Duke’S Baby

Duke’S Baby
Part 15. Duke's Remorse


__ADS_3

Duke Sean melamun sambil menopang dagu di kursi meja kerjanya setelah ia menghadap Raja Harold. Ia memandangi sebuah kotak yang cukup besar yang harusnya ia berikan (lewat Richard) kemarin pada Elaine. Namun Ia merasa ingin melihat dan memberikan kotak itu langsung pada Elaine sambil melihat bagaimana keadaannya dan bagaimana kandungannya sekarang. Mengingat kejadian tadi, entah mengapa ia malah jadi malas melakukan apapun terutama menemui Elaine.


"Tuan.." ucap Richard yang baru tiba di depan kamar tuannya.


"Masuk, Richard." Jawab Duke Sean seadanya. Lamunannya terhenti tatkala pelayan pribadinya memanggil.


"Tuan. Maaf mengganggu waktu anda. Saya ingin menyerahkan dokumen data-data yang terkumpul dari kegiatan perdagangan selama seminggu ini." Kata Richard sambil menyerahkan dokumen di meja Duke Sean.


"Baiklah. Ah ya, seperti biasa kau antarkan kotak itu padanya." Titah Duke Sean hingga membuat Richard bingung. Padahal kemarin ia sendiri yang akan memberikannya pada Elaine.


"Dan... Tolong selidiki seorang pria yang memiliki rambut kecoklatan dan mata berwarna hijau. Sepertinya ia anak dari salah satu bangsawan yang ikut dalam pesta minum teh hari ini Bersama Ratu Emillia." Lanjut Duke Sean pada Richard. Richard hanya menunduk lalu meninggalkan Tuannya sambil membawa kotak barang untuk Elaine.


Keesokan harinya, Elaine yang sedang berjalan menuju kamar Ratu Emillia berpapasan dengan Duke Sean dan Richard. Elaine terpaku sejenak lalu menunduk melanjutkan langkahnya. Duke Sean yang melihat Elaine pun menghentikan langkahnya. Sekilas ia melihat bagian perut Elaine yang tampak buncit dari balik gaunnya sebelum Elaine berlalu meninggalkannya.


"Undang dia untuk minum teh di ruang kerjaku dan datangkan tabib yang dulu memeriksa Elaine ke kamar siang ini setelah kembali dari dermaga." Titah Duke Sean pada Richard.


"Baik Tuan."


Duke Sean dan Richard melanjutkan perjalanan mereka menuju dermaga Pelabuhan. Sepulangnya dari Pelabuhan, Richard terlebih dahulu mencari Elaine untuk datang ke ruang kerja Duke Sean lalu mencari tabib yang dulu memeriksa kehamilan Elaine. Duke Sean duduk di kursi kerjanya dan menyiapkan teh untuknya dan Elaine. Tak lama suara ketukan pintu terdengar dan Richard serta tabib itu masuk keruangan.


"Dimana "Dia"." Tanya Duke Sean karena tak melihat Elaine bersama Richard. Richard sedikit memiringkan kepalanya bingung.


"Harusnya dia sudah datang, Tuan. Bagaimana kalau kita tunggu sebentar lagi, mungkin dia sedang ada pekerjaan yang mendesak." Jawab Richard santai. Duke Sean hanya mengangguk lalu duduk di kursinya. Lama mereka menunggu Elaine dan yang ditunggu tak kunjung datang. Duke Sean mulai gelisah karena sampai menjelang malam, Elaine tak kunjung juga datang.


"Maaf atas kelancangan saya, Tuan Duke. Saya harus segera kembali ke tempat saya karena sudah jamnya saya kembali ke tempat perawatan." Ucap tabib itu dan Duke Sean hanya melambaikan tangannya tanda ia mengijinkan tabib itu pergi.


Setelah tabib itu pergi, Duke Sean segera berdiri dan mulai berjalan ke arah pintu. Raut wajahnya jelas menunjukkan ia tengah marah dan kecewa karena Elaine tidak datang menemuinya. Ia berjalan cepat mencari Elaine yang saat itu tengah beristirahat di kamarnya.


