DUDA TAMPAN(JAEMIN)

DUDA TAMPAN(JAEMIN)
part 2


__ADS_3

.


.


Heejin tersenyum gaje saat Jaemin mengulurkan tangan. Dia tanpa ragu langsung membalasnya dengan senyum sumbryah.


"Jeon Heejin Guru Nara." Ujarnya tak melepaskan jabatan tangannya. Jaemin tersenyum lalu melirik tangan Heejin yang tak kunjung melepaskan tangannya.


"Bu Guru Heejin, naksir sama Daddy Nara ya.." Goda Nara yang melijat tatapan berbunga bunga dari Heejin.


"Ah eum....Tidak...Bu Guru tidak naksir kok..." Ujarnya masih menjabat tangan Jaemin enggan melepaskan. Namun Jaemin membiarkan gadis itu tetap pada kesenangannya menunggu sesuatu.


"Kalau tidak Naksir, terus kenapa Bu Guru masih menjabat tangan Daddy,..." Benar apa kata Jaemin, dilihat Heejin menatap tangan mereka dan melepaskannya secara tiba tiba. Dia malu sekali kepergok tak sadar memegang tangan Daddy Nara.


"Maaf ..." nunduk Heejin menghindari tatapan mematikan Jaemin.


"Tidak masalah. Yasudah, ayo Nara kita pulang." Jaemin memegang tangan Nara lalu berbalik.


"Daddy, boleh tidak Bu Guru Heejin ikut pulang bersama kita?" kata Nara menghentikan langkah pria tampan itu. Jaemin melihat Heejin sedang menepikan rambut panjangnya, dihiasi pipi merah merona, oh my god, apa dia malu karna seorang duda Jaemin?


"Tidak usah Nara, bu Guru akan naik angkutan Umum nanti. Tidak apa apa." Balas Heejin merasa ia merepotkan Jaemin.


"Jangan menolak. Masuklah, aku akan mengantarmu pulang." Ungkap Jaemin membuka pintu mobil, dan Nara dengan cepat menarik tangan Heejin lalu masuk kedalam mobil.


"Terima kasih. Emm Tuan, sebenarnya jangan repot repot..."


"Panggil saja Oppa, berapa umurmu?" Tanya Jaemin menghidupkan mesin, Nara menyenggol Heejin yang gugup saat ditanya Jaemin.


"Eumm 23 Op..oppa.." Jaemin terkekeh pelan setelah itu ia tak berbicara lagi selain dari Nara yang bercanda dengan Heejin di bangku belakang.


Jaemin menilik semua itu melewati kaca. Dilihatnya Nara selalu tertawa saat Heejin melontarkan lelucon receh. Tanpa disadar Jaemin tersenyum haru melihat pemandangan itu, dia rindu suasana indah ini. Semenjak Nara hidup bersma dirinya, Seingat Jaemin, Nara tak pernah tertawa selepas itu selain dengan Heejin.


"Dimana rumahmu?" Tanya Jaemin disela sela mereka bercanda. Heejin menunjuk rumah berukuran minimalis sebelah kanan,


"Disini saja. Itu rumahku.." Heejin mencubit pipi Nara terlebih dahulu sebelum keluar,


"Rumah mu sepi sekali. Dimana orang tuamu?"


"Eum..orang tuaku sudah lama meninggal. Aku anak yatim piatu.." Ujar Heejin berusaha tegar mengingat orang tuanya. Jaemin pun mengangguk mengerti, dia tersenyum sekali lagi menennagkan Heejin.


"Baik baiklah disini. Aku pulang dulu."


"Bu Guru! Sampai jumpa besok ya, Nara pulang dulu..." Ujar Nara menilik lewat kaca mobil melambaikan tangan.


"Dahh...Nara...." Jaemin menutup kaca mobil lalu memutar kemudi lalu meninggalkan wilayah rumah Heejin. Disaat mobil Jaemin sudah menghilang Heejin berjingkat jingkat senang sekali, dia merasakan sesuatu bergetar di dalam dirinya.


'Duda Tampan' Batin Heejin menggigit bibir lalu masuk kedalam rumah.


