DUDA TAMPAN(JAEMIN)

DUDA TAMPAN(JAEMIN)
part 6


__ADS_3

(FULL JAEMIN AND HEEJIN)


.


.


Lama Heejin dan Jaemin berpandangan sampai akhirnya Heejin memutuskan kontak mata itu. Mendengar lamaran Jaemin membuat Heejin tak sepenuhnya yakin bahwa Jaemin benar benar serius padanya. Apalagi selama ini Jaemin sama sekali tidak menunjukkan rasa suka dan cintanya pada Heejin.


"Apa Jawabanmu?" Jaemin menyentuh dagu Heejin membuat Heejin mendongak kearahnya.


"Kau bercanda kan? Maksudku, kita baru saja kenal, terus kenapa kau tiba tiba melamarku?" Kata Heejin diselimuti rasa penasaran, Jaemin melepaskan sentuhannya,


"Semenjak Nara suka padamu, aku juga sepertinya suka padamu Heejin, yah walaupun kau suka memukul, tapi entah kenapa sejak saat aku mengenalmu hidupku sedikit lebih terasa. Berbeda sekali dengan hidupku yang dulu, Nara membenci Daddynya sendiri karna aku terlalu sibuk dengan pekerjaan, dan kau datang menasehatiku dengan memukulku dengan sendok sayur membuatku sadar, kau juga mempunyai rasa sayang pada Nara sehingga kau memilih memarahiku agar tak mengabaikan Nara lagi." ujar Jaemin serius. Heejin cukup tertegun mendengar alasan Jaemin,


"Aku mau kau menjadi Ibu Nara dan menjadi istriku Heejin....Nara membutuhkan kasih sayang seorang ibu dan aku juga membutuhkan seorang istri untuk mengurusku." lanjut Jaemin penuh harap, Heejin mengerti apa yang dipinta Jaemin, selama ini Jaemin sama sekali tak terurus, tak punya waktu bagi Jaemin untuk memikirkan itu. Tak jarang juga pria itu telat makan dan sampai jatuh sakit.


"Aku belum tahu kehidupanmu Jaemin, kalau boleh beritahu aku tentang masa lalumu dan Nara...." Jaemin terdiam, bimbang dengan permintaan Heejin, masa lalu pahit Jaemin apakah harus ia ceritakan pada Heejin? Jika itu membuat Heejin mau menikah dengannya Jaemin akan berusaha walau ia malas menceritakannya kembali.


"Baiklah. Aku akan menceritakan kehidupanku dulu dan Ibu...Nara..." Jaemin berjalan mendahului Heejin lalu duduk di ranjang, dia menepuk tepi setelahnya memberi kode pada Heejin agak mendekat dan duduk disampingnya.


"Dimulai dari kehidupan priabadiku dulu, sebenarnya aku dan Hyungku adalah anak yatim piatu. Ayahku meninggal tertabrak Truk saat menyelamatkan seorang anak kecil yang menyebrang dijalan raya, bertepatan dengan hari yang sama ibuku melahirkan ku, setelah dia mendengar ayahku meninggal dunia, keadaannya jadi Drop sehingga beberapa hari kemudian dia menyusul ayahku...." Jaemin menjeda kalimatnya, Heejin mengusap bahu Jaemin menenangkan pria itu agar tak sedih.


"Kasihan sekali. Maaf jika aku membuatmu mengingatkan dengan kematian orang tuamu.."


"Tidak apa, sekarang aku lanjutkan. Usia ku dan Hyungku terpaut 5 tahun. Semenjak orang tua kami meninggal, Hyung dan aku diasuh di Panti Asuhan. Kami dibesarkan disana bersama dengan anak anak jalanan. Setelah beberapa tahun kemudian, Hyung dan aku mendapat hadiah yang berharga yaitu mendapat kuliah Gratis di Universitas terkenal di Seoul. Dari sanalah kami belajar mengubah nasib dan membangun sebuah perusahaan sampai saat ini, kekayaanku yang sekarang tidak instan Heejin, semua ini adalah hasil jerih payah ku dan Hyungku. Panti asuhan yang menanggung hidupku dulu, sekarang sudah ku bangun lebih besar dan aku selalu memberikan sumbangan pada anak anak yang tidak sekolah."