*FLASHBACK


Setelah pulang dari Pelabuhan, Richard segera menemui Elaine yang kebetulan tengah sendirian.


"Elaine, kebetulan sekali aku sedang mencarimu." Ucap Richard dengan napas sedikit terengah-engah.


"Ada apa, Tuan? Anda kan sudah memberikan kotak dari Tuan Duke." tanya Elaine bingung.


"Bukan, bukan. Tuan Duke memanggilmu dan mengundangmu untuk minum teh bersamanya sebentar lagi. Aku harap kau datang sesegera mungkin."


Mendengar hal itu, Elaine mengernyitkan dahinya bingung. Untuk apa Duke Sean menemuinya? Minum teh bersama? Atau ada maksud lain? Pikir Elaine bertanya-tanya hingga tak sempat ia menolak, Richard sudah jauh meninggalkannya. Saat hendak mengejar Richard, Elaine malah di panggil oleh Ratu Emillia hingga ia mengurungkan niat mengejar Richard dan akhirnya ia lupa dengan undangan Duke Sean untuknya karena terlalu sibuk.


Duke Sean terus mencari Elaine hingga akhirnya ia tahu dimana orang yang ia cari setelah bertanya pada pelayan lain. Duke Sean segera pergi ke kamar Elaine lalu menyuruh Richard untuk tetap di luar kamar Elaine karena ia ingin bicara berdua dengan Elaine. Setelah Duke Sean menyuruh Richard untuk tetap di luar, Duke Sean langsung masuk dan menutup pintu kamar Elaine. Elaine yang saat itu sedang berbaring di kasurnya langsung terperanjat bangun melihat Duke Sean yang tiba-tiba masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


"Kenapa kau tak datang? Kau mau menjauhiku karena aku menyuruhmu menggugurkan bayi itu?" tanya Duke Sean dengan nada kasar namun tak membentak. Elaine yang saat itu masih kaget sampai bingung menjawab pertanyaan orang yang saat ini berdiri di depannya.


"Sa-saya lupa untuk datang karena pekerjaan saya sangat banyak hari ini." Jawab Elaine gelagapan.


Elaine menunduk karena sedikit takut melihat wajah Duke Sean yang terlihat sangat marah di matanya. Isak tangis terdengar pelan dari Elaine hingga tanpa sadar pria di depannya mendekat dan mengusap pipi Elaine.


"Hei.. kenapa kau menangis? Aku bahkan tidak membentakmu." Ucap Duke Sean lembut. Jujur saat ini dia bingung harus apa karena Elaine menangis tanpa sebab yang tidak ia ketahui.


"Hiks.. anda memang tidak membentak saya, Tuan. Hiks hiks... Tapi wajah anda seram saat marah..." jawab Elaine apa adanya. Jawaban Elaine yang seperti itu malah membuat pria yang tengah mengelus pipinya semakin bingung. Namun rasa bingung itu segera terjawab saat mengingat kata-kata ibunya dulu jika saat ibunya mengandung, ia jadi sangat sensitif dan kondisi moodnya jadi tidak stabil. Duke Sean perlahan memeluk Elaine dan mengelus rambutnya pelan.


"Maaf, aku hanya ingin melihatmu dan juga memastikan bagaimana keadaan bayi di dalam kandunganmu tadi siang." Ucap Duke Sean dengan lembut.


Perlahan Elaine berhenti menangis saat ia merasakan pelukan Duke Sean. Sejenak ia merasakan hangat tubuh Duke itu menyelimuti tubuhnya hingga ia merasa tenang. Setelah sadar dari lamunannya, Elaine melepas pelukan itu perlahan lalu menghapus air matanya sendiri.


"Saya juga minta maaf karena telah membuat anda menunggu, Tuan."


setelah melihat Elaine menangis, Duke Sean memutuskan melupakan masalah tadi siang dan hanya mengobrol masalah Kesehatan Elaine dan keluhan selama ia hamil. Setelah satu jam mengobrol, Duke Sean keluar dari kamar Elaine dan membiarkan Elaine istirahat.


"Richard, apa kau sudah tahu siapa pria "ITU"?" tanya Duke Sean.