.


.


.


.


Nara kini sudah pindah posisi disamping Daddynya. Dia melirik ayah tampannya, Jaemin tersenyum melihat Nara yang ikut tersenyum. Seperti inilah yang Nara mau, Daddynya selalu ada untuknya bukan hanya sibuk bekerja.


"Daddy, bagaimana pendapat Daddy tentang Bu Guru Heejin..."


"Baik, dan suka bercanda." Balas Jaemin singkat membuat Nara mengembungkan pipinya sebal.


"Daddy terlalu dingin pada perempuan. Bu Guru Heejin cantik kan?"


"Cantik, memangnya kenapa?" Ah sudahlah Nara cukup lesal dengan penuturan kata Jaemin, dia tak peka permintaanya.


"Daddy tidak naksir sama Bu Guru Heejin?"


"Apa yang kau bicarakan Nara, Daddy sedang menyetir, jangan bertanya yang tidak tidak..."Elak Jaemin fokus pada kemudi.


"Daddy......" Rengek Nara membuat Jaemin menghela nafas.


"Memangnya Bu Guru Heejin belum menikah?" Tanya Jaemin menyipitkan mata.


"Belum. Kalau Daddy mau, yasudah tinggal nikahi saja Bu Guru Heejin." Celetuknya asal.


"Nara Nara, memangnya Bu Guru Heejin mau sama Duda kayak gini..." Jaemin menunjuk dirinya sendiri.


"Daddy kan Tampan, Nara yakin banyak yang naksir sama Daddy termasuk bu Guru Heejin."


"Ada ada saja kau ini..." Kata Jaemin menyudahi pembicaraannya kembali fokus pada jalanan, membiarkan Nara bernyanyi riang didalam mobil.


.


.


.


.


.


.


Heejin mengaduk aduk mie intan dengan raut wajah berseri seri. Bagaimana tidak wajah Daddy Nara masih melekat di netra nya. Dia akui Jaemin sangat tampan, bahkan ketika umurnya hampir menginjak kepala tiga, tapi entah kenapa Jaemin seperti bujangan yang baru lulus SMA.


"Yatuhan tampannya....." Gumam Heejin mencubit pipi kanan yang terasa panas.


.


.


.


.

__ADS_1


Jaemin memakai kemabli pakaian kantornya ketika mendapat telepon dari sekretaris bahwa ada masalah di kantor. Ini sudah jam 9 malam, tapi Jaemin tak bisa tidur sehingga ia memilih akan menyelesaikan masalah kantor agar ia bisa tenang.


"Daddy mau kemana?" Tanya sang anak ketika melihat sang ayah seperti terburu buru.


"Nara sayang, kenapa belum tidur? Masuklah ke kamarmu, Daddy ada kerjaan dikantor..." Dia berjongkok menyamai posisi Nara yang memayunkan wajahnya.


"Malam malam begini, Daddy ingin meninggalkan ku?!"


"Bukan begitu sayang, Daddy ada kerjakan sebentar setelah itu Daddy pasti pulang." dia mengelus rambut Nara dengan penuh kasih sayang.


"Padahal Nara pengen tidur bareng Daddy, ayolah jangan pergi.."


"Maaf sayang. Daddy tidak bisa, Nara tidur sendiri dulu ya?" Dia agak menjauh dari Jaemin,


"Selalu begitu. Daddy tidak sayang sama Nara, I Hate You!!' Jaemin terkesigap mendengar bentakan Nara yang terdengar menyakitkan.


"Nara, Daddy sayang sama Nara. Please, Dont Cry Dear. Daddy hanya pergi sebentar." Jaemin mendekat dan menghapus air mata Nara.


"GO AWAY! I HATE YOU!" Setelah mengucapkan itu Nara berlari menaiki tangga dan membanting pintu kamar. Hal itu membuat hati Jaemin berdesir sakit. Dia sedih mendengar kata 'Hate' dari darah dagingnya sendiri.


"Maafkan Daddy..." Gumam Jaemin menatap langit langit rumah dan memutuskan untuk pergi ke kantor walau Nara masih marah padanya.


