
.
.
Semenjak kejadian itu, Jaemin dan Nara putrinya pun tidak saling berselisih lagi. Dan saat itu juga Jaemin sering bertemu dengan Heejin. Karena disaat Jaemin telat menjemput Nara, maka Heejin dengan senang hati menemani Nara menunggu Daddynya. Heejin juga senang bisa terus dekat dengan Nara, baginya Nara merupakan teman sekaligus anak untuknya.
Tepat pada hari ini, Heejin sekali lagi menemani Nara menunggu jemputan Daddynya. Namun sudah hampir 2 jam mereka duduk sambil mengobrol mobil mewah Jaemin tak kunjung terlihat. Entah apa lagi alasan Duda Tampan itu. Yang jelas Nara dan Heejin kesal dibuat seperti orang bodoh menunggu di gerbang sekolah.
"Bu Guru, aku lapar...." Keluh Nara membuat Heejin menoleh. Bisa dilihat dari raut wajah Nara dia sangat lapar. Heejin rasanya ingin memukul kepala Jaemin saat ini juga. Masa ada seorang ayah yang membuat putrinya kelaparan seperti ini, jika saja dia istri Jaemin, Heejin pastikan pria itu tak akan bisa hidup tenang.
"Hm..bagaimana kalau kita kerumah Bu Guru saja. Kita makan dirumah Bu Guru..." Usul Nara memelas. Membuat Heejin tak tega, dia pun mengiyakan permintaan bocah itu.
"Baiklah. Ayo kita kerumah Bu Guru. Biarkan saja Daddymu menunggu disini, biar dia tau rasanya menunggu itu tak enak." Dumel Heejin. Menggendong Nara lalu menaiki taksi yang sudah ia pesan.
"Bu Guru, Nara pengen deh punya Mama kayak Bu Guru..." Kata Nara tiba tiba membuat Heejin bungkam.
"Dari kecil Nara cuma diasuh Daddy, itupun kalau Daddy tidak sibuk. Nara tidak tau siapa ibu Nara. Daddy bilang, ibu meninggalkan Nara saat masih bayi." Curhat Nara dengan raut wajah sedih. Heejin pun memeluk bocah itu menenangkan hatinya.
"Memangnya Daddymu tidak punya pacar?" tanya Heejin penasaran.
"Daddy tidak pernah membawa seorang wanita ke rumah. Daddy bilang, Daddy tidak mau menikah saat ini."
Hati Heejin rasanya jatuh kedalam lumpur mendengar cerita Nara, kata kata Jaemin melalui Nara sangat menghantam hatinya. Siapa yang akan mengabaikan suami idaman seperti Jaemin? Sudah tampan, kaya, mapan dan banyak lagi kelebihan pria itu, semua gadis pasti akan berusaha menarik perhatian Jaemin, tapi anehnya tidak satupun yang cocok, untuk Jaemin maupun untuk Nara.
"Daddymu terlalu tampan untuk menjadi Duda.." Gumam Heejin terdengar ke telinga Nara.
"Bu Guru bilang Daddy tampan? Wah kalau begitu bagus, Nara akan bujuk Daddy buat dekat sama Bu Guru dan setelah itu Daddy bisa menikah. Iyakan bu guru?" Heejin memukul mulutnya sendiri. Dia kepergok memuji Jaemin di hadapan Nara, putri Jaemin.
"A...eum....Na..nara kita sudah sampai. Ayo kita turun." Elak Heejin membuat Nara tersenyum menggoda. Sepertinya Nara akan mendapat Ibu baru.
"Iya...Mama..."
"Naraaaa.....!"
.
.
.
.
.
.
Jaemin menyandarkan tubuhnya di kursi. Dia iseng melirik Jam, dan kemudian mata Jaemin membulat sempurna.
"Astaga, aku lupa menjemput Nara. Bisa gawat.."
Dia memang sedikit pikun kalau sudah berhadapan dengan meja kerja, sehingga anaknya pun ia lupa. Dasar kau Jaemin!
Dia pun berlari tanpa memakai Jas kerja, hanya menyisakan kemeja putih dengan lengan baju digulung hingga siku. Rambutnya acak acaknya menambah pesona ketampanan Duda baranak Satu itu.
"Nara, tunggu Daddy...." Gumam Jaemin memasuki mobil dan langsung tancap gas meninggalkn perusahaan.
