkas miliknya yang ada di dalam sebuah map coklat yang sebelumnya juga di bawa olehnya.

__ADS_1


Ailane tidak ingin berlama-lama di tempat yang menekan dirinya itu dan tidak peduli dengan apa yang ia lihat atau pikirkan.


Dirinya ingin segera lepas dari tekanan itu.


Langkah kakinya di percepat untuk keluar dari ruangan tersebut dan menuju ke pintu yang mengarah ke lorong yang sunyi di luar dari ruang yang penuh bilik-bilik dan suara ketikan dari keyboard di dalamnya.


Laki-laki yang menginterview Ailane membawa berkas miliknya yang sekarang duduk di kursi sebelumnya Ailane menaruh nampan dan kemudian menyerahkan berkas-berkas itu ke Tuan Ra'az.


Tuan Ra'az melihat berkas-berkas itu sambil membacanya cepat dengan Biodata yang ada di dalamnya serta foto dari Ailane yang memang terlihat seperti perempuan.


Tuan Ra'az menatap tajam laki-laki tersebut yang ia tentunya kenal siapa dirinya sambil memegang kertas biodata milik Ailane di tangan kanan atas mejanya.


..."Apa benar dirinya memang laki-laki, Cassa?"...


..."Yang tertera dalam biodata tersebut memang dirinya terdaftar sebagai seorang laki-laki, Tuan Ra'az."...


Jawab dengan tegas laki-laki bernama Cassa itu kepada Tuan di hadapannya yang sebagai pemimpin sekaligus pemilik perusahaan kecil tersebut.


Tuan Ra'az mengecek beberapa biodata dari foto copy data pendidikan Ailane dengan statusnya yang masih belum ia percaya itu.


..."Jujur saja, aku ragu kalau dirinya tidak bisa di katakan sebagai seorang laki-laki, Cassa."...


Kata Tuan Ra'az sambil menaruh kertas biodata yang ia genggam di tangan kanannya ke atas mejanya dan menyandarkan kembali tubuhnya di sandaran kursi besarnya berwarna hitam layaknya bos besar.


..."Apa yang Tuan ragukan dengan semua data ini? Aku sudah mengecek data dirinya di banyak perusahaan pesaing kita yang dimana tidak ada satu pun kerterlibatan dirinya dalam perusahaan pesaing kita, dimana juga dirinya adalah lulusan baru sekolah tahun ini."...


Cassa dengan tenang bicara kepada Tuan Ra'az yang seakan sudah mengenal lama dirinya tanpa ada rasa tertekan atau ragu menajawab pertanyaan yang Tuan Ra'az lontarkan dengan wajah penuh keseriusan.


Tuan Ra'az sedikit menundukan pandangannya ke arah berkas-berkas itu yang ada di atas meja dan sejenak otaknya memutar apa yang baru saja ia lihat dari balik kemeja Ailane itu.


..."Cassa, sebaiknya kau memberitahu dirinya untuk memakai pakaian dalam kaos saat mengganti pakaian di loker tempat OB berada dan jangan sekali-sekali membukanya di hadapan laki-laki lain."...


Suruh Tuan Ra'az kepada Cassa yang dimana Cassa merasa bingung dengan apa yang di suruh oleh Tuannya itu.


..."Baiklah, Tuan Ra,az. "...


Cassa tau ketika dirinya di berikan perintah oleh Tuannya, dirinya tidak boleh membantah atau bertanya demikian.


..."Sekarang kau keluar dan beritahu dirinya ketika memberikan seragam OB kepadanya."...


..."Baik, Tuan."...


Cassa beranjak dari kursinya dan memberikan salam dengan membungkukan tubuhnya sebelum berbalik ke arah pintu yang ada di belakangnya dan keluar dari ruangan Tuan Ra'az tersebut.


Setelah Cassa pergi dan pintu ruangan itu tertutup.


Tuan Ra'az menatap tajam photo wajah Ailane yang berada di dalam biodatanya tersebut sambil menyipitkan kedua matanya dan berpikir keras dengan apa yang sebelumnya ia lihat.


..."Apa ada tubuh seperti itu dan biodata ini apakah benar-benar kekeliruan?"...

__ADS_1


Tuan Ra'az yakin ada sesuatu yang mengganjal dari Ailane dan hal itu malah menjadi titik rasa penasarannya semakin besar.



__ADS_2