
Beberapa bulan berlalu dan kandungan Elaine sudah memasuki bulan keenam. Perutnya semakin buncit dari waktu ke waktu hingga sekarang perut Elaine sudah tampak dari balik gaun yang sehari-hari dia pakai.
"Kau sudah siap kembali ke istana?" ucap Ratu Emillia pada Elaine yang sibuk mengemas barang-barang miliknya.
Yah, sejak kebijakan dipertimbangkan, sekaranglah kebijakan baru terhadap pelayan berhasil diresmikan. Tak hanya Elaine saja yang akan kembali ke Istana, para pelayan lain juga akan kembali ke Istana dan kembali bekerja hingga masa kehamilan memasuki 8 bulan. Setelah itu pelayan yang hamil akan diliburkan hingga pelayan itu bisa kembali bekerja lagi. Elaine senang dengan kebijakan itu dan akhirnya ia bisa kembali melayani (menemani) sahabatnya lagi. Elaine menatap sahabatnya sambil tersenyum Bahagia.
"Aku sudah sangat siap, Yang Mulia." Jawab Elaine dengan nada riang. Seandainya ia tidak ingat kalau saat ini dia sedang hamil, mungkin ia akan melompat karena terlalu senang.
"Kalau begitu akan ku suruh beberapa pengawal membawakan barangmu dan pelayan lain sampai ke kamar kalian masing-masing. Aku tidak mau ibu-ibu hamil ini kelelahan." Ucap Ratu Emillia lagi. Raut wajah Ratu Emillia terlihat tidak kalah senang dari Elaine dan para pelayan di pondok pelayan itu.
Setelah selesai mengemas, para pelayan dari pondok pelayan langsung kembali ke kamar mereka di istana. Elaine yang sedang berjalan menuju kamarnya bertemu Richard yang saat itu sedang terburu-buru karena barang yang "Biasa" dikirim Duke Sean untuk Elaine dan beberapa berkas data perdagangan telah tiba.
"Syukurlah kau sudah kembali ke istana, Elaine." Sapa Richard saat melihat Elaine.
"Saya juga bersyukur bisa kembali,Tuan. Jadi tuan tak perlu mengendap-endap seperti orang mesum lagi." Jawab Elaine dengan nada bercanda. Sejak seringnya Richard dan Elaine bertemu, hubungan mereka jadi seperti teman baik dan bahkan Richard mulai melihat Elaine sebagai adik baginya.
"Kau benar. Ah tapi aku senang karena jadi punya teman dekat di istana ini selain Tuan Sean. Kalau begitu aku pergi dulu." Pamit Richard pada Elaine yang di jawab dengan anggukan olehnya.
Tak lama setelah Richard pergi, Ratu Emillia menghampiri Elaine. Ratu Emillia menemani Elaine sampai ke kamarnya sambil berseda gurau. Setelah sampai dan masuk ke kamar Elaine, keduanya duduk di kasur.
"Tadi kau mengobrol dengan Richard, ya? Kalian kelihatan akrab sekali. Apa yang kalian bicarakan?" tanya Ratu Emillia.
"Dia hanya menyapaku karena aku sudah kembali ke istana ini."
"Sungguh? Tidak ada hal lain? Kau tak menyembunyikan sesuatu dariku kan, Ella?"
"Tidak ada apapun yang kami sembunyikan. Kau tenang saja dan jangan berpikiran buruk pada orang lain. Kami hanya berteman cukup baik karena sering kali bertemu dan berbincang." Jawab Elaine seadanya.
__ADS_1
"bertemu? Dimana? Kau kan beberapa bulan ini ada di pondok itu?" tanya Ratu Emillia memastikan dengan tatapan serius. Elaine sedikit salah tingkah mencoba mencari alasan.
"U-umm.. maksudnya sebelum aku masuk ke pondok itu aku sering berpapasan dengannya saat aku jalan-jalan di istana ini." Jawab Elaine sedikit gelagapan karena takut sahabatnya itu tidak percaya. Tapi Ratu Emillia malah memeluk Elaine.
