DUDA TAMPAN(JAEMIN)

DUDA TAMPAN(JAEMIN)
part 4


__ADS_3

.


.


Sepertinya hari ini adalah hari kesialan bagi Jaemin, karna apa? Yah, baru saja dia ingin pulang dia sudah mendesah kesal karena meliht ban mobilnya kempes. Ditambah lagi didaerah rumah Heejin sangat jarang sekali ada Montir yang mau membaiki mobilnya Huja lebat malam malam begini. Jam sudah menunjukkan 8 malam, namun Jaemin masih saja kalut menimbang nimbang apa yang akan dilakukan.


"Daddy, sebaiknya kita menginap saja disini. Diluar masih hujan deras dan petir, Nara tidak mau sakit. Nanti tidak bisa sekolah." Bujuk Nara pada Jaemin membuat pria duda itu mendesah berat, mengacak acak rambutnya.


"Benar apa kata Nara, bahaya jika dipaksakan pulang. Lebih baik menginaplah disini."


Jaemin menatap Heejin dari atas sampai bawah, yang benar saja seorang Duda menginap di rumah seorang gadis perawan? Apa yang akan dilakukannya nanti jika kebablasan. Bisa bisa lebih bahaya. Namun benar juga, daripada Nara sakit, maka Jaemin mengalah. Dia pun mengangguk setuju berbaring di Sofa.


"Asikkk....Daddy, Nara pengen tidur bareng Bu Guru Heejin, bolehkan?"


"Lalu Daddy tidur sama siapa?"


"Daddy kan sudah biasa tidur sendiri, makanya kalau mau tidur ditemenin ya Daddy harus menikah." Ujar Nara mengggoda Jaemin beserta Heejin sekaligus.


"Anak Daddy sekarang sudah Nakal ya? Dasar! Sana tidur sama Bu Guru kesayanganmu. Daddy akan tidur diluar." Heejin tersenyum melihat keperubahan Jaemin saat ini. Perlahan tapi pasti, Jaemin akan meluangkan waktu bersama Nara walau beberpaa Jam sahaja.


"Selamat tidur Daddy..."


"Selamat tidur juga sayang.."


Cup....


Jaemin mengecup kening putri kesayangannya, mengacak ngacak rambut Nara sebentar. Setelah Nara pergi ke kamar Heejin, Jaemin melihat Heejin tampak diam memandangi Jaemin.


"Kenapa? Mau aku cium juga?" Celetuk Jaemin membuat Heejin berdesis geli. Dia melipat kadua tangan didada.


"Tunggu disini. Aku akan mengambilkan selimut dan bantal untukmu." kata Heejin memalingkan wajah.


Jaemin tersenyum penuh arti, menatap punggung Heejin yang mulai menjauh, dia memejamkan mata menikmati acara berbaringnya. Tak disangka saat asik memejamkan mata Jaemin harus menerima lemparan selimut dan bantal secara tiba tiba. Hal itu membuatnya duduk lagi.


"Yak!" Teriak Jaemin menyingkirkan selimut yang menutupi wajahnya.


"Pakai itu. Selamat tidur bersama nyamuk..." Heejin menatap Jaemin mengejek seraya melambaikan tangan.


"Oh Heejin membuatku kesal seharian ini. Dasar perawan tua!" Dumel Jaemin membenarkan bantal dan selimutnya.


Heejin sekarang sudah berada dikamar, dia menyelimuti Nara yang tidur menyamping menghadap Heejin.


"Tidurlah Nara, Bu Guru akan menjagamu." Ujar Heejin mengusap kening Nara.


"Apa Daddy sudah tidur?"


"Tidak tahu. Mungkin sudah." Jawab Heejin seadanya


"Daddy biasanya tak bisa tidur kalau ada nyamuk. Bu Guru tolong periksa Daddy, kalau Daddy sudah tidur nanti Bu Guru kesini lagi." pinta Nara dengan wajah imut. Heejin tak bisa menolak, dia pun keluar kembali memeriksa Jaemin diluar. Bagaimanapun Heejin tidak akan tega jika manusia tampan itu mati di gigit nyamuk.


Dan yang Heejin lihat, Jaemin sudah tidur tapi selimutnya sedikit merosot membuat Heejin berjalan menuju sofa.