Setelah belasan menit Jaemin mengendarai mobil, dia melihat gerbang sudah ditutup dan tidak ada Nara disana membuat kepala Jaemin pusing. Dia berkali kali berteriak memanggil anaknya namun Nihil, sekolah sudah kosong.
"Kalau Nara tidak disini, lalu kemana dia? Tidak mungkin dia pulang sendiri kalau tidak ada yang menjemput."
Dan tiba tiba saja, pikiran Jaemin tertuju pada Heejin.
"Pasti Heejin yang membawa kabur Nara," Setelah itu dia masuk kembali kedalam mobil lalu menuju kediaman Heejin dengan keringat lelah, bagaimana tidak lelah, selesai dikantor dia harus berlari mencari putri kesayangannya sampai sampai dia hampir saja mati saat mengetahui Nara tidak ada disekolah.
Setelah smapai dikediaman Heejin, Jaemin langsung turun. Dia bergegas menuju pintu lalu mengetuknya.
Tok Tok Tok.....
Tak menunggu lama, akhirnya Heejin membukakan pintu. Tatapan Jaemin langsung loarencari sosok putri kesayanganny.
__ADS_1
"Dimana putriku?" Dia berjalan mendekati Heejin. Merasa geram pada Jaemin karna mengingat acara menunggu Heejin dan Nara tadi membuat Nara kelaparan. Dan Heejin tak segan segan memukul kepala Jaemin menggunakan sendok sayur.
"Yak! Kenapa kau memukulku, berani sekali kau.." Dengus Jaemin mengusap kepalanya.
"Gara gara dirimu, Nara hampir pingsan karena kelaparan. Kenapa kau telat lagi huh, "
"Maaf, tadi banyak kerjaan dikantor. Terus dimana Nara..."
"Sesibuk apapun kau harus ingat kapan putrimu pulang. Nara sekarang sedang menunggu diruang makan. Masuklah, lepas sepatumu itu." Jaemin melirik sepatu nya dan bergantian menatap kaki telanjang Heejin.
"Sepatuku bersih, kenapa dilepas?"
"Cepatlah, aku tidak suka rumahku kotor gara gara sepatumu itu. Meskipun ku tampan tapi tetap saja bagian kakimu kotor dan bau.."
"Kau memujiku tampan?" Ulang Jaemin menyipit curiga.
"Mana ada! Masuk sana!" Jaemin mulai berpikir, kenapa Heejin galak sekali padanya akhir akhir ini. Tapi meskipun begitu, percayalah Heejin hanya berpura pura galak pada Jaemin, dalam hatinya ia senang sekali bisa melihat Jaemin datang dengan aura tampan bak dewa yunani.
"Melepas sepatu saja sulit sekali!" Dengus Heejin jengah bersimpuh di hadapan Jaemin, dan Jaemin membulat sempurna. Heejin memegang sepatunya dan melepasnya secara gontai tak seperti dirinya tadi yang kesusahan.
"Sudah. Biar aku cuci sepatu kotormu ini dahulu. Masuklah, didalam ada Nara.." Ujar Heejin meneteng sepatu Jaemin membawanya ke kamar mandi.
"Selain galak, Heejin juga perhatian."
"Daddy!!!" Seorang anak bocah perempuan memeluk kaki Jaemin saat Jaemin tengah sibuk memandangi Heejin masuk ke kamar mandi.
"Sayang..."
"Daddy mengintip Bu Guru Heejin mandi ya?" ujar Nara curiga ketika mendengar guyuran air dari kamar mandi. Padahal itu hanya membersihkan sepatu Nara bukan mandi, dengus Jaemin dalam hati.
"No...Jaga bicara Nara. Nanti Bu Guru Heejin dengar, "
"Hehe, Daddy! Ayo kita keruang makan, disana ada banyak makanan yang dibuat Bu Guru Heejin. Pasti Daddy lapar kan?"
"Eum...sayang, sebenarnya Daddy kesini ingin menjemput Nara. Apa sebaiknya kita pulang sekarang?" Tanya Jaemin, namun Nara buru buru menggeleng.
"Tapi Daddy bawa mobil, kita tidak akan kehujanan." kata Jaemin lagi dan lagi membuat Nara menguras otak untuk menahan Daddy nya agar lama disini.
"Daddy bau, sebaiknya Daddy mandi dulu. " Jaemin mencium bau badannya sendiri dan benar ,ia bau sekali padahal ia sudah mandi tadi pagi? Yah Jaemin tipikal orang yang malas mandi jika sudah bekerja.