"Sudah, Tuan. Dia anak kedua Marquess Dalton."


"Begitu ya?" Duke Sean mengangguk dan pikirannya kembali bertanya-tanya apa hubungan Elaine dengan pria itu?


"Ella, kemari sebentar." Panggil Ratu Emillia.


"Ada apa Emma? Kau butuh sesuatu?"


"Tidak, Tidak. Aku hanya mau kau memilih salah satu gaun yang kau suka." Kata Ratu Emillia sambil memegang kedua bahu Elaine. Elaine mengernyit bingung dengan apa yang sahabatnya itu. Untuk apa memilih gaun lagi padahal gaun untuk Emma sudah ditentukan tadi? Pikir Elaine


"Pilihlah gaun untuk kau pakai ke acara malam ini." Lanjut Ratu Emillia.


"Ke-kenapa aku juga harus pakai gaunmu,Emma? Aku bisa pakai gaun yang aku miliki." Tolak Elaine.


"Kau harus menggunakan gaun baru di acara malam ini! Kalau kau tidak memilih sendiri, aku yang akan memilihkannya untukmu. Dan kau tahu kan kalau aku sudah memilih, aku akan memilih yang paling bagus hingga kau bisa saja jadi pusat perhatian di pesta malam ini."


"B-baiklah.. Aku yang akan memilih sendiri.." pasrah Elaine. Kemudian matanya tertuju pada gaun berwarna ungu senada senada dengan warna matanya. Kebetulan gaun itu kelihatan tidak begitu mewah dan yang terpenting, gaun tersebut bisa sedikit menutupi perutnya yang membuncit.


"Aku memilih gaun ini saja." Pilih Elaine dan disetujui oleh Ratu Emillia.


Bukan tanpa alasan Ratu Emillia menyuruh Elaine memakai gaun baru ke pesta kali ini. Selain karena ingin memberikan hadiah pada Elaine, Ratu Emillia juga mendapat surat dari Arhen untuk membuat Elaine menjadi wanita cantik ke pesta ulang tahunnya. Arhen sebenarnya juga mengirimkan beberapa keping emas untuk membayar gaun dan aksesoris yang akan di pakai Elaine, tapi Ratu Emillia mengembalikannya. Ia tahu niat Arhen melakukan hal itu dan sebagai sahabat Elaine, ia mendukung apabila Elaine berpasangan dengan Arhen.

__ADS_1


Malam tiba dan saatnya mereka berangkat. Sebelum berangkat, Ratu Emillia mengirim surat pada Arhen tentang warna gaun yang digunakan Elaine pada Arhen lewat burung pengantar surat agar surat itu cepat sampai pada Arhen. Ratu Emillia takut kalau Arhen tidak mengenali Elaine karena pesta kali ini bertema pesta topeng.


Ada beberapa kereta kuda yang berangkat dari istana Ratu Emillia karena bukan hanya keluarga kerajaan saja yang diundang, tapi bangsawan yang ada di kerajaan itu juga diundang. Kereta pertama adalah kereta kuda untuk Raja dan Ratu, lalu diikuti oleh kereta kuda untuk Elaine dan diikuti oleh bangsawan dan terakhir kereta barang. Elaine hanya sendiri di kereta kudanya dengan menggunakan gaun ungu yang dia pilih serta satu set perhiasan yang juga sudah disiapkan oleh sahabatnya itu. Jujur saat ini dia merasa gugup dan kurang nyaman akan penampilannya karena untuk pertama kalinya ia menggunakan gaun yang cukup mewah dan perhiasan ditambah dengan memakai riasan wajah serta rambut yang tidak biasa. Ia merasa itu berlebihan untuk dirinya yang hanya seorang pelayan.


Kereta kuda dari istana telah tiba. Elaine berjalan di belakang Ratu Emillia dan tak lupa semua orang memakai topeng hingga menutupi sebagian wajahnya. Setelah semua tamu datang, pestapun dimulai dengan pemotongan kue oleh Arhen dan pemberian selamat oleh keluarga Marquess Dalton.


