
Siang itu Duke Sean mondar mandir di kamarnya. Kabar tentang hubungan ratu membuat perasaannya campur aduk. Ia berpikir apakah ia harus mempertahankan cintanya dan mencoba merebut Ratu dari kekasihnya atau merelakan cinta pertamanya bersama dengan kekasihnya?
“Aargghh… kenapa sih jadi begini? Aku tidak mau kehilangan Ratu tapi juga tidak mau jadi perusak hubungannya!” keluhnya dalam hati. Di acak-acak rambutnya karna merasa frustasi.
Tak lama Duke Sean memilih keluar kamar untuk menghirup udara segar. Ia memilih untuk berjalan mengelilingi istana sambil terus berpikir apa yang harus ia lakukan. Bersyukur Richard mau membantunya mengurus urusan kerjasama kerajaan yang harusnya menjadi tugasnya. Karna melamun, tanpa sengaja Duke Sean menabrak seorang pelayan.
‘PRANG!!’ Suara nampan jatuh cukup nyaring. Camilan di nampanpun berhambur di lantai. Sejenak pelayan itu tertegun karna melihat Duke Sean lalu segera menunduk sopan.
“Maaf tuan, saya tak sengaja menabrak anda.” Ucapnya sambil terus menunduk.
“Bukan salahmu, aku melamun karna memikirkan sesuatu. Harusnya aku yang minta maaf padamu.”
“T-tidak apa-apa tuan.”Ucap pelayan itu sambil memungut camilan yang berhamburan. “Saya permisi dulu tuan.” Lanjutnya setelah selesai membersihkan camilan di lantai.
“T-tunggu! Aku ingin bertanya padamu!” ucap Duke Sean menghentikan pelayan itu. Bertanya pendapat seseorang tidak ada salahnya kan? Pikir Duke Sean.
“Iya tuan? Bertanya tentang apa?”
“K-kalau kau menyukai seseorang dan orang itu memiliki kekasih, apa yang akan kau lakukan?” tanya Duke Sean sedikit ragu. Ia ragu kalau pelayan itu akan menjawabnya.
__ADS_1
“Tentu saja saya akan mempertahankan perasaan saya! Saya tidak mau mengalah! Saya akan memperjuangkan cinta saya pada orang tersebut!” jawab pelayan itu dengan sangat antusias. Duke Sean yang mendengar jawaban itu sedikit terkejut, namun juga senang atas jawabannya.
“Baiklah kalau begitu dan terimakasih atas jawabanmu.” Ucap Duke Sean lalu segera berlari dengan wajah sumringah. Namun lain halnya dengan pelayan itu yang saat ini merasa jawabannya akan membuat masalah suatu saat nanti.
Duke Sean berlari mencari Ratu Emillia untuk sekedar mengobrol dengannya. Ia pikir ini akan menjadi awal yang baik untuk mendekati Ratu Emillia. Kemudian ia berhenti berlari saat melihat Ratu Emillia yang sedang duduk sendirian sambil meminum the chamomile kesukaannya.
“Yang Mulia, anda sendirian?” sapa Duke Sean dengan lembut. “Apa saya boleh duduk disini?” lanjut Duke Sean sambil tersenyum saat Ratu Emillia menghentikan kegiatannya dan menatap Duke Sean sambil tersenyum.
“Tentu saja Duke, silahkan duduk.”jawab Ratu Emillia mempersilahkan Duke Sean untuk duduk.
“Yang Mulia sedang apa? Tumben anda tidak ditemani Elaine.”
“Yah, kapal pengangkut barangnya baru berlayar hari ini ke Kerajaan Selatan untuk mengambil barang Yang Mulia.”
“Begitu ya, semoga saja kerjasama ini saling menguntungkan.” Ucap Ratu Emillia sambil meminum kembali tehnya. Ucapan itu berhasil membuat Duke Sean kehabisan topik. Rasanya kini otaknya berhenti berpikir dan suasana canggung berlangsung hingga Elaine datang membawa camilan untuk Ratu Emillia.
