
Ailane di tinggal oleh laki-laki yang menginterview sebelumnya setelah memberikan kunci loker kepadanya.
Ailane keluar dari ruangan loker dan menguncinya seperti yang di lakukan sebaliknya oleh laki-laki tersebut.
Perasaan senang dengan di iringi senyuman manisnya terpancar ketika dirinya kembali dengan seksama melihat ruangan pantry tersebut, dimana dirinya kedepannya akan berkeja di tempat tersebut.
Hal yang langsung terpikirkan olehnya adalah mencari sebuah sapu dan penyiduknya untuk di buang sampah tersebut nantinya setelah di sapu.
Matanya tertuju pada loker besi besar yang ada di dekat pintu loker laki-laki.
Belum sempat Ailane melangkahkan kedua kakinya ke arah loker tersebut, sebuah telepon berdering dan memecah suasan sunyi di dalam ruangan tersebut.
...'Kring... Kring...'...
Ailane sontak langsung mencari arah dering telepon itu berbunyi di ruangan yang sepenuhnya hampir seperti dapur itu dan menemukan sebuah telepon kabel berbentuk gaya lama dengan nomer putar yang terbilang sudah cukup lumayan antik dengan nada dering khasnya di atas meja dapur dekat rak piring berada..
Ailane melangkahkan kakinya cepat ke arah tersebut dan tanpa pikir panjang mengangkat gagang telepon antik itu dan menaruhnya di telinga kanannya.
..."Hallo."...
..."Hallo apa? Tolong bawakan coklat hangat seperti biasanya ke meja ku secepatnya, sekarang." Ucap seseorang membalas dari suara telepon antik tersebut yang ternyata masih berfungsi baik dan suaranya bagus....
..."Ba-Baik, Tuan.."...
..."Tutt..tutt.."...
Telepon terputus dari pemanggil.
AIlane tidak lagi mendengar suara kecuali suara terputus tersebut dan sejenak dirinya berpikir dengan apa yang di katakan oleh seseorang yang bernada suara laki-laki itu kepadanya.
..."Coklat... Hangat..."...
Ailane langsung bergegas melihat ke sekeliling ruangan dan membuka beberapa kabinet di atas untuk mencari coklat atau apapun yang memang itu adalah coklat yang ia cari.
Warna utama dari coklat dalam benak pikiran semua orang pastilah coklat atau hitam dan Ailane pun mencarinya.
Mengambil bebebrapa toples berisi serbuk-serbuk yang warnanya persis seperti warna cokla dari dalam kabinett dan langsung membuka serta mencium aromanya apakah memiliki aroma coklat atau kopi.
Awal pekerjaan itu membuatnya gerogi, namun dirinya mencoba menenangkan pikirannya agar jangan panik dan mencari dengan santai.
Kemudian dirinya mencium salah satu toples yang ia buka dan aromanya itu seperti coklat bubuk pada umumnya yang ia coba ingat ketika dahulu membuat coklat hangat.
"Mungkin ini." Katanya yang sedikit tidak yakin.
Karena ketika di minta untuk cepat di berikan seperti perintah dari laki-laki tersebut, Ailane langsung mengambil piring datar kecil serta cangkir untuk membuat coklat hangat.
Ailane membuatnya dengan sesuai takaran yang ia gunakan menggunakan perasaannya, namun setelah aroma coklat yang sudah di buat itu tercium oleh kedua hidungnya, dirinya merasa belum yakin dengan apa yang ia buat apakah coklat ini benar atau bukan.
Karena rasanya belum yakin itu, dirinya kembali membuka kabinet dan mengambil sebuah toples kaca lagi yang belum sempat ia buka untuk mencium aromanya.
__ADS_1
Benar saja, ketika mencium beberapa aroma dari toples kaca yang terisi serbuk gelap dan coklat yang ada di dalam kabinet tersebut, hidungnya mencium kembali aroma coklat yang berbeda.
