Dua Warna

Dua Warna
Bab 1-2: Tuan Ra'az


__ADS_3

Rasa tegang itu terus memancar dari sosok laki-laki tinggi tersebut sampai Ailane sendiri merasa perasaannya tidak enak setelah melihat wajahnya yang begitu serius itu.


"Tring..."


Pintu lift tersebut kembali menutup dan sejenak melepas kesunyian dalam ketegangan tersebut di tempat itu.


Ailane melihat sepatu hitam laki-laki tersebut perlahan mulai melangkahkan kedua kakinya ke arah lorong lain, kepalanya tidak berani lagi ia angkat sebelum laki-laki itu benar-benar hilang keberadaannya dari ruangan tersebut.


Perlahan namun pasti, hawa keberadaan yang menegangkan itu mulai pudar dan tekanan perasaan yang di alami olehnya juga ikut memudar.


Laki-laki itu pun kembali menekan tombol lift dan kembali nafasnya terasa ringan.


Ailane perlahan mengangkat kepalanya dan sedikit memiringkan kepalanya ke arah kiri yang memperlihatkan sebuah lorong dari arah kiri lift dan memperhatikan dengan seksama kalau laki-laki telah masuk ke dalam suatu pintu ruangan di lorong yang cukup panjang itu.


"Tring..."


Pintu lift kembali terbuka dan mereka berdua pun masuk ke dalam lift yang tidak membawa siapa pun di dalamnya.


Laki-laki itu menekan tombol angka 1 yang tentunya ke lantai dasar.


Pintu lift tersebut pun tertutup dan mulai membawa mereka turun dari lantai 3.


Ailane memegang tali selempang tasnya di sisi kanannya dengan tangan kiri sambil menunduk, dimana dirinya ingin coba untuk bertanya kepada laki-laki yang meinterviewnya.


Tangannya mengerat secara perlahan dan bibirnya tidak sabar ingin mengeluarkan pertanyaan itu kepada laki-laki tersebut, namun pikirannya kembali bergejolak apakah pantas atau tidak dirinya bertanya sebagai seorang yang baru di tempat tersebut.


Apalagi posisinya baru pelamar dan baru lulus dari sekolah.


Ketika semua pertanyaan dan kebimbangan itu terus berjalan di selir-selir dalam otaknya antara ingin bertanya atau tidak.


Sebuah suara kembali memecah di keheningan dalam lift yang sedang perlahan turun menuju ke lantai 1.


"Sosok yang tadi kita temui adalah Tuan Ra'az." Kata laki-laki itu yang perlahan senyumnya hadir.


Ailane perlahan mendangakan kepalanya dan melihat wajah laki-laki yang berdiri di samping kanannya yang tengah menghadap pintu lift yang masih tertutup itu.


"Tu-Tuan Ra'az?" Tanya bingung Ailane dengan nama yang begitu asing di dengar.


"Itu bukan nama sebenarnya dirinya, tapi dia adalah Pemimpin atau CEO yang memegang semua kendali di perusahaan yang cukup lumayan besar ini."


"He... CEO??"


Ailane terkejut dengan dirinya mengetahui siapa yang baru saja ia lihat wajahnya dan mengeluarkan aura menegangkan seketika ketika dirinya datang.

__ADS_1


Namun sejenak dirinya tertunduk dan mengingat banyak Novel kisah CEO yang terkadang ia lihat dalam iklan sosial media memeliki sifat rata-rata aneh hingga sampai ada yang pyscopat.


Namun mendengar namanya juga terasa aneh bagi siapa saja yang mungkin baru mendengarnya, termasuk Ailane sendiri yang juga merasa aneh.


Apakah dirinya tidak ingin di ketahui namanya oleh orang perusahaan? Itu menjadi misterius dalam pikirannya.


"Tuan Ra'az sosok yang tegas dan dingin, tatapannya yang seperti elang begitu tajam itu membuat siapa saja yang menatapnya akan merasa terintimidasi dan suasana seketika menjadi tegang seperti yang mungkin tadi anda rasakan."


Ailane setuju dengan perkataan dari laki-laki tersebut dimana dirinya merasakannya sendiri.


Kepalanya kembali mengangguk tipis dengan rasa setuju apa yang dia alami baru saja itu.


"Mungkin anda akan terbiasa dan ingat kalau setiap bertemu dengan dirinya selalu menunduk sebagai ucapan sapa walau tidak perlu menyebut waktu seperti yang saya tadi lakukan, kecuali di suruh olehnya, karena anda di sini juga bekerja sebagai OB, jadi itu di maklumi dan semua OB yang bekerja di sini juga seperti itu. Ingat, jika berada di arah sebaliknya ketika Tuan Ra'az datang, jangan berbalik arah, tetap bersikap biasa dan beri sapaan untuknya. Mengerti."


"Me-Mengerti, pak."


"Tring..."


Pintu lift tersebut terbuka dan memperlihatkan beberapa orang pekerja laki-laki dan perempuan tengah menunggu di luar pintu.


Ailane dan Laki-laki itu keluar dari dalam lift dengan suasana sedikit lebih ramai karena berada di lobby lantai 1 dengan ada beberapa penjaga dan OB lainya tengah berbincang dan saling sapa di dekat pintu kaca keluar yang tepat dari arah lift itu menghadap.


Tidak seperti di lantai tiga yang begitu sunyi dan memang di peruntukan untuk ruangan bekerja, di lantai bawah seperti hidup dengan suara dari orang berbincang serta suara dari klakson kendaraan yang memang perusahaan gedung itu cukup dekat dengan jalan yang ada di depannya walau tidak terlalu ramai.