Heejin kagum pada Jaemin, dibalik sifat cerobohnya ternyata Jaemin mempunyai hati yang hangat, dia tidak melupakan siapa dirinya dulu. Dia tak sombong dengan hartanya kini, Heejin kira hidup Jaemin dari dulu sudah terjamin namun sama sekali tidak, bahkan masa lalu Jaemin sangat lah miris.


"Aku bangga padamu, tapi kalau soal Nara bagaimana?" Jaemin mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Heejin.


"Aku hanya menceritakannya sekali, jadi dengarkan lah." Dia menghirup nafas sejenak mengingat masa masa kuliahnya.


"8 tahun yang lalu, aku begitu bodoh menerima ajakan teman sekampusku untuk mengadakan party kemenangan basket kami, saat itu aku membawa kekasihku,disana kami berpesta minum minuman keras. Karena aku tidak bisa minum alkohol, akhirnya aku mabuk dan tak sadar meniduri kekasihku." Pelan sekali suara Jaemin, tapi masih terdengar.


"Lalu?"


"Dia hamil, bahkan dia sempat mau membunuh Nara saat masih didalam kandungan. Aku menolak keras semua itu, aku sudah bilang mau bertanggung jawab, tapi ayahnya tak merestui pernikahan kami karna aku dulu miskin, kekasihku tidak mau hidup susah sehingga aku harus membiayai kebutuhan kehamilan hingga persalinannya dengan kerja peruh waktu sampai Nara sudah lahir, baru seminggu Nara meminum ASI.....kekasihku meninggalkan kami memilih ikut dengan ayahnya pulang ke Cina. Dia melupakan aku dan anaknya sampai saat ini, 8 tahun dia tak kembali bahkan menjenguk anaknya sama sekali tidak pernah." Jaemin tersenyum sendu hampir mengeluarkan air mata. Heejin juga tanpa sadar menitikkan air mata mendnegar cerita Jaemin.


"Sejak saat kekasihku meninggalkan aku bersama Nara. Waktuku cukup terkuras, biasanya aku mengasuh Nara sambil kuliah hingga bekerja. Banyak ejekan dan hinaan yang aku terima, mereka mengatakan aku lelaki payah, miskin, brengsek dan bajingan, mereka tidak tahu beban yang aku tanggung selama 8 tahun ini."


"Untung ada Hyungku, dia juga ikut membantuku mengasuh Nara saat bayi. Sampai Nara sudah berumur 4 tahun, dia selalu ikut denganku kuliah S2 dan melihat Daddynya belajar hingga sesukses ini."


Setelah berpanjang lebar bercerita akhirnya Jaemin lega juga, selama ini dia tak pernah menceritakan hal ini kepada siapaun termasuk teman temannya.


"Aku sedih mendengar ceritamu Jaemin hiks hiks...."


"Hei kenapa kau menangis, sudahlah itu masa lalu." Ujar Jaemin tersenyum hangat.


"Bagaimana jika kekasihmu datang dan ingin kembali padamu?."

__ADS_1


"Dia tidak akan kembali, 8 tahun bukan waktu yang singkat. Jika dia sayang padaku dan anaknya pasti dia kembali, tapi kau lihat sendiri kan? Nara bahkan tidak mencari ibunya lagi, karna sudah ada dirimu.....Heejin.. Dia sangat menginginkanmu menjadi ibunya." Heejin menggigit bibir bawahnya ragu ingin menerima lamaran Jaemin.


"Terima atau menolak?" batin Heejin berdebar debar ketika bertatapn dengan mata Jaemin.


