
.
.
Setelah berhasil melamar Heejin, Jaemin pun memberitahukannya kepada Nara, terlihat jelas bahwa Nara sangat senang serta kagum dengan keberanian Daddynya melamar Guru di sekolahnya itu. Terhitung 6 hari lagi mereka menikah, mereka berencana hari ini Jaemin akan membawa Heejin kebutik paling bagus di Seoul untuk mencarikan nya gaun pengantin, serta membelikan cincin pernikahan.
"Daddy, jam berapa Daddy akan kebutik bersama Mama Heejin?" Hari ini adalah jari libur Jaemin, dia mengambil cuti 2 minggu kedepan karena kesibukannya untuk menjadi pengantin baru. Setelah mengetahui bahwa Daddynya akan menikah dengan Heejin, Nara pun tak sungkan memanggilnya dengan sebutan Mama.
"Jam 2 siang, memangnya Nara mau ikut Daddy sama Mama Heejin kebutik Hem?" Nara spontan menggeleng.
"Tidak ah. Nanti Nara jadi obat nyamuk lagi, Daddy perginya sama Mama aja. Nara akan tunggu dirumah, oke?" Jaemin mengacak surai hitam Nara dan mereka melakukan tos bersama.
"Nara senang sekarang, Daddy yang sekarang sudah banyak berubah, lebih banyak meluangkan waktu dirumah bermain dengan Nara, ini pasti berkat Mama Heejin yang selalu memukul kepala Daddy." Ujar Nara tertawa geli meliat keperubahan ekpresi Jaemin.
"Daddy nakal sih...." Lanjut Nara mengejek Daddynya yang cemberut.
"Daddy kan cuma lupa..." Bela Jaemin,
"Oh ya Nara, kalau nanti Daddy sama Mama Heejin menikah, Nara mau minta hadiah apa?" Pancingan Jaemin membuat Nara memikirkan hal yang diinginkannya.
"Daddy tau sendiri kan, rumah sebesar ini sangat sepi kalau tidak ada anak kecil, maka dari itu Nara minta adik dari Daddy dan Mama Heejin."
"Adik?" Ulang Jaemin dengan mata menyipit,
"Iya adik, I Want To Sister From Daddy Now!"
"Adik perempuan?"
"Nara ingin punya teman bermain boneka, pasti seru..." Nara membayangkan dia sudah mempunyai adik perempuan yang lucu.
"Kalau nanti laki laki bagaimana?"
"Mau perempuan atau laki laki, Nara tidak masalah, asalkan adik Nara nanti lucu dan nurut sama Nara sebagai kakaknya." Jaemin tersenyum hanngat pada Nara, setelah itu dia mengangguk.
"Baiklah, nanti Daddy akan berikan adik adik yang lucu untuk Nara, sekarang Daddy mau jemput Mama Heejin dulu, Nara dirumah oke?"
"Oke Daddy!" Nara mengacungkan jempol pada Jaemin, setelah itu Jaemin meninggalkan Nara di dalam kamar untuk bersiap siap kebutik bersama Heejin.
.
.
.
.
.
.
Di butik.....
Disanalah terdapat sepasang calon pengantin baru sedang memilih milih gaun dan Jas untuk mereka. Heejin memilih pilih gaun anggun di depannya sedangkan Jaemin tampak sudah mendapatkan Jas yang cocok untuknya. Si calon suami menghampiri calon istri,
"Kau belum mendapatkan gaun yang cocok?" Heejin menggeleng,
"Gaunnya mewah mewah semua, pasti harganya mahal sekali..." Jaemin pun melihat label harga tersebut, satu gaun seharga belasan sampai jutaan Won, tak ada raut gelisah di wajah Jaemin dia sudah biasa soal begini.
"Pakai semuanya, aku akan memilihnya nanti jika aku melihatmu memakai semua gaun ini.."
"Semuanya?"
"Cepatlah, selepas ini kita akan membeli cincin..." Jaemin memanggil petugas butik untuk menuntun Heejin agar memakai Gaun tersebut sedangkan dia duduk bersantai di kursi menunggu keluarnya Heejin didalam ruang ganti.
__ADS_1
10 menit kemudian.......
Heejin pun keluar dengan memakai Gaun warna seputih kertas, dia berdiri dihadapan Jaemin untuk beberapa menit. Jaemin meneliti satu persatu hiasan di gaun tersebut. Samapi akhirnya ..
"Ganti, gaunnya terlalu panjang!" Dia mengibaskan tangan mengkode supaya Heejin masuk kembali kedalam gaun ganti. Heejin pun mengendus kesal masuk kedalam ruang ganti lagi,
10 menit kemudian.....
Jaemin menatap dari atas sampai bawah, netranya terkunci dibagian pinggang Heejin.
"Terlalu kecil, kau tidak akan bisa bernafas dengan gaun seketat itu!" Omel Jaemin menunjuk pinggang Heejin. Balik semula, Heejin pun masuk kembali dengan tanduk dikepala, Jaemin terlalu banyak protes sehingga Heejin yang kesusahan.
Gaun berikutnya.....
Jaemin berdecak melihat gaun dipakai Heejin, tidak berlengan, dan Jaemin tidak suka model seperti itu!
"Yak! Lengannya tidak ada, bagaimana jika gaunnya merosot, bisa bisa kau jadi tontonan tamu!" Protesnya lagi. Heejin mengepalkan tangan lalu masuk kembali dengan kaki dihentak hentakkan.
Gaun berikutnya.....
Laki laki Duda itu menatap dari bawah hingga atas, matanya terkunci pada bagian Dada Heejin,
Yak! Siapa yang membiarkan gaunnya sedikit terbuka, Jaemin tidak rela dada istrinya dipertontonkan nanti.