Ailane baru ke lorong tersebut dan aromanya sudah berbeda dari ruangan di lantai 3 yang sebelumnya ia masuki.


Aroma pewangi lantai dan lainnya tercium tercampur dengan halus di dalam hidungnya.


Sampai tiba di sebuah pintu berwarna coklat dengan jendela kaca di atasnya di lorong tersebut dan laki-laki itu membuka pintunya dengan mendorongnya kedalam.


Ailane memperhatikan dengan seksama ruangan yang jauh lebih luas dari ruangan sebelumnya yang ia masuki dengan banyak peralatan dapur yang semuanya tersedia di dalamnya, bahkan aroma kopi dan makanan seperti mie instan tercium halus ke dalam hidungnya setelah masuk ke ruangan itu.


Bola matanya berkeliling sambil melihat dengan seksama barang dan apa yang ada di dalam ruangan tersebut.


Kabinet, tungku api listrik, air galon, cangkir, piring dan peralatan dapur semuanya tersedia. Tidak semuany peralatan dapur, karena ada juga meja berbentuk kotak kayu dengan bangku di 4 sisinya tertata rapih masuk ke dalam dan ada satu bangku panjang kayu juga ada di dalam ruangan tersebut dekat air galon di sisi kanan dari pintu tersebut..


Kemudian di dalam ruangan itu ada 2 pintu yang tidak memiliki kaca seperti pintu yang baru ia masuki ke dalam ruangan tersebut.


Ailane melihat tanda kecil berbentuk manusia yang tidak asing ketika berada di tempat umumnya yang kebanyakan di pakai ketika berada di toilet dan dirinya mengerti mungkin itu adalah toilet.


"Pintu di kedua sisi itu adalah loker untuk laki-laki dan perempuan, anda bisa mengganti pakaian di dalam loker tersebut dan menaruh barang di dalamnya juga."


Ailane kembali mengangguk tipis dan anggapannya salah kalau itu adalah toilet, melainkan loker.

__ADS_1


Laki-laki itu menaruh berkas-berkas yang tadi ia bawa di atas meja kotak tersebut sambil mengambil sebuah kunci dari saku celana panjang kanannya.


Ailane masih memperhatikan dengan seksama ruangan asing yang terbilang cukup dingin dan sunyi itu sambil memegang tali tas selempangnya berwarna coklat sebagai pegangan rasa kebingungannya.


Laki-laki itu mengeluarkan dua kunci yang saling menyatu dengan ada nomer di kepalanya tergantung.


Dirinya berjalan ke arah pintu loker laki-laki dan membuka kunci pintu itu dengan salah satu kunci yang ia keluarkan.


"Kesini lah."


"Ba-Baik."


Ailane mengikuti lagi arahan dari laki-laki itu untuk masuk ke dalam ruang loker laki-laki dan terlihat lah ada ruangan lagi yang jauh lebih kecil dengan ada 4 loker di dalamnya.


Aromanya kali ini sangat menyengat dengan parfum khas laki-laki yang selalu di kenakan beberapa orang tercium ke dalam hidungnya.


Laki-laki itu membuka kunci loker dengan masih di gantungan kunci yang sama dengan yang tadi dirinya membuka pintu ruang loker tersebut, namun dengan kunci yang berbeda, dimana ada sebuah angka 4 di atas gantungan kepalanya.


Pintu loker itu di buka dan memperlihatkan loker kosong di pandangan Ailane.


"Ini adalah loker anda dan taruh lah barang berharga anda di dalamnya. Sekarang anda mulai bekerja sampai waktu selesai pada pukul 8 malam serta sore pukul 4 pada akhir pekan nantinya dan sudah terhitung masuk hari bekerja walau sekarang sudah setengah hari."


Kata laki-laki itu yang perlahan menjauh dari loker tersebut dan meninggalkan kuncinya di lubang kunci loker yang akan Ailane gunakan.


"Ehhh..."


Ailane terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar dari bibir laki-laki itu yang sedikit membuat senyum tipis di bibirnya.


"Anda mulai bekerja dan mohon bantuannya. Jangan mengecewakan saya sebagai seorang yang menerima anda. Seragam anda akan saya antarkan pada pukul 5 tepat ketika waktu istirahat kedua tiba. Kunci itu simpan dengan baik dan jangan sampai hilang, karena cuma satu dari dua kunci yang aku berikan, yang tidak berangka itu untuk membuka dan mengunci pintu loker ini dan yang berangka itu kunci yang akan membuka lokermu itu. Sekarang lakukan apa yang semestinya OB lakukan. Mengerti."


"Ba-Baik Pak, Te-Terima Kasih pak."


Ailane menundukan kepalanya sedikit dengan perasaan bingung apakah dirinya benar-benar sudah di terima atau tidak.


Namun dari perkataan laki-laki itu sudah sangat jelas dan perlahan rasa bahagiannya mulai timbul dari dalam diri Ailane.


Senyum di bibir mungilnya Ailane perlahan mulai muncul dengan teriringi perasaan senang kalau ternyata dirinya akan mulai bekerja sebagai OB di perusahaan tersebut yang dirinya sendiri baru pertama melamar dan lulus dari sekolah.


Ailane langsung melepaskan tas selempangnya dan menaruhnya di dalam loker tersebut.


Ailane mengunci pintu loker itu dan mengambil kuncinya, memandanginya dengan wajah senang di hadapan tangannya yang di angkat dekat wajahnya, kalau dirinya tidak menyangka akan di terima waktu pertama melamar.


"Aku diterima..."

__ADS_1



__ADS_2