Dua Warna

Dua Warna
Ban 1-6: Senior yang bingung.


__ADS_3

Laki-laki tersebut melihat dengan seksama dari tubuh Ailane dengan sebuah awal wajahnya yang begitu feminim dengan rambut pendeknya seperti laki-laki dan perlahan ke area pandangan bawahnya yang memperlihatkan celana panjang hitamnya.


Kemudian dalam kesunyian itu, laki-laki tersebut kembali mengangkat pandangannya ke arah wajah Ailane dengan tersenyum tipis hadir di bibirnya dan sudah terlihat jelas yang di pakai itu adalah pakaian yang laki-laki itu juga pernah kenakan ketika melamar pekerjaan.


Hanya saja sedikit aneh melihat Ailane yang berwajah seperti perempuan mungil itu mengenakan kemeja putih lengan pendek dan celana panjang hitamnya.


"Apa kau adalah OG baru yang akan bekerja di sini?" Tanya laki-laki itu dengan ramah kepada AIlane.


"Ehh.. OG?" Ailane tertegun sejenak.


Laki-laki itu sontak langsung berdiri serta hilang senyuman di bibirnya dan memasang wajah khawatir karena merasa dirinya salah menjawab.


"Office Girl. EH... Apa kau pegawai yang baru di terima di perusahaan ini? Kalau iya aku minta maaf, Nona." Kata laki-laki itu sambil membungkukan kepalanya kepada Ailane.


Ailane mengangkat kedua tangannya setinggi dadanya dan menggerakanya sedikit seraya mengatakan itu salah.


"Ehh... Ehh... Tidak-tidak... Aku juga bukan pegawai baru di perusahaan ini." Kata Ailane sambil menyeringai terpaksa karena dirinya tidak salah.


Laki-laki itu kembali menegapkan tubuhnya dan melihat ke arah wajah Ailane berada di dekat pintu ruangan tersebut.


"Begitu kah? Kalau begitu apa kau baru sekedar melamar pekerjaan untuk melamar di perusahaan ini sebagai OG?"


"OG?" Ailane jawab singkat.


..."Iyah. Office Girl. Perusahaan ini tentunya sedang membuka pekerjaan itu, kau pasti ingin melamarnya kan?"...


Laki-laki itu perlahan mendekati Ailane dngan wajah ramahnya dan tinggi laki-laki itu mendekati Ailane semakin terlihat perbedaan jauh antara Ailane yang hanya setinggi 155Cm.


Ailane kembali melihat laki-laki yang begitu tinggi untuk ketiga kalinya di tempat tersebut yang begitu dekat dengan dirinya dimana hanya memiliki tinggi yang seperti anak kecil SMP pada umumnya.


Dirinya melihat ke arah laki-laki tersebut sambil mendangakan kepalanya ke atas dan senyumnya hadir dengan melepaskan pintu ruangan yang ia masi genggam di tangan kanannya dan pintu itu perlahan menutup dengan sendirinya.

__ADS_1


"A-Aku melamar bukan sebagai OG, tetapi OB." Kata Ailane.


Laki-laki itu bingung dengan pandangan wajahnya sedikit ia tundukan karena perbedaan dari tingginya tersebut dan membenarkan rambutnya yang sedikit panjang tersisir ke arah kanannya dengan jari jemari tangan kanannya.


"OB? Apa kau sedang bercanda, Nona?" Tanya Laki-laki itu.


Ailane tersenyum terpaksa sambil menundukan sejenak pandangnya sebelum kembali menatap wajah laki-laki itu dengan menjawab pertanyaannya yang dirinya lontarkan.


"A-Aku tidak sedang bercanda. Hehehee.." Terkekeh kecil Ailane di akhir dengan senyum terpaksanya.


Laki-laki itu sedikit melangkahkan kedua kakinya ke arah belakang sambil melipat kedua tangannya di atas dadanya dan memperhatikan dengan seksama tubuh Ailane sekali lagi dimana kepalanya mencoba mengikuti pandangannya agar tidak salah.


