
Elaine memasuki sebuah ruangan dengan membawa sebuah tas diikuti oleh seorang pelayan lain yang membawa tas lain milik Elaine. Cukup rapi dan luas pikir Elaine saat pertama kali melihat ruangan yang akan ia tinggali mulai saat ini.
“Taruh saja tasnya di situ.” Ucap Elaine pada pelayan yang membantunya membawa tas bawaannya. Pelayan itu menurut lalu menatap Elaine lagi.
“Aku akan membantumu membersihkan dan merapikan barang-barangmu, Elaine.”
“Tidak perlu, Seth. Aku akan melakukannya sendiri.” Tolak Elaine dengan sopan. Ia tak ingin merasa di istimewakan dari pelayan lain. Seth mengangguk mengiyakan ucapan Elaine. Elaine melihat Seth pergi lalu mulai membersihkan kamarnya itu. Sedikit lebih kecil dari kamarnya yang dulu, tapi ia rasa cukup untuk menampung barang-barangnya yang tak terlalu banyak itu.
Ingatan Elaine kembali saat sebelum Ratu Emillia menyuruhnya tinggal di istana. Sebelum itu ia dan ibunya tinggal di tempat ini. Ia mengira tak akan menginjakkan kakinya di tempat itu lagi, tapi takdir berkata lain. Kembali dari lamunannya, Elaine kembali bebersih dan merapikan seluruh pakaiannya. Tak sulit baginya untuk merapikan kamar itu karena ia memanglah seorang pelayan. Ia bahkan sudah beberapa kali mendekorasi ulang kamarnya dan kamar Ratu Emillia sebelumnya. Ia buat kamar barunya senyaman mungkin baginya dan anaknya kelak.
Setelah beberapa lama, Elaine memutuskan untuk pergi ke kamar yang dulu ia tempati Bersama ibunya. Ia ingat kalau ibunya menyelipkan sebuah buku di tempat rahasia di kamar itu. Sebenarnya Elaine ragu benda itu masih ada atau tidak, tapi ia berusaha meyakinkan diri kalau buku itu masih ada. Di ketuknya pintu sebuah kamar untuk memastikan adakah orang yang menempati kamar itu atau tidak. Tak lama pintu itu terbuka dan Elaine melihat seorang perempuan yang familiar baginya.
‘Arra…’ pikir Elaine saat melihat sosok pelayan Arra yang beberapa bulan lalu meninggalkan istana. Perutnya mulai buncit namun paras imut Arra masih terlihat jelas. Arra tersenyum menatap Elaine yang masih melamun melihatnya.
“Elaine?! Aku memang dengar kau akan tinggal disini tapi aku tak begitu percaya. Ah maaf, apa ada yang bisa aku bantu?” Tanya Arra sopan.
“Ah ya, Arra. Boleh aku masuk kedalam kamarmu? Kamar ini dulunya kamarku dan ibu, kami menyimpan sebuah buku disini. Aku ingin mencarinya karena mungkin buku itu masih ada disini.” Pinta Elaine dan dibalas anggukan oleh Arra lalu Arra pun mempersilahkan Elaine masuk. Tatanannya berubah hingga membuat Elaine semakin ragu akan keberadaan buku itu. Namun Elaine masih ingin berusaha mencarinya.
Elaine mencari sebuah lantai dengan paku menonjol di bawah ranjang Arra. Arra hanya melihat Elaine lalu membuatkan segelas teh untuk Elaine.
__ADS_1
“Ketemu..- Awwwh!!” teriak Elaine girang. Ia menemukan lantai kayu dengan paku menonjol di bawah ranjang Arra hingga kepala Elaine terantuk dipan ranjang Arra. Segera Elaine keluar dari bawah ranjang Arra setelah susah payah mengambil buku itu keluar dari tempat persembunyiannya sambil mengelus kepalanya yang terasa sakit karena terantuk dipan. Arra yang khawatir lalu meletakkan teh yang tadi ia buat di meja samping kasurnya dan segera menghampiri Elaine.
“Kau tidak apa-apa? Kepalamu terantuk cukup keras, Elaine.” Ucap Arra panik sedangkan Elaine hanya tertawa menampakkan semua giginya dan membuat Arra tersenyum. Arra yakin Elaine tidak apa-apa walau terantuk cukup keras. Rasa senang Elaine saat menemukan buku itu lebih besar dari pada rasa sakit di kepalanya.
Buku itu nampak usang karena lama tersembunyi di kamar itu. Perlahan Elaine memeluk buku itu sambal mengingat ingatannya bersama sang ibu.
“Elaine, kau mau tetap duduk di lantai seperti itu?” Tanya Arra pada Elaine yang masih melamun menatap buku itu. Elaine bangun lalu menepuk gaun bagian belakangnya yang sedikit kotor.