"Apa aku harus memperkosamu dulu agar kau mau kunikahi?" Canda Laki laki Na itu, membuat perempatan siku siku di dahi Heejin.


"YAK!!!"


BUGHHH.....


Dia memukul kepala Jaemin begitu kerasnya.....


"Tuhkan mulai lagi, kenapa kau sukanya mukul kepala sih?!?." Ringis Jaemin mengusap keningnya.


"Lagipula kata katamu itu terlalu Vulgar,!" Jaemin hanya bercanda Heejin.


"Kata Nara kau selalu memujiku tampan, apa itu artinya kau menyukaiku?" tebak Jaemin di iringi tatapan meminta keterangan.


"Kata siapa?"


"Sudahlah mengaku saja. Aku tidak keberatan jika itu benar, malahan aku senang itu artinya kau akan lebih mudah menerimaku."


"Tapi apa kau mau menikahi dengan gadis miskin sepertiku?" ujar Heejin merasa tak enak.


"Materi tak penting bagiku. Aku sudah punya semua itu yang belum aku punya adalah seorang calon ibu yang menyayangi anakku sepenuh hati."


"Tidak! Aku suka padamu karna kau Duda tampan!" ujar Heejin spontan mendapat kekehan dari Jaemin.


"Sepertinya aku sudah tau jawabanmu..."


"Baiklah seminggu lagi kita akan menikah.' Lanjut Jaemin mendapat teriakn heboh dari Heejin.


"HEH! SEMINGGU LAGI?!!??"


"Aku mengantuk, ayo tidur..." Jaemin tak menanggapi teriakan Heejin, dia berbaring di ranjang.


"Mau tidur di samping aku, atau tidur di Dada aku?" Tawar Jaemin siap siap mendapat pukulan dari Heejin.


"Jaemin! Aku mau pulang..."


"Tidak bisa. Malam ini kau harus tidur di sini!" Jaemin menarik tangan Heejin agar tidur disampingnya hal itu membuat Heejin memberontak risih, apalagi sekarang Jaemin telah menghadap dirinya.


"Buka saja jaketmu itu, malam ini sedikit gerah..."


"Tidak mau! Nanti kau macam macam lagi!" bukan Jaemin namanya jika dia tak mendapatkan apa yang ia mau,


Dia pun membuka Jaket Heejin dengan sedikit paksaa demi kenyenyakan tidur Heejin, benar sekali hari ini panas, dan Jaemin tidak mau Heejin tidur kegerahan nantinya yah walaupun ada AC.


"Kau pemaksa sekali..." Keluh Heejin akhirnya melepaskan jaket menyiksakan baju kaos putih, persis dengan kemeja Jaemin.

__ADS_1


"Tapi aku tidak memaksamu membuka baju kaosmu Heejin. Tidurlah aku mengantuk..." Jaemin memejamkan matanya,


"Sini, biar aku peluk.." Jaemin merentangkkan tangannya lebar lebar.


"Aa tidak tidak....!" Tolak Heejin menjauh.


"Ayolah, turuti saja...."


"Jaemin, kita belum menikah..." Elak Heejin menyilangkan tangannya ke Dada.


"Memangnya pelukan bisa menyebabkan hamil?" Tanya Jaemin pura pura polos.


"Tidak sih..."


"Nah, terus apa yang membuatmu takut sih?!?......." Jaemin menarik tangan Heejin dan memeluknya lagi dan lagi, Heejin hanya mengmghela nafas pasrah dan mulai memejamkan mata. Jantungnya berdegub kencang sekali, begitupula dengan Jaemin.


'Sepertinya Jaemin orangnya sangat mesum. Belum menikah saja sudah begini apalagi jika sudah menikah..." Batin Heejin ngeri membayangkan beradegan dewasa bersama Jaemin, astaga pikiranmu berdosa banget Heejin.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2