"Kau ingin memamerkan belahan Dada pada tamu nantinya? Gaunnya jelek! Ganti lagi!" Cukup sudah, Heejin sudah kehilangan kesabaran,
"Apa kau pikir aku tidak lelah dengan bergonta ganti gaun di dalam sana hah! Kau taunya hanya memprotes!" Heejin menyaringkan nada bicaranya sampai sampai orang menatap mereka bingung. Jaemin menatao sekelilingnya dan benar saja orang orang terpaku pada teriakan Heejin.
"Heejin, pelankan suara mu, lihatlah mereka menatapmu aneh..." Ujar Jaemin pelan mengkode melalui ekor matanya.
"Biarin, biarin semua orang tau, bahwa aku mempunyai calon suami yang banyak protes! Dasar gila!"
BUGHHH......
"Heejin, jangan buat aku jadi buruk di pikiran orang orang, ayolah ganti gaunmu setelah itu kita ke toko cincin.." Bujuk Jaemin mengusap bahu Heejin.
"Tidak mau! Kau saja yang pakai gaunnya! Aku capek!" Rupanya Heejin masih ngambek, Jaemin harus ektrak sabar menghadapi sikap Heejin.
"Heejin sayang....kumohon ganti sekali lagi selepas itu aku janji tidak akan protes atau kau mau gaunnya aku pilihkan, bagaimana?" Heejin memalingkan wajahnya,
"Baiklah, tunggu disini ya....aku akan carikan gaunnya yang pas untukmu..." Jaemin berlaoh posisi ke jejeran gaun mewah, dia melihat satu persatu, tak lupa Jaemin memperhatikan model dan ukurannya agar Heejin tidak gonta ganti lagi seperti tadi.
Jaemin pun mengambil satu gaun yang menurutnya cocok pada tubuh Heejin, belahan dada cukup tertutup, lengannya tidak terlalu pendek dan panjang gaunnya standar, ukurannya agar besar walau tak sebesar tubuh Kekeyi ( Apaan si lu thor!) , yah Jaemin sudah cocok dengan gaun itu. Dia pun menuju Heejin dan memperlihatkan gaun tersebut.
"Ini pasti cocok, ayo ganti..."
"Beneran nanti kau tidak protes lagi?" Heejin menerima uluran gaun tersebut dan menatap Jaemin sinis.
"Tidak, mau cocok atau tidak aku tidak akan protes...ayo ganti lagi, atau kau perlu bantuan ku didalam?"
"Enak saja! Mesum!!' Heejin melenggang pergi dengan membawa satu gaun pilihan Jaemin. Disana Jaemin tersenyum jahil menatap punggung Heejin yang sudah hilang ditelan tirai ruang ganti. Dia pun kembali duduk, dengan kaki satu dinaikkan.
Tak lama kemudian.....
Benar saja tebakan Jaemin, gaun pilihannnya benar benar cocok pada Heejin, sangat anggun dan cantik, Jaemin sampai sampai melongo sekejap memperhatikan keindahan dari perpaduan tubuh mungil Heejin dengan gaun mewah itu.
"Cantik sekali..." Gumam Jaemin tanpa sadar.
"Bagaimana?" Heejin memutar mutar tubuhnya di depan Jaemin.
"Perfect!! Sempurna..!!" Heejin tersenyum samar, merasa senang dipuji calon suaminya.
"Tolong bungkus gaun yang dipakai calon istri saya beserta Jas yang tadi, nanti ada orang suruhan saya yang akan mengambil barang disini!" Titah Jaemin pada pelayan disana,
__ADS_1
"Baik Tuan, "
.
.
.
.
.
Toko Cincin......
"Biarkan aku yang memilih..." Ujar Heejin, diangguki Jaemin. Heejin menunjuk satu persatu memilih cincin yang paling pas untuknnya dan Jaemin.
"Yang ini bagaimana?" Dia menyenggol Jaemin untuk melihat jejeran cincin berlian disana.
"Permatanya bunga, aku tidak suka. Bagaimana aku bisa memakai dengan model seperti itu?" Heejin menghela nafas lelah,
"Kalau yang ini?"
" Kau bercanda? Ukuran jari manisku terlalu besar kalau dipasangkan dengan cincin pilihanmu itu." Protes Jaemin lagi dan lagi.
"Bagaimana dengan yang itu?" Tunjuk Heejin lagi mendapat gelengan dari Jaemin.
"Seleramu jelek sekali," Ungkap Jaemin menghembuskan nafas lelah.
"Kau maunya apa sih! Dari tadi kau membuatku kesal terus tau! Mulai dari gaun sekarang malah cincin besok apalagi hah!" Heejin cukup kesal dengan segala protesan Jaemin, dia pun menyilangkan tangannya ke Dada pertanda dia merajuk lagi seperti kejadian di butik.
"Heejin, aku hanya memilih yang terbaik untuk pernikahan kita, tolonglah jangan ngambek..."
"Itu sudah biasa Tuan ,biasanya jika menjelang pernikahan calon pengantin pasti ada bertengkarnya.." Ujar pelayan toko itu membuat Heejin menoleh sedikit,
"Baiklah, Heejin pilihlah sesukamu, aku akan setuju.."
" Beneran?"
"Iya, pilih saja. Selepas itu kita pulang, " Jaemin mengalah kembali seperti kejadian di butik tadi, dia tidak mau di cap sebagai pria buruk dimata orang maupun di mata calon istrinya sendiri.
" Yes....baiklah, akan kupilih..." Ujar Heejin diiringi senyuman,
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1