
.
.
Hari senin siang, masih dalam kebiasaan Jaemin, sudah hampir 2 jam Heejin berkomat kamit tak jelas meruruki kebodohan Duda Tampan itu yang setia pada kebiasaan telat menjemput. Kalau tau begini, kenapa tak suruh saja supir rumah menjemput putrinya? Ini malah membiarkan Nara keletihan dalam menunggu.
"Daddymu memang ingin Bu Guru pukul, sudah jam berapa ini!" Heejin melirik jam yang menunjukkan hampir pukul 12 siang, Nara memayunkan bibirnya lelah, Daddynya mungkin sibuk dikantor makanya agak telat, Nara sudah biasa kalau begini. Tapi tidak bagi Heejin, awas saja jika Jaemin datang dengan tampang tak berdosanya, bukan hanya sendok sayur yang ia pukulkan bila perlu Heejin akan membawa pedang SamuraiX, enak saja sudah ditunggu lama tapi Jaemin masih saja santai santai.
"Bu Guru kalau lelah, lebih baik pulang saja. Nara biar sendiri menunggu Daddy..." Ujar Nara tak enak melihat Heejin yang kelelahan.
"Tunggu sebentar Nara, Bu Guru akan menelpon Daddymu dulu..."
Heejin mencari kontak Jaemin dan memencet tombol hijau, dan tak lama kemudian nada telepon tersambung bersenandung.
"YAK! KAU DIMANA HAH! KAMI HAMPIR PINGSAN MENUNGGU DISEKOLAH, NARA SUDAH MENGANTUK, INGIN TIDUR SIANG....!!" Teriak Heejin membuat Jaemin diseberang sana menjauhkan ponsel dari telinga.
'Rip gendang telinga' Batin Jaemin lalu mendekatkannya lagi. Setelah sadar dari kelupaannya Jaemin menepuk kepalanya keras melupakan Nara disekolah membuatnya panik.
"Astaga Heejin, aku lupa! Yaampun, bagaimana ini...." Kalut Jaemin mengusap wajahnya yang lelah.
"Tentu saja kau harus kesini bodoh! Nara sudah kecapean menunggu!" Desak Heejin berasa ingin mendorong tubuh Jaemin kesungai Amazon.
"Tidak bisa Heejin, 15 menit lagi aku ada Meeting dengan klien penting. Dan ini proyek hanya sekali dalam seumur hidup." Cerocot Jaemin mondar mandir diruangannya. Dia bimbang meninggalkan atau mempertahankan Priyek penting itu.
"Lalu kami bagaimana hah, kasian Nara. Dia dari tadi diam terus karna kecapean..." ujar Heejin melirik Nara yang Cuek dengan pertengkaran Heejin dan Daddynya.
"Aa bagini saja. Kau bawa pulang Nara kerumahku dulu, alamatnya nanti aku kirim lewat SMS. Aku minta tolong, jaga Nara sebentar kemungkinan aku pulang agak malam nanti." Heejin masih melirik Nara yang menopang wajahnya dengan tangan, kasihan sekali jika ditolak Nara akan kesepian.
"Baiklah, cepat pulang ya, aku mau pergi kerumahmu sebentar lagi." mendengar itu Jaemin tersenyum penuh arti,
"Oke, nanti aku kirim alamatnya. Bay calon." Ujar Jaemin cepat mematikan ponsel, keceplosan Jaemin terdengar samar samar bagi Heejin. Dia mengangkat bahunya tak peduli lalu beralih pada Nara.
"Nara, kata Daddy... Kita pulang dulu kerumahmu, Bu Guru antar, ayoo..."
"Daddy lembur lagi?"
"Mmm, kata Daddymu mungkin agak pulang malam. Tapi jangan khawatir, Bu Guru akan temani Nara sampai Daddy Nara pulang, bagaimana?" Nara tersenyum mengangguk dan menggandeng tangan Heejin.
"Andai saja, Bu Guru Heejin adalah Mamaku. Pasti Aku senang sekali...."
