Duke’S Baby

Duke’S Baby
Part 11. -


__ADS_3

Duke Sean terus meneruskan perjalanannya dengan kuda menuju Kerajaan Selatan. Namun hatinya terasa gundah karena kabar Elaine yang saat ini sedang mengandung anaknya. Saat tiba di sebuah danau, Duke Sean menghentikan kudanya lalu menatap pantulan bulan diatas danau. Matanya sendu memikirkan bagaimana nasib darah dagingnya di kandungan Elaine, ia bahkan berpikir bagaimana nasibnya saat anaknya lahir kedunia nanti.


Duke Sean menunduk saat mengingat ucapannya pada Elaine yang menyuruhnya menggugurkan kandungannya. Ada rasa menyesal karena mengatakan hal itu, padahal ia pun tahu bahwa Elaine sebenarnya tak menginginkan bayi itu ada di kandungannya dengan kondisi seperti itu. Yah, kondisi dimana ia tak mencintai Elaine bahkan tak ingin bertanggung jawab atas kehamilan Elaine.


Setelah beberapa lama termenung, Duke Sean meneruskan perjalanannya pulang ke rumahnya mengingat Duchess Audrey sang ibu masih berbaring di kasur lemah.


--------------------------------------------------------------------------


Hari ini tiba saat ulang tahun Elaine. Ratu telah menyiapkan kue untuk Elaine di tengah rumah kaca dan beberapa kudapan kecil yang sering Ratu Emillia dan Elaine makan. Raja Harold juga sibuk mendekorasi seadanya. Setelah selesai mereka menatap senang dengan hasil kerja keras mereka untuk merayakan ulang tahun Elaine.


“Akan ku panggil Elaine kemari.” Ucap Ratu Emillia dan dibalas dengan anggukan oleh Raja Harold.


Ratu Emillia langsung menuju kamar Elaine yang saat itu pasti masih tidur. Ratu Emillia berencana merayakan hari ulang tahun Elaine saat pelayan-pelayan dan seisi istana (kecuali prajurit yang berjaga) bangun dari tidur mereka. Ratu Emillia berusaha untuk tidak berpapasan dengan penjaga agar tak ada yang tahu perayaan ulang tahun Elaine.


Setelah berhasil mengelabui penjaga, Ratu Emillia langsung masuk kedalam kamar Elaine dan benar saja saat itu Elaine tengah tertidur. Digoyangkannya pundak Elaine oleh Ratu Emillia.


“Elaine… Ella… bangun!” bisik Ratu Emillia lalu perlahan manik manik Elaine terbuka perlahan. Melihat Ratu Emillia disampingnya, Elaine langsung bringsut bangun.


“A-apa yang-….” Belum selesai terkejut Ratu Emillia membekap mulut Elaine lalu memberi isyarat untuk jangan berisik.


“Sssttt… jangan berisik.. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Ucap Ratu Emillia lalu mengajak Elaine mengendap-endap ke rumah kaca tempat perayaan ulang tahunnya. Elaine hanya mengikuti sahabatnya itu.


Sesampainya di tengah rumah kaca, mata Elaine membulat kagum melihat dekorasi dan meja yang berisi kue dan makanan-makanan kesukaannya. Tampak pula Raja Harold yang sedang menunggu mereka sambil tersenyum. Air mata haru turun tanpa disadari oleh Elaine. Melihat hal itu Ratu Emillia dan Raja Harold tersenyum bangga karena merasa kejutannya berhasil. Ratu Emillia berlari dan berdiri di samping suaminya.


“Kejutan!” Ucap kedua pasangan itu bersamaan. Ratu Emillia kembali menghampiri Elaine lalu menuntunnya duduk di kursi.


“Selamat ulang tahun, Elaine.” Ucap Raja Harold sambil mengelus rambut Elaine pelan lalu dilanjut dengan Ratu Emillia sambil memeluk Elaine yang saat itu masih menangis haru.


“Selamat ulang tahun, Ella. Semoga persahabatan kita bisa terus berlanjut selamanya.”

__ADS_1


“Terimakasih, Yang Mulia Ratu.”


“Ella! Saat ini aku bukanlah Ratu. Aku sahabatmu dan keluargamu juga… jangan panggil aku Yang Mulia dong.” Keluh Ratu Emillia sambil tersenyum.


“Untuk saat ini kau adalah saudara kami dan kami adalah saudaramu. Kita merayakan ulang tahunmu sebagai satu keluarga.” Lanjut Raja Harold lalu duduk di Kursi. Ratu Emillia pun ikut duduk dan mereka merayakan ulang tahun Elaine dengan penuh kehangatan. Elaine benar-benar merasa sangat bahagia saat itu. Benar-benar seperti sedang merayakan ulang tahun di tengah keluarga.


“Ella, ini hadiah dariku.” Ucap Ratu Emillia sambil memberikan sebuah kotak kado kepada Elaine. Raja Harold pun memberi sebuah kotak kado pada Elaine.


“Ini dari kakak iparmu. Karena kupikir Emillia adalah kakakmu jadi aku adalah kakak iparmu sekarang.”


“A-aku tak bisa menerima ini. Perayaan ink sudah cukup bagiku.” Tolak Elaine dengan sopan.


“Elaine, kau tak boleh menolak hadiah yang kakak dan kakak iparmu berikan loh.” Jawab Raja Harold dan akhirnya Elaine menerima semua hadiah itu. Lagi-lagi air mata bahagia meluncur dari pelupuk matanya dan Ratu Emillia senantiasa memeluk Elaine.