"Huh, dasar. Bahkn selimut kampunganku pun menolak untuk menutupi tubuh sempurnamu." Ujar Heejin berdecak menaikkan selimut Jaemin. Saat hujan deras sekali, Heejin menghentikan nya sekejap menilik kaca rumah dan saat ada petir....


CTAAAAARRRRR


KLAPPPPPPPP


Heejin sungguh terkejut, ditambah lagi lampunya mati sehingga Heejin tak sadar menimpa tubuh Jaemin. Dia sangat takut gelap apalagi disertai petir.


"Ugh..." Jaemin terjaga. Dia membuka matannya dan gelap, tapi dia merasakan dada bidangnya menumpu sesuatu dan aromanya ia kenali, ini aroma Heejin.


"Heejin?"Heejin terkesigap menatap wajah Jaemin di bawah kegelapan, dia tampak takut sehingga ia tak berbicara. Jaemin menyentuh pinggang Heejin membuat dia menahan nafas. Kenapa seintim ini sih? Kalau begini nanti aku bisa Khilaf. Pikir Jaemin protes pada keadaan.


"Aku takut gelap....."


"Suttss....tenanglah. Ayo bangkit, tidak perlu takut ada aku disini." Ujar Jaemin berbisik. Perlahan dia membangkitkan diri diikuti Heejin yang masih melekat padanya. Bahkan sekarang Heejin duduk dipangkuannya. Oh ayolah Jaemin adalah pria normal, jika Heejin adalah istrinya mungkin ini adalah akhir dari kebugaran Heejin, sudah pasti Jaemin akan menggempur gadis ini sampai ia puas. Ah membayangkan nya saja membuat Jaemin berkeringat apalagi jika beneran.

__ADS_1


"Dimana Nara?" Kata Jaemin teriingat pada gadis kecilnya.


"Astaga! Nara dikamar. Dia pasti ketakutan!"


"DADDYYYY!!!" sudah dibilang kan Nara sedang berteriak memanggil Daddynya yang asik berhayal itu. Secapat mungkin mereka menuju kamar dan menemui Nara yang meringkuk ketakutan.


.


.


.


.


.


.


Disinilah mereka berada, berkat hujan beserta petir yang menyeramkan diluar, menyebabkan Jaemin tak bisa kemana mana selain menunggu kedua gadis kesayangannya? Oh bukan dua, tapi satu. Kalau yang satunya Jaemin belum yakin untuk menyayangi gadis galak seperti Heejin. Posisi mereka sekarang Jaemin berada ditengah ranjang sedangkan Heejin dan Nara berada disamping kiri kanan Jaemin. Dan jangan lupakan hanya ada satu lilin yang menemani mereka bertiga.


"Daddyyy...kenapa lampunya mati .." Ujar Nara memecah keheningan.


"Entahlah. Mungkin karna hujan deras. Ini sudah biasa" Ujar Jaemin menangkan Nara,


"Jaemin, bagaimana kalau ada hantu?! Aku takut sekali dengan gelap..." Ujar Heejin merapatkan diri ke Jaemin ketakutan membayangkan hantu muncul di bawah ranjang. Itu menggelikan bagi Jaemin.


"Mana ada hantu yang mau menakutimu. Sebelum kau teriak ketakutan mungkin hantu itu akan berlari terbirit birit ketika kau menyodorkan sendok sayur dan memukul nya seperti kau memukulku tadi." Ungkap Jaemin mengingat kejadian tadi.


"Jaemin!"


"Ah baiklah. Aku menyerah, sebaiknya kau tidur Nara, ini sudah larut."


"Baik Daddy." Nara membaringkan dirinya ke ranjang dengan memeluk tangan Jaemin dan mulai memejamkan mata.


"Kau juga tidur, berbaringlah disini, aku tidak akan macam macam padamu." Jaemin menepuk pahanya membuat Heejin menatapnya ragu.


"Jika tidak ada Nara disini, mungkin kata katamu ada benarnya juga," Heejin bungkam melirik Nara yang tertidur.


"Tidurlah. Aku tidak akan macam macam padamu. Aku janji." Heejin pun menghela nafas lelah dan membaringkan diri disana dengan paha Jaemin sebagai bantalnya, dia memejamkan mata mencoba tidur.


"Aku seperti mempunyai dua anak sekarang." Gumam Jaemin terdenyum mengusap rambut Heejin dan Nara secara bergantian.