Heejin yang mendengarnya hanya tersenyum canggung, sudah hampir 1 bulan ini tidak ada tanda tanda hubungan Jaemin dan Heejin. Mereka hanya akrab melewati Nara saja, jika tidak ada Nara, Jaemin maupun Heejin rasanya seperti orang asing. Heejin tau, mungkin Jaemin memiliki kekasih atau pasangan untuk jadi ibu tiri Nara nantinya.
.
.
.
.
.
.
.
Heejin mendongak keatas ketika melihat bangunan istana didepannya, benarkah ini sebuah rumah? Tapi kenapa semuanya seperti seakan akan masuk kedalam istana kerajaan. Patung air mancur berwarna putih disudut halaman rumah itu tampak indah, taman bunga disekitar rumah Jaemin tampak anggun dengan bermacam warna, kolam renang yang tampak dari depan rumah airnya begitu biru dan bersih, Heejin tak berbicara apalagi sekarang, ini benar benar menakjubkan.
"Ayo masuk Bu Guru, anggap saja rumah sendiri." Ujar Nara menarik tangan Heejin untuk masuk.
Benar benar rumah istana, bahkan didalam rumah Jaemin masih terdpaat bagunan bangunan tradisional Korea yang sangat mahal harganya, keramik lantai yang ia pijak begitu bersih dan bersinar, tiang tiang yang kokoh tampak berwarna keemasan, sofa sofa panjang nan mewah juga menjadi pusat perhatian Heejin, banyaknya Maid disana juga menjadi tontonan bagi Heejin.
"Nah sekarang, ganti baju Nara dulu, habis itu baru makan oke?" Nara mengacungkan jempol kepada Heejin,
__ADS_1
"Oke Bu Guru..." Heejin meletakkan tasnya di sofa, lalu membawa Nara menuju kamarnya di lantai atas, dia menuntun Nara hingga sampai di depan pintu,
"Masuk saja Bu Guru, tidak apa apa, Daddy tidak akan marah jika Bu Guru yang masuk." Heejin pun mau masuk, mengikuti langkah Nara memasuki kamar yang begitu besar nan cantik berdominan warna Ungu muda, cantik sekali, kasur beukuran besar bewarna Ungu, mempunyai TV berukuran besar, dan didinding terdapat beberapa poster BTS! Apa! Heejin pun mempercepat langkahnya memperjelas poster tersebut.
"Nara ya, kau mengidolakan BTS kah?" Nara yang sedari tadi fokus mengganti baju akhirnya menoleh pada Heejin.
"Bu Guru tau BTS?"
" Siapa yang tidak mengenali mereka, selain tampan mereka juga berbakat. Bu Guru sangat suka pada mereka, apakah kau suka pada mereka juga?" Tanya Heejin mengusap poster tersebut.
"Suka, Daddy membelikan banyak barang BTS untuk ku, sebentar akan kutunjukkan..." Nara pun berpindah pada laci, dan mengeluarkan beberapa barang dari sana seperti, Album, Lightstik, foto foto beberapa member, boneka BT21 dan lainnya.
"Ini beneran punya Nara?" Ujar Heejin tak percaya melihat satu persatu barang Nara.
"Iya Bu Guru, ini semua Daddy yang belikan. Mulai dari album, Lightstik, dan beberapa bermerek BTS ini semua dari Daddy..."
"Bahkan aku belum punya Lightstik Versi terbaru ini..." Ujarnya agak iri pada Nara.
"Itu hadiah ulang tahunku yang ke 8 tahun. Daddy membelikannya untuk aku supaya lebih rajin belajar." Heejin menyentuh Lightstik itu lalu menghidupkannya.
"WAH,,, DAEBAK!" Takjub Heejin melihat keindahan Lightstik BTS mengeluarkan warna yang indah.
"Kim Namjoon, Kim Seokjin, Min Yoongi, Jung Hoseok, Park Jimin, Kim Taehyung, Jeon Jungkook, BTS!!!" ujar Heejin meneriakkan ke 7 member dengan melambai lambaikan Lightstik itu seperti dikonser.
"Hahaha, Bu Guru Lucu sekali..."
.
.
.
.
.
.
"Daddy!!!" Teriak Nara beehambur memeluk Daddynya yang sedang setengah berbaring.
"Um, ya....bagaimana sekolah mu hari ini sayang?" Jaemi memcoba tersenyum pada Nara. Nara pun tersenyum sendu pada ayahnya.
