
Hari-hari Elaine lewati seperti biasanya. Menemani dan melayani Ratu Emillia walau waktunya dan Ratu Emillia berkurang karena sahabatnya kini telah memiliki suami.
Saat itu Elaine dan Ratu Emillia tengah berbincang tentang keterlambatan pengiriman barang dari Kerajaan Selatan bersama Richard.
“Maaf, Yang Mulia. Barang-barang akan segera dikirim jika cuaca sudah memungkinkan untuk kapal berlayar.” Ucap Richard sopan.
“Baiklah, Richard. Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Duchess Audrey?”
“Kabar terakhir beliau masih terbaring lemah, Yang Mulia.”
“Begitu ya, semoga ibu Duke Sean segera sembuh.”
Yah, keesokan hari setelah pernikahan Ratu Emillia dan Pangeran Harold, Duke Sean langsung kembali ke Kerajaan Selatan karena utusan Kerajaan Selatan memberi kabar bahwa Duchess Audrey jatuh sakit. Usia beliau memang memasuki masa terlemah ditambah penyakit gula turunan yang beliau derita.
Tak lama tiga pelayan wanita datang menghampiri Ratu Emillia. Salah satu pelayan nampak berkeringat dingin dan panik. Melihat hal itu Ratu Emillia menatap ketiga pelayan itu bingung.
“Ada apa? Apa ada masalah di istana?” Tanya Ratu Emillia.
“Maaf mengganggu waktu anda, Yang Mulia. Ada yang ingin kami sampaikan.” Ucap salah satu pelayan. Ratu Emillia diam menunggu hal apa yang akan disampaikan pelayan itu.
“B-begini, Yang Mulia. Arra sepertinya sedang hamil.” Ucap pelayan lain. Mendengar hal itu Ratu Emillia, Elaine dan Richard terkejut.
“Kalau begitu panggil tabib kerajaan untuk memeriksanya. Jika memang ia hamil, ia harus segera pindah ke pondok pelayan.” Tegas Ratu Emillia.
Ketiga pelayan itu membungkuk sopan lalu pergi menjalankan perintah Ratu Emillia. Sejenak Richard melirik kearah Elaine yang saat itu melamun melihat pelayan-pelayan itu pergi.
“Elaine, tolong susul mereka. Aku masih ada urusan yang harus ku bahas dengan Duchess Marry.” Titah Ratu Emillia membuat Elaine tersadar dari lamunannya.
“Baik, Yang Mulia.” Jawab Elaine lalu berjalan menyusul ketiga pelayan itu.
Elaine sampai di ruangan tempat pelayan itu di periksa oleh tabib.
“Bagaimana, Tabib? Apa aku benar-benar hamil?” ucap Arra si pelayan itu dengan wajah masih panik.
“Benar, anda benar-benar hamil.”
__ADS_1
Mendengar hal itu Arra menunduk sedih. Kedua pelayan yang tadi menemaninya mengelus pundak Arra. Arra mencoba tegar lalu mengangkat kepalanya sambil memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
“Aku tidak apa-apa. Aku akan bersiap meninggalkan istana.”
Mendengar ucapan itu kedua teman pelayan Arra memeluknya. Elaine terharu melihatnya namun memilih menahan tangisnya. Arra melihat Elaine sambil tersenyum canggung dan tak lama Arra dan temannya meninggalkan ruangan itu. Elaine masih di tempat dan malah melamun mengingat jika tak beruntung ia akan mengalami hal itu juga. Dielusnya perutnya perlahan lalu pergi menemui Ratu Emillia untuk memberitahu kehamilan Arra.
Hari-hari berlangsung cepat tanpa ada masalah yang berarti. Dua bulan berlalu begitu saja, Duke Sean belum kembali dan Elaine masih menjalani tugasnya mendampingi Ratu Emillia di sela kebersamaannya dengan sang suami. Hari ini Ratu Emillia sedang duduk di kamarnya bersama Raja Harold.
“Dua hari lagi Elaine ulang tahun. Aku berencana merayakannya tapi dia tidak mau.” Keluh Ratu Emillia pada suaminya sambil memeluk lengan Raja Harold manja.
“Mungkin dia tidak ingin dirayakan karena tidak mau merepotkan seluruh penghuni kerajaan. Kau tahu betul dia seorang pelayan, jika kau merayakannya dia pasti merasa tidak enak.” Ucap Raja Harold sambil mengelus kepala Ratu Emillia lembut. Ratu Emillia berpikir apa yang dikatakan oleh suaminya benar. Iapun hanya menghela napas panjang dan berpikir cara untuk membuat Elaine, sahabatnya itu bahagia di hari ulang tahunnya.
“Begini saja, kita rayakan ulang tahun Elaine tapi hanya kita bertiga saja? Kuenya kita beli di tempat kesukaan Elaine. Jadi kita tetap bisa merayakannya tapi secara sederhana selayaknya keluarga.” Lanjut Raja Harold berpendapat tentang perayaan ulang tahun Elaine. Mata Ratu Emillia langsung berbinar menatap suaminya lalu dikecupnya pipi suaminya itu.
“Aku setuju! Terimakasih, sayang. Aku sangat mencintaimu.” Ucap Ratu Emillia senang. Ia memutuskan mengikuti pendapat suaminya itu.