Ailane kemudian membuat satu lagi di cangkir yang ukurannya sama dengan takaran yang sama seperti yang ia buat sebelumnya.
Setelah selesai kembali meracik minuman coklat hangat itu dengan sekarang ada dua aroma yang berbeda, Ailane sekarang bingung.
..."Tu-Tunggu dulu, aku harus mengantarnya kemana? Laki-laki yang menelepon itu hanya menyuruhku untuk membuat coklat hangat saja tanpa memberitahu kemana harus di antar."...
Hal itu sekarang yang menjadi kebingungan dari dirinya, apalagi dirinya baru dan dalam benaknya, andai dirinya diamkan saja telepon itu, namun hal itu sudah terlanjur ia lakukan dan sekarang bingung dengan apa yang harus di lakukan dengan dua coklat hangat yang ada di hadapannya itu.
Tiba-tiba telepon itu kembali berdering dan sontak Ailane melirik ke arah telepon antik tersebut dengan lagi-lagi suara dering khasnya terdengar.
..."Kring.... Kring..."...
Ailane sekarang bimbang antara ingin mengangkatnya atau tidak, namun alasan kuat dirinya untuk mengangkatnya muncul setelah dirinya ingat kalau kedepannya ia akan bekerja di tempat ini dan melakukan hal yang sama seperti apa yang ia lakukan sekarang.
Gagang telepon antik itu kembali di angkat oleh Ailane dan perasaan cemas pun hadir dalam dirinya.
..."DIMANA COKLAT HANGATKU. APAKAH KALIAN BELUM MENGANTARNYA ATAU MEMBUATNYA!?"...
Laki-laki itu marah besar membuat jantung AIlane sontak berdegup kencang.
..."Ma-Maaf, Tuan... Su-Sudah di buat coklat yang Tuan pesan, tapi-"...
..."TAPI APA, HAH!?"...
Ailane di bentak keras dari telepon antik yang ia genggam di telinga kanannya sampai kedua matanya sedikit menyipit karena begitu kerasnya suara itu hadir.
Kata Ailane mencoba jujur dan dirinya tentu takut jika ketika baru pertama mencoba sudah di bentak seperti itu.
Takutnya tentu dirinya berpikir kalau baru awal bekerja sudah membuat kesalahan, apalagi coklat yang ia buat pun tidak tau yang mana untuk laki-laki tersebut.
Namun seketika itu, suasana menjadi hening.
Ailane merasa bingung dan seakan laki-laki itu tibat-tiba terdiam tanpa suara dari telepon yang masih ia dekatkan di telinga kanannya.
Kemudian tidak lama terdengar suara dari laki-laki tersebut yang kali ini nadanya tidak sekeras sebelumnya.
..."Bawa coklat hangat yang kau buat itu ke lantai 3 dan berbelok lah ke arah kanan dari arah lift mu menghadap setelah pintu terbuka, lalu masuk ke sebuah pintu dari lorong yang baru kau masuki dan jalan lurus sampai menemui pintu dengan tag Archon di depannya, paham?"...
..."Pa-Paham... Tuan..."...
..."Kalau begitu cepat."...
...'Tuttt.. tuuttt...'...
Telepon itu kembali di putus dari laki-laki yang mengarahkan Ailane ke tempatnya berada.
Dirinya menutup telepeon tersebut dengan wajah cemas, dimana baru saja dia mendengar kalau dirinya harus memasuki ruangan dengan name tag Archon, yang artinya dirinya juga tidak paham dengan apa maksudnya.
__ADS_1
..."Archon? Nama Tag macam apa itu? Apakah aku yang aneh apa memang aku sedang di kerjai? Bukannya biasanya staff atau manager, kenapa Archon?"...
Ailane masih bingung nama maksud dari Archon itu, namun karena sudah di tunggu, dirinya langsung mengambil sebuah nampan yang tersedia berwarna coklat kayu dan menutupi cangkir itu di atasnya dengan sebuah penutup berbentuk bulat yang terbuat seperti dari kardus dimana juga tersedia di dalam dapur itu.