Setelah selesai berpesta, Ratu Emillia, Raja Harold dan Elaine membereskan bekas pesta itu agar benar-benar tak ada yang tahu tentang pesta itu. Selesai berberes mereka kembali ke kamar masing-masing.


Dikamar Elaine, ia menatap kedua kotak pemberian sahabat dan suaminya sambil tersenyum. Namun tak lama, wajahnya langsung menunduk mengingat ia belum memberitahu sahabatnya tentang kehamilannya. Perlahan diraihnya sebuah kotak pemberian Ratu Emillia lalu dibuka perlahan. Sebuah cincin terpampang indah di tengah kotak itu hingga senyum simpul kembali hadir di bibirnya. Tak lama Elaine mengambil kado dari Raja Harold yang tadinya mengaku sebagai kakak iparnya. Dibuka dan dikeluarkan sebuah sapu tangan berukir namanya dan Ratu Emillia serta sulaman bunga mawar menghiasi sapu tangan itu. Raja Harold memberi hadiah yang lebih sederhana namun sama berharganya bagi Elaine.


“Yang Mulia, ayo bangun.” Ucap Elaine sambil menggoyangkan bahu Ratu Emillia. Ratu Emillia perlahan bangun lalu duduk di kasurnya.


“Elaine, kau sudah membuka kado dariku? Apa kau suka?”Tanya Ratu Emillia antusias. Elaine tersenyum lalu mengangguk perlahan.


“Saya sangat senang dengan hadiah anda dan Yang Mulia Raja, Terimakasih.” Jawab Elaine sopan. Sejenak keadaan hening lalu Elaine memanggil Ratu Emillia.


“Emma, aku ingin mengatakan sesuatu.” Ucap Elaine membuka keheningan. Ratu Emillia memegang tangan Elaine perlahan sambil tersenyum.


“Ada apa, Elaine? Katakan saja.”


“Aku…. Hamil…”

__ADS_1


Ucapan (pengakuan) Elaine tak lantas membuat Ratu Emillia percaya. Terlihat dari sorot mata Ratu Emillia yang menatap Elaine santai.


“Elaine, jangan bercanda begitu dong. Haha… mana mungkin kau hamil, Elaine. Kau kenapa sih? Karena mendapat kejutan perayaan ulang tahun kau jadi ingin membuatku terkejut juga dengan ucapanmu yang tak masuk akal?”


“Tidak, Yang Mulia. Aku benar-benar sedang hamil.” Tegas Elaine dengan mata serius. Ingin rasanya Ratu Emillia mendapat sedikit tatapan bercanda dari sahabatnya itu namun tak ia temukan. Raut wajah Ratu Emillia seketika tegang.


“Siapa yang berani melakukan ini padamu?”


“Saya tak melihat wajahnya dengan jelas karena saat itu gelap gulita.” Jawab Elaine yang pastinya ia sedang berbohong. Ratu Emillia langsung menarik Elaine keluar dari kamarnya dan berjalan cepat menuju tempat tabib kerajaan.


“Tabib! Tabib!” panggil Ratu Emillia hingga membuat seisi ruangan sedikit panik. Seorang Tabib langsung menghampiri Ratu Emillia dan Elaine.


“Periksa Elaine. Aku ingin memastikan sesuatu.” Titah Ratu Emillia tegas. Elaine lalu dibawa tidur di sebuah ranjang lalu Tabib itupun mulai memeriksa Elaine.


“Yang Mulia, saya tidak…-” Belum selesai Elaine bicara, Ratu Emillia menatap Elaine dengan isyarat menyuruhnya diam.


“Bagaimana, Tabib. Elaine tidak hamil kan?” tanya Ratu Emillia pada Tabib itu. Tabib pun berdiri lalu menunduk sopan di hadapan Ratu Emillia.


“Maaf, Yang Mulia. Nona Elaine memang sedang hamil.” Jelas Tabib perlahan. Ratu Emillia kembali menatap tak percaya. Elaine bangun lalu menuntun Ratu Emillia perlahan menuju kamarnya.


“Bagaimana mungkin ini terjadi, Elaine? Jika kau hamil kau hanya bisa menjadi pelayan biasa dan tak bisa tinggal di istana ini lagi.”


Kata-kata Ratu Emillia membuat hati Elaine ikut sedih. Ia tak akan bisa dekat lagi dengan sahabatnya itu. Namun Elaine harus menyembunyikan kesedihannya agar Ratu Emillia tak merasa semakin sedih.


Sesampainya di kamar Ratu Emillia, Elaine mendudukkan Ratu Emillia di kasur lalu duduk di sampingnya.


“Emma, aku akan tetap menjadi sahabatmu bagaimanapun kondisinya. Kau tak perlu sedih begitu.” Tutur Elaine lembut.


“Karena setelah ini aku akan pindah ke pondok pelayan, aku akan melayani Ratu cantik ini dulu.” Lanjut Elaine mencoba menghibur sahabatnya itu. Ratu Emillia menatap Elaine yang menurutnya begitu tegar lalu tersenyum dan mengangguk. Saat itu Elaine menemani Ratu Emillia berendam sambil mencuci rambutnya, menyiapkan gaun dan membantu Ratu Emillia berhias untuk terakhir kalinya. Setelah selesai Ratu Emillia memeluk Elaine dan menumpahkan airmata nya lagi mengingat Elaine dan dirinya tak akan bisa sedekat ini lagi nanti.

__ADS_1


To be continued~


__ADS_2