____________________________________________
Dilain tempat Elaine yang saat itu sedang berjalan menuju kamar Ratu Emilia merasa perutnya mual dan tubuhnya lemas hingga ia tanpa sadar ia menabrak Richard yang kala itu sedang terburu-buru. Elaine mundur beberapa langkah dan hampir terjatuh, tetapi Richard dengan reflek memegang tangan Elaine hingga ia tidak terjatuh. Elaine berusaha berdiri kembali sambil berpegangan pada Richard.
“Anda tidak apa-apa? Anda terlihat pucat.”
“Tidak, Tuan. Saya hanya merasa kurang sehat.”
Mendengar hal itu, Richard menuntun Elaine menuju kamarnya. Di dudukkannya Elaine di ranjangnya lalu Richard kembali memperhatikan Elaine.
“Apa anda merasa mual?” Tanya Richard pada Elaine dengan nada serius. Richard hanya menduga-duga dan berharap dugaannya salah. Elaine menengadah menatap Richard.
“Yah, saya merasa mual. Ada apa, Tuan?” tanya Elaine heran.
“Tunggu disini dan jangan kemana-mana.” Ucap Richard lalu berlari keluar dari kamar Elaine. Elaine memiringkan kepala dan mengernyitkan alisnya. Ia merasa bingung dengan tingkah Richard, namun rasa mual kembali muncul hingga ia melupakan kebingungannya dan memilih untuk berbaring.
Tak lama Richard kembali ke kamar Elaine dengan seseorang di belakangnya. Ia tak mengenal orang itu dan Richard pun sepertinya membawa orang luar diam-diam karena tingkahnya yang terlihat seperti pencuri yang sedang melihat situasi.
“Elaine, dia seorang tabib dari luar istana. Aku membawanya untuk memeriksamu.” Ucap Richard.
__ADS_1
‘Kenapa harus membawa tabib dari luar?’ batin Elaine semakin bingung.
Tabib itu mulai memeriksa Elaine lalu tak lama tabib itu melihat kearah Richard sambil mengangguk. Richard memberi sekantung penuh uang pada tabib itu lalu tabib itupun pergi lewat jendela kamar Elaine.
“Kau hamil.” Tegas Richard pada Elaine.
Mata Elaine terbelalak mendengar ucapan Richard. Jadi itu sebabnya Richard membawa tabib dari luar untuk memeriksanya. Richard pergi untuk memberi kabar pada Duke Sean akan kehamilan Elaine dan Elaine masih diam karena shock. Elaine mengelus perutnya dengan lembut lalu berjalan menuju jendela kamarnya. Nasib yang sama yang ibunya alami dulu terjadi padanya. Ditutupnya kedua matanya dan merasakan angin menerpa wajahnya dengan lembut. Mungkin ini yang dirasakan ibunya dulu saat ia mengandungnya.
‘Mungkin aku tak bisa merasakan cinta seorang kekasih, tapi aku bisa merasakan cinta keluarga. Cinta antara ibu dan anak, begitu pun sebaliknya.’ Pikir Elaine mencoba menghibur diri. Ia berencana mengatakan kehamilannya segera pada Ratu Emillia.
Malamnya setelah Elaine selesai menyuguhkan makanan untuk Ratu Emillia dan Raja Harold, Elaine memilih kembali ke kamarnya. Karena lelah ia lupa mengatakan tentang kehamilannya pada Ratu Emilia.
“Haaahh… lelahnya...”Keluh Elaine sambil memukul bahunya beberapa kali.
Tiba-tiba sebuah tangan menggenggam tangannya hingga ia hampir menjerit. Belum sempat Elaine menjerit, sebuah tangan membekap mulutnya. Mata mereka bertemu dan Elaine langsung tahu siapa pemilik manik ungu tua itu.
“Jangan teriak, ini aku.” Ucap Duke Sean sedikit berbisik. Duke Sean membawa Elaine masuk kedalam kamar Elaine lalu membuka tudung jubahnya.
“Tuan, kenapa anda ada disini?”
“Richard bilang kau hamil, apa itu benar?” tanya Duke Sean dengan nada serius.
“Iya, Tuan. Aku hamil.”
Wajah Duke Sean panik dan kepalanya terasa akan pecah mendengar ucapan Elaine. Ia tak habis pikir akan dikemanakan wajahnya jika orang lain tahu ialah yang menghamili Elaine, walaupun itu kesalahan yang tak ia sengaja. Ditambah Elaine adalah pelayan sekaligus sahabat Ratu Emillia, wanita yang ia cintai.
“Gugurkan saja!” tukas Duke Sean. Ucapan Duke Sean membuat Elaine terkejut sesaat.
“Tidak, Tuan. Saya akan merawatnya. Tuan tak perlu cemas karna saya akan merahasiakan siapa ayah dari bayi ini.” Tegas Elaine.
“Keras kepala huh?! Terserah!” ucapnya lalu berbalik dan pergi meninggalkan pelayan itu sendiri. Walau berkata begitu, hatinya tak memungkiri bahwa ia merasa harus bertanggung jawab, tapi ia mencintai sang ratu.
‘Yah, setidaknya tidak ada yang akan mengetahui kebenaran ini selama dia merahasiakannya.’ Pikirnya dalam hati.
Duke Sean segera menemui Richard yang menunggunya di gerbang istana.
__ADS_1
“Richard, Elaine bersikeras menolak menggugurkan bayi itu. Tolong awasi dia selama aku masih di Kerajaan Selatan.” Titah Duke Sean pada Richard lalu Duke Sean kembali ke Kerajaan Selatan.