DUDA TAMPAN(JAEMIN)

DUDA TAMPAN(JAEMIN)
part 1


__ADS_3

.


.


Gorden kamar yang besar itu disibakkan dengan kuat, langsung saja cahaya Matahari melenggang masuk kedalamnya, seketika kamar bernuansa pink yang tadinya gelap kini menjadi terang.


Gadis kecil yang berada didalam selimut tebal itu tampak Membuka sedikit selimut itu dari wajahnya dan menyipitkan mata.


"..Dad...?". Ucapnya dengan suara mungilnya yang serak.


"Nona Nara, ini sudah pagi. Nona harus berangkat kesekolah".


Seorang Maid membuka selimut yang dipakai Gadis kecil itu dan melemparkan senyum lembutnya.


"Dimana Dad?"


"Ah, Tuan besar sudah pergi kerja pagi-pagi sekali Nona"


Gadis itu memasang wajah datarnya, namun sebenarnya dia ingin menangis kesal. Setiap membuka mata dipagi hari, hanya seorang maid yang ia lihat, tak ada suara sang ayah yang menyambutnya. Apa pria itu benar-benar lebih mementingkan pekerjaannya dari pada anaknya sendiri? Nara benci ini.


"Nona?"


"Hm?"


"Mandilah, setelah itu sarapan. Lalu berangkat sekolah"


Gadis kecil berusia delapan tahun itu menghela nafas pasrah.


"Baiklah"


Dia berjalan lesu kekamar mandi, rasanya malas untuk kemana-mana sekarang ini. Memang hal seperti ini sudah hampir setiap hari ia rasakan, namun tetap saja masih terasa sakit.


Rumah ini besar, bahkan sangat besar. Namun tak ada keramaian didalamnya, tak ada canda tawa dan kegembiraan. Semua terasa hampa. Kalau boleh jujur, Nara tak ingin tinggal dirumah ini lagi. Lebih baik dia tinggal dirumah kecil tapi memiliki segudang kebahagiaan.


Dia mendapatkan segalanya, apa yang ia inginkan pasti akan ia dapatkan dalam sekejap mata. Namun satu hal, setiap dia mempertanyakan ibunya, semua menghindar. Seakan tak tau apa-apa.


Nara turun dari tangga, dia sudah lengkap dengan seragam sekolahnya. Para maid menyambutnya dengan gembira dimeja makan.


"Duduklah, Nona". Salah satu maid menarik kursi makan, dan Nara langsung mendudukinya.


Aroma dari banyaknya makanan yang terhidang dimeja makan besar itu menggugah selera. Tapi yang tidak enaknya, didalam sebuah meja makan yang amat besar dan dipenuhi kursi-kursi mewah itu, hanya ada seorang gadis kecil didalamnya.


Nara mengambil pisau dan garpu, kemudian mulai menyantap sarapannya. Beberapa maid berdiri menunggunya selesai makan.


"Kalian sudah makan?"


"Belum Nona"


"Kalau begitu ayo makanlah bersamaku, masih banyak kursi kosong disini"


"Tidak Nona, tidak perlu. Kami akan makan dibelakang saja nanti"


"Kenapa? Kalian tidak ingin makan bersamaku ya?".Nara berucap dengan suara yang bergetar.


Para maid langsung menggelengkan kepala mereka sedih.


"B-bukan Nona, tapi tuan besar sudah melarang kami-...."


"Apa hanya ucapannya yang didengar dirumah ini? Dan aku tidak?". Desis gadis kecil itu geram.


"B-bukan.."


Nara menghempas kasar garpu dan pisau makannya. Gadis itu berdiri dari duduknya.


"Panggil supir untuk mengantarku sekarang..


". Peritahnya dingin.


"T-tapi sarapan Nona belum habis"


"Aku tidak peduli!"


Para maid hanya terdiam menerima bentakan dari anak majikan mereka.


Kalau sudah begini, Nara akan menjadi anak yang dingin satu harian penuh. Dan itu bukanlah pribadinya yang asli. Pasti sakit sekali menyembunyikan keceriaannya.