"Aku sempat berpikir Richard orang yang menghamilimu. Haahh.. ya sudahlah kalau begitu. Oh ya, Elaine. Aku sedang hamil,loh." Ucap Ratu Emillia sambil menatap Elaine.
"Sungguh? Wah.. Penerus kerajaan ini akan segera hadir."
"Tentu! Dan anak kita akan menjadi sahabat sama seperti kita. Ah ya, aku berniat memberi gelar Baronesse padamu karena kau telah berjasa menjadi teman sekaligus pelayan pribadiku selama bertahun-tahun." Ujar Ratu Emillia. Kata-kata itu berhasil membuat Elaine terkejut. Ia bahkan tak pernah berpikir akan menjadi seorang bangsawan dan ia tak pernah memikirkan hadiah sebesar itu selama menjadi teman Ratu Emillia.
"Tidak, Emma. Aku tidak pantas menjadi bangsawan dan lagi...-" putus Elaine lalu mengelus perutnya yang buncit.
"Kalau aku menjadi bangsawan, anak ini akan jadi anak diluar nikah yang akan dikucilkan oleh para bangsawan lain." Lanjut Elaine dengan raut mata sedih. Bukan tanpa alasan Elaine berkata seperti itu. Ia sangat sering mendengar rumor tak baik bagi para anak-anak bangsawan yang terlahir diluar nikah. Elaine tak ingin hal itu terjadi dan Ratu Emillia mengerti akan hal itu. Ia perlu memikirkan lagi apa yang akan ia lakukan tentang kebijakan itu sebelum di sahkan.
"Aku mengerti, Elaine. Tapi aku jamin tak akan ada yang mengucilkan bahkan berkata buruk pada anak yang kau kandung dan semua anak yang lahir di luar nikah lagi. Aku janji padamu." Tegas Ratu.
Keduanya berpelukan dengan erat dan mendengar pernyataan Ratu Emillia, Elaine menangis haru karena sahabatnya sampai rela melakukan hal apapun demi dirinya yang hanya sebatas pelayan di mata orang lain.
Siang pun tiba dan setelah selesai membantu Ratu Emillia bersiap-siap, Elaine dan Ratu Emillia segera berjalan ke tempat pesta minum teh dan sesampainya disana, para Bangsawan yang telah hadir berdiri dan memberi salam pada Ratu Emillia. Elaine yang tidak begitu menyukai berada di antara para bangsawan walau hanya melayani mereka pamit untuk pergi karena ada pelayan lain yang bisa melayani Ratu serta tamu-tamunya. Ratu Emillia mengerti dan mengijinkan Elaine pergi dari sana.
"Haahh... padahal hanya beberapa bulan tidak bekerja tapi rasanya otot-otot seluruh badanku remuk." Keluh Elaine sambil merenggangkan badannya. Ia terus berjalan mengitari istana karena rindu jalan-jalan disana. Tak lama Elaine melihat seorang pria yang kelihatan linglung di jalan masuk taman istana. Elaine memperhatikan pria itu dengan seksama. Mata hijau jernih dan rambut kecoklatan, tubuh tinggi tegap dan bahu yang lebar, sedikit lebih tinggi dari Richard pikir Elaine.
"Maaf, Tuan. Apa anda tersesat?" Tanya Elaine memberanikan diri untuk bertanya pada pria itu.
"Ah, ya. Aku tersesat saat ingin ke perpustakaan. Ibuku sedang pesta minum teh dengan Ratu dan aku tidak begitu suka berkumpul dengan anak-anak bangsawan lain selama pesta minum teh berlangsung." Jawabnya ramah.
"Kalau begitu mari saya antar." Tawar Elaine sambil tersenyum. Pria itu sedikit tersipu lalu mengangguk. Elaine mulai berjalan ke arah perpustakaan di sebelah selatan istana. Sesampainya di depan perpustakaan, Elaine membukakan pintu untu pria itu.
__ADS_1
"Terimakasih, nona." Ucap pria itu
"Tak perlu terlalu formal, Tuan. Saya hanya pelayan di istana ini. Saya Elaine. Karena sudah sampai saya pamit undur diri."