"Daddy tak usah kerja lembur lagi, kasian Daddy....lebih baik Daddy istirahat saja ya? Nara akan tidur lebih awal hari ini...."
"Baiklah, Nara habis ini tidur jangan lupa cuci kaki, cuci tangan dan sebelum tidur jangan lupa baca doa, mengerti?"
"Siap Daddy...."
" Bu Guru, Nara kekamar dulu ya, sampai jumpa..." Heejin mengangguk, setelah melihat Nara sudah menuju kamarnya, Heejin maju memdekati Jaemin.
"Tidurlah di kamar,"
"Tolong bantu aku ke kamar, aku sudah lelah sekali..." Ujar Jaemin berpura pura keskitan pada bahunya membuat Heejin menyipit curiga.
"Tadi kau sok kuat, ini malah kesakitan." Jaemin hanya tersenyum gaje menanggapi ucapan Heejin.
"Yasudah, akan ku bantu."
Heejin membantu Jaemin berdiri dan memapahnya naik ke lantai atas, saat tiba di lantai atas, Jaemin tidak henti hentinya memandangi Heejin.
"Kau sedang tidak caper kepadaku kan?" ujar Jaemin menaruh curiga, dan Heejin pun melepaskan pegangannya kepada Jaemin alhasil nyaris saja Jaemin terjatuh indah di lantai.
"Hampir saja aku terjatuh, kau ini kenapa!" Protes Jaemin tak terima.
__ADS_1
"Kan kau bilang, aku sedang caper atau pun mencari perhatianmu. Maka dari itu aku melepaskan mu dari peganganku, "Ujar Heejin tanpa berdosa sedikitpun. Seketika Jaemin terdiam, kenapa Heejin sangat sulit sekali di goda saat seperti ini, sampai rela melepaskan pegangannya agar terbukti tidak caper pada Jaemin tadi.
"Bantuin dong, badanku sakit semua nihh..." diselimuti gengsi, Heejin pun memegang tangan Jaemin kembali memapahnya masuk kedalam kamar.
.
.
.
.
Jaemin mendudukkan diri di ranjang, sedangkan Heejin masih berdiri.
"Kenapa susah sekali sih, pake nyangkut segala!" Gerutu Jaemin ketika ingin melepaskan Jasnya namun kenapa sulit sekali, ini akal akalan Jaemin atau beneran sih? Entahlah Author pun bingung.
Heejin cukup jengah dengan protesan Duda itu sehingga ia turun tangan.
"Sini!" Heejin pun membantu Jaemin melepas jasnya, lalu menggantung di tempat gantungan baju.
"Aku ingin pulang..." setelah selesai menggantung jas Jaemin, Heejin berucap demikian.
"Menginaplah disini, ini sudah malam."
"HAH!"
"Kenapa kau begitu kaget? Bukankah aku pernah menginap di rumahmu dan kita tidur di satu ranjang dengan posisi berpelukan?" Jaemin memflasbackkan malam dimana ia memeluk Heejin.
"Bukan begitu, tapi kita belum menikah-'
"Jadi kau ingin aku nikahi dulu baru kau mau tidur disini?" sela Jaemin menaikkan sebelah alisnya menunggu jawaban Heejin.
Heejin bungkam, dia salah bicara. Sial, dia harus berbicara apa lagi jika begini.
"Jaemin....aku ingin pulang..." rengek Heejin seperti anak kecil. Jaemin pun berdiri menuju pintu kamar, dikira ingin membuka pintu namun ternyata.... Jaemin malah menguncinya.
"YAK! KENAPA KAU MENGUNCINYA...!!!" panik Heejin melihat pintu sudah terkunci dan Jaemin menyimpan kunci kamar di kantong celananya.
"Aku ingin membicarakan sesuatu padamu...." Nada bicara Jaemin tiba tiba serius.
"Ap....apa.." Gugup Heejin.
"Mau kah kau menikah dengan ku?" Tanpa basa basi lagi Jaemin melontarkan kata tersebut membuat Heejin menganga lebar tak percaya Jaemin akan melamarnya dikamar dan ini mendadak sekali.
"APAAAA!!!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.