"Dan katakan pada Dad, bahwa aku membencinya".


Para Maid terpaku, bahkan sampai Nara melenggang pergi keluar rumah. Mereka hanya menundukkan kepala sedih.


•••


Nara melamun dibawah sebuah pohon besar yang ada disekolahnya. Menatap sedih kepada teman-temannya yang baru datang dengan diantar orangtua mereka.


Rasa iri menyinggahi hatinya, namun sudah tak bisa ia sangkal lagi kalau dia memang tidak berdaya.


Bukankah ini tidak adil? Gadis kecil sepertinya harus merasakan hidup tanpa kedua orangtua. Dad nya memang ada, namun seperti sudah mati untuknya.


Tanpa sadar, air mata mengalir dari kedua matanya. Nara menghapusnya dengan terburu.


"Selamat pagi Nara....."


Sapaan girang dari seseorang menyentakkan Nara dia membalik badan dan tersenyum senang melihat siapa senang melihat siapa yang baru saja menyapanya.


"Bu Guru? Selamat pagi....."


Wanita cantik itu menduduki bangku disamping muridnya. Ikut menggoyang-goyangkan kakinya seperti yang Nara lakukan.


"Apa yang kau lihat?"


"Tidak ada. Sejak kapan Bu Guru disini? Bu Guru ingin mengagetkanku ya?".Nara mendelik curiga.


Derai tawa meluncur dari bibir wanita itu. "Tadinya sih iya, tapi kau sedang menangis. Jadi ya begitulah..."


Nara melohok, " Bu Guru melihatku menangis?"


"Iya sayang..". Ucap wanita itu sambil mencubit gemas pipi muridnya,


"Kenapa kau menangis?" lanjutnya bertanya.


"I hate my Dad...!"


Wanita itu berjongkok ditanah, menyamakan posisinya dengan Nara.


"Sudah berapa kali Bu Guru katakan, jangan pernah membenci ayahmu...."


"Ini berbeda Bu Guru, kau tidak mengerti". Lirih Nara.

__ADS_1


"Apa yang tidak ku mengerti? Dengar, Ded mu itu-...."


"Dad, bukan Ded..."


"Hh terserahlah! Aku tak mengerti bahasa inggris"


Nara terkekeh melihat tingkah lucu gurunya itu.


"Dengar, ayahmu itu sibuk untukmu juga. Kau adalah segalanya baginya. Jadi jika kau tidak menghargai kerja kerasnya, dia akan sedih. Cobalah memakluminya sayang"


"Tapi sampai kapan? Aku lelah begini terus"


"Semua akan ada waktunya. Kau tunggu saja"


Nara tersenyum menyambut senyuman sang guru.


"Thank's Bu Guru Heejin."


Wanita bernama Heejin itu mengacak surai muridnya.


"Yur welkom". Sambungnya.


Nara tertawa keras,


"Pengucapanmu salah Bu Guru.". Kekehnya.


"Lalu bagaimana?". Heejin berpura-pura sedih.


"Ikuti apa yang ku katakan..."


"Baiklah". Heejin menarik nafas mempersiapkan dirinya.


"Your.."


"Your"


"Well.."


"Well"


"Come.."


"Come"


"Your wellcome"


"Yawr welcam"


Tawa Nara pecah untuk yang kedua kalinya. Membuat Heejin memanyunkan bibirnya.


"Bu Guru, kau harus belajar banyak tentang bahasa inggris padaku, bahasa inggris Bu Guru sungguh buruk."


"Hei! Kau juga buruk dalam pelajaranku Nara, ingat itu". Ujar Heejin berkacak pinggang.


Nara terkikik, "Baiklah, begini saja, aku akan mengajari Bu Guru dengan senang hati, tapi Bu Guru harus memberiku nilai seratus dipelajaranmu."


"Oh kau mencoba menyuapku ya?"


"Tidak. Aku tidak bawa makanan"


"Naraaaa....". Heejin menggelitik geram murid kesayangannya itu sampai Nara tertawa terbahak-bahak menerimanya.


Namun sayangnya tidak.