"B-Bisakah kau menemaniku? Rasanya tak nyaman jika aku membaca buku sendirian. Mungkin kita bisa mengobrol untuk menghabiskan waktu selama aku harus menunggu."
"Jika itu yang anda mau, saya akan tunjukkan tempat yang nyaman untuk membaca sekaligus mengobrol."
"Terimakasih, Elaine. Ah ya, namaku Arhen dari keluarga Dalton."
"Marquess Dalton ya.." Gumam Elaine pelan. Pantas saja ia tak asing dengan rambut coklat itu. Rambut coklat adalah salah satu ciri keluarga Dalton.
"Mari, Tuan Dalton." Lanjut Elaine lalu menuntun Arhen ke tempat rak buku lalu setelah memilih sebuah buku, keduanya memilih kursi yang menurut Elaine sangat cocok untuk tempat membaca dan mengobrol. Elaine membuka jendela agar tempat membacanya mendapat cukup sinar untuk membaca.
"Ngomong-ngomong, kau adalah pelayan pribadi Ratu, kan? Aku melihatmu keluar bersama Ratu."
"Benar, Tuan. Saya pelayan pribadi Ratu Emillia. Apa saya boleh menanyakan sesuatu?" tanya Elaine dengan tatapan yang sedikit gugup.
"Tanyakan saja. Anggap kita berteman dan kau tak perlu memanggilku 'Tuan' kau cukup memanggilku Arhen saja." Jawab Arhen sambil tersenyum ramah.
"Ah baiklah, Arhen. Kenapa Arhen tidak suka menunggu bersama putra bangsawan lain? Bukannya itu bagus untuk berteman dan bersosialisasi dengan bangsawan lain?"
"Sebenarnya ini hal yang sangat pribadi. Tapi aku akan katakana sejujurnya padamu. Aku adalah anak kedua sekaligus anak di luar nikah keluarga Dalton. Jadi aku tahu kau pasti mengerti kenapa aku tak suka berkumpul dengan mereka." Jawab Arhen dengan santai. Elaine merasa tak enak karena bertanya hal itu.
"Maaf, Arhen. Aku tak bermaksud membuatmu sedih karena pertanyaanku. Apa aku bisa melakukan sesuatu atas kelancanganku ini?"
"Aku tahu kau tak bermaksud demikian. Tapi boleh juga jika kau bisa melakukan apapun untuk menebus kesalahan yang tidak kau sengaja barusan. Bagaimana kalau minggu depan saat ulang tahunku kau datang Bersama Ratu Emillia? Jika kau tak bisa melakukannya untuk menebus kesalahanmu, kau harus bisa melakukan hal itu karena ini adalah permintaan seorang teman. Jika kau tak datang, aku akan sangat sedih di pesta ulang tahunku." Bujuk Arhen. Elaine mau tak mau mengiyakan hal itu karena bagaimanapun ia juga akan pergi karena ia adalah pelayan Ratu yang harus mendampingi Ratu kemanapun ia berada.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan datang bersama Ratu Emillia. Jadi Arhen tidak boleh sedih di pesta perayaan ulang tahunmu." Jawab Elaine sambil tersenyum.
Mereka terus mengobrol dan sesekali bergurau hingga tak menyadari seseorang memperhatikan mereka dari jauh. Duke Sean yang kembali dari Kerajaan Selatan tengah berdiri sambil bersandar di tiang dengan melipat kedua tangannya di dada menatap Elaine yang saat itu tengah tertawa bersama Arhen. Padahal saat itu ia baru saja sampai dan ingin menghadap Raja Harold, namun langkahnya terhenti saat melihat Elaine dengan seorang pria dari balik jendela perpustakaan. Keduanya nampak sangat akrab hingga Elaine bisa tertawa begitu riang bersama pria tersebut. Ada rasa sedikit jengkel melihat hal itu di hati Sean namun ia seolah ingin mengabaikannya dan kembali melanjutkan langkahnya menemui Raja Harold.