Pukul 3 pagi, Heejin terbangun, lampu sudah menyala dan hujan juga sudah reda. Tapi ia masih tidur di pangkuan Jaemin. Kasian sekali, disaat Heejin enak enaknya tidur Jaemin malah tidur dengan posisi duduk.


Heejin pun bangun, mencoba membantu Jaemin berbaring dengan hati hati, Nara sepeprtinya tak terjaga sehingga Heejin dengn sigap memegang tubuh Jaemin dan membaringkannya ke ranjang dengan posisi benar walau agak berat namun tak maslaah, Jaemin sudah banyak berkorban untuknya tadi.


GREPPP


Tiba tiba saja Jaemin memeluk Heejin sehingga memaksa Heejin agar berbaring, apa mungkin Jaemin menganggap dirinya adalah bantal guling?


"Jaemin...." Heejin mencoba melepaskan diri dari pelukan Jaemin.


" Sutss...jangan berisik. Nanti Nara bangun, tidurlah lagi.." Ujar Jaemin masih dengan mata terpejam.


"Tapi......"


"Jika masih berbicara akan ku cium kau," bungkam, Heejin bungkam, dia tak melawan selain menuruti kemauan Jaemin agar tidur dipelukannya. Heejin tentu saja sangat senang dipeluk duda tampan itu padahal mereka belum menikah.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Entah sudah berapa ratus kali sekarang Jaemin tersenyum, semenjak pulang dari kediaman Heejin membuat dirinya selalu tersenyum geli mbayangkan wajah malu Heejin ketika dirinya memeluk Heejin tiba tiba.


"Hentikan Jaemin, kau membuatku ingin muntah melihat wajahmu yang selalu tersenyum itu." Dengus kakaknya, Soobin melempar dokumen pada Jaemin karna muak melihat wajah adiknya yang selalu tersenyum.


"Hyung ternyata, ada apa?"


"Ada apa? Yak! Aku sudah berdiri setengah jam diluar mengetuk pintu tak kau dengar lah?" Omel Soobim menunjuk pintu.


"Oh. Maaf, alu sedang sibuk jadi tak memdengarmu..."


"Sibuk memikirkan gadis kah? Wajahmu dari tadi berseri seri seperti orang ABG jatuh cinta.."


"Menurut Hyung? Aku sekarang seperti itu ya?"


"Yah, Nara sudah cerita kemarin kepadaku, katanya kau lagi dekat dengan Guru SD Nara, benarkah?" Soobin memastikan.


"Kalau menurut Hyung, dia bagaimana?"


"Langsung Gas Jaemin, nikahi saja kalau kau merasa nyaman. Lagipula kau sudah 8 tahun hidup sendiri. Sudah saatnya kau menikah." Jaemim terdiam memperhatikan Hyungnya dengan tatapan aneh.


"Hyung, dia orangnya bar bar. Aku pernah dipukul menggunakam sendok sayur olehnya gara gara aku telat menjemput Nara." adu Jaemin.


"Itu artinya, dia sayang pada Nara. Dia begitu kahwatir pada Nara karna kau tidak menjemputnya, bisa disimpulkan dia sangat menyayangi putrimu."


"Punya istri emang enak ya?"


"Oh jelas saja enak. Kau bisa bayangkan kenikmatannya..." Soobin menggantungkan kalimatnya dan Jaemin mulai berhayal kotor.


Setelah menikah, Jaemin berhayal seorang Heejin keluar dari kamar mandi sedangkan dia duduk diranjang dengan bersandar, perlahan Heejin mendekat dengan melayangkan tatapan menggodanya, sesekali dia menjilat bibir bawahnya untuk menggoda Jaemin.


"I want..You...baby..." Ucapan sensual Heejin sudah Jaemin hayalkan, dia meneguk ludah ya susah payah membayangkan Heejin duduk diatas pahanya membuka pakaiannya lalu meraba dadanya seakan akan memanggilnya untuk membalas perlakuan Heejin,


"Touch...me...please~~~" Jaemin mungkin sudah gila menghayalkan sesuatu yang tidak efic, dia kemudian berteriak.


"ARGHHH TIDAK....." Soobin langsung terlonjak kaget bukan main,


"Yak! Kau kenapa berteriak tiba tiba!" Ujar Soobin kesal.


"Membayangkan Heejin membuka baju saja membuatku geli apalagi begituan..." Gumam Jaemin memijit keningnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2