•••


"Dia sudah berangkat?"


"...."


"Sarapannya habis kan?"


"...."


"Bagaimana dengan bekalnya? Sudah kalian siapkan?"


Seorang pria muda tampak berjalan menuju ruangannya sambil terus melekatkan ponsel ketelinganya. Beberapa pengawal mengikuti langkahnya. Pria itu habis melakukan rapat pentingnya. Sebagai seorang CEO di perusahaannya sendiri membuat pria itu terus disibukkan oleh hal-hal seperti sekarang ini.


Ketika sampai didepan pintu ruangannya, pria itu mengisyaratkan pada semua pengawalnya untuk pergi. Kemudian dia masuk.


"Ada apa?". Pria itu duduk dikursi kerjanya, nafasnya tak beraturan dan keringat membasahi tubuhnya. Dia letih sekali.


"...."


"Dia mengatakan itu?". Suara baritonnya terdengar lirih.


"Baiklah, aku masih sibuk."


Telpon itu berakhir, dan dia melamun. Sungguh sakit rasanya dibenci oleh anak sendiri. Rasanya pelita kecilnya itu sudah tak menyayanginya lagi. Dan itu semua sudah pasti karena ulahnya sendiri.


Sampai kapan dia harus begini terus? Tanpa berbuat apa-apa malah akan membuat benci anaknya itu semakin mendalam.


Pria itu menyandarkan tubuhnya dikursi, memejamkan matanya dan membayangkan wajah anaknya.


"Maafkan Dad Nara....."


Dia tidak salah, Nara hanya tak tau bahwa dibalik kesibukannya, pria itu pasti menyempatkan diri menanyakan kabar putrinya. Sesibuk apapun dia, Nara adalah prioritas yang utama.


•••


Bel tanda berakhirnya semua pembelajaran sudah terdengar. Ini waktunya pulang. Heejin mengemasi buku-bukunya dan tersenyum puas.


Hari ini berjalan dengan lancar. Dia selalu tersenyum jika sudah berhasil mengajarkan anak-anak tentang apa yang belum mereka ketahui. Dan percayalah, ada kesenangan tersendiri untuk itu.


Heejin mencintai anak-anak, baginya anak kecil selalu bisa membuat hatinya tenang dan beban masalahnya bisa terangkat. Itu sebabnya dia memilih menjadi guru sekolah dasar daripada guru SMA.


Heejin menyandang tasnya kemudian keluar kantor. Dia berjalan pelan sambil bersenandung. Begitu sampai didepan gerbang utama, wanita itu menyipitkan matanya melihat siapa yang tengah duduk manis dipinggiran batu sekolah.


Heejin mempercepat langkahnya menghampiri gadis kecil itu.


"Nara?"


Nara membalik badan dan mendongakkan kepalanya.


"Hai Bu Guru...". Sapanya disertai senyuman manis.


"Kau belum pulang?". Heejin melihat jam tangannya,

__ADS_1


"Sudah lebih setengah jam pulang sekolah"


"Supir yang menjemputku belum datang Bu Guru."


Heejin ikut duduk disamping Nara, "Kenapa lama sekali?"


"Entahlah Bu Guru, jika Dad tau dia terlambat menjeputku, tamatlah riwayat supir itu". Dengus Nara.


Heejin mengacak rambut muridnya.


"Yasudah, kalau begitu kau Bu Guru antar pulang saja, bagaimana?"


"Naik apa?"


"Angkutan umum". Jawab Heejin pelan, melirik raut wajah Nara, mungkin saja gadis kecil itu tak ingin naik kendaraan umum karena terbiasa naik mobil.


"Apa itu Angkutan umum?"


"Kau tidak tau?". Tanya Heejin heran yang dijawab oleh anggukan Nara.


"Angkutan umum itu, adalah mobil besar dan panjang yang dinaiki banyak orang"


"Banyak orang?!"


"Y-ya"


"Itu keren! Aku selalu sendiri didalam mobil, dan naik kendaraan seperti itu pasti menyenangkan!"