"Benar apa kata Nara, sebaiknya kau mandi dulu. Nanti akan usiapkan baju ganti." Ujar Heejin yang baru datang dengan tangan yang basah dan rambut dikuncir.
"Hah, baiklah. Berikan aku handuk, aku akan mandi." Ujar Jaemin menuju kamar mandi tak melihat tatapan jahil Nara.
'Pokoknya malam ini Daddy harus menginap disini!' Batin Nara girang.
.
.
.
.
.
Selesai mandi, Jaemin pun mengikuti langkah Heejin menuju sebuah kamar. Yak! Jaemin pikir ini adalah adegan porno, karena apa? Tentu saja Jaemin sekarang hanya menggunakan Handuk, perut kotak kotaknya terekpos jelas.
"Ini baju dan celana mu. " Ujar Heejin memberikan baju kaos dan celana alm. Ayahnya kepada Jaemin dengan mata menunduk.
"Astaga, ini sudah 2020. Dan kau masih malu dengan melihat yang seperti ini? Heh menggelikan.." Ujr Jaemin terkekeh.
"Jangan banyak bicara lebih baik pakai sa..." Saat Heejin berani menoleh ke Jaemin ia hampir saja melihat Jaemin terlanjang, bertepatan dengan Jaemin menarik resleting, Heejin sudah menoleh kearah Jaemin
"AAAAA!!!" teriaknya malu menutup mata, mambuat Jaemin memempan telinga. Dia melemparkan ganduk bekasnya kepada Heejin.
"Biasa saja. Nanti kalau kau sudah menikah, bukan hanya ini yang kau lihat tapi ....semuanya..." ujar Jaemin menunjuk perutnya, dia memakai kaos dengan cepat lalu keluar kamar.
"Aku jadi takut menikah. Arghhh ternyata Jaemin yang aku bayangkan tidak sepeprti yang ku sangka hari ini, dia sudah banyak membuat kejadian hari ini."
__ADS_1
.
.
.
.
.
Nara tersenyum simpul menatap sang Ayah sedang bingung, kenapa? Yah mereka sekarang sedang ingin makan dengan duduk bersila dibawah tanpa kursi dan meja. Dan Jaemin tak biasa.
"Makanlah Daddy, tempe dan tahu goreng buatan Bu Guru enak banget lho..."
"Tempe? Tahu? Makanan apa itu?" Ujar Jaemin melihat piring miliknya.
"Dasar orang kaya. Ini namanya tempe dan ini namanya Tahu, anda paham?" Ujar Heejin menunjuk satu persatu.
"Jika aku tidak TAHU bagaimana?"
"Makan saja Daddy, ini enak kok....."
"Daddy biasanya makan steak, pasta, pizza, dan spageti....bukan makanan aneh seperti ini."
"Yak! Makanlah, jangan menyela makanan itu tidak baik!" Cercah Heejin jengah mengacungkan garpu pada Jaemin.
"Tidak mau." balas Jaemin.
"Daddy makan saja, sebelum Bu Guru marah." Cicit Nara pelan.
"Nara, Daddy tidak biasa makan begini nanti alergi.." Ujar Jaemin nada keras.
"YAK!" Heejin menghempaskan garpu dan sendok memaksa Jaemin untuk memakan makanannya.
"Makan!'
'Tidak!"
"Makan!"
"Tidak! Tidak! Tidaaakkkkk!"
Heejin mengambil tempe dan tahu dengan bersamaan, dia langsung memukul kepala Jaemin sampai dia membuka mulut meringis kesakitan. Setelah itu Heejin langsung mengasakkan tahu dan tempe itu.
"U...uhuk uhukkk!!" Jaemin terbatuk mengunyah paksa tempe dan tahu buatan Heejin.
Nara hanya tersenyum geli melihat interaksi 2 orang dewasa tersebut.
Saat Jaemin menelan tempe dan tahu goreng itu, Jaemin membuka matanya.
"Jadi ini rasanya Tempe dan Tahu?" Ujarnya memainkan lidah didalam mulut mencari cari sisa sisa tempe dan tahu.
"Bagaimana?"
"Enak!! Aku ingin makan sekarang!" Ujar Jaemin sumbriah membuat Nara melongo, tidak biasanya Daddynya begini, tapi karna Heejin Daddynya berubah sedikit demi sedikit lebih ceria dan sedikit agak bobrok.
Dan Nara yakin Heejin adlaah orang yang cocok untuk mengubah kepribdian Daddynya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1