Setelah pemberian selamat dan doa, pesta dilanjutkan dengan dansa berpasangan. Arhen langsung berkeliling untuk mencari Elaine sesuai arahan yang disampaikan Ratu Emillia lewat surat. Senyum senang Arhen mengembang saat bertemu seorang wanita dengan ciri yang menurutnya sama dengan Elaine (versi surat Ratu Emillia).


"Apa kau bersedia berdansa denganku, nona." Tawar Arhen sambil mengulurkan tangannya.


"Tentu, Tuan." Jawab wanita itu sambil menggapai tangan Arhen.


Keduanya berjalan perlahan ke tengah aula dan mulai berdansa bersama. Hampir semua orang terlihat bahagia di tengah pesta. Namun raut bahagia tak begitu nampak dari wajah Duke Sean. Ia hanya datang karena undangan formal yang dikirimkan serta ia ingin tahu bagaimana keluarga seorang pria yang mendekati Elaine. Ditambah ia mendengar dari Richard bahwa Elaine akan ikut ke pesta itu sebagai tamu.


'sepertinya dia tidak benar-benar menyukai Elaine.' Batin Duke Sean saat melihat Arhen yang berdansa dengan wanita lain dan bukan Elaine yang saat ini ia ketahui tengah duduk sendirian sambil melihat Arhen yang berdansa dengan seorang wanita bangsawan ditengah aula.


Duke Sean menghampiri Elaine lalu berdiri di sampingnya. Elaine yang merasa seseorang mendekatinya lalu menoleh. Ia sempat tak mengenali siapa pria di sampingnya hingga saat pria itu bicara duluan padanya.


"Bisa ikut aku sebentar?" pinta Duke Sean lalu mengulurkan tangannya. Elaine yang bingung harus apa akhirnya menyambut tangan itu dan mengikuti Duke Sean ke balkon aula.


"Kenapa anda membawa saya kemari? Pestanya kan di dalam." Tanya Elaine penasaran.


"Aku melihat kau kurang nyaman di dalam, jadi aku membawamu kemari. Lagipula kau tak bisa minum sesuatu kan disana karena takut minumannya bercampur dengan alkohol?!" ucap Duke Sean santai.


"Mau berdansa bersamaku?" tawar Duke Sean.


"Saya tidak.... Bisa berdansa.." jawab Elaine dengan nada sedikit canggung.


Perlahan Duke Sean memegang tangan Elaine dan mengarahkannya memegang bahunya. Elaine hanya diam saat pria itu melakukannya.


"Kau bisa naik ke kakiku dan mengikuti gerakannya saat aku berdansa." Ucap Duke Sean lagi.


"Bagaimana bisa saya menginjak kaki anda, Tuan."


Duke Sean yang sedikit tidak sabaran memegang pinggang Elaine dan mengangkat tubuhnya hingga kaki Elaine terasa berada tepat di atas kakinya.


"Elaine, lakukan saja apa yang aku katakan."


Elaine hanya menurut dan keduanya berdansa di balkon dengan diiringi musik dansa yang sedikit samar terdengar dari balkon. Elaine yang belum pernah berdansa bahkan tidak pernah berani bermimpi untuk berdansa dengan seorang pria sedikit merasa gugup dan juga senang. Ia merasa dirinya sedang berada dalam novel romansa "CINDERELLA".


Wajah Duke Sean yang semula datar kini mulai sedikit tersenyum melihat ekspresi Elaine yang polos menurutnya. Awalnya ia hanya merasa bosan karena tidak begitu menikmati pesta malam ini. Disamping itu, ia melihat Elaine dan ia merasa ingin membuat Elaine senang agar anak dalam kandungannya juga bisa merasakan apa yang ibunya rasakan. Rasa sesal hinggap di hati pria tampan yang tengah memperhatikan wanita di depannya itu karena teringat ia pernah membuatnya sedih telah membuatnya menanggung kesalahan yang bukan sepenuhnya kesalahannya hingga ia menambah kesedihan Elaine dengan menyuruhnya menggugurkan kandungannya karena dilema sesaatnya.

__ADS_1


to be continued-


__ADS_2