“Eh?! Sejak kapan tuan ada disini?” tanya Elaine bingung.
“Barusan. Elaine, kau sangat lama. Aku ingin segera makan camilan itu.”jawab Ratu Emillia menyela lalu mengambil nampan yang dibawa Elaine dan menaruhnya di depannya.
__ADS_1
“Begitu kah? Apa tuan butuh sesuatu?” tanya Elaine lagi. Duke Sean hanya menggeleng lalu berdiri.
“Tidak. Elaine, terimakasih. Aku hanya ingin mengobrol sebentar dengan Yang Mulia. Kalau begitu aku pamit dulu.” Ucap Duke Sean dan segera berjalan meninggalkan Ratu Emillia dan Elaine.
‘Ternyata susah juga mendekati Ratu Emillia. Tapi aku tak boleh menyerah!’ batinnya mencoba menyemangati diri sendiri. Tak lama ia menoleh pada Ratu Emilia dan matanya langsung membulat ketika melihat Ratu Emillia memeluk seorang pria dengan wajah senang. Rahangnya bergetar dan tangannya mengepal menahan amarah dan rasa cemburu di hatinya. Segera ia meninggalkan tempat itu dengan hati penuh kekesalan.
Setelah kepergian Duke Sean, Pangeran Harold menghampiri Ratu Emillia dan langsung memeluknya. Kedatangannya mendadak seperti sebuah kejutan dan tak ada yang tahu akan Kedatangannya.
“Aku merindukanmu.” bisik Pangeran Harold di telinga Ratu Emillia hingga berhasil membuat pipinya memerah.
“Ahaha… aku juga sangat merindukanmu. Bagaimana kabarmu? Dan apa yang kau lakukan disini?” Ratu Emillia bertanya sambil menatap Pangeran Harold dengan wajah senang.
“Aku kebetulan melewati kerajaanmu, jadi aku sekalian mampir kesini. Keadaanku sangat baik. Seperti yang kau lihat saat ini.”
“Ehem!” deheman Elaine terdengar menyela hingga kedua sejoli ini menoleh. Pertemuan itu membuat Ratu Emillia dan Pangeran Harold tidak sadar kalau Elaine masih disana dan menyaksikan mereka bermesraan.
“Yang Mulia, aku permisi dulu. Aku tak ingin mengganggu kalian berdua….- ehem! ‘BERMESRAAN’.” Lanjut Elaine sambil memejamkan matanya dan memberi penekanan pada kata ‘BERMESRAAN’. Keduanya hanya tertawa menanggapi Elaine. Elaine yang akan pergi segera dicegat oleh Pangeran Harold.
“Tidak perlu pergi Elaine, aku hanya mampir dan akan segera pergi lagi. Persiapan pertunangan belum aku selesaikan. Ayah dan ibu akan mengomel jika aku tidak segera pulang bukan?!” ucap Pangeran Harold santai sambil memberikan sekotak set perhiasan untuk Ratu Emillia. Tak lupa ia memberikan sekotak perhiasan juga pada Elaine. Bukan bermaksud apa-apa, Pangeran Harold tahu kalau hubungan Elaine dan Ratu Emillia sudah seperti saudara. Jadi ia juga memperlakukan Elaine seperti adik ipar baginya. Ratu Emillia yang melihat itu tersenyum senang. Itulah salah satu alasan ia jatuh cinta pada Pangeran Harold, ia tidak pernah melarang Ratu Emillia bersahabat dengan seorang pelayan dan bahkan menerima sahabatnya dengan baik.
__ADS_1
Setelah mendapat ucapan terimakasih dari Elaine dan kecupan pipi dari Ratu Emillia, Pangeran Harold meninggalkan keduanya untuk kembali ke Kerajaan Sapphire.