..."Aku tidak salah lihat dan dari sudut mana pun kau itu sudah pasti seorang perempuan. Apalagi kepalamu kecil dan wajahmu seperti itu, apa kau mau mencoba mengerjaiku, nona? Itu tidak baik loh, karena aku ini adalah seniormu jika kau sudah bekerja di sini."...


Kata laki-laki itu yang memang tidak salah dengan apa yang dirinya lihat di hadapannya tersebut.


..."Senior?"...


"Siapa namamu?" Tanya laki-laki tersebut kepada Ailane.


"Ailane Mayuri."


Laki-laki itu tersenyum lebih lebar dan menyeringai senang dengan jawaban nama yang tadi di berikan oleh Ailane sambil tangan kanannya menunjuk ke arah Ailane berada.


"Nah... Dari namamu saja sudah seperti perempuan dan kau pasti perempuan bukan? Ayo lah jangan bercanda lagi."


Ailane malah berbalik bingung dimana laki-laki yang mengatakan sebagai seniornya itu malah menganggapnya sebagai perempuan.


"Tidak... Senior. Coba kau lihat identitasku." Kata Ailane sambil merabah kedua saku belakang celana panjangnya dengan kedua tangannya yang dimana dompetnya tidak ada di belakangnya.


Laki-laki itu melirik-lirik dengan wajah kebingungan Ailane.

__ADS_1


Ailane kemudian mengeluarkan kunci loker yang dirinya taruh di gantungan kalung lehernya, dimana bersamaan dengan kunci rumahnya yang ia bawa.


"Tu-Tunggu sebentar, Se-Senior. Dompetku aku taruh di lokerku." Kata Ailane sambil mengeluarkan kalung leher yang ada kunci di gantungannya dan dirinya membuka pintu yang menuju ke loker untuk OB.


Laki-laki tersebut terkejut setelah ternyata pintu itu terbuka dan mulai 30% ada kepercayaan dari perkataan Ailane.


"Heh... Masa sih dia benar-benar di beri kunci loker untuk OB? Apa penerima perusahaan itu tidak bisa membedakan laki-laki dan perempuan? Apa memang ada yang aneh dengan hari ini, apa aku yang kurang istirahat?"


Kata laki-laki itu sambil melihat ke arah langit-langit dan tangan kirinya ia angkat lalu memeras rambutnya seakan begitu merasakan kebingungan ketika melihat sosok Ailane dan hari ini yang dirinya sendiri juga merasa aneh.


Setelah Ailane keluar dari loker OB dengan kartu identitasnya, dirinya langsung menyerahkan kartu itu ke hadapan Senior laki-lakinya itu yang tengah menyandarkan bokongnya di tepi meja sambil melipat tanganya di kedua dadanya.


Laki-laki itu melihat dengan seksama kartu identitas yang di berikan oleh Ailane dan mebacanya.


Sampai ketika dirinya tengah serius menatap biodata itu di hadapan wajahnya yang cukup dekat, sejenak pandangannya ke arah Ailane yang tengah tersenyum tipis ke arahnya yang terlihat dari sisi atas pandangan kartu biodatanya tersebut itu.


"Ehh..."


"Aku ini laki-laki." Kata Ailane tanpa rasa malu.


Laki-laki itu menurunkan tangan kanannya yang tengah memegang kartu identitas milik Ailane yang tertera kalau dirinya seorang laki-laki dari jenis kelaminnya tepat di hadapan wajahnya.


"Aku pasti benar-benar kurang istirahat dan mungkin setelah pulang dari bekerjaku ini aku akan istarahat seharian sampai besok. Sepertinya otakku tengah menipu pandanganku ini, menyeramkan kalau bisa sampai terlihat jelas seperti ini."


Sontak Ailane semakin bingung dengan apa yang di bicarakan oleh laki-laki yang mengatakan seniornya itu dan perlahan wajahnya pucat.


"Eh... Senior."


BIngung Ailane.


__ADS_1


__ADS_2