Melihat kebahagiaan dimata Nara, membuat Heejin tersenyum pahit. Kasihan, diumurnya yang sekarang seharusnya gadis kecil itu dalam masa kasih sayang orangtua. Tapi sayangnya, dia tak mendapatkan semua itu. . Jujur saja, Heejin memang pilih kasih terhadap Nara dan muridnya yang lain. Dia lebih mengutamakan Nara. Karena Heejin tau, Nara kekurangan kasih sayang. Dan jika itu terus berlanjut, bisa-bisa dia tumbuh menjadi anak yang dingin, kejam, dan tak bersosialisasi. Heejin tak ingin itu, pribadi Nara bukanlah seperti itu.


"BU GURU~...!"


"Eh? Ya? Ada apa?"


"Aku memanggilmu berulang kali Bu Guru!"


Heejin tertawa garing, "Hehe maafkan Bu Guru ya sayang"


"Ayo pergi"


"Kemana?"


"Angkutan umum lah"


"Angkutan umum apa?". Goda Heejin.


"Bu Guru~ jangan menggodaku!"


Heejin tertawa keras, membuat Nara mau tak mau juga ikut tertawa. Tawa mereka berhenti saat sebuah mobil BMW metalik berhenti dihadapan mereka.


Heejin menatap Nara dan memberi pertanyaan lewat tatap mata, namun Nara mengangkat bahunya. Tak tau.


Pintu kemudi terbuka, seorang pria keluar dari sana dan menatap kearah Heejin dan Nara. Pria itu membuka kaca mata hitamnya.


"DADDY?!.....". Teriakan Nara membuat Heejin berjingkat, wanita itu memukul-mukul telinganya yang berdengung dan membiarkan Nara berlari menghampiri pria tadi.


Nara berlari kearah pria tadi yang sekarang merentangkan lebar kedua tangannya. Setelah sampai, dia menciumi Nara dengan sayang kemudian menggendongnya.


"Dad? Kenapa kesini?"


"Menjemput putri kesayangan Dad, tentu saja."


"Kenapa?"


"Apa Dad tidak boleh menjemputmu?". Pria itu menurunkan putrinya dan berlutut menyamakan posisi mereka.


"Berhenti menciumku Dad!". Kesal Nara saat sang ayah tak henti-hentinya menciumi wajahnya.


Pria itu terkekeh,


"Maaf Sayang...". Bisiknya memelas namun kembali memberi kecupan singkat di hidung anaknya.


"Apa alasanmu Dad? Untuk pertama kali kau menjemputku"


"Para maid bilang, kau tidak menghabiskan sarapanmu, kau tidak membawa bekalmu, dan parahnya kau berbicara bahwa Nara benci Daddy..."


Nara menundukkan kepalanya, "Maaf Daddy"


Pria tampan itu kembali mencium kening anaknya, "Tidak, jangan meminta maaf, Dad yang harus minta maaf"


"Tidak Dad, Bu guru bilang padaku bahwa Dad sibuk bekerja juga untukku, jadi aku tak boleh egois dan membuat Dad sedih"


"Bu Guru?"


"Yes! Itu dia!"


Heejin yang dari tadi tersenyum lembut, kini terkejut saat Nara menunjuk kearahnya dan sekarang ayah dan anak itu tengah berjalan menghampirinya.


Heejin memasang senyumannya saat mereka bertiga sudah berhadapan, mengacak gemas surai Nara dan melempar senyuman ramah pada ayah gadis itu.


Entah perasaan Heejin saja, tapi kelihatannya mata yang gelap itu menatapnya lekat. Membuat Heejin agak kikuk.


"Dad? Kenapa kau terus melihat Bu Guru ku? Lihatlah, Bu Guru jadi salah tingkah"


Heejin menunduk malu, dan mendengar ayah Nara berdehem ringan.


"Kau guru Nara?"


"Ya Tuan..."


"Jangan panggil Tuan, aku terkesan tua"


Heejin mengulum senyum,


"Maaf"


"Kenalkan...". Pria itu mengulurkan telapak tangannya pada Heejin,


" Na Jaemin, ayah Nara."


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2