.


.


.


.


.


Cklek


"HALO PUTRI PAMAN~ KAU TAK AKAN PERCAYA DENGAN APA YANG PAMAN BAWA UNTUK-"


Seorang pria berumur sekitar tiga puluh tahunan itu menghentikan teriakannya saat melihat Nara menatapnya dengan berurai air mata.


"Pergilah Soobin Uncle, aku ingin sendiri." Nara duduk diatas kasur kemudian mengusap kasar air matanya. Yap benar Soobin datang dalam waktu yang tidak tepat niatnya datang malam malam ingin membuat kejutan pada keponakan kesayangannya tapi Yang didapati Soobin adalah uraian air mata Nara yang menyedihkan.


"Heh, kau mengusir pamanmu yang unyu ini?" Soobin melangkah mendekat dengan sebuah cokelat berukuran besar ditangannya. Pria itu menduduki kasur disamping Nara duduk.


"Lihat, paman membawakan cokelat kesukaanmu, didalamnya ada kacang favoritmu"


Nara meraih cokelat yang diulurkan Soobin, kemudian mengulas senyum paksa.


"Terimakasih"


"Apa yang terjadi?"


"Tidak ada"


Soobin mendengus kemudian menopang dagunya, "Kau tidak mau cerita ya, dasar pelit"


"Kau menangis, itu artinya masalahmu cukup besar"


Nara tertunduk diam, gadis kecil itu kembali meneteskan air matanya. Melihat itu Soobin segera menarik Nara untuk duduk diatas pangkuannya, tangan pria itu terangkat menghapus air mata keponakannya.


"Hiks, hiks,"


"Don't cry honey"


"Aku benci dia."


"Who?"


"Dad.."


"Apa yang dilakukannya padamu?"


"Dia tidak sayang padaku, hiks"


Soobin mendesah pelan kemudian menangkup wajah Nara menggunakan telapak tangannya,


"Paman juga membencinya"


"Uncle juga?"


"Ya, Dad mu itu sok cool, jelek, rambutnya saja gayanya kuno, dimana letak istimewanya? Dia itu payah"


Nara terkekeh, "Kau benar Uncle"


"Sekarang, katakan dengan jujur, siapa yang lebih tampan dari kami berdua?" Soobin mengibas rambutnya kemudian menaik-naikkan kedua alisnya.


Oh Soobin, sebenarnya yang sok cool itu siapa?


"Eum tentu saja Uncle-ku" Nara mencium singkat pipi Soobin.


"Sudah kuduga." Soobin berucap bangga,


Memang itulah tujuan Soobin dia ingin menghibur keponakan tersayangnya itu. Soobin bukan tak tau kalau setiap harinya pasti ada pertengkaran kecil antara Nara dan Jaemin.


Ditengah kesibukannya yang menggila, Soobin pasti tetap menyempatkan diri untuk mengunjungi Nara, sekedar untuk bermain ataupun makan bersama.


Karena Soobin tau, Nara kesepian.


Tinggal didalam rumah yang amat besar ini tanpa orang yang bisa diajak bermain, sama saja dengan tinggal didalam kuburan.


Sebenarnya, Soobin sudah mencoba membujuk Jaemin agar adiknya itu mengizinkan Nara tinggal dirumahnya, setidaknya disana ada istri dan kedua anaknya yang akan menemani Nara main. Dengan begitukan Nara tak merasa kesepian lagi.


Namun Jaemin menolaknya mentah-mentah. Dengan alasan dia ingin menjaga Nara sendiri. Ingin sekali Soobin meninju wajah adiknya itu. Bayangkan, Jaemin saja selalu sibuk dengan pekerjaannya, bagaimana bisa dia menjaga Nara?


Soobin hanya pasrah untuk itu semua. Karena Nara memanglah hak Jaemin sebagai ayahnya.


"Sudah berhenti mainnya, sekarang paman ingin bertanya padamu"

__ADS_1


"Apa itu?"


Soobin membelai lembut kepala Nara.


"Apa kau benar-benar membenci Dad mu?"