“Maaf, Arra. Aku terlalu larut mengingat masa lalu. Aku baru ingat akan buku ini saat aku pindah kemari.”
“Tak apa, Elaine. Aku sudah membuatkan the untukmu, ayo minum Bersama.”
“Elaine, kalau boleh tahu itu buku apa? Sepertinya buku itu sangat berharga bagimu.”
“Ini buku dongeng yang selalu ibuku bacakan untukku. Dan yang membuat buku ini berharga adalah….-” ucapan Elaine terhenti sejenak lalu ia mulai membuka sebuah halaman buku itu. Secarik kertas dengan sketsa wajah dua orang perempuan.
“Ini sketsaku dan ibu. Saat itu ada seorang pelukis yang berkeliling di sekitar istana, ia membuat sketsa ini saat aku dan ibu sedang bermain di sekitar sini. Ibu bilang ia akan menyimpan buku ini dan sketsanya saat Ratu Emillia menyuruhku tinggal di istana.” Lanjut Elaine sambil tersenyum. Arra hanya mengangguk perlahan tanda mengerti.
“Lalu apa yang membuat buku itu disembunyikan di bawah lantai?” Tanya Arra lagi.
__ADS_1
“Saat itu ibu sakit, beliau mengirim surat padauk karena kondisinya yang lemah. Tapi aku tak sempat melihat surat itu karena sibuk menyiapkan acara debutante Ratu Emillia. Setelah acara selesaipun aku harus membantu beberes karena setelah hari Debutante, Ratu Emillia akan diangkat menjadi Ratu. Belum selesai acara seorang pelayan memberitahuku bahwa ibu tiada.” Kembali ucapan Elaine terhenti. Air matanya mengalir di pipinya mengingat ia tak dapat menemani sang ibu di hari terakhirnya. Arra mengerti akan perasaan Elaine lalu mengusap punggung Elaine perlahan.
“Setelah pemakaman aku membaca surat-surat yang ibu kirimkan dan mengetahui buku itu disimpan di bawah lantai agar aku dapat mengambilnya kembali. Tapi rasanya hatiku belum siap untuk datang ke kamar ini lagi hingga perlahan aku melupakan tentang buku ini.” Lanjutnya kembali. Elaine mengusap air matanya lalu berusaha tersenyum pada Arra.
Setelah beberapa lama berbincang, Elaine keluar dari kamar Arra lalu kembali ke kamarnya. Sesampainya dikamar, Elaine memilih membaringkan tubuhnya di atas kasur karena merasa tubuhnya lemas. Ditatapnya langit-langit kamar itu hingga iapun tertidur.
Di hari yang sama namun di tempat yang berbeda, Duke Sean sedang duduk di samping ibunya yang tengah tertidur pulas. Tak lama sang ibu membuka matanya dan melihat anaknya dengan tatapan sayu.
“Sean…” gumam Duchess Audrey pelan.
“Iya ibu? Ibu butuh sesuatu?” Tanya Duke Sean. Duchess Audrey hanya menggeleng lemah.
“Kembalilah ke Kerajaan Barat, ibu sudah lebih baik sekarang.” Ucap Duchess Audrey sambil memegang tangan sang anak. Duke sean hanya menghela napas sambil menatap ibunya. Keluarganya memang terkenal akan kepatuhan dan kesetiaan pada kerajaan. Duke Sean bahkan kehilangan ayahnya saat mengabdikan diri pada raja Kerajaan Selatan.
“Aku akan kembali saat ibu jauh lebih sehat dari ini. Lagipula aku tetap menjalankan tugas dengan mengawasi kegiatan perdagangan dari sini, bu. Jadi ibu tenang saja.” Jawab Duke Sean mencoba menenangkan ibunya.
“Baiklah kalau begitu, nak. Kalau begitu nikmatilah waktumu disini sampai waktu kau kembali ke Kerajaan Barat. Jangan lupa juga mencari pasangan karena ibu tidak bias tenang jika kau masih sendiri.” Goda Duchess Audrey sambil tersenyum. Duke Sean mengerti jika memang umurnya sudah cukup untuk mempersunting seorang wanita menjadi mempelainya, namun apa mau dikata? Cinta pertamanya kandas sebelum ia memilikinya. Mengingat hal itu, Duke Sean malah mengingat Elaine yang tengah mengandung anaknya.
Setelah Duchess Audrey tertidur karena efek obat, Duke Sean memilih kembali ke kamarnya dan menulis sebuah surat untuk Richard yang masih menetap di Kerajaan Barat untuk menggantikan posisinya. Tak lama surat itu langsung ia kirim lewat burung pengantar surat yang memang biasa ia gunakan untuk mengirim surat kepada Richard.
__ADS_1