Dirinya langsung bergegas membawa kedua cangkir itu dengan hati-hati menggunakan satu tangan kirinyanya yang ia taruh di bawah dekat dadanya dan tangan kanannya untuk membuka pintu.
Ailane mencoba mengingat rute sebelumnya untuk kelantai tiga dan juga mengingat petunjuk yang di berikan oleh laki-laki yang memesan coklat hangat tersebut.
Ailane mencoba berbisik dalam hatinya untuk tenang dan tenang dimana dirinya melihat ada beberapa pegawai yang bekerja berlalu lalang serta saat dalam lift tersebut, dirinya harus hati-hati membawa kedua cangkir tersebut.
Sampai tiba di lantai tiga yang sunyi, tepat dirinya sebelumnya berada.
Langkah kakinya ia arahkan ke arah kanan setelah pintu lift terbuka menuju ke sebuah lorong yang begitu sunyi.
Sampai menemukan pintu pertama yang coba ia masuki dan melihat banyak sebuah bilik-bilik dengan suara ketikan terdengar di kesunyian dalam ruangan yang begitu tercahayai sinar matahari yang masuk dari jendela dengan suasan sejuk di dalamnya.
Ailane melirik-lirik sejenak dan menemukan ada sebuah pintu yang memiliki tag Archon di depannya, persisi apa yang tadi ia dengar dari laki-laki itu.
Ailane yakin berada di jalan yang benar dan dirinya lansgung masuk ke ruangan tersebut dan lurus ke arah pintu itu.
Dengan langkah kaki kecilnya, dirinya terus mendekat, sampai tiba di depan pintu berwarna coklat dan ia mengetuknya tiga kali.
..."Tokk.. Tok.. Tok..."...
..."Masuk..."...
Terdengar sautan dari dalam pintu dan Ailane pun masuk ke dalam pintu tersebut.
Ketika di buka pintu itu, aura tegang kembali dimana dirinya melihat sosok laki-laki yang tengah duduk di kursi besar berwarna hitam dengan meja mewah di depannya serta barang-barang kantor yang tersusun rapih serta sedikit minim cahaya di dalam ruangan itu.
..."Pe-Permisi. Tuan..."...
Ailane langsung menundukan pandangannya dan tidak berani melihat wajah laki-laki yang sebelumnya ia tatap itu, yang namanya sudah ia ketahui.
Yaitu Tuan Ra'az.
Ra'az menatap Ailane yang mengenakan pakaian tidak resmi serta seperti pegawai magang pada umumnya yang ia ketahui ketika memakai celana hitam panjang dan kaos kemeja putih.
Tatapan seperti layaknya elang yang ingin memangsa buruannya itu terlihat di raut wajah Ra'az saat tengah duduk bersandar di kursi layak kebesarannya di dalam ruangan itu yang minim cahaya dengan hanya ada satu jendela terbuka gordeng hitamnya untuk membuat masuk cahaya matahari menjelang sejna itu di belakang kanan Ra'az berada dari tempat duduknya.
Ailane terus berjalan dengan pandangan tertunduk ke bawah dan dirinya melewati sebuah meja kotak dan sofa untuk sampai ke depan meja Ra'az.
Kesunyian kembali hadir dengan aura penuh ketegangan di dalam ruangan tersebut.
Napas Ailane semakin berat dan terasa tertekan, namun dirinya harus tenang dan menaruh cangkir coklat hangat yang ia buat untuk sosok laki-laki yang ada di depannya itu.
Sampai pada akhirnya dirinya menaruh nampan itu dan menaruh dua cangkir coklat yang ia buat dengan hati-hati ke atas meja laki-laki tersebut walau tangannya sedikit gemetar.
Ra'az menatap Ailane serius tanpa sejenak berkedip untuk sesaat sampai cangkir itu selesai di taruh di atas mejanya.
__ADS_1