"Ya" Jawab Nara datar.


"Atas dasar apa?"


"Karena dia selalu tidak ada waktu untukku."


"Itu saja?"


"Karena dia tak peduli padaku"


"Sudah, itu saja?"


"Kadang kadang Daddy juga membentakku."


Soobin tersenyum lembut kemudian mengecup pipi Nara.


"Hanya tiga itu alasanmu? Kau lupa bahwa dia yang selama ini menjagamu? Dia yang selama ini memberikan apapun yang kau mau? Dia yang selama ini menyayangimu? Apa kau lupa bahwa Na Yunara yang sekarang adalah karenanya?"


Nara tertunduk diam.


"Seorang ayah, tak pernah ingin yang terburuk untuk anaknya, dan seorang anak, tak seharusnya membenci ayahnya. Kau mengerti?" Soobin mencubit pipi Nara.


Nara terdiam dan merenung lama, Soobin sabar menunggu gadis itu berfikir. Selang beberapa menit, Nara mengangkat wajahnya dan tersenyum pada sang paman.


"I love you Uncle"


Tubuh Soobin terdorong kebelakang saat Nara memeluk lehernya dengan erat, pria itu membalasnya dengan pelukan yang tak kalah erat pula.


"Sudah berhenti membenci Dad mu?"


"Ya, aku yang salah."


.


.


.


.


.


.Malam sudah larut, Jaemin baru saja pulang dengan wajah letih luar biasa.


"Apa Nara sudah tidur?"


"Sudah tuan. Tadi Tuan Soobin datang kemari"


"Lalu?"


"Dia baru saja pulang Tuan, mungkin Tuan Soobin yang menidurkan Nona Nara."


Jaemin mengangguk kemudian berjalan menaiki tangga.


Pria itu berjalan melewati kamarnya menuju kamar Nara.


Kenop itu Jaemin putar, kamar Nara tampak gelap, hanya diterangi oleh satu lampu tidur.Jaemin berjalan masuk.


Disana terlihat Nara tengah tidur dengan lelapnya, ditutupi oleh selimut tebal yang mencapai dagunya.


Jaemin tersenyum tipis kemudian menduduki sisi ranjang. Tangannya terangkat untuk mengelus-elus pipi putrinya. Sisa-sisa air mata masih membekas dipipi Nara, membuat hati Jaemin semakin sakit.


Wajah polos itu lagi-lagi membuat Jaemin tersenyum, penatnya hilang begitu saja jika dia sudah melihat wajah putrinya. Mereka tak punya waktu untuk bersama, bahkan bertemu saja jarang. Jaemin selalu pergi lebih awal saat Nara belum bangun dan pulang lebih larut saat Nara sudah terlelap.


Namun, apapun ceritanya, sepulang kerja Jaemin pasti menuju kamar Nara lebih dulu, sekedar melihat wajah anaknya walaupun Nara sedang tertidur. Seperti ada kekuatan tak nyata yang Nara berikan untuknya.


"Nghh.."


Jaemin berjingkat, dengan cepat dia menghentikan elusannya. Apa elusannya terlalu keras sehingga membuat Nara terjaga? Jaemin berdesis pelan, untuk menenangkan Nara kembali. Nara akhirnya kembali tertidur walaupun tadi sedikit merubah posisi.


Jaemim mengecup dahi Nara dalam waktu yang lama, kemudian menarik selimut untuk lebih menutupkan tubuh putrinya. Pria itu membalik badannya hendak melangkah pergi.


"...Dad?"


Jaemin dengan kilat menatap wajah Nara, apa gadis itu baru saja memanggilnya?


"Dad jangan pergi...."Nara berucap serak namun matanya tetap terpejam, gadis itu mengigau.


Jaemin pun mengelus lembut kepala putrinya sebagai jawaban.


"Dad aku sayang padamu, maafkan aku" Jaemin tersenyum mendengarnya. Dia meletakkan tas kerjanya di atas meja lalu ikut membaringkan di samping Nara. Memeluk putri kesayangannya sebagai hadiah bahwa Nara sudah tak marah lagi padanya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2